NovelToon NovelToon
Menikahi Pangeran Nakal

Menikahi Pangeran Nakal

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: micemicu

Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ego Nicholas

...⚜️⚜️⚜️...

Pangeran Nicholas baru saja mengukuhkan dominasinya dengan memenangkan kompetisi berburu paling bergengsi di Hutan Barat. Di bawah naungan kanopi hutan yang lebat dan tanah yang sedikit berlumpur, ia telah berdiri kokoh.

Menggunakan busur panah kayunya yang andal, sepasang matanya yang setajam elang membidik cermat ke balik rimbunnya semak belukar. Tanpa suara, sebatang anak panah meluncur membelah udara dengan sangat presisi, sungguh luar biasa, menembus telak jantung seekor rusa jantan berukuran besar yang tengah lengah merumput.

Hingga hari ini, belum ada satu pun bangsawan di Negeri Tharvis yang mampu menandingi kecakapan Nicholas dalam berburu. Bahkan, hewan paling gesit dan sulit ditangkap sekalipun tidak akan pernah bisa lolos dari bidikan mematikannya.

Jajaran pemburu lain terpaksa mengakui keunggulan sang pangeran, menjadikannya standar tertinggi di arena. Namun, sanjungan yang terus mengalir serta tatapan penuh puja dari para wanita justru menjadi bensin yang membakar ego Nicholas, membuatnya tumbuh menjadi pria yang jauh lebih angkuh dan keras kepala.

"Sahabatku ini memang tidak pernah mengecewakan!" puji Agast lantang sembari mendaratkan rangkulan bertenaga di bahu Nicholas.

Dagu Nicholas terangkat tinggi saat sang penanggung jawab acara mengumumkan namanya sebagai pemenang utama di barisan depan paviliun. Dan di luar dugaan, peringkat kedua berhasil disabet oleh Ramond. Padahal dalam kompetisi-kompetisi sebelumnya, Ramond hampir tidak pernah bisa mengungguli poin berburu milik Agast, namun hari ini roda nasib tampaknya sedang berputar terbalik.

Ramond melangkah mendekati kedua sahabatnya dengan gaya tengilnya yang khas. Pria itu melirik ke sekeliling arena dengan kepala tegak, sesekali menepuk dadanya sendiri seolah ingin berteriak pada dunia, 'Hei, akulah sang juara kedua hari ini! Catat itu dalam sejarah dan ingatlah sampai kalian mati!'

"Kalian sadar tidak? Tingkat ketampananku rasanya melonjak drastis berkali-kali lipat hari ini," kelakar Ramond sembari menatap Agast dan Nicholas bergantian, lengkap dengan gerakan menaik-turunkan kedua alisnya.

"Aku akui kau memang terlihat tampan, Ramond. Asalkan aku melihatmu sambil menutup mata," cibir Agast jengah.

"Halah! Bilang saja kau iri dan tidak terima karena kalah telak dariku hari ini, Agast. Sudahlah, akui saja pesona dan keahlian memanahku yang mengagumkan ini."

Tubuh Agast seketika bergidik ngeri mendengar tingkat kepercayaan diri sahabatnya yang kelewat batas. "Kau tidak pernah gagal membuat bulu kudukku merinding," serunya ketus.

Nicholas hanya bergeming di tempatnya, menatap lurus ke depan dengan raut jengah. Selalu ada saja hal remeh yang bisa didebatkan oleh kedua sahabatnya itu jika sudah berkumpul. Benar-benar kekanak-kanakan.

Sepasang netra Nicholas perlahan bergulir, melewati bahu Agast dan tertuju pada sesosok wanita yang duduk di bawah tenda kayu mewah tak jauh dari sana. Mungkin terdengar terlampau percaya diri, namun kenyataannya, lady berparas jelita itu memang tidak pernah melepaskan pandangannya dari Nicholas sejak ia menginjakkan kaki di area paviliun.

Nicholas langsung bisa membaca tatapan penuh damba dan genit yang dilemparkan wanita itu. Lewat adu pandang yang sengaja diciptakan, seuntai sinyal tersirat pun terjalin di antara mereka.

"Kau mau ke mana?" Agast menahan lengan Nicholas dengan cepat saat menyadari langkah kaki sang pangeran hendak beranjak pergi.

"Menemui Lady Gretta," jawab Nicholas santai tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita yang dimaksud.

Agast menoleh, mengikuti arah pandang Nicholas. Wanita itu memang tergolong sangat cantik dengan gaun mewahnya yang memikat. Namun, ada alarm bahaya yang berdering di kepala Agast mengenai apa yang berniat dilakukan Nicholas setelah ini.

Agast teramat mengenal tabiat Nicholas beserta segala keliaran hasratnya. Nicholas adalah tipe pria yang paling tidak bisa dipancing, ia mudah merasa tertantang untuk menaklukkan sesuatu, meskipun sebenarnya ia tidak benar-benar menaruh hati di sana.

"Jangan bilang kau berniat untuk membawanya ke ranjang. Ingat posisimu sekarang, Nicholas. Kau sudah memiliki Putri Anastasia sebagai istri sahmu," bisik Agast untuk memperingatkan.

Di mata Agast, Anastasia adalah wanita yang teramat baik. Agast mungkin bukan pria suci yang tanpa dosa, namun nuraninya mendadak merasa tidak tega jika Nicholas harus mengkhianati dan memperlakukan Anastasia sekeji ini di belakangnya.

"Sejak kapan urusan ranjangku menjadi bagian dari tanggung jawabmu, hah?! Urus saja hidupmu masing-masing!" potong Nicholas tajam, matanya berkilat murka. Ia teramat membenci sikap Agast yang tiba-tiba berubah sok bijak laksana penasihat spiritual. Nicholas tidak suka diatur oleh siapa pun, dan harusnya Agast sudah paham betul akan aturan main itu.

"Bukan begitu, Nich. Apakah kehadiran Putri Anastasia masih kurang di matamu? Dia wanita yang sangat cantik, bukan hanya fisiknya, melainkan juga ketulusan hatinya. Aku yakin kau pun tidak bisa menyangkal kalimatku ini."

Nicholas menggelengkan kepalanya dengan geram, tawa sinis lolos dari belahan bibirnya. "Aku tahu apa yang terbaik untuk diriku sendiri, Agast! Jangan berlagak seolah-olah semua ini adalah murni kesalahanku. Bukankah kau dan Ramond yang sejak kemarin menghasut dan mengajakku ke sini dengan dalih untuk bersenang-senang?!"

"Kami memang mengajakmu untuk berburu, tapi kami tidak pernah mengira kau masih sekotor ini setelah menikah. Jika aku berada di posisimu sekarang, aku bersumpah akan berhenti menjadi bajingan."

Netra Nicholas menggelap mendengar kalimat pamungkas Agast. Tanpa aba-aba, ia melangkah maju dan mencengkeram kuat kerah baju Agast, menyudutkan pria itu dengan tatapan mengintimidasi. "Jika hidupmu sendiri tidak jauh lebih suci dariku, lebih baik kau tutup mulut busukmu itu!" geramnya dengan penuh penekanan.

"Hei! Hei! Kenapa kalian berdua malah berdebat sengit begini? Sudah, hentikan! Jangan bertengkar di tempat umum. Kita ini sahabat, ingat?" lerai Ramond panik, bergegas menengahi ketegangan yang mendadak memuncak di antara Nicholas dan Agast.

Agast tidak bisa berkutik banyak. Di bawah cengkeraman dominan Nicholas, ia terpaksa menurunkan pandangannya dan membiarkan sang pangeran lepas kendali.

Dengan napas yang masih memburu akibat emosi, Nicholas melepaskan kerah baju Agast secara kasar, lalu berbalik melangkah tegap menghampiri Lady Gretta.

Dari kejauhan, Agast hanya bisa memandangi sosok Nicholas yang kini telah berada di samping Lady Gretta, dengan lihai menyelinapkan tangan kekarnya di sekeliling pinggang ramping wanita itu. Entah kalimat bernada godaan apa yang dibisikkan Nicholas tepat di daun telinga Gretta, hingga wanita bangsawan itu tampak tersenyum lebar dan dengan begitu mudahnya bersedia dituntun pergi berduaan, melangkah masuk ke dalam area hutan yang lebih jauh, sepi, dan terisolasi dari pandangan orang-orang.

Agast mengembuskan napas berat, ada perasaan tidak nyaman yang mendadak mengganjal di dadanya. Rasa bersalah yang teramat besar kepada Anastasia mendadak merayapi benaknya, seolah dirinya ikut andil dalam pengkhianatan ini. Padahal, ia bisa saja bersikap masa bodoh seperti biasanya.

"Sudahlah, Agast. Biarkan saja dia pergi. Kau tahu sendiri seberapa keras kepalanya Nicholas jika keinginannya diusik. Kita tidak akan pernah menang berdebat melawannya," ujar Ramond menepuk bahu Agast, mencoba menenangkan sang sahabat yang masih diliputi penyesalan.

•••

1
Mymy Zizan
q nunggu Anastasya tau kelakuan nik
micemicu: wait and see kak😍
total 1 replies
Red Blossom
Thor Anastasia biar sama Lord Alfred aja.
micemicu: 🤭 nanti ceritanya jadi kisah cinta yg berbeda dong kak.. tp entar dipikirkan yaa
total 1 replies
paijo londo
kyaknya yg bakalan jadi budak cinta nih pangeran Nicholas deh sekarang kelihatan yg posesif sama Anastasia istri polosnya🤭🤭🤭
micemicu: iyaa nih, mulai rada rada diaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!