NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Ruang Tengah Yang Mencekam

Sesuai dengan kesepakatan gila di restoran Menteng kemarin, jarum jam dinding di ruang tengah penthouse mewah itu kini tepat bertengger di angka empat sore. Suasana ruangan yang didominasi warna monokrom itu mendadak terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Di luar, langit Jakarta untungnya sedang cerah, memancarkan semburat jingga kemerahan yang menembus dinding kaca raksasa, tidak ada tanda-tanda badai atau gerimis seperti dua malam lalu.

Namun, bagi Arkananta Pradipta, atmosfer di dalam ruangan ini terasa jauh lebih mencekam ketimbang badai petir mana pun.

Arka duduk tegak di atas sofa kulit hitamnya, masih mengenakan kemeja kerja putih tanpa jas. Dua kancing teratasnya sudah dibuka, dan lengan kemejanya digulung hingga sebatas siku. Wajahnya mengeras, tatapan matanya lurus menatap sebuah meja kopi marmer di depannya. Di atas meja itu, tidak ada tumpukan laporan keuangan atau berkas akuisisi saham perusahaan.

Hanya ada dua benda yang diletakkan berdampingan: sebuah stetoskop perak milik Ayana dan sebuah ponsel pintar yang layarnya masih gelap.

Ayana sendiri duduk di sofa tunggal yang berada di sisi kanan Arka. Penampilannya sore ini terlihat santai namun memancarkan aura ketegasan seorang praktisi medis. Ia mengenakan celana jins gelap dan kemeja flanel longgar yang lengannya digulung. Rambut cokelatnya diikat kuda dengan rapi, menampilkan leher jenjang dan wajah polosnya tanpa beban. Di pangkuannya, terdapat sebuah papan jalan dengan beberapa lembar kertas putih dan sebuah pulpen gel hitam.

"Pak Arka," panggil Ayana lembut, meloloskan nada judes yang biasanya selalu ia gunakan untuk memancing emosi sang CEO. "Sebelum kita mulai, saya mau menegaskan satu hal lagi. Terapi exposure atau paparan bertahap ini tujuannya bukan untuk menyiksa Anda. Tujuannya adalah melatih otak amigdala Anda—bagian otak yang mengatur rasa takut—untuk menyadari bahwa suara-suara dari masa lalu itu tidak bisa lagi melukai Anda di masa sekarang. Paham?"

Arka mendeham pendek, suaranya terdengar sangat berat dan kering. "Saya paham, Dokter. Jangan meremehkan daya tahan mental saya. Mulai saja."

Ayana tersenyum tipis, ada secercah rasa kagum melihat keangkuhan Arka yang enggan runtuh bahkan di saat pria itu sedang gemetar tipis di bagian ujung jemari tangannya.

"Baik. Kita mulai dari tahap pertama: rekonstruksi kognitif verbal," kata Ayana sembari membetulkan posisi duduknya agar menghadap penuh ke arah Arka. "Saya mau Anda memejamkan mata, lalu ceritakan kepada saya... apa yang terjadi di malam kecelakaan itu. Jangan dilewati bagian mana pun. Ceritakan detailnya sampai Anda merasa tidak sanggup lagi."

Arka menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu menutup kedua kelopak matanya.

Begitu kegelapan menyelimuti pandangannya, memori kelam yang selama belasan tahun ini ia gembok rapat di dasar kesadarannya mendadak berputar kembali seperti proyektor film tua yang rusak.

"Malam itu... hujan turun sangat deras. Lebih deras dari dua malam lalu," suara Arka mulai mengalir, terdengar datar namun ada getaran halus di setiap artikulasinya. "Saya baru berusia empat belas tahun. Kami baru saja pulang dari acara makan malam perayaan ulang tahun pernikahan orang tua saya di sebuah hotel di pusat kota. Ayah saya yang menyetir, Ibu duduk di kursi penumpang depan, dan saya duduk di tengah kursi belakang."

Arka menjeda kalimatnya. Dada bidangnya mulai naik-turun dengan ritme yang sedikit lebih cepat. Ayana memperhatikan pergerakan itu dengan saksama, tangannya bersiap di atas papan jalan untuk mencatat perkembangan respons fisik sang pasien.

"Jalanan sangat licin," lanjut Arka, cengkeraman tangannya pada lutut celananya mulai mengeras. "Ayah saya mengemudi dengan kecepatan sedang. Kami sedang mendengarkan lagu klasik dari radio tape mobil... Ibu saya sempat menoleh ke belakang, tersenyum, dan memberikan saya sepotong cokelat sisa dari restoran. Tapi... tepat saat mobil kami berada di persimpangan jalan layang..."

Napas Arka mendadak tertahan di tenggorokan. Keringat dingin mulai tampak bermunculan di pelipis dan dahi tegapnya.

"Sebuah truk kontainer dari arah berlawanan mengalami rem blong," bisik Arka, suaranya mendadak berubah menjadi sangat lirih dan rapuh, persis seperti suara anak kecil belasan tahun lalu. "Truk itu meluncur turun dari jalan layang, menabrak pembatas jalan, lalu... menghantam bagian depan kanan mobil kami. Suara benturannya... sangat keras. Seperti suara ledakan bom."

"Lalu apa yang Anda lihat setelah hantaman itu, Arka?" tanya Ayana dengan nada suara yang sangat tenang dan menghanyutkan, memandu kesadaran Arka agar tidak tenggelam dalam kepanikan ekstrem.

