Menikahi Majikan Ibu — Season 2
Genre : Komedi Romantis
Perjalanan rumah tangga Barata Wirayudha, pemilik BW Group yang menikahi putri dari pembantunya sendiri, Bella Cantika.
Perbedaan umur, latar belakang dan karakter membuat rumah tangga keduanya menjadi berwarna.
Bara yang temperamen, arogan dan mudah terpancing emosi, tetapi ia seorang yang penyayang keluarga dan daddy terbaik untuk putra-putrinya.
Bella yang lemah lembut dan dewasa, terkadang suka ketus pada suaminya berusaha menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya di usia yang masih muda.
Keduanya tidak romantis tetapi bercita -cita memiliki kehidupan rumah tangga yang romantis. Apakah rumah tangga mereka tetap berjalan mulus di tengah perbedaan?
Ikuti kisah rumah tangga Bara dan Bella bersama putra putrinya, Rania Wirayudha, Issabell Wirayudha dan The Real Wirayudha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Berburu mangga
Sesuai dengan janji, keesokan harinya Bara menjemput Bella sepulang kerja. Sengaja ia pulang lebih awal dari jam biasa pulang kantor demi mengabulkan keinginan istrinya yang sedang hamil. Masih dengan setelan rapi, kemeja biru langit dan celana katun. Sepatu pantofel hitam mengkilap menyempurnakan penampilan bapak dari tiga orang anak yang selalu tampil sempurna di setiap kesempatan.
“Bell.” Setengah berlari masuk ke dalam rumah, Bara menyapa sembari membuka kacamata hitam. Tidak ada Bella di dalam rumah, kesunyian menyambut sang tuan rumah.
“Ke mana orang-orang?” Bara bertanya pelan, menyapu seisi ruangan dengan mata elangnya. Berjalan perlahan menuju ke taman samping, tempat semua orang menghabiskan waktu. Selain di sana lebih teduh saat siang menjelang sore, anak-anak lebih sering bermain di area samping.
Saat kaki panjangnya mendekat ke arah pintu, sudah terdengar suara tawa Real yang sedang bermain dengan Rikka, celotehan Issabell yang sedang menceritakan anggota boybands tampan idolanya dan ada Rania yang sibuk dengan ponselnya, tanpa menyadari kalau sang daddy sudah berdiri di belakangnya.
“Teodora lagi?” Bara menyentil sang putri saat mencuri baca chat sekilas chat panjang sang putri dengan teman yang diakui sebagai Teodora.
Deg—
Rania berbalik. Wajahnya pucat sembari meletakan ponsel ke atas meja. Layaknya maling yang tertangkap basah, itulah yang dirasakan Rania saat Bara tiba-tiba sudah berdiri di belakang.
“D-Dad ....” Rania menyapa dengan senyum kaku.
“Mmm.” Pandangan Bara tertuju pada Real yang berlari kencang di rerumputan bersama Issabell ditemani Rikka.
“Mas, sudah pulang?” tanya Bella mengerutkan dahi. Tidak biasanya Bara pulang saat matahari masih bersinar dengan gagah, biasanya mobil Bara baru masuk ke pekarangan rumah saat di penghujung senja.
“Ya, kamu mau mangga, kan?” Bara mengingatkan.
“Serius? Mas pulang cepat karena ini?” tanya Bella. Ibu hamil itu nyaris melupakan permintaannya sendiri setelah semalam sempat melontarkan keinginannya.
“Ya.” Bella mengangguk dan tersenyum. “Kita pergi berdua saja. Anak-anak tinggal dengan Rikka sebentar,” lanjut Bara menyodorkan tangannya bersiap menyambut tangan Bella.
“Ah, Mas. Kenapa kamu manis sekali hari ini,” ucap Bella tersenyum bahagia, sembari meremas tangan Bara.
“Memang biasanya tidak manis? Hanya hari ini saja manisnya?” Bara memainkan kedua alisnya.
“Bukan begitu, Mas. Biasanya Mas itu banyak protes dan mengeluh setiap aku meminta sesuatu,” ucap Bella.
“Ya sudah, kita jalan sekarang. Sudah kesorean, gelap ....” Tatapan Bara tertuju pada Rania.
“Kak, titip adikmu. Daddy mau jalan sebentar dengan Mommy.” Bara berpamitan pada putri tertuaya.
“Ya, Dad.”
***
Mobil sport hitam tampak masuk ke area lapangan dekat komplek perumahannya. Meskipun posisinya diluar komplek, biasanya Bara sering melewatinya setiap berangkat atau pulang kerja. Dengan perasaan bahagia karena berhasil membuat senyum terkembang di bibir sang istri tercinta, Bara mencengkeram setir dengan semangat empat lima.
Senyum di wajah pasangan suami istri itu lenyap seketika saat keluar dari mobil dan berdiri tepat di bawah pohon dengan kepala mendongak ke atas. Wajah cerah keduanya berganti duka. Senyum Bella menjadi datar dan Bara hanya mendengus kesal. Terlalu senang, keduanya lupa untuk memastikan kalau pohon mangga legendaris itu sudah mulai masuk musim berbuah atau belum.
“Mas, tidak ada buahnya.” Bella berkata dengan lemas.
“Ya, Bell. Aku lupa memastikannya.” Masih mendongak ke atas, Bara memperhatikan tangkai-tangkai dengan daun lebat. Bahkan ujung-ujung tangkainya tak ada satu pun yang mengeluarkan bunga.
