Seno adalah seorang anak petani yang berkuliah di Kota. Ketika sudah di semester akhir, ia menerima kabar buruk. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan bus.
Sebagai satu-satunya laki-laki di keluarganya, Seno lebih memilih menghentikan pendidikannya untuk mencari nafkah. Ia masih memiliki dua orang adik yang bersekolah dan membutuhkan biaya banyak.
Karena dirinya tidak memiliki ijasah, Seno tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Mengandalkan ijasah SMA-nya pun tidak jauh berbeda. Maka dari itu, Seno lebih memilih mengelola lahan yang ditinggalkan mendiang kedua orang tuanya.
Ketika Seno mulai menggarap ladang mereka, sebuah kejutan menantinya.
----
“Apa ini satu buah wortel dihargai tujuh puluh ribu.” Ucap seorang warganet.
“Mahal sekali, melon saja harga lima puluh ribu per gramnya. Ini bukan niat jualan namanya tapi merampok.” Ucap warganet yang lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PH 5 Wortel yang Terasa Manis
Seno cukup kaget dengan apa yang ia lihat. Ketika mengangkat wortel itu dari tanah, Seno bisa melihat rincian dari wortel tersebut.
[Wortel dengan penuh Vitamin A]
[Ditanam dengan penuh cinta oleh seorang petani muda]
[Katanya bisa mengobati sakit mata]
[Ding]
[EXP +5]
[Poin tanam +300]
Begitulah rincian yang Seno lihat. Cukup lucu juga penjelasan dari wortel yang ia panen itu. Sekali panen wortel, Seno mendapatkan 5 EXP dan 300 poin tanam.
Jika demikian, apabila Seno memanen semua wortel pemberian sistem, ia akan mendapatkan 50 EXP. Masih setengah dari EXP yang Seno butuhkan untuk menaikkan level kebun miliknya.
“Ini bawalah pulang. Makan wortel itu. Vitamin A di dalam wortel itu bagus untuk kesehatan matamu.”
“Kenapa pelit sekali sih Mas. Masak dengan sayuran di lahan seluas ini, Mas Seno cuma ngasih aku tiga buah wortel aja.”
Miranda bisa melihat bahwa wortel di kebun Seno cukuplah banyak. Memang di depan Seno sekarang hanya ada sepuluh buah wortel. Tetapi Miranda tadi melihat wortel yang lain dalam jumlah banyak di petak kebun yang lainnya.
“Ye jangan salah. Ini itu varietas wortel yang baru. Aku cuma nanem sepuluh buat uji coba. Jadi, aku sudah memberikan tiga puluh persen dari wortel berharga ini untukmu. Kamu harus merasa tersanjung karena hal itu.” Canda Seno.
Mendengar hal itu, Miranda meletakkan kedua tangannya di dadanya. “Oh aku sunguh tersanjung. Aku tidak menyangka Mas Seno memberikan tiga puluh persen dari harta berhargamu untukku. Ternyata aku orang yang spesial untukmu.” Ucap Miranda sedikit mendramatisir keadaan.
“Hahaha.” Seno tertawa lepas untuk pertama kalinya setelah perubahan hidup yang ia alami. Ia bersyukur memiliki teman-teman yang mau menghiburnya seperti sekarang.
“Sudahlah ngedramanya cukup sampai di sini. Sekarang, bawa wortel itu dan pulanglah. Langit sebentar lagi menggelap. Jangan lupa makan wortel itu.”
Setelah Miranda pergi, Seno mengendarai motor miliknya ke ATM terdekat. Ia ingin mengecek berapa banyak uang yang ada di ATM pemberian Miranda itu. Seno cukup kaget melihat angka yang tertera di sana.
Setelah beberapa kali menghitung, jumlah angka yang ada di layar ATM adalah sembilan digit. Ferdi memberinya kartu ATM yang berisikan uang sebesar seratus juta rupiah. Bagi Ferdi uang segini tidak ada apa-apanya untuknya. Keluarganya memiliki kekayaan puluhan triliyun rupiah.
