Zalina dan Riki sama-sama saling mencintai, mereka menyembunyikan dalam diam hingga waktu yang tepat. Ketika akan meminta izin untuk menikah, tiba-tiba Zalina mengetahui sebuah rahasia bahwa ia dan Riki adalah saudara sepersusuan sehingga haram untuk menikah. Dengan berat hati ia melepas cinta pertamanya.
Sementara Riki tak mudah menerima kenyataan itu, ia terus menteror Zalina. Menuduh hanya mempermainkan perasaannya hingga diminta membuktikan dengan kawin lari.
Zalina tetap teguh. Tak ingin menentang Sang Pemilik kehidupan ini. Berbagai cara ia lakukan agar bisa lepas dari Riki, termasuk membuka hati untuk lelaki lain.
Memang tak mudah menemukan pelabuhan hati meski Zalina punya banyak pengagum. Berbagai hambatan ia temui. Lalu pada siapakah hatinya akhirnya berlabuh?
(Dear pembaca, semoga ada hikmah dari cerita ini yang bisa diambil. Jangan lupa like dan komen yaa :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kedatangan Sharim
Sudah sepuluh menit berlalu. Uni Puti masih menangis, tapi sudah tak sehisteris sebelumnya. Abi dan Uda Rizal masih memegangi, takut ia mengamuk lagi. Aku dan Umi juga masih duduk di pojok kursi, sambil berangkulan. Sementara Bibi Hana dan Uda Riki, berdiri menyender di dekat pintu.
Tak lama, terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Spontan, Umi langsung berdiri. Melihat ke luar dari dekat pintu.
"Nak Sharim dan calon besan kita sudah datang. Bagaimana ini? Semuanya benar-benar berantakan. Ya Allah, padahal hari ini putriku di lamar!" giliran Umi yang histeris, meski tak seheboh Uni Puti. "Bi, bagaimana ini?" Umi bertanya pada Abi yang duduk diam di samping Uni Puti. "Lakukan sesuatu agar mereka tak melihat semua ini. Bagaimana bila mereka bertanya. Apa yang harus kita jawab? Bicaralah Bi, katakan sesuatu. Umi benar-benar tak punya ide."
"Assalamualaikum!" suara seseorang mengucapkan salam. Lagi-lagi Umi panik, aku sendiri hanya bisa pasrah. Tak tahu harus berbuat apa selain menyapu air mata yang tersisa.
"Na, cepat rapikan wajahmu. Umi akan membersihkan ini semua. Sabar ya Na!" Umi begitu panik, mondar-mandir sambil meracau. "Ya Allah bagaimana ini? Momen yang paling kami nantikan,alah berakhir seperti ini!"
"Zalina tidak boleh menikah dengan siapapun selain denganku!" tiba-tiba Uda Riki buka suara, setelah diam saja usai mengacaukan suasana.
"Apa?" Umi melotot, menatapnya dengan tatapan tajam. "Jangan kau coba-coba mengganggu putriku, kau tahu kalian ini siapa?" Umi yang sejak tadi berusaha tenang kini mulai menunjukkan kemarahannya. "Pergi kau dari rumah ini dan jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapan keluargaku lagi!" bentak Umi.
"Maaf bibi, tapi aku akan tetap menikahi Zalina!" ia masih bersikeras.
"Memang benar-benar anak tak tahu diri. Ternyata ini sifat aslimu? Menyesal aku pernah memuji-muji. Kau ternyata tak sebaik itu. Bahkan kau tahu bagaimana hubungan kalian tapi tetapnkeras kepala!" Umi masih membentak.
"Tidak usah mengusir kami seperti itu Bu Haji. Kami memang tak sepadan, tapi tolonglah hormati juga anakku!" sambung bibi Hana.
"Oh Tuhan, orang ini!" Umi kembali menggertak.
"Sudahlah, jika Bu Haji maunya seperti itu, tak masalah bagi kami. Aku dan anakku akan pergi jauh dan tak akan pernah melihatkan wajah kami lagi di hadapan kalian sesuai permintaan ibu haji yang terhormat.
Dan kau Riki, jatuhkanlah nak, talak pada gadis cacat itu. Tak ada guna dipertahankan. Di rumah ini saja ianhanya dianggap sebagai pembantu, lalu dioper ke rumah kita. Aku kira, dengan menjaga anak yatim akan banyak keberkahan yang kudapatkan, tapi ternyata malah sebaliknya. Masalah demi masalah saja yang ia bawa ke rumah kami. Jadi Riki, tunggu apalagi. Kau talak tiga saja dia. Toh kau juga tak menyukainya!" bentak bibi Hana.
"Tidakkkk!" kembali Uni Puti menangis histeris. Ia meraung sejadi-jadinya. Membenturkan semua badannya ke lantai. Berkali-kali lebih heboh dari yang pertama kalinya.
"Astagfirullah, jangan bicara seperti itu Uni. pinta Abi. Sambil memegangi Uni Puti.
"Ya Allah, apalagi ini? Tolong diamlah kalian. Jangan kacaukan acara putriku!" Umi ikut-ikutan histeris.
Kacau. Ya, hanya kata itu yang bisa kusebutkan untuk semua yang terjadi saat ini. Sementara aku hanya bisa menangis sambil memegang lutut. Mengucapkan istighfar berkali-kali untuk menguatkan diri sendiri.
