sequel dari i love you om
Bagi Tasya cinta dan pernikahan cukup terjadi sekali dalam hidupnya, menikah dengan Arga Fransisco tidak pernah terbayang sekalipun di benaknya karena yang ia tau hatinya menyukai Kelvin Anggara namun ternyata ia salah hatinya sudah tertaut sejak lama untuk Arga, sejak ia di titipkan oleh sang papa kepada Arga atau sejak Arga mendonorkan darahnya untuk Sandra. Tasya tidak tau kapan cinta itu hadir, namun setelah cinta itu hadir begitu besar untuk Arga dalam pernikahan mereka, kasih sayang yang selalu Arga berikan ternyata banyak menyimpan kebohongan.
"Aku memang pernah terluka, tapi tidak akan pernah siap untuk terluka kembali."
~Tasya~
"Berhenti! jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
~Arga~
Sanggupkah Tasya bertahan atau memilih pergi meninggalkan Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu ada
Happy reading
*******
Tasya menatap nanar Sandra yang seakan menjaga jarak dengannya, saat Sandra sadar, wanita hamil itu selalu berbicara jika dirinya mampu sendiri. Ketika Tasya atau pun Alex ingin membantunya. Miris, itulah yang Tasya rasakan sekarang. Sudah seminggu Sandra di rawat di rumah sakit ini, wanita hamil itu sudah di perbolehkan pulang. Namun, Sandra tidak ingin pulang ke rumah suaminya membuat Tasya dan Alex benar-benar sangat merasa bersalah.
"Mah, maafin Tasya."
"Kamu tidak salah kok Tasya, mama yang salah karena terlalu ikut campur dengan urusan masa lalu kalian. Mama mengerti, mama hanyalah ibu tiri, tak seharusnya mama ikut campur. Jagain papa ya, selama mama tidak ada di rumah."
"Mah, pulanglah ke rumah. Tasya janji gak akan seperti itu lagi."ucap Tasya sendu.
"Yang di katakan Tasya benar sayang, pulanglah ke rumah kita saja. Mas dan Tasya sangat membutuhkan kamu."
"Sandra butuh waktu mas. Sandra hanya butuh waktu seminggu untuk sendiri dan berada di rumah bunda, sudah lama juga Sandra tidak mengunjungi orang tua Sandra."
"Tapi..."
"Mah, please."
"Ini sudah keputusan Sandra. Kita perlu introspeksi diri masing-masing, mungkin selama ini Sandra sudah sangat lancang ikut campur dengan urusan kalian. Jadi, Sandra minta maaf jika selama ini Sandra sudah menjadi istri dan ibu tiri yang tak tau diri."
Hati Tasya semakin tersayat saat Sandra mengucapkan kata yang sangat menghunus hatinya, Tasya kecewa. Tetapi, ia lebih kecewa pada dirinya sendiri yang tak mampu membuat Sandra bahagia hidup di tengah-tengah keluarga kecilnya. Tasya menatap sang papa yang sangat menyesal terlihat dari wajahnya yang penuh bersalah dan pucat menatap Sandra.
"Kamu boleh menginap di rumah bunda, tapi hanya satu hari."
"Tidak. Aku ingin satu minggu, jika mas tidak mengizinkan aku akan tetap pergi mungkin lebih lama dari satu minggu, seizin atau tanpa izin mas dan Tasya."
Tasya memeluk Sandra erat, ia sedih mendengar perdebatan antara orang tuanya.
"Mama boleh menginap di rumah nenek Diana, tapi bolehkan mama tidak menjaga jarak dengan papa dan Tasya?"
"Mama hanya ingin melihat sejauh mana mama berati di hidup kamu dan papa kamu. Jika mama tidak berarti, mama sudah tau apa yang harus mama lakukan."
"Mama sangat berarti bagi Tasya dan papa."lirih Tasya. Ia ingin sekali mencegah kepergian Sandra. Namun, dirinya tak mampu, karena ia tau Sandra butuh sendiri. Tasya juga tau keputusan mama nya membuat papanya bersedih bahkan terlihat frustasi. Tetapi, apa mau di kata, ini adalah hasil dari kesalahan mereka.
"Baiklah, seminggu lagi mas dan Tasya akan menjemputmu."
Bak keputusan final yang tak bisa terbantahkan, Tasya dan Alex hanya mampu menerima. Walau dengan hati yang sangat tak ikhlas karena harus terpisah dengan orang yang sangat mereka cintai untuk sementara waktu.
*********
Tasya sama sekali tak bersemangat untuk beraktivitas apapun, ini adalah hari di mana ia tanpa Sandra. Sepi, itulah yang Tasya rasakan.
Arga menatap Tasya yang diam di kursi penumpangnya. Pagi ini, Arga menyempatkan diri untuk mengantar Tasya ke kampusnya. Walau kantor Arga dan kampus Tasya se-arah, tetapi Arga hari ini harus ke luar kota dan esok baru kembali. Namun, melihat raut wajah sendu dari Tasya, Arga tak tega meninggalkan gadis itu sendiri. Arga menepikan mobilnya di pinggir jalan di depan kampus Tasya. Bahkan, gadis itu tidak tau jika mereka sudah sampai, membuat Arga menghembuskan nafas panjangnya.
"Kenapa?"tanya Arga yang membawa kepala Tasya ke dada bidangnya. Tasya langsung menerimanya dengan senang hati.
"Mama pergi dari rumah."lirih Tasya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Pergi? Maksud kamu?"
"Mama dalam seminggu ini tidak ingin pulang ke rumah, mama menginap di rumah nenek Diana. Kemarin Tasya dan papa yang mengantarkannya."
