Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Dia hanya ingin tempat aman di dunia asing ini. Tapi kenapa pemuda ini terdengar begitu puas dengan jawabannya?
Nesharra meliriknya sekilas dari sudut matanya.
Pangeran itu berdiri tegak, ekspresinya tidak menunjukkan emosi, tetapi matanya berkata lain.
"Baik," katanya akhirnya, suaranya datar tetapi tegas. "Aku akan memberimu rumah. Dan kau akan tetap di sana, di tempat yang kutentukan."
Seketika, Nesharra berhenti dan menoleh. "Aku tidak ingat menyebutkan bahwa kau boleh menentukan tempatnya."
Hattusili tersenyum kecil—sebuah senyum tipis yang entah kenapa membuatnya terlihat lebih berbahaya. "Tidak, kau tidak menyebutkannya. Tapi jika aku yang memberimu tempat tinggal, maka aku juga berhak memutuskan di mana itu, bukan?"
Nesharra menatapnya dalam diam, menyadari bahwa sejak awal, pemuda ini tidak benar-benar memberinya pilihan.
Nesharra menghentikan langkahnya, menatap pangeran di depannya dengan pandangan datar. "Jadi?" tanyanya. "Kau benar-benar akan menyiapkan tempat untukku?"
Hattusili menoleh perlahan, matanya yang tajam memandangnya seolah Nesharra adalah seorang pelayan yang berani menuntut sesuatu darinya. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang lebih mirip ejekan daripada keramahan.
"Kau meragukan ucapanku?" suaranya dingin, penuh keyakinan yang tak terbantahkan. "Aku adalah putra Muwatalli, pangeran Het. Kata-kataku adalah keputusan. Jika aku bilang aku akan memberimu tempat tinggal, maka itu akan terjadi."
Dia melangkah mendekat, gerakannya tenang namun membawa tekanan yang sulit diabaikan.
"Namun, jangan salah paham, wanita asing," lanjutnya, suaranya lebih rendah, lebih tajam. "Aku tidak memberikan sesuatu tanpa alasan. Jika aku memberimu rumah, itu berarti kau adalah milikku."
Nesharra mendengus kecil, melipat tangannya di depan dada. "Milikmu? Kau pikir aku barang yang bisa kau klaim sesuka hati?"
Pangeran itu hanya menatapnya, lalu tertawa pelan—bukan tawa riang, tapi penuh kesombongan.
Sudah tujuh hari sejak Nesharra tinggal di rumah sederhana di dekat ibu kota Hittite. Rumah itu tidak luas, tapi cukup nyaman—dengan perabotan sederhana, jendela besar yang membiarkan angin sejuk masuk, dan halaman kecil di belakang. Hanya ada satu pelayan yang melayaninya, seorang wanita tua yang tidak banyak bicara, hanya memastikan bahwa segala kebutuhannya terpenuhi.
Selama tujuh hari ini, Hattusili selalu datang.
Kadang di pagi hari, kadang di sore hari, dan lebih sering di saat matahari hampir tenggelam.
Seperti sore ini.
Mereka berjalan di sepanjang jalan berbatu yang mengelilingi ibu kota, melihat-lihat pasar yang mulai sepi, rumah-rumah megah para bangsawan, dan kuil-kuil yang menjulang dengan ukiran indah khas Hittite.
"Apa kau betah di sini?" suara Hattusili terdengar ringan, tapi ada sesuatu dalam nada suaranya—sesuatu yang lebih dari sekadar basa-basi.
Nesharra meliriknya, tersenyum kecil. "Tujuh hari bukan waktu yang cukup untuk menilai sebuah tempat."
Pangeran itu mengangguk pelan. Tangannya terjulur, nyaris tanpa sadar, menyentuh tangannya—ringan, santai, tapi tetap menggenggam.
Sikapnya seolah santai, tetapi Nesharra menyadari sesuatu.
Meskipun seorang pangeran, pada akhirnya dia tetap seorang anak muda yang tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya kepada seorang gadis.
Nesharra menatap tangannya yang digenggam, lalu tersenyum samar. Kali ini, dia yang membalas menggenggam.
Dengan lembut, tapi cukup erat.
Dia mengangkat kepalanya dan menatap Hattusili dengan mata berkilat jenaka. "Apa kau selalu seperti ini?"
Hattusili mengerutkan kening. "Seperti apa?"
Nesharra terkekeh pelan. "Berpura-pura dingin dan angkuh, tetapi pada akhirnya tetap tidak bisa menahan diri?"
Pangeran itu terdiam sejenak, lalu terkekeh kecil—jarang sekali dia tertawa seperti itu.
"Kau pikir aku tidak bisa menahan diri?" tanyanya, nada suaranya sedikit lebih dalam, lebih tenang.
Nesharra mengangkat bahu. "Kau yang menggenggam tanganku lebih dulu."
Mata Hattusili menyipit, bibirnya melengkung dalam seringai kecil. "Dan kau tidak menolaknya."
Nesharra menatapnya, lalu tersenyum samar. Kali ini, dia yang menarik tangannya lebih dulu, membiarkan jarinya mengusap punggung tangannya dengan gerakan nyaris menggoda.
Dia menyembunyikan sisi lugasnya, strategisnya, kecerdasannya.
Hari ini, dia hanya ingin bersikap seperti gadis tujuh belas tahun yang bermain-main dengan seorang pangeran.
"Hm..."
"ada apa?."
dia mengubah posisi nya dan menatap Hattusili dan menyentuh rambut nya Sambil berkata,"Aneh.. pangeran.. kenapa kau menatap ku seperti itu?."katanya,menyeka rambut pangeran itu dengan Lembut.
Dia menahan nafas nya.
Hattusili menegang. "Seperti apa?"
Nesharra menaikkan satu alisnya. "Seperti kau sedang terpesona."
Hattusili terbatuk pelan, memalingkan wajahnya sedikit, tetapi Nesharra tidak membiarkannya begitu saja.
Dia mengangkat tangannya, jari-jarinya yang ramping menyentuh dagu pangeran itu, dengan lembut memaksanya kembali menatapnya.
Jantung Hattusili berdetak lebih cepat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa kehilangan kendali.
"Nesharra—"
"wajah mu memerah," potong Nesharra, suaranya terdengar hampir geli.
Hattusili segera mundur selangkah, ekspresinya tercampur antara keterkejutan dan sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih dalam.
Nesharra tersenyum, senyum yang begitu menawan dan misterius hingga Hattusili merasakan sesuatu di dalam dadanya bergetar.
Dia seharusnya tidak seperti ini. Dia seorang pangeran. Dia seharusnya memiliki kendali atas dirinya sendiri.
Namun, saat ini, dia merasa seperti anak muda yang terjebak dalam pesona seorang gadis yang tidak bisa ia pahami—dan itu membuatnya gila.