Sequel dari novel Cinta Sheila 😘
Sena tidak pernah menyangka bahwa ibu tirinya akan begitu tega menjebaknya dengan obat perangsang dan hendak melemparkan dirinya pada seorang pengusaha licik.
Sayangnya, bak terlepas dari mulut buaya namun masuk ke dalam mulut harimau, Syafiq yang menyelamatkan Sena justru menjerat Sena dalam sebuah pernikahan.
Apa niat Syafiq yang begitu kekeuh untuk menikahi Sena? Dan mampukah Sena bertahan dalam rumah tangganya bersama laki-laki sombong yang sayangnya sudah mencuri hati Sena sejak masih kecil dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syafiq POV
Suara dering ponselku yang aku letakkan di atas meja cafe membuatku menoleh dari layar macbook-ku. Segera kuraih benda pipih yang terus berbunyi itu.
"Assalamu'alaikum," sapaku setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselku.
"Wa'alaikumsalam. Kak Syafiq, aku butuh bantuan kakak."
"Apalagi sih?" keluhku sembari mendesah. "Tadi Lucky, sekarang kamu. Haish, dasar kalian anak muda, suka sekali merepotkan."
"Seriusan ini kak. Barusan Azka telepon, dia bilang sampai sekarang kak Sena belum pulang juga. Ini udah hampir jam sepuluh malam kak dan kak Sena aku telepon dari tadi nggak diangkat terus."
"Dia lagi di jalan mungkin, makanya nggak angkat telepon dari kamu," kataku mencoba menenangkan.
Percayalah, kata-kata itu sesungguhnya juga berlaku untuk diriku sendiri.
"Tapi aku khawatir banget kak. Ini udah malem dan kak Sena naik motor. Belum lagi barang belanjaannya, nggak mungkin kalau cuma sedikit."
Gagal. Jujur saja, aku sendiri pun mulai merasa khawatir sekarang.
"Please kak, tolong susulin kak Sena sekarang ya. Aku takut terjadi sesuatu sama dia."
Dan runtuh sudah pertahananku. Tapi aku tetap berusaha menguasai diriku agar bisa bersikap seperti biasanya.
"Oke, kamu tenang aja. Kakak susulin Sena sekarang juga. Kakak tutup ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Makasih ya kak. Jangan lupa kabarin aku."
"Pasti."
Aku mengakhiri panggilan teleponku. Membereskan macbook-ku kemudian aku pun beranjak berdiri.
"Frans, gue cabut dulu ya," pamitku kepada Frans, sahabatku yang saat ini berdiri di balik bar table dan sedang meracik kopi dengan lihai itu.
Ya, cafe ini adalah milik sahabatku sewaktu kuliah dulu, namanya Frans. Dan aku sering datang kesini, untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang aku bawa pulang, atau hanya sekedar untuk melepas penat.
"Oke. Thanks ya Bro. Hati-hati di jalan," balas Frans padaku dengan melambaikan tangan kanannya.
"Yoi," aku pun membalas lambaian tangan dari Frans.
Aku segera meninggalkan cafe milik sahabatku itu. Masuk ke dalam mobil, aku langsung memasang earphone bluetooth ke telingaku kemudian menghubungi Ega, sekretaris sekaligus tangan kananku.
"Ya bos."
"Ega cari lokasi Sena sekarang juga."
"Oke bos, segera."
Panggilan berakhir. Aku kemudian melajukan mobilku keluar dari parkiran cafe. Tidak lama kemudian Ega sudah mengirimkan sebuah titik lokasi ke ponselku. Segera saja aku memacu kereta baja kebanggaanku itu menuju ke titik lokasi tersebut.
Tidak butuh waktu yang lama akhirnya aku sudah sampai di sebuah jalanan yang sepi. Dan benar saja, di depan sana aku melihat Sena terduduk di jalanan dengan dikelilingi beberapa orang preman. Kuhentikan mobilku dan aku segera melompat turun.
"SENA!!!" teriakku.