"Mungkin Sandra butuh waktu untuk sendiri, biarkan mamamu itu tenang dulu. Ibu hamil sangat sensitif sayang. Kamu jangan bersedih seperti ini, bagaimana aku bisa meninggalkanmu jika kamu terus bersedih seperti ini hmm?"
"Mas Frans jadi ke luar kota?"
"Mau kamu, mas pergi atau tidak?"tanya Arga balik dengan tangan mengelus rambut Tasya perlahan.
Tasya menggeleng dengan cepat, ia sangat butuh Arga sekarang. Ia tidak ingin di tinggal sendiri di saat perasaannya sedang kacau seperti ini.
"Yaudah mas gak akan pergi."
"Bener?"
"Iya sayang. Nanti biar sekretaris mas yang mas tugaskan ke sana."
"Makasih."ucap Tasya bahagia memeluk Arga.
"Apapun untukmu."
"Jadi, kenapa masih memeluk mas seperti ini? Ayo turun kita sudah sampai di kampus kamu loh."
Tasya melihat sekelilingnya dari dalam mobil, benar saja mereka sudah sampai di kampusnya. Mengapa Tasya tidak sadar akan hal itu?
"Boleh tidak, hari ini Tasya tidak masuk kampus? Tasya mau jalan-jalan ke pantai sama mas."
"Tidak boleh sayang, kamu harus belajar yang rajin agar cepat selesai kuliahnya dan kita menikah."
"Mas, boleh ya?"rengek Tasya.
"Tidak sayang."
"Ah.... Susah minta izin sama mas Frans. Kalau begitu Tasya pergi aja sama Kelvin."dengus Tasya yang hendak keluar dari mobil. Namun, tangannya langsung di tahan oleh Arga. Wajah lelaki itu sudah mengeras menahan amarah yang Tasya yakini Arga sedang cemburu ketika dirinya menyebut nama Kelvin.
"Jangan menemui lelaki itu, sudah ku katakan kamu hanya milikku Tasya. Tutup kembali pintu mobilnya dan kita akan ke pantai segera."
Tasya tersenyum menang, saat mobil Arga melaju kembali ke arah pantai. Tasya melihat wajah Arga yang masih dingin, membuat gadis itu terkikik geli. Ia memeluk lengan Arga kembali dengan sangat erat.
"Jangan marah, ini adalah satu-satunya cara agar mas mau pergi bersama Tasya. Kita belum pernah jalan-jalan berdua seperti ini, mas selalu di sibukkan dengan urusan kantor."
Arga tersenyum, dalam hati ia juga merasa bersalah karena tak pernah mengajak Tasya jalan-jalan berdua dengannya saat gadis ini sudah menjadi kekasihnya. Ahh.. Lebih tepatnya istrinya, Tasya hanya butuh waktu untuk mengingatnya. Tetapi, jika saat ingatan Tasya kembali, apakah mereka masih seperti ini?
"Maaf. Bagaimana dengan kepalamu sayang? Masih sakit?"
"Enggak kok."
"Kita periksa ke dokter ya."
"Enggak usah mas, Tasya sudah sehat."
Arga menghela nafas perlahan menatap ke arah Tasya yang memeluk lengannya. "Jika sakit lagi, kamu tidak boleh menolak saat mas mengajak kamu ke dokter."
"Janji, gak akan sakit lagi."ucap Tasya tersenyum ke arah Arga yang di balas ciuman dari Arga di dahi Tasya.
********
Tasya langsung berlari dengan semangatnya, saat hamparan pasir putih dengan air laut yang jernih tampak di penglihatannya. Sedangkan Arga hanya mengikuti Tasya dari belakang membiarkan gadis itu menikmati pemandangan indah di depannya.
Ombak bergelung dengan kencangnya, tetapi Tasya tak merasa takut akan air yang mengenai tubuhnya. Gadis itu bahkan menikmati ombak yang menerjang kakinya hingga sebatas paha.
"Suka?"tanya Arga yang berada di belakang Tasya. Mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
"Banget mas, jangan pulang sebelum ada sunset ya mas."
"Baiklah, walau kita harus menunggu sangat lama."
Tasya memekik kesenangan akan ucapan Arga padanya, ia mulai mengajak Arga duduk di pasir pantai memandang laut yang sangat jernih, hingga angin meniupkan rambutnya. Arga benar-benar menuruti apa keinginan Tasya hari ini, hingga sore menjelang. Dan Tasya sudah sangat menanti akan hadirnya sunset.
"Sebentar lagi sunset nya ada mas."ucap Tasya tanpa lelah sedikit pun. Padahal gadis itu sudah bermain air dan berlari di tepi pantai dengan sangat semangatnya.
"Tunggu saja sayang."
Arga mulai memeluk Tasya dari belakang, saat sunset itu mulai datang. Wajahnya ia benamkan di ceruk leher Tasya, Tasya menikmati pelukan Arga yang selalu membuatnya nyaman.
"Aku tidak ingin seperti Matahari yang datang lalu pergi. Aku ingin seperti udara yang selalu kau hirup setiap harinya tanpa harus takut dia akan meninggalkanmu. Aku sudah meminta pada Tuhan di setiap sujudku agar aku dan kamu selalu bersama hingga maut memisahkan kita."ucap Arga dengan tegas. Ia membalikkan tubuh Tasya menjadi menghadapnya, Arga memeringkan kepalanya, hingga mereka memejamkan mata menikmati ciuman yang di saksikan oleh Matahari yang terbenam.
atsu adik sepupu