Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boleh aku tinggal di rumah tante?
Arvin baru saja menginjakkan kaki di anak tangga. Ternyata, kehadirannya disadari oleh sang papa yang sedang dalam puncak amarahnya.
"Arvin! Sini kamu!" bentak Papanya, suaranya menggelegar memenuhi lorong rumah yang sepi.
Arvin menghentikan langkah, membalikkan badannya perlahan dengan tatapan mata yang dingin dan kosong.
Papanya berjalan cepat menghampiri Arvin, wajahnya merah padam dengan napas memburu. "Jam berapa ini baru pulang?! Bagus ya, orang tua jarang di rumah, kamu malah makin melunjak keluyuran gak jelas sampai malam! Mau jadi berandalan kamu?!"
"Papa gak usah munafik," sahut Arvin datar, suaranya sangat tenang namun sarat akan provokasi. "Papa sendiri baru pulang setelah berminggu-minggu gak ada kabar, sekalinya pulang cuma buat hancurin rumah."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Arvin, membuat wajahnya terlempar ke samping. Sudut bibirnya langsung terasa perih dan mengeluarkan sedikit darah. Tamparan itu sangat kuat, namun Arvin tidak bersuara sedikit pun. Dia hanya mendecik pelan, lalu kembali menegakkan kepalanya, menatap sang papa tanpa rasa takut.
Mamanya yang baru keluar dari kamar utama hanya berdiri di dekat tangga, melipat tangan di dada tanpa ada niat sedikitpun untuk membela atau melerai. Dia justru menatap Arvin dengan pandangan menghakimi. "Kamu itu sama aja kayak papa kamu, Arvin. Selalu bikin pusing, gak pernah bisa diandelin!"
Mendengar ucapan sinis dari wanita yang melahirkannya, ditambah rasa perih di pipinya, sesuatu di dalam diri Arvin mendadak putus. Batas kesabarannya yang selama bertahun-tahun ini dia tutup rapat-rapat, malam ini runtuh sepenuhnya. Dia sudah benar-benar muak menjadi penonton dan pelampiasan di dalam rumah terkutuk ini.
"Cukup!" bentak Arvin, suaranya bergaung keras, meruntuhkan keangkuhan kedua orang tuanya yang seketika terbungkam karena terkejut. Ini pertama kalinya Arvin berteriak di depan mereka.
Tangan Arvin mengepal kuat, tubuh jangkungnya maju satu langkah, mengintimidasi balik kedua orang tuanya. "Kalian berdua sadar gak sih kalau kalian itu egois?! Hah?!"
Arvin menunjuk papanya dengan napas memburu. "Papa marahin gue karena pulang jam sembilan malam? Papa ke mana aja selama ini?! Sibuk sama perempuan lain di luar kota sampai lupa punya anak?!"
Belum sempat papanya membalas, Arvin langsung menoleh tajam ke arah mamanya, membuat wanita itu tersentak mundur. "Dan Mama... Mama gak usah sok suci! Mama tahu Papa selingkuh, tapi Mama malah sibuk foya-foya di luar, pulang subuh tiap hari cuma demi gengsi sama temen-temen sosialita Mama! Kalian berdua sibuk sama dosa kalian masing-masing!"
"Arvin! Jaga mulut kamu—" papanya kembali mengangkat tangan, bersiap memukul lagi, namun dengan sigap Arvin mencengkram pergelangan tangan papanya di udara dengan kekuatan penuh, menghentikan gerakan itu dengan mutlak. Mata Arvin memerah, berkaca-kaca menahan badai emosi.
"Gue capek!" desis Arvin tajam, menghempaskan tangan papanya dengan kasar. "Gue muak tinggal di rumah yang isinya cuma bangkai kayak gini! Sekalinya kalian di rumah, kalian cuma bisa rebutan harta, saling maki, dan sekarang... jadiin gue pelampiasan! Kalau dari awal kalian gak pernah niat buat jadi orang tua, harusnya kalian gak usah bikin gue lahir ke dunia ini!"
Setelah menumpahkan seluruh kemarahan dan rasa sakit yang dipendamnya selama bertahun-tahun, Arvin membalikkan badan. Dia melangkah lebar menuju kamarnya, lalu membanting pintu kayu kamarnya dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga.
Braakk!
Arvin langsung mengunci pintunya rapat-rapat. Dia melemparkan ranselnya asal-asalan ke lantai, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu. Napasnya naik-turun, dadanya terasa sangat sesak seolah oksigen di dalam kamarnya mendadak habis. Di tengah kegelapan kamar dan rasa sunyi yang mencekik, setetes air mata kekecewaan akhirnya lolos membasahi pipinya yang lebam.
Arvin memejamkan mata sejenak, membiarkan rasa dingin dari pintu kamarnya menjalar ke punggung. Denyut nyeri di sudut bibirnya akibat tamparan tadi tak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit di dadanya. Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel, dan membuka aplikasi pesan.
Pikirannya kalut. Dia hanya butuh tempat berlindung, tempat di mana dia merasa dianggap ada dan dihargai. Dan satu-satunya tempat yang terlintas di kepalanya hanyalah rumah kecil dengan aroma vanilla dan kehangatan yang sederhana.
Arvin mengetik sebuah pesan dan langsung mengirimkannya tanpa berpikir panjang.
Arvin: Tante, boleh gak sih kalau gue tinggal di rumah Tante aja?
