"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Nama itu meluncur dari bibir Ibra dengan intonasi yang begitu tenang, namun efeknya seperti bom yang meledak tepat di telinga Bita. Kamar bernuansa modern-minimalis dengan pendingin ruangan yang mendengung halus itu mendadak terasa makin dingin.
"Reno?!" Bita setengah memekik, matanya melebar sempurna. "Gak mungkin... Maksud aku, buat apa dia ngelakuin ini? Kita udah putus berbulan-bulan lalu, Gus!"
Bita mencengkeram bantal sofa di pangkuannya. Rasa syoknya kini berganti menjadi kemarahan yang membakar. "Dia sengaja... Dia tahu aku nikah sama kamu, dia tahu kamu seorang Gus dari keluarga terpandang, dan dia sengaja milih waktu sekarang buat ngehancurin aku? Karena dia gak terima aku mutusin dia?"
"Terus sekarang kita harus gimana, Gus?" suara Bita bergetar, tapi bukan lagi karena takut, melainkan karena emosi yang meluap-luap. "Aku gak mau diem aja kalau dia udah bawa-bawa nama Abi sama Umi. Aku samperin dia sekarang!"
"Tsabita, tenang," sergah Ibra tegas namun lembut. Ia berdiri, melangkah mendekat lalu menangkup kedua tangan Bita yang mengepal kuat. "Jangan bertindak impulsif. Itu yang dia harapkan. Dia ingin kamu frustrasi, membuat keributan, dan memperpanjang narasi buruk di media."
"Tapi aku gak terima, Gus! Dia udah keterlaluan!" air mata Bita menetes, kali ini murni karena amarah yang tersedat di dada.
"Saya juga tidak terima, Istriku," bisik Ibra, suaranya mendadak merendah, mengirimkan getaran dingin yang membuat Bita terdiam. Ibra menatap Bita lekat-lekat. "Dia sudah menyentuh milik saya yang paling berharga. Dia sudah membuat istri saya menangis. Mungkin saya akan memaafkan tapi tentu dia harus menanggung akibatnya karena mencoba merusak rumah tangga saya."
Bita menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. Ini pertama kalinya ia melihat Gus Ibra berbicara dengan nada se-intens dan se-protektif ini. "Gus... kamu mau ngapain?"
Ibra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat menawan namun menyimpan bahaya. "Pesantren ini tidak hanya punya santri yang pintar mengaji, Bita. Kita punya tim hukum korporat sendiri. Besok pagi, pengacara yayasan akan melayangkan somasi dan melaporkan Reno ke Polda atas dugaan pelanggaran UU ITE, pencemaran nama baik, dan manipulasi data elektronik."
Bita mengerjap. "Langsung ke polisi?"
"Tentu saja. Untuk apa kita berdebat di sosial media kalau kita bisa menyeretnya langsung ke meja hijau?" Ibra mengambil ponselnya kembali dari meja nakas. "Saya sudah meminta Bang Yusuf untuk menyiapkan press conference besok jam sepuluh pagi di aula utama pesantren. Kita akan mengundang media-media nasional besar. Kita bersihkan namamu secara resmi, di depan hukum."
Dada Bita bergemuruh hebat mendengarkan rencana taktis suaminya. Sifat Ibra yang tidak menye-menye dan langsung mengeksekusi masalah dengan elegan membuat rasa kagum di hati Bita melonjak drastis. Pernikahan ini memang berawal dari perjodohan, tapi perlindungan yang Ibra berikan terasa begitu nyata dan totalitas.
"Tapi, Gus... gimana kalau media malah makin nyorot masa laluku pas presscon besok?" tanya Bita ragu, menyuarakan kecemasannya. "Mereka pasti bakal nanya-nanya soal foto di kelab malam itu."
Ibra berjalan ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan lampu-lampu taman kompleks pesantren yang estetik di bawah sana. Ia berbalik, menatap Bita dengan binar mata yang penuh keyakinan.
"Biarkan mereka bertanya. Dan kamu, cukup jawab dengan jujur bahwa itu adalah masa lalumu sebelum mengenal saya. Setelah itu, biar saya dan tim hukum yang mengambil alih," kata Ibra mantap. Pria itu berjalan mendekati kasur, lalu mengulurkan tangannya ke arah Bita. "Sekarang, kamu harus istirahat. Simpan tenagamu untuk besok pagi. Kamu harus tampil cantik dan berwibawa di depan kamera. Tunjukkan pada Reno bahwa serangannya sama sekali tidak membuatmu hancur."
Bita menatap telapak tangan Ibra yang terbuka di depannya. Perlahan, ia menyambut uluran tangan itu. Saat tubuhnya ditarik lembut ke dalam pelukan hangat Ibra sekali lagi, Bita merasakan sebuah ritme baru dalam hatinya.
"Gus," bisik Bita di dada Ibra.
"Iya?"
"Makasih ya... udah selalu ada," ucap Bita tulus, tangannya perlahan bergerak membalas pelukan Ibra, melingkar di pinggang suaminya untuk pertama kali dengan inisiatif sendiri.
Ibra sempat tertegun merasakan balasan pelukan dari Bita, namun sedetik kemudian ia mempererat dekapannya, mengecup puncak kepala istrinya yang mendalam. "Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Bita. Tidurlah, badai ini akan segera kita selesaikan besok."