NovelToon NovelToon
Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayamgoreng

Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.

Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.

Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.

Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.

"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari H

Tidak terasa tiga hari berlalu dengan cepat, hari ini adalah hari sepesial yaitu Hari pernikahan Devan Dan Nadia. Meskipun Devan Alister memilih untuk merahasiakan pernikahan ini dari media demi melindungi privasi dan kandungan Nadia, ia sama sekali tidak mau membuat acara yang seadanya.

Bagi Devan, acara kecil pun harus tetap terlihat berkelas dan dipersiapkan dengan matang—walaupun di balik layar situasinya berbanding terbalik dengan panggung yang mewah.

Halaman belakang mansion disulap menjadi tempat resepsi terbuka yang sangat indah. Ribuan lampu kecil digantung menjuntai seperti tirai bintang, berpadu dengan dekorasi mawar putih segar yang harum. Sebuah panggung kecil dengan lantai kaca dipasang tepat di atas kolam renang, membuat suasana malam itu terasa sangat romantis.

Tamu yang diundang memang sangat sedikit, hanya belasan orang saja yang terdiri dari tim hukum kepercayaan Devan, beberapa sahabat dekatnya, serta Bi Minah dan Leo. Namun, suasana yang harusnya berjalan tenang malah jadi heboh karena kelakuan Leo.

Pria berbadan tegap itu tampak jauh lebih ribut daripada sang pengantin pria. Dengan setelan jasnya yang rapi, Leo sibuk mondar-mandir mengatur ini-itu sambil mengomel di telefon.

"Halo, tim catering? Tolong sendok sama garpunya diluruskan lagi ya, jangan ada yang miring! Terus itu taplak meja di sebelah kanan, tolong ditarik sedikit biar posisinya pas di tengah!" seru Leo dengan wajah sangat serius melalui alat komunikasinya. Pria itu bahkan sampai ikut mengelap kursi-kursi yang sebenarnya sudah bersih mengkilap.

Setalah menutup teleponnya, Leo berbalik badan untuk menuju tempat minuman, tiba tiba matanya langsung melotot besar saat melihat seorang anak kecil sedang menurunkan gelas gelas kaca yang sudah di susun meningkatkan dengan susah payah.

"Aduh! Ini anak siapa tolong di kurung?! Ini gelasnya kok malah di turunin lagi padahal udah di susun rapi" Omel Leo entah pada siapa.

Bocah kecil itu yang di omelin hanya plonga plongo, lalu dia di tarik pergi oleh salah satu pelayan Devan yang ada di sana.

Dia langsung meronta ronta minta di lepaskan. "Gak mau! Epass!" pekiknya dengan kata kata yang belum matang.

"Ikut mbak aja, sini. nanti kamu di makan om itu, mau?!" kata pelayan Devan menakut nakutin.

Leo yang mendengar itu menatap sang pelayang Devan. "Heh! Sembarang aja kamu! Sapa juga yang mau makan dia! Berdaging aja belum, mana enak" kata Leo, pelayan itu meringis pelan, niat hati ingin menarik bocah itu menjauh dari Leo, eh malah dia yang jadi sasaran amuk.

Sedangkan bocah kecil tadi sudah lari entah kemana karena takut melihat wajah monster Leo sembli berteriak.

"HUWAA!! AKUTT!!" teriaknya melengking.

Bi Minah yang sedang berjalan membawa nampan minuman langsung geleng-geleng kepala melihat drama konyol itu. "Leo, kamu ini bikin takut anak kecil aja. Gelas juga itu baru di turunin satu tapi kamu udah ngomel" kata Bi Minah geleng geleng kepala. "Ini yang nikah kamu apa tuan muda? Kok malah kamu yang heboh dari pengantin nya?"

"Aduh, Bi Minah nggak tahu aja. Saya tegang banget ini, takut ada yang kurang sempurna. Kalau sampai Pak Devan lihat ada yang berantakan, bisa habis saya diamuk" sahut Leo sambil sibuk membetulkan posisi gelas untuk kesekian kalinya.

"Ada ada aja kamu ini, le le"

....

Sementara itu di dalam kamar pengantin, Nadia berdiri di depan cermin besar dengan jantung yang berdebar kencang. Malam ini, ia terlihat sangat anggun mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading. Model gaunnya sengaja dibuat agak longgar di bagian pinggang untuk menyamarkan perutnya yang mulai membuncit, tetapi tetap terlihat sangat pas dan cantik saat ia kenakan.

"Aku bakal jadi ratu sehari" bisik Nadia sembari melihat dirinya sendiri di cermin.

Tiba tiba pintu terbuka, Devan masuk dengan setelan tuksedo hitam yang rapi. Pria yang biasanya selalu pasang wajah datar dan cuek itu seketika langsung diam berdiri di ambang pintu. Devan menatap Nadia tanpa berkedip selama beberapa detik, sampai-sampai pundaknya tidak sengaja menyenggol vas bunga kecil di dekat meja.