Perhatian mereka langsung beralih ke arahku. Sesaat aku bisa melihat raut kelegaan di wajah Sena. Melihat kondisi Sena yang tidak berdaya, emosiku seketika meluap. Aku pun langsung menghajar tujuh orang preman yang menyerang Sena tadi.
Tidak butuh waktu lama aku sudah berhasil mengalahkan tujuh preman itu dan membuat mereka semua melarikan diri. Aku segera menghampiri Sena dan membantunya untuk berdiri.
"Kamu nggak pa-pa kan Sen?" tanyaku khawatir.
"Aku nggak pa-pa kok kak. Makasih," jawab Sena seraya tersenyum.
"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi. Kamu itu cewek, sasaran yang paling mudah buat dijahatin sama orang lain. Jangan pernah pergi sendiri kalau kamu belum mampu melawan dan melindungi diri kamu sendiri," nasehatku pada Sena.
Deg.
'Aku sepertinya pernah mengatakan kata-kata ini juga kepada Sena dulu.'
Mengabaikan pemikiran yang sempat terlintas di kepalaku, aku justru melihat Sena sedang melamun.
"Sena," panggilku menyadarkan Sena dari lamunannya.
Tapi sepertinya hanya sesaat, dan kulihat Sena kembali melamun lagi.
"Sena, kamu nggak pa-pa kan?" tanyaku lagi semakin khawatir.
Kemudian aku melihat Sena tersenyum simpul. Aku pun merasa sedikit lega.
"Aku nggak pa-pa kok kak," jawab Sena.
"Kamu pucat," kataku menyadari raut wajah Sena yang terlihat sedikit pucat.
Spontan aku langsung mengangkat tangan kananku dan meletakkannya terbalik di kening Sena. Panas. Sepertinya Sena demam. Aku lihat Sena sedikit tertegun karena tindakan spontanku itu.
"Kamu demam Sena. Kamu sakit?" tanyaku semakin khawatir setelah menarik tanganku dari kening Sena.
Sena menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak kak. Aku nggak pa-pa kok," jawab Sena.
"Ayo aku antar kamu pulang," kataku seraya menarik tangan kanan Sena.
Aku merasakan Sena menahan tanganku. Aku yang sudah membalikkan badan pun akhirnya kembali berbalik menghadap ke arah Sena.
"Nggak usah kak. Aku naik motor aja," tolak Sena.
"Tapi kamu lagi nggak sehat. Kondisi kamu juga seperti ini. Kamu terluka Sena," kataku ngotot.
"Enggak kak. Makasih sebelumnya. Tapi aku pulang sendiri aja naik motor. Aku nggak mau menyebabkan kesalahpahaman nanti," tolak Sena lagi.
Aku mengernyitkan keningku. Kesalahpahaman? Kesalahpahaman apa yang Sena maksud? Tapi aku tau benar sifat gadis di depanku ini. Dia memiliki pendirian yang kuat. Aku membuang nafas kasar. Sepertinya aku tidak akan bisa memaksa gadis ini.
"Ya sudah, kalau memang itu mau kamu. Kamu naik motor, tapi aku akan ngikutin kamu dari belakang. Aku nggak mau terjadi sesuatu lagi sama kamu," kataku yang pada akhirnya mengalah.
Aku melihat Sena mengangguk pelan. Kemudian Sena kembali menaiki sepeda motornya dan mulai melajukan motornya kembali. Astaga, barang belanjaan sebanyak itu dia bawa menggunakan sepeda motor. Belum lagi kondisinya yang sedang demam dan terluka karena berkelahi dengan para preman tadi. Aku benar-benar merasa tidak berguna saat ini.
Seperti perkataanku tadi, aku terus mengikuti Sena di belakangnya, memastikan keamanan Sena sampai di rumahnya. Dan setelah sampai di depan rumah Sena, aku pun pamit untuk langsung pulang.
