Haris tidak menyangka akan dijodohkan dengan seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali bernama Hana. Ia di jodohkan oleh seorang ulama kharismatik bernama haji Zakaria yang sudah dianggap seperti ayah kandungnya sendiri. Padahal ia sudah memiliki gadis pilihannya sendiri bernama Arini untuk dijadikan calon istri. Tidak mendapat respon dari sang ibu akan gadis pilihannya dan juga ia berhutang budi terhadap sang ulama karena telah membiayainya dari kecil hingga dewasa, menjadikannya dilemma untuk membuat keputusan sehingga ia terpaksa menikahi gadis pilihan sang ulama.
Bagaimanakah nasib pernikahan Haris dan Hana? Bagaimana pula kisah pernikahan mereka dan nasib orang-orang yang tersakiti oleh pernikahan ini, apakah mereka akan Bahagia?
Simak ceritanya pada novel ini, dengan judul “Pernikahan karena Perjodohan (Haris dan Hana)” by Alana Alisha.
Ig: @alana.alisha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Sepertiga Malam
Pada sepertiga malamnya, Gibran mengiba pada Allah SWT, Tuhan seru sekalian ‘alam. Ia berharap Allah sudi menghapus bayangan Hana yang kian menari dipelupuk matanya. Ia terus mengingat-ingat gadis itu. Apalagi sejak bertemu Lisa di perpustakaan, Lisa mengatakan bahwa pernikahan Hana tidaklah bahagia. Haris bahkan sama sekali belum menyentuh gadis itu. Suami Hana juga kerap bersikap asuh bahkan melakukan kekerasan fisik padanya.
Gibran masih belum mengetahui kebenaran kabar berita ini, ia tidak ingin gegabah. Ia harus menyelidiki berita ini lebih jauh, namun jika semua yang Lisa katakan benar adanya, maka dalam hati ia berjanji akan siap mengambil Hana dari tangan Haris dan menikahinya. Mengapa laki-laki itu menikahi Hana jika ia tidak mencintai dan memperlakukannya dengan buruk. Gibran dengan refleks mengepalkan tangannya.
Astaghfirulah Ia banyak-banyak beristighfar dan juga memohon agar Allah selalu melindungi Hana. Gibran kemudian berbaring, ia memutar murattal milik imam muda lulusan Institut Teknologi Bandung yang bersuara sangat merdu. Ya. murattal milik Muzammil Hasballah dengan irama Nahawan pun menemani penghujung malamnya yang sendu.
Tok tok tok…
“Mas, mas Gibran” Terdengar Yura memanggil pelan dari balik pintu.
“Ada apa Yur?”
“Boleh aku masuk? Aku tau mas tidak tidur!” Ucap Yura. Gibran pun bangkit dari kasurnya, memutar kunci dan
membuka pintu.
“Masuk dan duduklah” Gibran mempersilahkan Yura Masuk.
“Terima Kasih, mas!”
“Kamu sudah melakukan shalat tahajud?” Tanya Gibran kemudian. Yura hanya mengangguk.
“Aku rindu mas” Yura menunduk sambil berkata lirih.
Gibran tersentak, ia tidak menyangka adik kesayangan kekamarnya di sepertiga malam untuk mengungkapkan kerinduan pada kakaknya. Selama kepulangannya ke Indonesia, Gibran memang hampir tidak pernah memperhatikan adik kecilnya itu. Ia tenggelam dalam dunianya sendiri. Melabuhkan segenap pikirannya untuk memikirkan patah hati yang terasa amat menyiksa. Ia jadi sedih melihat wajah Yura. Sebentar lagi ia juga sudah
mau terbang kembali melanjutkan kuliahnya di Maroko. Mengingat hal ini bertambah pula rasa sedihnya.
Gibran bangun dari duduknya. Ia memeluk Yura dengan hati yang melebur. Sungguh, ia sangat menyayangi adiknya ini. Mereka tumbuh bersama sedari kecil. Namun keadaan sekarang membuat ia harus mengasingkan diri. Ah, tidak adil rasanya jika ia egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Maaf, jika selama kepulangan mas ke Indonesia mas kurang memperhatikan kamu” Gibran mengusap kepala Yura yang berbalut kerudung instan berwarna cream.
“Aku paham apa yang mas rasakan. Aku mengerti mas. Maaf, aku tidak bisa membantu apapun, aku merasa sedih karenanya” Yura berkata dengan sedih. Mata yang semula berkaca-kaca berhasil mendaratkan bulir-bulir air dengan sempurna di pipi putih bersihnya. Gibran merenggangkan pelukkan mereka ia menatap Yura dan mengusap air mata yang mengalir itu secara perlahan.
“Jangan menangis, dik. Mas tidak kenapa-napa. Selama ini mas hanya butuh sedikit waktu saja untuk menyembuhkan luka di hati mas. Selebihnya mas baik-baik saja” Gibran tersenyum. Ia tidak ingin memperpanjang kesedihan adiknya karena masalah yang ia hadapi.
“Mas, apa yang bisa Yura lakukan untuk meringankan beban di hati mas. Katakanlah mas!” Yura masih tidak yakin dengan senyuman yang Gibran sematkan. Sebagai mahasiswi psikolog ia paham betul jenis senyuman sendu yang kakaknya berikan.
“Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, tolong doakan agar mas bisa melewati setiap ujian yang Allah berikan dengan kuat, tegar dan senantiasa berserah diri pada-Nya”
“Kalau perihal doa, tanpa mas pinta pun aku selalu menyematkan nama mas dalam doa-doa ku sebagaimana juga dengan yang selalu mas lakukan”
“Kamu memang adik terbaik yang Allah berikan. Mas lega mendengarnya” Gibran mengacak-acak kepala Yura.
“Oh iya, ada yang ingin aku tanyakan padamu, dik” Gibran tampak berpikir.
“Apa yang ingin mas tanyakan?”
“Hmh, Bagaimana dengan pernikahannya Hana?”
“Maksud mas?”
“Maksud mas… Hmh, tidak, lupakanlah” Gibran menunjukkan raut wajah yang dipenuhi keragu-raguan.
“Ayo Katakan saja mas, jangan ragu” Yura meyakinkan Gibran.
“Hmh, Apa Hana bahagia dengan pernikahannya?”
“Sepengetahuanku Hana baik-baik saja menjalani pernikahannya mas”
“Alhamdulillah kalau begitu” Gibran terdiam dan tampak berpikir.
“Ada apa mas? Apa yang mas pikirkan?”
“Apa Hana pernah mengeluhkan sesuatu?” Gibran ingin menyelidiki lebih jauh tentang Hana.
“Hana tipe orang yang tegar mas, Ia tidak mengatakan apapun walau dalam keadaan sulit, kecuali memang dalam keadaan yang sangat mendesak”
Gibran mengangguk-angguk. Ia berfikir bisa saja Hana tidak menceritakan permasalahan yang ia hadapi kepada Yura. Lantas, dari mana Lisa mengetahui bahwa Hana lagi berada dalam keadaan tidak baik-baik saja.
“Terus apa suami nya memperlakukan ia dengan baik? Apa ia mencintai Hana sepenuh hati? Apa mereka benar-benar bahagia?” Yura di tuntut banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Gibran. Ia heran mengapa tiba-tiba Gibran seperti ini. Tidak seperti kakaknya yang biasa tidak peduli dan acuh tak acuh terhadap urusan orang lain. Tapi mungkin dalam kasus ini berbeda, betapa cinta membawa pengaruh dalam diri seseorang.
“Mungkin suaminya Hana belum mencintainya mas, tapi sepengetahuanku, Hana diperlakukan dengan baik oleh suaminya.” Hanya ini yang dapat Yura katakan, sebab selebihnya ia benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada rumah tangga Hana. Setidaknya malam ini Gibran mengetahui satu fakta yang berasal dari mulut Yura, clue yang sama yang dilontarkan oleh Lisa. Bahwasanya suami Hana tidak mencintainya.
***
Masih di kediaman Haris dan Hana.
“Ma.. mas,..” Hana berjalan mundur namun ia sadar bahwa tubuhnya sudah sangat rapat ke jendela.
“Mas, mas mau melakukan apa?” Hana semakin gugup. Ia meraba bajunya dan melihat kesekeliling apa ada hal aneh, ulat misalnya yang hinggap di tubuhnya seperti waktu itu.
“Aku ingin memelukmu Hana” Haris merentangkan tangannya. Hana tercengang.
“Me… me… luk?”
“Iya Hana, apa suami harus meminta izin untuk memeluk istrinya sendiri?”Haris menatap Hana dengan tatapan sendu.
Hana hanya mematung tanpa bisa menjawab apa-apa. Haris yang melihat Hana hanya berdiri tak bergerak dari tempatnya langsung maju dan memeluk Hana. Mendapatkan dekapan yang begitu tiba-tiba, ia sangat terkejut. Gadis itu tidak membalas pelukan suaminya. Ia hanya diam membeku, namun irama detak jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya tidak bisa berbohong, Haris dapat merasakan detak tersebut karena jarak mereka yang sangat dekat. Hana ingin melepaskan pelukan dari suaminya, ia begitu malu.
“Tetaplah seperti ini untuk beberapa saat, Hana” Lagi-lagi Haris melontarkan kalimat ini tanpa mau sedikitpun merenggangkan pelukkannya.
“Aku membutuhkanmu. Tolong jangan tolak pelukan dariku. Sementara, hanya ini yang aku pinta darimu” Haris semakin mempererat pelukannya. Tinggi Hana yang sekepala lebih rendah dari suaminya itu menyebabkan Haris bisa mengecup pucuk kepala Hana. Laki-laki itu mengecup dan memeluk lama, seolah menumpahkan semua kesesakan yang selama ini menghampirinya.
***
Haris dah sedikit tenang krn tdk ada lg tekanan utk menikahi Arini 😊😊😊😊
kebih baik di cintai dr pd mencintai.
maka terimalah cinta ny Romi 😋😋😋😋😋
pasti ada sesuatu yg memaksa atau mengancam Ummi Fatma 😬😬😬😬
semangkin seru ... dan memaksa emosi ikutan kesel 😆😆😆😆😆
sy yg gk sabar gmn reaksi nya Haris 😚😚😚😚😚😚
sy gk suka dgn Hj Aisya yg terlalu memaksa kehendak.
Hana ajak aja je New york biar Lisa gk bisa berkutik 😊😊😊😊😊