Sreeek... Hap!

Untungnya refleks Devan sangat cepat. la langsung menangkap vas itu tepat sebelum jatuh ke lantai. Devan terbatuk pelan untuk menutupi rasa malunya, lalu meletakkan kembali vas itu ke tempatnya semula.

Nadia yang melihat kejadian itu langsung tertawa kecil. Rasa gugupnya mendadak hilang. "Untung nggak pecah, refleks kamu cepat juga ya"

"Iya, untung ketangkap. Kamar ini lantainya agak licin sepertinya" sahut Devan beralasan, padahal wajahnya sudah memerah tipis karena malu. la berjalan mendekat lalu menatap Nadia dengan serius. "Kamu... cantik banget malam ini, Nadia. Gaunnya pas, nggak kelihatan kalau kamu lagi hamil."

Nadia langsung melotot kecil sambil memukul pelan pundak Devan. "Devan, kamu ini niat muji atau mau ngejek aku sih? nggak jelas banget" kata Nadia kesal.

Devan tidak menjawab, tapi sudut bibirnya sedikit tersenyum. la lalu mengulurkan tangannya untuk menggandeng Nadia.

Mereka berdua berjalan berdampingan menuruni tangga mansion menuju halaman belakang. Alunan musik klasik langsung menyambut kedatangan mereka, membuat suasana terasa semakin hangat.

Prosesi akad nikah dan pencatatan sipil pun berlangsung di atas panggung kaca dengan sangat lancar. Saat mengucapkan kalimat kabul, Devan mengucapkannya dengan satu tarikan napas yang sangat tegas dan keras, mirip seperti orang yang sedang memberikan instruksi tegas di dalam ruang rapat kerja. Penghulu di depannya bahkan sampai agak kaget mendengar suara Devan yang begitu lantang.

Begitu penghulu bertanya, "Bagaimana para saksi? Sah?"

"SAAAHHH! Akhirnya Pak Devan nikah juga! Nggak lajang lagi uhuyyy"

Suara teriakan yang paling kencang bukan datang dari para sahabat, melainkan dari Leo yang berdiri di barisan paling belakang. Asisten setia itu bahkan langsung mengeluarkan saputangan dari sakunya untuk menyeka air matanya yang menetes karena menangis sesenggukan.

"Hus! Malu-maluin saja kamu ini, Leo. diliatin orang itu!" bisik Bi Minah gemas sambil menyenggol kuat lengan Leo.

"Aduk, Bik. Ini saya lagi senang dan terharu. Akhirnya Pak Devan punya istri, jadi nggak sendirian terus di rumah besar ini" ucap Leo pelan sambil terus mengusap matanya.

"Terus nanti pasti tidur nya nggak sendirian lagi, ada yang puk puk"

Mendengar itu Bi Minah langsung mencubit lengan Leo. "Aduh, bik! Sakit tau!" seru Leo sembari meringis.

Bi Minah hanya acuh, dia lalu kembali menatap sang pengantin yang tampak cantik dan tampan. Leo yang di acuhkan mencebikan bibirnya.

Setelah semua prosesi resmi selesai, acara dilanjutkan dengan makan malam dan dansa santai. Lampu di halaman belakang dibuat agak temaram, bergerak lambat mengikuti irama lagu. Devan merangkul pinggang Nadia dengan hati-hati, sementara tangan Nadia bersandar di pundak bidang suaminya.

"Makasih ya, Devan. Pestanya bagus banget, padahal kamu bilangnya cuma acara kecil-kecilan" kata Nadia lembut sambil menatap wajah Devan.

"Sama-sama. Walaupun pernikahan ini berawal karena kontrak, tapi kan acaranya harus tetap dibuat yang bagus biar kamu juga merasa nyaman" jawab Devan langsung dengan jujur.

Nadia tertegun sejenak. Kata 'pernikahan kontrak' membuat senyum mengembangkannya langsung turun. Dia merasa seperti di tampar palu Godam di pesta ini padahal dia sendiri hanya di pakai untuk alat kontrak.

"O-oh, iya yah" Kata Nadia kecewa.

Devan yang memang tidak peka mengangguk sembari tersenyum tipis, dia lalu mengulurkan tangan di depan Nadia.

"Maukah kamu berdansa dengan ku, Nadiara?" tanya Devan dengan jantan.

Nadia terdiam mematung, seketika dia melupakan rasa sesak tadi karena perlakuan manis Devan, dengan gugup ia lalu menyambut uluran tangan Devan.

"A-aku mau" sahut Nadia menunduk malu.

Devan pun menarik Nadia untuk berdansa, Nadia meletakkan tangan di bahu Devan yang kokoh. Sementara tangan Devan berteger manis di pinggang ramping Nadia.

