Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Ketua Perguruan Macan Hitam
Menyadari datangnya bahaya, Wira langsung memperkuat pertahanannya. Pedang di tangannya terangkat ke atas untuk melakukan tangkisan.
Tubuh Wira kembali terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Namun sedetik berikutnya, dia langsung melesat maju memberi serangan balasan dengan jurus terkuatnya.
"Pedang Cahaya Pembasmi Iblis ... Hiaaat!!!" teriak Wira dengan kerasnya.
Ketua perguruan itu tidak menyangka jika pemuda itu bisa langsung memberikan serangan balik setelah terdorong ke belakang oleh serangannya.
"Jangan kau kira bisa mengalahkanku!"
Ketua perguruan Macan Hitam itu ikut bergerak maju menyongsong serangan Wira. Tongkat hitam di tangannya menderu keras seiring luncuran tubuhnya yang tak kalah cepat.
Pertarungan sengit pun terjadi dengan begitu dahsyat. Adu kekuatan energi tenaga dalam benar-benar tersaji dalam pertarungan mereka berdua.
Wira melenting ke atas dan berputar di udara dua kali untuk menghindari serangan tongkat hitam yang menebas perutnya. Setelah itu dia kembali harus berjibaku karena sebuah sodokan yang kuat terarah menuju lehernya.
Dengan cepat, Wira menarik tubuhnya ke bawah untuk menghindar, sekaligus memberi serangan balik. Bagian perut lawannya yang terbuka berusaha dimanfaatkannya dengan mengarahkan ujung pedangnya terarah lurus ke depan.
Lelaki tersebut terkejut dengan serangan balasan cepat yang dilancarkan Wira. Dia langsung menarik tongkatnya ke bawah untuk memberikan tangkisan.
Namun yang terjadi kemudian membuat lelaki itu mati kutu, Wira menarik serangannya dan bergerak menyamping dengan cepat sambil menyabetkan pedangnya ke arah leher lawannya itu.
Aaaakh!
Dengan langkah terhuyung, ketua perguruan itu memegangi lehernya yang sudah terkoyak dalam. Beberapa detik kemudian, tubuh lelaki setengah baya itupun terjatuh ke lantai dan tewas seketika.
Setelah membunuh lawannya, pemuda itu melihat para prajurit sudah dalam keadaan terdesak. Wira tidak tinggal diam begitu saja. Dia langsung melesat dan menyerang beberapa orang sekaligus. Satu-persatu orang yang hendak menculik Sinta, berhasil dibunuhnya dengan begitu cepat.
Tak butuh waktu lama, pertempuran kecil itupun terhenti. 13 orang yang tersisa sudah tergeletak tidak bernyawa. Di sisi lain, dua orang prajurit menjadi korban. Mereka berdua meninggal setelah terkena tebasan pedang lawan.
5 orang prajurit yang masih hidup memandang Wira dengan sedikit rasa takut. Dari 13 orang yang menyerang, 7 orang di antaranya berhasil dibunuh oleh pemuda itu.
"Kisanak, bisakah kau jelaskan apa yang baru saja terjadi? Siapa orang-orang itu?" tanya seorang prajurit dengan sopan. Dia tidak mau menyinggung perasaan pemuda yang ada di depannya tersebut.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa Kotaraja ini tidak aman untuk pendatang sepertiku? Tadi siang 6 orang mengeroyokku. Dan sekarang kalian bisa lihat sendiri mayat-mayat itu!" tanya Wira geram.
5 orang prajurit itu saling berpandangan. Mereka berlima terlihat bingung dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Wira.
"Maaf, Kisanak. Apakah sebelumnya Kisanak ada permasalahan dengan seseorang di Kotaraja ini?"
Wira menggelengkan kepalanya, "Aku tidak membuat masalah sama sekali dengan siapapun setibanya aku di sini."
Prajurit tersebut menggaruk kepalanya pelan. Dia dibuat bingung dengan jawaban yang diberikan Wira. Jika tidak ada masalah dengan siapapun, tapi kenapa pemuda di depannya itu dua kali mendapat serangan dalam sehari, pikirnya.
Seorang prajurit berinisiatif untuk memeriksa lelaki setengah baya yang tadi melawan Wira. Dia terkejut karena mengenal siapa sosok yang sudah tewas itu.
"Suwarna!" gumamnya pelan.
Setelah memastikan lelaki bernama Suwarna itu sudah tewas, prajurit itu kembali menemui teman-temannya.
"Mereka dari perguruan Macan Hitam. Dan lelaki yang sudah tewas itu ketua perguruan tersebut."
"Benar... sebelum mati, dia menyebutkan kalau dia adalah ketua perguruan Macan Hitam," sahut Ranu.