Bara tergelak saat pandangannya beralih pada Bella. Istrinya sedang bermuram durja sambil menelan saliva berulang kali. Entah apa yang dipikirkan Bella saat ini.
“Kita beli di pasar saja?” tawar Bara.
“Aku tidak mau, Mas. Aku mau buah mangga dari pohon ini. Mau melihat Mas memetik langsung untukku, seperti dulu aku hamil Real.” Bella berkata sedih.
“Ya, sudah kita pulang saja dulu. Siapa tahu empat bulan lagi mangganya berbuah, di detik-detik kamu melahirkan. Masih ada empat bulan lagi, kan?” ajak Bara.
Bella mengangguk.
Tepat saat keduanya berbalik, mereka dikejutkan dengan bapak yang mengaku sebagai pemilik pohon mangga. Bara yang masih menyimpan dendam tak berkesudahan, langsung menampilkan wajah tidak menyenangkan.
“Sore, Pak, Bu? Ada yang bisa dibantu?” tanya sang bapak ramah. Terbayang akan pundi-pundi rupiah yang akan masuk ke kantongnya.
“Tidak ada, Pak. Hanya Tuhan yang bisa membantuku saat ini,” sahut Bara ketus. Ia sudah memasang kuda-kuda, siap menangkis semua perkataan bapak yang mengaku sebagai pemilik pohon mangga. Ia tidak mau terperosok ke lubang yang sama. Cukup sekali, kalau dua kali berarti lebih dungu dari keledai.
“Ya sudah. Istrinya mengidam lagi, Pak?” tanya sang bapak saat netranya tertuju pada perut besar Bella yang keluar dari gaun hamilnya.
Bella menoleh, memandang bapak tua dengan kemeja batik lusuh itu dengan tatapan penuh harap dan kesedihan.
“Kalau mau, minggu ini datang lagi. Aku usahakan pohon ini berbuah.” Bapak tua itu menjanjikan. Otaknya sedang berpikir keras. Bukan hanya Bara, sudah banyak ibu-ibu komplek perumahan mewah di dekat lapangan ini mengidam pohon mangga pembawa hoki yang sudah turun-temurun menjadi penghasil pundi-pundi rupiah untuknya. Sang bapak sudah sangat hafal dan bisa dikatakan pohon ini sudah menjadi mata pencariannya setiap waktu.
“Bagaimana bisa?” tanya Bella dengan polosnya.
“Ibu kembali saja, minggu siang atau sore. Aku pastikan pohon ini berbuah banyak. Kira-kira butuh berapa kilo, Pak, Bu?” tanya Bapak itu lagi.
“Berapa sekilonya?” tanya Bara, memastikan. Sebagai manusia waras, tentu saja ia sangat paham dengan taktik bapak tua yang sengaja mencari uang dengan memanfaatkan keadaan dan menipu orang kaya.
“Masih harga lama, Pak. Saya tidak enak menaikan harga, apalagi ini termasuk pahala saya, membantu ibu-ibu hamil memenuhi keinginannya.”
Bara tampak mengingat, sewaktu hamil Real diminta lima ratus ribu rupiah untuk memetik mangga dari pohon. Itu pun ditambah bonus jatuh dari pohon sampai kakinya lecet, bokongnya sakit.
“Sekilo saja cukup, Bell?” tanya Bara.
“Ya, Mas.” Bella yang sudah sangat menginginkan mangga hanya bisa mengangguk bahagia.
“Pak, apa yakin bisa berbuah sampai minggu. Ini tinggal tiga hari lagi,” ucap Bella meragukan.
“Ibu jangan khawatir. Saya pastikan bisa, Bu. Bukan sulap, bukan sihir. Mau mangga jenis apa saja bisa, Bu. Bisa pesan sesuai pesanan. Ini hanya khusus untuk ibu-ibu hamil yang menginginkan mangga tetapi tidak di musimnya.” Bapak itu menjelaskan.
“Baiklah. Tiga hari lagi kami kembali.” Bara menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah ke sang bapak sambil berbisik pelan.
“Ini DP-nya. Tolong nanti digantungnya agak ke bawah, jangan terlalu tinggi. Aku tidak terlalu pandai memanjat, Pak,” bisik Bara pelan.
“Kalau itu harganya lebih mahal, Pak,” sahut bapak tua itu tersenyum. Ia sudah menunggu sejak tadi permintaan Bara ini supaya bisa menaikan harga lebih tinggi.
Bara terlihat kesal. “Rumah bapak di mana?” tanya Bara dengan kasar sembari mengedarkan pandangan ke sekitar.
“Kalau di sini rumah anak asuh saya, Pak. Rumah saya di komplek sebelah.” Sang bapak menjawab dengan jujur, menunjuk gubuk reyot tak jauh dari pohon mangga.
“Hah!” Bara terperanjat, komplek sebelah yang dimaksud adalah komplek perumahan mewahnya. Tampak Bara memandang bapak tua berpakaian lusuh itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak ada tampang crazy rich sama sekali seperti tetangga-tetangganya.
***
TBC
bacaan ringan disaat wsktu luang
hiburan bukan bacaan spiritual 🙏🙏🤭
pemahaman rumahtangga bara pasca penghianatan brenda sang mantan istri membuat ruang bella terbatas. kalau bara suamiku sudah ku tukar tambah