Mereka berdansa dengan pelan mengikuti irama musik yang mengalun lembut.

Wajah mereka bahkan hanya berjarak beberapa centi, Wajah Nadia bersemu merah melihat wajah Devan sedekat ini. Fitur wajah Devan yang tegas tampak jantan dan tangguh di matanya.

"Kamu lihai juga berdansa" kata Devan di sela sela Dansa.

Nadia tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di dada Devan. "Sebenarnya aku nggak terlalu bisa dansa, tapi aku bakal ngikutin langkah kamu biar serempak"

Devan mendengar itu merasa hatinya melambung tinggi "Iya, ikutin aja langkah aku" balas Devan, dengan semangat Devan mencoba memutar tubuh mereka mengikuti irama musik dengan gerakan yang agak cepat.

Namun karena Devan bergerak mendadak, Nadia yang memakai sepatu hak tinggi berujung runcing langsung kehilangan keseimbangan. Tanpa sengaja, tumit sepatu tingginya langsung menginjak telak punggung kaki Devan.

INJAK!

"Akhhh...!" Devan langsung meringis ngilu. Wajahnya yang semula sok keren langsung berubah drastis. la memejamkan matanya rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit luar biasa sampai badannya agak membungkuk.

Nadia langsung panik begitu sadar apa yang baru saja terjadi. "Eh! Ya ampun, Devan! Maaf, maaf banget! Aku nggak sengaja! Sakit banget, ya?"

Devan mencoba berdiri tegak lagi sambil memegangi pundak Nadia untuk menahan keseimbangan kakinya yang cenat-cenut. la menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mempertahankan wibawanya di depan para tamu.

"Nggak papa. Tapi sepatu kamu itu yang sepertinya perlu didesain ulang biar nggak mirip senjata tajam" sahut Devan sambil mendengkus pelan, mencoba mengalihkan rasa ngilunya dengan menyalahkan sepatu.

Mendengar hal itu, Nadia langsung melepaskan tangannya dari pundak Devan. la memundurkan langkahnya sedikit, lalu melipat kedua tangannya di dada sambil mengerucutkan bibirnya karena merajuk.

"Kok malah nyalahin sepatu aku, sih? Di mana-mana kalau dansa itu cowoknya yang mimpin pergerakan dengan benar. Lagian kamu yang tiba-tiba muter badan mendadak kayak gasing, makanya aku oleng! Kalau tahu bakal disalahin begini, mending tadi aku pakai sandal jepit aja sekalian biar aman!" omel Nadia sambil memalingkan wajahnya, pura-pura kesal.

Devan yang melihat Nadia merajuk dengan bibir mengerucut justru langsung salah tingkah. Rasa ngilu di kakinya mendadak terlupakan begitu melihat ekspresi menggemaskan dari istrinya itu. Pria kaku itu berdehem pelan, lalu buru-buru menarik kembali tangan Nadia dengan lembut agar kembali mendekat.

"Iya, iya, maaf. Saya yang salah langkah karena terlalu bersemangat" ucap Devan mengalah, suaranya melembut. "Jangan ngambek begitu, nanti anak kita di dalam sana ikutan cemberut."

Mendengar ucapan Devan yang mendadak pasrah dan membawa-bawa kandungan, pertahanan Nadia runtuh. la tidak bisa menahan tawa.

Melihat senyuman manis istrinya, Devan merasa hatinya menjadi sangat hangat. la memeluk tubuh Nadia sedikit lebih dekat agar wanita itu merasa aman, kali ini dengan gerakan kaki yang jauh lebih pelan dan menjaga jarak aman dari tumit sepatu Nadia.

"Mulai malam ini, kamu tidak perlu cemas lagi. Apa pun yang terjadi, kamu dan anak kita akan selalu aman dan bahagia di rumah ini" ucap Devan dengan suara rendah namun penuh kesungguhan.

Di bawah cahaya lampu malam yang indah dan diiringi suara tangis haru Leo yang masih belum berhenti di sudut taman sambil sibuk menghabiskan sisa kue pengantin, mereka berdansa dengan mesra. Melupakan semua masalah yang terjadi.

★★★

1
Rita Rita
pelakor selalu menikmati hasil orang lain,dan Arkan sama Ghea menikmati hasil juga dari merampas harta orang
Rita Rita
pokoknya begitu klik langsung lebur,, AQ paling suka gercap,,,
Rita Rita
diri ku mampir, keknya menarik banget alur ceritanya Thor,,
KakLia
canggung bngt yah pak🤭
KakLia: terserah kk aja, kan author adalah penguasa🤣
total 2 replies
Ayamgoreng
wah ad yg komen. oke!! udh ta up satu tuh
Iffanaya 😽
kuy ditunggu lanjutannya kk 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!