Sena menawariku untuk mampir terlebih dahulu, tapi aku menolaknya dan mengatakan ingin langsung pulang saja. Sena pun tidak memaksa. Aku kemudian melajukan mobilku dan meninggalkan rumah Sena. Dari kaca spion aku masih bisa melihat Sena yang mengendarai sepeda motornya memasuki halaman rumahnya.
Huft, aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku. Dari dulu, setiap hal tentang Sena diam-diam selalu menarik perhatianku. Dan aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Bahkan seringkali aku membantu gadis itu secara sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan Sena apalagi orang lain.
Aku tau betul bagaimana kehidupan Sena di rumahnya. Karena diam-diam pembantu Om Bima, Bik Prapti, sudah menjadi mata-mata untukku yang akan langsung melaporkan semua yang terjadi pada Sena di rumah itu kepadaku.
Entah kenapa aku sampai senekat itu. Yang aku tau, sejak aku mengantarkan Sena pulang saat sepedanya rusak karena diganggu anak-anak nakal di jalan waktu dulu itu, aku bisa melihat kalau Tante Bella memperlakukan Sena berbeda dengan kedua anak kandungnya.
Dari situlah awal rasa simpatiku. Aku yang mendapat kasih sayang yang begitu berlimpah dari keluargaku, tapi Sena sepertinya tidak mendapatkan itu semua. Dari luar, Sena selalu berusaha untuk terlihat kuat dan tegar. Tapi aku tau pasti, dia tersiksa di dalam hatinya. Rasa sedih dan kecewa itu selalu dia tutupi sebaik mungkin dengan senyumannya.
Apalagi setelah mendengar laporan-laporan dari Bik Prapti. Rasa empati di dalam diriku semakin kuat kurasakan. Itu kenapa diam-diam aku selalu mengawasi dan membatu Sena tanpa sepengetahuan siapa pun. Setidaknya, menurutku, itu yang bisa aku lakukan agar Sena tetap kuat dan tidak menyerah apalagi merasa sendiri.
Baru kali ini aku berbuat sampai sejauh ini kepada seseorang, terlebih lagi itu adalah seorang gadis. Entahlah, apa sebenarnya yang aku rasakan sampai aku bisa berbuat seperti ini. Benarkah ini hanya sekedar karena rasa kemanusiaan sebagai sesama manusia yang sudah seharusnya untuk saling tolong menolong? Aku sendiri bahkan tidak bisa mengartikannya dengan pasti. Yang aku tau, rasa ini berbeda.
*daftar kesalahan sena yang kalian bela semua
*pergi dari rumah, dan dia teang2 saja bersama Naura dan rey, tapi suaminya dibuat, cemas sampai sakit masuk rumah sakit tapi dengan enteng semua memaklumi perbautan sena
*suami lagi kerja, dia curiga bahkan buat suami cemas dan tidak tenag karena memikirkan dia, lagi dia dimaklumi begitu saja
*dan ini puncaknya dia kayak wanita murahan yang ngidam makan berduaan dengan pria lain dan memaksa suami Terima, dan lagi kelakuan nya dimaklumi begitu saja
*dan ini puncaknya saat sena merasa kecewa pada suaminya dia pergi dan tidak semudah itu memaafkan suaminya tapi ketika dia salah semudah itu dimaafkan
dan egoisnya novel ini juga membela semua kelakuan laknat sena
ini saja kalian mencerminkan kelakuan kalian didunia nyata saat suami kalian salah tidak mudah kalian maafkan, tapi ketika kalian salah kalian mau semudah itu dimaafkan dan dimaklumi kesalahan kalian, dan itu menunjukkan kalian adalah wanita egois
𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘺𝘰𝘶 𝘬𝘢𝘬 😘😘😘
semangat selalu dalam berkarya kak 😘😘😘
tetep semangat dalam berkarya ya 😘😘😘
jangan lupa tinggalkan ulasan bintang 5 dan juga komentar-komentar kalian semua disana ya 😊
mamah sayang kalian semua, love you all 😘😘😘
tetep semangat selalu dalam berkarya buk 😘😘😘
semangat berkarya mbak Iin 😘😘