Sementara Uda Riki kembali bicara. Mengatakan bahwa aku tak akan menikah dengan siapapun selain dengan dirinya. Rencana pernikahan aku dan Sharim akan batal. Keluarga mereka pasti tak akan menerimaku setelah kekacauan yang terjadi ini.
Ya Allah, ampuni hamba ... berulang kali aku memohon pengampunan Allah. Tak sanggup lagi membayangkan semuanya. Dengan langkah berat, aku bangkit, berjalan keluar. Uda Riki sempat memanggil, tapi kuabaikan.
"Zalina?" tanya Sharim. Ia berdiri hanya beberapa meter dari pintu, bersama beberapa orang yang entah siapa sebab aku belum mengenalnya.
"Semua sudah sangat berantakan Sharim ...." kataku, pelan. Bahkan nyaris tak terdengar.
Seorang perempuan yang mungkin usianya tak beda jauh dari Umi maju mendekatiku. Ia merangkul, membawaku dalam pelukan. Sesak di dada ini, spontan aku tumpahkan dalam pelukannya. Ia membelai kepalaku. Membisikkan kata-kata bahwa semua akan baik-baik saja.
"Zalina!" Uda Riki menyusul untuk pertama kali. Ia sampai terhenti saat melihatku dan rombongan Sharim. "Na, masuklah ke dalam. Ayo kita bicarakan semuanya pada ibuku, umi dan Abimu juga. Biar mereka semua tahu bahwa kita saling mencintai!" tegas Uda Riki.
"Tidak!" aku berkata tegas, meski dengan suara terbata. Sambil menggelengkan kepala kuat-kuat. Tega ia membahas itu lagi di hadapan calon suamiku dan keluarganya.
Entha bagaimana tanggapan Sharim dan keluarganya. Aku benar-benar tak berani membayangkan.
"Zalina. Sekali lagi Uda katakan, masuklah segera!" pinta Uda Riki lagu. "Dan kalian semua, pergilah dari rumah ini sebab Zalina tak akan menikah dengan lelaki manapun. Ia hanya akan menikah denganku. Paham kalian semua!" bentaknya lagi.
"Cukup Uda cukup! Ya Allah ...." aku nyaris tersungkur. Tak berani lagi berkata apapun.
"Nak, tenanglah." pinta perempuan yang memelukku.
"Zalina ...." Umi keluar menyusul, sementara dari dalam kembali terdengar suara histeris Uni Puti. "Oh, nak Sharim? Sudah datang? Ya Allah, bagaimana ini?" Umi langsung pucat.
"Tidak apa-apa Bu," kata Sharim, mencoba menenangkan kami semua. "Ma, Pa ... sepertinya Zalina dan keluarganya belum siap untuk menerima kita saat ini. Mama dan papa boleh pulang dulu ya." pinta Sharim pada keluarganya.
"Hahahaha, apa kubilang Zalina. Tak akan ada laki-laki baik-baik apalagi terhormat yang mau menikah denganmu. Kau adalah jodohku. Hanya aku satu-satunya lelaki yang bisa mempersunting kamu. Paham!" Pekik Uda Riki dengan senyum penuh kemenangan.
Aku menunduk. Membiarkan air mata menerobos dengan derasnya. Sakit, sungguh sangat sakit. Kenapa semuanya jadi sekacau ini? Ingin sekali berteriak, mengikuti segala gemuruh emosi di dada, tapi lagi-lagi aku tak bisa melakukannya sebab aku sadar, itu tak akan menyelesaikan masalah.
"Salahkah ... bila aku pernah jatuh cinta pada seseorang lelaki yang selalu ada saat aku tumbuh menjadi dewasa? Salahkah, jika kala itu aku berharap bisa membina mahligai rumah tangga dengannya?
Tidak, aku tak melakukan hal-hal terlarang dengannya. Cinta itu awalnya ku pendam dalam diam. Lalu baru tersampaikan saat jasadnya berada begitu jauh dariku. Kami hanya berbincang sebentar di dunia Maya. Itupun bukan soal hal-hal terlarang, bahkan sekedar menyatakan cinta saja aku malu.
Tapi kenapa, aku harus mendapatkan hukuman yang berat karena cinta yang pernah ada saat itu?" tanyaku, pada semua yang hadir.
"Tak ada yang salah, Nak. Hanya saja, boleh kami tahu, apakah sekarang kamu masih mencintainya?" tanya perempuan paruh baya yang baru kutahu ternyata adalah ibunya Sharim
"Tidak. Sudah tak ada perasaan cinta itu lagi sejak aku tahu ia adalah saudara sepersusuan denganku. Kami dilarang oleh syariat, haram untuk menikah. Hal itu yang coba selaku kukatakan padanya. Tapi dari hari ke hari ia terus merongrong dengan segala hal menyakitkan seolah aku yang paling bersalah, tega mempermainkan perasaanya." ungkap ku.
Ibunya Sharim berbisik pada putranya. Lalu ia mengajak suami dan rombongan lainnya untuk kembali setelah pamit padaku dan Umi yang berada di rumah.
tetap semangat dan jaga kesehatan Thor .
semoga yang semua baca ini di jauhkan dari namanya iri dengki Aamiin .
hiks terharu aku semoga calon imam masa depan ku seperti sharim yah Thor hehehheheh .
puas saya bacanya
padahal masih banyak yg belum selesau dari cerita2 sebelumnya.
selalu samawa utk za dan sahrim ya thor, urusan umi dan abi biar athor saja yg urus
hhee
10 like mendarat buat kk.
Lanjut up ya.
msmpir jg di bukalah hatimu untukku