Tetapi bagi Seno uang itu sangat banyak. Ia tidak menyangka akan menerima uang sebanyak ini dari Ferdi. Seno merasa tidak berani menerima uang sebanyak ini. Jika itu hanya beberapa puluh juta, mungkin Seno akan menerimanya. Tetapi sebanyak ini?
Langsung saja Seno menghubungi Ferdi. Ia berniat mengembalikan kartu ATM pemberian Ferdi itu. Tetapi, telepon yang Seno lakukan tidak juga terhubung kepada Ferdi. Seno pun beralih menelfon Miranda. Tetapi sama saja.
Mungkin kedua kakak beradik itu sudah tahu bahwa Seno akan mengembalikan uang itu. Jadi, mereka tidak mengangkat panggilan telepon dari Seno.
*****
Sesampainya di rumah, Miranda langsung saja mencuci wortel pemberian Seno. Laki-laki itu berulah kali mengingatkannya untuk tidak lupa memakan wortel ini. Maka dari itu, sekarang Miranda ingin memakan wortel tersebut.
Ia tidak perlu memasaknya atau melembutkan wortel tersebut menjadi jus. Memakan langsung lebih baik. Sejak dirinya mengalami mata minus, Miranda sudah terbiasa melakukan hal ini.
Ketika mengunyah wortel tersebut, Miranda bisa merasakan rasa manis. Itu cukup aneh menurutnya. Mana ada wortel dengan rasa manis seperti ini. Rasa manisnya seperti yang dimiliki jagung manis.
Jika Miranda tidak melihat dengan sendiri bahwa itu adalah wortel yang ia makan, maka Miranda akan berpikir bahwa sekarang ini ia memakan jagung manis. Sepertinya memang benar ucapan Seno bahwa wortel ini adalah varietas baru.
Dari semua wortel yang sudah ia coba, menurut Miranda ini adalah wortel terbaik. Jika Seno bisa memproduksi wortel dengan kualitas seperti ini dalam jumlah besar, maka Miranda pasti akan membelinya. Memakan wortel seperti ini sebagai camilan tidak terlalu buruk menurutnya.
Miranda menikmati wortel tersebut sembari menonton serial favoritnya di Netflix. Karena asik menikmati filmnya, Miranda tidak sadar bahwa ketiga wortel yang diberikan oleh Seno kepadanya sudah habis.
“Eh, kenapa cepat habis? Padahal aku ingin menyimpannya untuk dimakan besok. Ternyata sudah habis.”
Jika begini, Miranda tidak bisa lagi menikmati wortel enak itu. Kulit wajahnya tidak setebal itu untuk meminta wortel lagi kepada Seno. Perempuan itu masih tahu malu. Seno hanya memiliki sepuluh wortel dan dia sudah mendapatkan tiga di antaranya.
Jika seperti ini, ucapan Seno yang mengatakan bahwa dirinya harus merasa tersanjung setelah menerima tiga wortel ini, memang benar adanya. Wortel seenak ini pasti sulit di dapatkan.
Ketika akan melanjutkan menonton Netflix, Miranda merasakan rasa hangat di matanya. Hal itu membuat Miranda mematikan laptop miliknya.
“Ah sepertinya aku harus beristirahat sekarang. Mataku sudah tidak bisa diajak berkompromi.”
….
Pagi harinya, Miranda terbangun dari tidurnya dengan kondisi tubuh yang cukup segar. Ia kemudian mencari keberadaan kacamatanya yang entah ia taruh di mana kemarin. Meskipun masih bisa melihat tanpa kacamata, pandanganya terlihat buram tanpa kacamata, dan itu kurang nyaman bagi Miranda.
Setelah menemukan keberadaan benda berlensa itu, Miranda memakainya. Tetapi ketika memakai kacamata miliknya itu, Miranda merasakan pusing di kepalanya.
“Sial. Sepertinya minusku bertambah lagi. Padahal baru bulan kemarin aku mengganti kacamataku. Sekarang kacamata ini sudah tidak cocok lagi untukku.” Gumam Miranda.
Jika begini, mau tidak mau Miranda harus memeriksakan diri ke dokter mata untuk mengetahui berapa minus dari matanya saat ini.