"Gelap... semuanya gelap untuk beberapa saat," kedua mata Arka yang terpejam tampak bergerak-gerak gelisah di balik kelopak matanya. "Ketika saya sadar, kepala saya pusing dan berdarah. Saya melihat ke depan... Ayah saya pingsan di atas setir mobil yang hancur. Dan Ibu... Ibu saya terjepit di antara dasbor mobil yang ringsek. Tubuhnya dipenuhi darah... jas putih dokter yang beliau kenakan malam itu... berubah warna menjadi merah tua."

"Apa yang Anda lakukan saat itu?"

"Saya berteriak... saya mencoba menarik tubuh Ibu dari belakang, tapi kaki beliau terjepit besi kabin. Saya menangis, memohon agar beliau membuka matanya..." sebut Arka, napasnya kini sudah berubah menjadi tersengal-sengal. "Lalu... dari kejauhan, saya mendengar suara itu. Suara sirine ambulans yang meraung-raung mendekat. Suaranya sangat bising, berputar-putar di dalam kepala saya bercampur suara rintik hujan dan klakson mobil lain yang macet."

Arka membuka matanya mendadak. Manik mata hitamnya memancarkan kilat ketakutan yang luar biasa nyata. "Ambulans itu datang... para dokter dengan jas putih berdatangan... mereka menarik saya keluar, mereka membawa Ibu saya ke dalam mobil darurat itu... tapi di dalam perjalanan ke rumah sakit... suara sirine itu terus berbunyi... dan tepat saat sirine itu mati... dokter di depan saya menggelengkan kepalanya. Ibu saya... sudah tidak bernapas."

Arka mencengkeram dadanya sendiri dengan tangan kanan. Napasnya memburu hebat, hyperventilation mulai menyerang sistem pernapasannya. Angka denyut nadinya jika diukur saat ini pasti sudah melesat melewati angka 120 kali per menit.

Ayana segera meletakkan papan jalannya ke lantai. Ia bergeser duduk ke ujung sofanya, mendekati Arka, lalu meraih kedua tangan pria itu dan menggenggamnya dengan sangat erat. Kehangatan telapak tangan Ayana langsung menyengat kulit dingin Arka yang sedang didera syok psikologis.

"Arka, lihat saya! Tatap mata saya!" perintah Ayana tegas, memaksa fokus mata liar Arka untuk terkunci pada dirinya. "Itu kejadian belasan tahun lalu. Ibu Anda sudah tenang di sana. Dan Anda sekarang ada di sini, di penthouse Anda, bersama saya. Anda aman. Tidak ada truk, tidak ada darah, tidak ada kematian malam ini. Tarik napas dalam-dalam... lewat hidung... keluarkan lewat mulut. Ikuti ritme saya."

Ayana membusungkan dadanya, memberi contoh gerakan napas yang dalam dan teratur. Arka yang sedang berjuang melawan halusinasi traumanya mencoba mengikuti instruksi tersebut. Ia menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata bulat Ayana yang memancarkan ketenangan absolut—sebuah jangkar kewarasan yang menahannya agar tidak hanyut dalam badai masa lalu.

Setelah hampir lima menit melakukan teknik grounding napas, kondisi Arka perlahan-lahan mulai stabil kembali. Keringat dinginnya mengucur membasahi kemeja putihnya, namun dadanya tidak lagi naik-turun dengan ekstrem.

Ayana melepaskan genggaman tangannya perlahan, memberikan ruang bagi Arka untuk menyandarkan punggungnya yang lemas ke sofa. "Kerja bagus, Pak Bos. Tahap pertama selesai. Anda berhasil menceritakannya tanpa pingsan atau berteriak histeris. Itu kemajuan yang luar biasa untuk ukuran pasien pemula yang keras kepala."

Arka meraih segelas air putih di atas meja dengan tangan yang masih sedikit bergetar, meminumnya hingga tandas. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu menatap Ayana dengan tatapan jengkel yang dibuat-buat. "Itu baru tahap pertama? Berapa tahap lagi yang harus saya lewati dalam metode siksaanmu ini, Dokter?"

Ayana tersenyum jahil, sebuah binar penuh kemenangan terpancar dari wajah manisnya. Ia meraih ponsel pintar di atas meja, lalu mengutak-atik layarnya selama beberapa saat.

"Tahap kedua adalah tahap yang paling seru, Pak Arka," ujar Ayana sembari menaikkan sebelah alisnya. "Kita akan melakukan auditory exposure. Saya sudah mengunduh rekaman audio suara sirine ambulans dalam berbagai intensitas volume, mulai dari yang paling pelan sampai yang paling berisik mirip klakson truk tronton."

Wajah Arka seketika memucat kembali saat mendengar kata 'suara sirine ambulans'. "Ayana, jangan bercanda—"

"Saya tidak pernah bercanda kalau sudah memegang stetoskop dan rekam medis Anda, Bapak Arkananta," potong Ayana dengan nada suara yang kembali berubah menjadi mode dokter diktator yang mutlak. "Sekarang, posisikan diri Anda senyaman mungkin. Saya akan menyalakan audionya dengan volume paling rendah, yaitu lima persen. Tugas Anda adalah tetap membuka mata, menatap saya, dan rasakan bahwa suara itu hanyalah sebuah file digital berformat MP3 yang tidak punya kekuatan apa pun untuk melukai fisik Anda yang kekar ini. Paham?"

Arka mengepalkan tangannya kembali, rahangnya mengencang kokoh. Ia menatap Ayana dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh perpaduan antara rasa kesal, rasa takut, sekaligus rasa kagum yang amat mendalam pada keberanian wanita di hadapannya ini.

"Nyalakan," tantang Arka dengan suara beratnya, siap untuk memasuki babak kedua pertempurannya melawan hantu masa lalu dengan Dokter Ayana sebagai satu-satunya panglima perangnya.

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!