Di seberang sana, Karin baru saja rebahan di kamar tamu. Ponselnya di nakas berbunyi. Begitu membaca pesan dari Arvin, dahi Karin otomatis berkerut. Perasaan aneh dan janggal langsung menyelimutinya. Tidak biasanya Arvin mengirim pesan selarut ini, apalagi dengan pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu.
Karin langsung membalasnya.
Tante Karin: Loh, kenapa tiba-tiba?
Tante Karin: Kalau mau main ke rumah boleh-boleh aja, Vin. Tapi kalau buat tinggal di rumah Tante, ya jangan dong. Kan kamu punya rumah sendiri, nanti orang tua kamu nyariin gimana?
Membaca balasan Karin yang lagi-lagi menolak dan bersikap rasional, kekesalan Arvin memuncak. Kepalanya sedang penuh, emosinya sedang tidak stabil, dan penolakan Karin terasa seperti penolakan dari satu-satunya tempat bersandar yang tersisa. Arvin mengetik balasan dengan cepat, membiarkan sedikit ego remajanya mengambil alih.
Arvin: Katanya aku keponakan Tante, kok gak boleh sih?!
Pesan itu terkirim. Arvin menatap layar ponselnya, menunggu balasan dengan dada bergemuruh.
Di kamar, Karin terdiam membaca balasan ketus dari Arvin. Dia menyadari ada yang tidak beres, nada ketikan Arvin terasa rapuh, penuh dengan tuntutan sekaligus keputusasaan. Ada luka di balik ketikannya.
Karin mengabaikan protes Arvin. Alih-alih menjawab perdebatannya, Karin merespons dengan sesuatu yang lebih penting.
Tante Karin: Kamu kenapa? Ada masalah?
Tante Karin: Mau cerita sama Tante? Atau mau telepon aja?
Mata Arvin terpaku pada deretan kalimat terakhir di layar. Pertanyaan sesederhana dan tawaran untuk mendengarkan itu, entah mengapa terasa begitu asing namun sangat dia butuhkan. Selama bertahun-tahun, tidak pernah ada yang benar-benar bertanya bagaimana perasaannya di rumah ini.
Mata Arvin mendadak memanas, pandangannya mulai mengabur oleh genangan air mata yang tak kuasa lagi dia bendung. Pertahanannya hancur sepenuhnya. Tangan Arvin gemetar hebat di atas layar, dan akhirnya, dia menekan tombol panggilan suara di ujung layar obrolan mereka.
Panggilan telepon itu akhirnya terhubung. Karin langsung mendekatkan ponsel ke telinganya, bersiap mendengarkan. Namun, di ujung sambungan, keheningan panjang justru menyambutnya. Hanya terdengar suara helaan napas yang berat dan sedikit tertahan.
"Arvin? Halo?" panggil Karin dengan nada selembut mungkin.
"Ya, Tan..." sahut Arvin. Suaranya terdengar sangat parau, berat, dan ada sedikit getaran yang coba dia sembunyikan di ujung kalimatnya.
Arvin tidak menceritakan apa-apa soal keributan besar kedua orang tuanya atau bekas tamparan yang masih berdenyut di pipinya. Baginya, menceritakan kebobrokan rumah tangganya sendiri terasa seperti menelanjangi luka yang paling memalukan. Dia hanya diam, mendengarkan suara napas Karin di seberang sana yang entah bagaimana perlahan mulai menenangkan detak jantungnya.
Karin merasa ada yang tidak beres. Dari nada suara yang serak dan napas yang sesekali tersendat itu, Karin yakin kalau Arvin di seberang telepon ini habis menangis.
Alih-alih memaksa Arvin untuk bercerita, Karin memilih cara lain. Dia memutuskan untuk menjahili Arvin demi mencairkan suasana yang terlanjur pekat.
"Vin, kamu nangis ya? video call coba. Tante mau lihat," ucap Karin tiba-tiba dengan nada jenaka.
"Gak mau, males," tolak Arvin cepat, terdengar sedikit sengau.
Karin terkekeh renyah di seberang sana. "Ih, ayo dong! Tante mau lihat muka Arvin yang lagi nangis kayak gimana. Pasti hidungnya merah banget ya kayak badut? Ayo cepetan, Tante mau screenshoot buat ngasih liat ke si Eja!"
"Tante... apaan sih, siapa juga yang nangis," gerutu Arvin, memalingkan wajahnya dari layar hp meskipun mereka tidak sedang bertatap muka.
"Halah, gak usah bohong sama penulis ya. Suara kamu itu udah kayak anak kucing basah kuyup tahu, sengau begitu," goda Karin lagi, terus mengusik Arvin dengan candaan-candaan ringannya.
Arvin mendengus pelan, namun perlahan sudut bibirnya yang terluka justru tertarik membentuk senyuman tipis yang teramat samar. Rasa sesak yang tadinya menghimpit dadanya, perlahan-lahan mulai mengurai.
Meskipun Arvin tetap keras kepala menolak ajakan video call itu sampai akhir, Karin tidak menyerah. Wanita itu terus mengoceh, menceritakan hal-hal acak yang tidak penting, mulai dari tingkah Lulu yang merajuk di kamar sebelah, sampai rencana menu sarapan esok hari hanya demi membuat Arvin tetap mendengarkan suaranya.
Malam itu, di dalam kamarnya yang gelap, Arvin merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Mendengarkan suara lembut Karin yang terus mengalir tanpa menuntut penjelasan apa pun membuat rasa sakit di hati dan fisiknya berangsur-angsur berkurang. Teman jarak jauh dari Karin malam itu menjadi obat penenang terbaik yang berhasil menyelamatkan Arvin dari kehancurannya sendiri.