4 prajurit lainnya tidak kalah terkejut dengan temannya. Mereka tahu betul jika perguruan Macan Hitam cukup disegani karena kemampuan Suwarna yang mumpuni. Rasa kagum kepada Wira pun muncul di pikiran mereka berlima.
"Begini saja... Bagaimana kalau Kisanak ikut kami ke kediaman tuan Lesmana? Kami kuatir akan terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan jika Kisanak masih di penginapan ini."
Wira tidak langsung menjawab. Pemuda itu menoleh ke arah kamar yang disewanya setelah mendengar suara kaki mendekat.
"Bagaimana keadaanmu, Wira. Apa kau baik-baik saja?" tanya Sinta. Ketakutan yang tadi dirasakannya kini sudah sirna, setelah melihat orang-orang yang hendak berbuat buruk kepada mereka telah tewas semua.
"Aku baik-baik saja! Oh iya, Tuan Prajurit ini mengajak kita untuk menuju kediaman Tuan Lesmana dan menginap di sana. Bagaimana menurutmu?"
"Aku rasa ada baiknya, Wira. Aku takut akan terjadi lagi situasi seperti ini jika kita masih tetap bertahan di sini," jawab Sinta.
"Baiklah. Kau kemasi dulu perbekalan kita. Aku mau bicara sebentar dengan Tuan Prajurit."
Sinta mengangguk. Gadis cantik itu membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke kamar untuk mengemasi barang-barang mereka.
"Ada yang ingin aku tanyakan. Bagaimana Tuan bisa berada di sini?" Wira sedikit curiga dengan kedatangan para prajurit yang datangnya hampir bersamaan dengan para penyerang yang sudah tewas itu.
"Nanti saja biar tuan Lesmana yang menjawabnya, Kisanak. Tapi yang pasti, kami tidak berniat buruk kepada kalian. Kepalaku jaminannya," jawab prajurit tersebut.
"Baiklah. Aku percaya kepadamu, Tuan. Tapi jika terjadi apa-apa dengan kami, bukan hanya kepalamu yang aku penggal, tapi kepala mereka semua!" Wira memandang 4 prajurit lainnya yang langsung menunduk ketakutan.
"Kisanak boleh membunuhku jika aku berbohong. Mari kita ke sana sekarang!" balas prajurit itu setelah melihat Sinta berjalan ke arah mereka.
Tidak lama berjalan, mereka akhirnya sampai di rumah Lesmana. Seorang prajurit langsung masuk ke dalam untuk menyiapkan kamar bagi mereka berdua.
"Besok pagi aku akan laporkan penyerangan yang Kisanak alami kepada Tuan Lesmana. Sekarang beliau sedang beristirahat, aku kuatir beliau marah jika mengganggunya."
Wira memahami ucapan prajurit tersebut. Dia lalu mengarahkan pandangannya ke sekeliling untuk melihat situasi di dalam rumah besar itu.
Tak berapa lama, prajurit yang menyiapkan kamar untuk Wira dan Sinta sudah kembali. "Kamar untuk kalian sudah siap, Kisanak."
Prajurit tersebut lalu berjalan dan diikuti Wira serta Sinta di belakangnya.
Setelah sampai di dalam kamar yang cukup luas itu, mereka berdua langsung merebahkan tubuhnya. Meski sudah memaksa mata untuk terpejam, namun kejadian yang tadi mereka alami membuat rasa kantuk mereka hilang.
"Wira... Kau adalah seorang pendekar, dan seorang pendekar pasti dekat dengan pertarungan yang menumpahkan darah. Setelah aku pikir-pikir, aku harus bisa terbiasa dengan darah dan mayat jika bersamamu."
Wira membuka matanya setelah mendengar perkataan Sinta. "Memang seperti itulah jalan hidupku, Sinta. Tapi aku tidak ingin kau menjadi pendekar juga sepertiku."
"Kenapa?" tanya Sinta keheranan.
"Karena sudah menjadi kewajibanku untuk melindungimu. Aku hanya ingin kau nanti menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku," sahut Wira cepat.
Bagai disambar petir, tubuh Sinta sampai bergetar bahagia setelah mendengar jawaban Wira. Dia langsung memiringkan tubuhnya hendak merangkul Wira yang ada di sampingnya, tapi pemuda itu langsung mencegahnya.
"Kau jangan memancing nafsuku, Sinta. Kemarin kau bilang kita akan melakukannya setelah menikah nanti, bukan?"
Sinta tersenyum malu-malu. "Maaf, Wira. Aku terlalu bahagia mendengar ucapanmu tadi."
"Aku tahu. Itu terlihat dari pipimu yang seperti kepiting rebus, hahaha!"
Sinta langsung menutup wajahnya dengan bantal karena malu.
"Sekarang kita tidur dulu. Besok pagi kita harus menemui Tuan Lesmana. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepadanya."