NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pandangan yang Menguliti

Perjalanan dari mansion Reynard menuju kampus terasa seperti perjalanan menuju panggung eksekusi. Aku duduk di jok belakang Bentley hitam yang luas, namun rasanya lebih sempit dari sel tahanan. Di depan, seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas rapi mengemudikan mobil dalam keheningan total. Tidak ada musik, tidak ada obrolan. Hanya suara sapuan kaca depan yang menghalau sisa-sisa gerimis pagi.

Ketika mobil mewah itu memasuki gerbang kampus, beberapa mahasiswa yang sedang berjalan di koridor luar langsung menoleh. Mobil jenis ini bukan pemandangan biasa di kampus negeri. Jantungku berdegup kencang karena malu sekaligus takut.

"Nona Aira, kita sudah sampai," ucap sopir itu datar, menghentikan mobil tepat di depan gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

"Terima kasih, Pak. S_saya turun dulu," jawabku tergesa-gesa.

"Saya akan menjemput Anda tepat pukul tiga sore di tempat ini. Mohon jangan terlambat," tambahnya sebelum aku sempat menutup pintu.

Aku mengangguk cepat, lalu segera keluar dan memeluk tas kuliahku erat-erat di dada. Rasanya semua mata di parkiran kini tertuju padaku Aku buru-buru menundukkan kepala, berjalan setengah berlari menuju kelas fotografi di lantai dua. Aku hanya ingin tenggelam di antara kerumunan mahasiswa dan melupakan statusku sebagai tahanan Axel Reynard untuk beberapa jam.

Namun, melupakan Axel ternyata adalah hal yang mustahil, begitu aku melangkah masuk ke dalam kelas yang sudah cukup ramai, suasana mendadak senyap selama beberapa detik. Teman-teman sekelasku, yang biasanya sibuk mengobrol atau menyetel kamera mereka kini menatapku dengan tatapan aneh.

"Aira! Lo dari mana aja semalam?"

Sebuah tepukan di bahu membuatku hampir melonjak kaget. Itu Devan, teman satu timku untuk tugas akhir UKM Fotografi. Wajahnya yang biasanya dipenuhi cengiran kini tampak kusut dan penuh kecemasan.

"Handphone lo kenapa nggak bisa dihubungi sama sekali? Gue nyariin lo ke panti semalam setelah lo pamit mau ambil stok foto di pelabuhan. Ibu pengasuh bilang lo belum balik," cecar Devan, suaranya yang agak keras membuat beberapa anak lain ikut memasang telinga.

Jantungku mencelos aku teringat instruksi Axel. "Ah... itu Dev. Sori banget Semalam kamera gue rusak, terus handphone gue jatuh dan hancur di pelabuhan Tapi... tapi gue udah kirim pesan ke Ibu panti. Gue dapet proyek foto mendadak di luar kota semalam, makanya baru balik pagi ini," aku berbohong, mencoba mengingat skenario yang dibuat. Suaraku bergetar, dan aku berharap Devan tidak menyadarinya.

Devan menyipitkan matanya, menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pandangannya berhenti pada kemeja putih sutra dan rok yang kukenakan. "Proyek luar kota? Tapi kok lo rapi banget? Sejak kapan lo punya baju bermerek kayak gini, ai? Dan tadi... gue nggak salah liat, lo turun dari Bentley hitam di depan?"

Pertanyaan Devan bertubi-tubi bagai peluru yang siap menguliti kebohonganku aku menelan ludah, bingung harus menjawab apa. "Ini... ini baju dari klien proyek semalam, Dev. Mobil itu juga... difasilitasi sama mereka. Gue cuma kerja."

Sebelum Devan bisa menginterogasiku lebih jauh, dosen kami masuk ke dalam kelas, memaksa semua mahasiswa untuk segera duduk di kursi masing-masing. Aku menarik napas lega, duduk di barisan tengah dan mencoba fokus pada proyektor di depan kelas. Namun, pikiranku melayang jauh.

Tiba-tiba, pintu kelas yang tadinya tertutup kembali diketuk dari luar.

Seluruh kelas menoleh, termasuk dosen yang sedang menjelaskan materi. Pintu terbuka perlahan, dan sesosok pria tinggi tegap melangkah masuk dengan keangkuhan yang sudah sangat kukenal.

Axel Reynard.

Dia tidak lagi memakai kemeja hitam seperti saat sarapan tadi. Kini dia mengenakan setelan jas formal abu-abu gelap yang sangat pas di tubuh atletisnya. Di belakangnya, beberapa petinggi kampus mengekor dengan wajah penuh hormat yang cenderung menjilat.

"Maaf mengganggu perkuliahannya, Pak," ucap dekan dengan senyum lebar. "Hari ini, perwakilan dari Yayasan Reynard, Tuan Axel Reynard sendiri, sedang melakukan peninjauan fasilitas gedung baru dan ruang kelas digital. Silakan dilanjutkan."

Seluruh mahasiswi di kelas langsung berbisik-bisik heboh.

"Gila, ganteng banget..."

"Itu kan Tuan Muda Reynard? Donatur tunggal gedung lab kita!"

"Mata hitamnya tajam banget, bikin merinding tapi seksi..."

Aku mencengkeram pulpen di tanganku begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih. Tubuhku mendadak kaku, dingin, dan gemetar. Aku langsung menundukkan kepala sedalam mungkin, memandangi buku catatanku yang kosong, mencoba menghilang dari pandangannya.

"Aturan di kampus Bersikaplah seolah kita tidak saling kenal. Jangan menatapku."

Aku mengingat kata-katanya dengan sangat baik Aku tidak ingin memicu kemarahannya di tempat ini.

Aku bisa mendengar suara langkah sepatu kulit Axel yang berat mengecoh keheningan kelas. Dia berjalan perlahan di sepanjang koridor meja mahasiswa, mendengarkan penjelasan dekan dengan anggukan kecil yang formal Suasana kelas terasa begitu tegang bagiku, seolah oksigen di ruangan ini mendadak habis tersedot oleh kehadirannya

Langkah kaki itu perlahan mendekat ke arah barisanku.

Setiap ketukan sepatunya di lantai ubin kelas terasa seperti detak bom waktu di kepalaku Aku semakin menundukkan kepala, membiarkan rambut hitam panjangku tergerai ke depan untuk menutupi wajahku sepenuhnya, Napasku tercekat.

"Jangan berhenti di sini... tolong jangan berhenti," rutukku dalam hati, berdoa pada yang kuasa agar dia melewatiku begitu saja.

Namun, langkah kaki itu berhenti tepat di samping mejaku.

Keheningan yang mencekam langsung melingkupi area sekitar tempat dudukku. Aku bisa merasakan tatapan Axel yang dingin dan tajam turun menusuk tepat ke ubun-ubun kepalaku. Tatapan itu terasa begitu intens, seolah sedang menguliti setiap jengkal tubuhku, mengingatkanku pada ancaman pistolnya semalam. Wangi parfum maskulin dan aroma tembakau mahalnya yang khas menguar, mengusir bau ruangan berAC yang pengap.

"Fasilitas kamera dan ruang gelap untuk mahasiswa fotografi di sini... apakah sudah memadai?" suara Axel terdengar di atas kepalaku Nada suaranya datar, tanpa emosi, namun sarat akan kekuasaan yang mutlak.

"Oh, tentu saja sudah sangat memadai, Tuan Axel. Berkat bantuan dana dari Anda, kami memiliki peralatan terbaik," jawab dosen di depan dengan nada gugup namun ceria.

Axel tidak langsung menyahut. Dari sudut mataku yang melirik ke bawah, aku bisa melihat ujung sepatu kulitnya yang mengilat bersih berada hanya beberapa sentimeter dari kakiku. Dia berdiri di sana selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, sengaja menyiksaku dengan kehadirannya. Di bawah meja, tanganku yang berada di atas pangkuan meremas rok hitamku hingga lecek. Aku sangat takut tangan itu secara tidak sengaja menyentuh jasnya.

"Baguslah kalau begitu," ucap Axel akhirnya.

"Karena aku tidak suka menyia-nyiakan uangku untuk hal yang tidak menghasilkan hasil yang sempurna."

Kalimat itu terdengar seperti sindiran tajam yang khusus ditujukan untukku.

Axel kembali melangkah, melanjutkan turnya menuju pintu keluar kelas diikuti oleh rombongan dekan. Begitu pintu kelas tertutup rapat di belakang mereka, aku langsung menegakkan punggung dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Jantungku berdegup begitu kencang hingga dadaku terasa sakit. Saking tegangnya, setetes keringat dingin mengalir di pelipisku.

"Ai, lo nggak apa-apa? Wajah lo pucat banget, kayak habis liat setan," bisik Devan yang duduk di sebelahku, menatapku penuh selidik.

"Ng_nggak apa-apa, Dev. Gue cuma... agak pusing aja," jawabku lirih, mencoba tersenyum tipis meski bibirku terasa kelu.

Aku melirik ke arah jendela kelas yang menghadap ke halaman kampus. Di bawah sana, aku bisa melihat Axel berjalan menuju mobil Rolls Royce hitamnya, dikelilingi oleh para pengawal dan petinggi kampus yang membungkuk hormat. Sebelum masuk ke dalam mobil, Axel mendadak menghentikan langkahnya.

Dia berbalik perlahan, lalu mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah jendela kelasku di lantai dua.

Mata hitamnya yang kosong seolah berhasil menembus kaca jendela dan mengunci pandanganku yang sedang mengintip. Di tengah kerumunan orang yang memujanya, dia menatapku dengan tatapan dingin yang sarat akan kepemilikan yang mutlak. Bibirnya bergerak samar, membentuk satu kata tanpa suara yang hanya bisa kupahami maknanya yaitu Pulang.

Mobilnya melaju pergi, meninggalkan kepulan asap dan debu di halaman kampus, serta menyisakan rasa ngeri yang menjalar di sekujur tubuhku. Enam bulan ke depan... duniaku benar-benar telah runtuh ke dalam genggaman tangannya.

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!