*****
[Ding]
[EXP +2]
[Poin tanam +50]
Itu adalah pemberitahuan yang Seno dengar ketika memanen selada yang ia tanam. Itu tidak jauh berbeda dengan sayuran lain yang berasal dari benih biasa, bukan dari sistem. Hal ini membuat Seno paham bahwa sayuran biasa tidak akan memberikan EXP dan poin tanam yang besar ketika dipanen.
“Jadi, jika aku ingin mendapatkan EXP dan poin tanam dengan jumlah besar, maka aku perlu menanam sayuran yang berasal dari bibit yang tersedia di sistem.”
Sekarang ini toko sistem milik Seno masih terkunci. Jadi, Seno tidak tahu apa saja yang dijual di sana. Ia baru bisa mengetahui hal itu setelah menaikkan level kebun miliknya.
Selain sepuluh wortel dari sistem, di kebun ini Seno memiliki lebih dari empat ribu buah sayuran. Jika semua itu dipanen, Seno bisa mendapatkan delapan ribu lebih EXP. Sudah jelas EXP sebanyak itu bisa membuat level dari kebunnya naik beberapa level.
Langsung saja Seno memanen semua sayurannya. Ia harus bertindak lebih cepat. Siang nanti pemborong yang akan membangun pagar tembok kebunnya akan datang. Seno ingin sebelum mereka sampai, semua sayuran ini sudah berhasil dipanen.
Ketika memanen sayurnya, Seno meminta sistem mematikan sementara pemberitahuan yang ia terima. Itu cukup mengganggu Seno. Setiap mencabut sebuah sayuran, satu pemberitahuan baru muncul. Lebih baik ia mematikkannya sementara agar bisa fokus memanen sayuran di kebunnya.
Tepat pada jam sepuluh siang, Seno berhasil memanen semua sayuran di kebunnya. Ia bisa bernafas lega sekarang.
“Panel Sistem”
[Host : Seno Eko Mulyadi (23)]
[Kekuatan : 7 (Manusia Dewasa : 10)]
[Stamina : 5 +2 (Manusia Dewasa : 10)]
[Luas lahan : 800m2]
[Level kebun : 0 (100/100)]
[Poin tanam : 243000]
[Penyimpanan Sistem : 10 slot (6/10)]
[Misi : Panen 50 buah wortel (10/50)]
[Toko sistem : terkunci]
Melihat panel sistemnya seperti itu, langsung saja Seno memberondong sistem dengan berbagai pertanyaan. “Eh sistem, kenapa level kebunku masih saja di level 0? Bukankah EXP yang aku kumpulkan sudah cukup banyak? Yang lainnya kemana? Kenapa tetap seratus?”
[Jika Host ingin menaikkan level, maka Host perlu membayar dengan poin tanam untuk melakukannya]
[EXP yang melebihi batas EXP di level tersebut tidak akan dihitung lagi]
“Jadi seperti itu. Ini berarti jika aku hanya membutuhkan 100 EXP untuk bisa naik level, maka EXP yang aku dapatkan setelah mencapai 100 EXP akan hangus?”
[Benar Host]
[Apakah Host ingin menaikkan level kebun sekarang?]
“Memangnya, berapa banyak poin yang aku perlukan untuk menaikkan level kebunku?” Tanya Seno.
[200.000 poin tanam Host]
“Itu cukup besar tetapi tidak masalah untukku. Sistem naikkan level kebun milikku.” Ucap Seno.
[Ding]
[200.000 poin tanam telah diambil]
[Ding]
[Selamat Host level kebunmu naik menjadi level 1]
[Selamat Host mendapatkan satu kotak petani pemula]
[Bercocok tanamlah untuk menjadi petani terhebat]
“Sistem buka kotak petani pemula itu untukku.”
[Ding]
[Selamat Host mendapatkan 10 kantong bukan pupuk biasa]
[Selamat Host mendapatkan 10 benih kentang mengenyangkan]
[Selamat Host mendapatkan +500 poin tanam]
[Semua hadiah telah disimpan di penyimpanan sistem]