NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Dua hari setelah perjamuan di Istana Fengyi, cuaca berubah menjadi mendung. Awan-abu tebal menggantung rendah di atas atap-atap istana, seolah-olah langit sedang menahan napas sebelum badai turun. Angin bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering yang berputar-putar di halaman Istana Bulan Giok.

Putri Li Yuexin duduk di paviliun terbuka, membaca sebuah gulungan tentang strategi pertanian. Dia sengaja memilih topik yang membosankan bagi kebanyakan bangsawan wanita, agar jika ada mata-mata yang mengawasi, mereka akan mengira Putri Li Yuexin sedang berusaha keras memahami urusan negara untuk menyenangkan hati Kaisar, bukan karena dia benar-benar tertarik.

"Nona," Qingyu datang dengan wajah cemas, membawa sebuah surat yang disegel dengan lilin merah. Segel itu berbentuk huruf 'G' yang digambar dengan gaya kaligrafi yang berlebihan.

Gu Wenhao.

Putri Li Yuexin tidak segera mengambilnya. Dia menyelesaikan satu paragraf bacaannya, menandai halamannya dengan penjepit giok, baru kemudian menoleh. "Dari mana asalnya?"

"Dari gerbang timur, Nona. Pengantar surat itu mengatakan Tuan Gu menunggu di Taman Persik, sendirian, sejak pagi hari. Dia menolak pulang sampai Nona menemuinya."

Putri Li Yuexin tersenyum sinis. Prediksi Kakek Guotai ternyata tepat, Gu Wenhao panik. Setelah ditolak secara halus dan melihat sikap dingin Putri Li Yuexin, dia memutuskan untuk menggunakan senjata terakhirnya yang paling ampuh di masa lalu, drama emosional.

"Apa isi suratnya?" tanya Putri Li Yuexin, meski dia sudah bisa menebak.

Qingyu membuka segelnya dan membaca dengan suara bergetar. "'Mutiara hatiku, mengapa kau menjauh? Apakah hamba telah melakukan kesalahan? Jika ya, hukumlah hamba. Tapi jangan biarkan hamba mati dalam ketidakpastian. Hamba akan berdiri di bawah pohon persik tertua hingga hujan turun atau hingga Tuan Putri memberikanku jawaban. Dengan cinta yang tak pernah padam, Gu Wenhao.'"

Putri Li Yuexin hampir tertawa terbahak-bahak. "Cinta yang tak pernah padam? Pria yang tidur dengan sahabatnya dan meracuni istrinya menyebut itu cinta?”

"Siapkan payung besar dan mantel bulu," perintah Putri Li Yuexin sambil berdiri. "Kita akan ke Taman Persik. Tapi jangan bawa pelayan lain, hanya kita berdua."

"Nona yakin? Cuaca sedang buruk. Dan Tuan Gu mungkin..."

"Mungkin akan membuat drama," potong Putri Li Yuexin. "Dan aku ingin menonton pertunjukannya dari barisan depan."

Taman Persik memang sepi. Hujan gerimis mulai turun, membasahi kelopak-kelopak bunga persik yang belum sepenuhnya mekar, membuatnya terlihat layu dan menyedihkan.

Di bawah pohon persik terbesar, berdiri seorang pria dengan jubah putih yang kini sudah basah kuyup. Rambutnya lepek, wajahnya pucat, dan matanya merah. Gu Wenhao tampak seperti puisi kesedihan yang hidup. Beberapa pelayan jarak jauh sudah mulai berkerumun, bergosip pelan tentang "dedikasi" Tuan Gu terhadap Putri.

Saat Putri Li Yuexin muncul di ujung jalan setapak, Gu Wenhao menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar saat melihat Putri Li Yuexin, binaran yang campuran antara harapan dan kelegaan.

"Tuan Putri!" serunya, suaranya parau. Dia mencoba melangkah maju, tapi kakinya goyah, seolah-olah dia benar-benar lemah karena kedinginan dan kelaparan.

Putri Li Yuexin berhenti beberapa langkah darinya. Dia tidak mendekat. Dia tetap berada di bawah payung besar yang dipegang Qingyu, kering dan hangat, sementara Gu Wenhao basah kuyup. Keadaan ini sangat jelas, Putri Li Yuexin terlindungi, Gu Wenhao tersiksa.

"Kau sudah gila, Gu Wenhao," kata Putri Li Yuexin datar. Tidak ada kemarahan, hanya fakta. "Saat ini, sedang hujan deras. Kau bisa sakit."

"Sakit fisik tidak apa-apa," jawab Gu Wenhao dramatis, air mata atau mungkin air hujan mengalir di pipinya. "Yang menyakitkan adalah sakit hati. Mengapa, Yuexin? Apa yang salah dengan aku? Apakah karena aku terlalu miskin? Terlalu biasa? Katakan saja, aku akan berubah. Aku akan belajar lebih keras, bekerja lebih keras. Asal... asal kau tidak membuangku."

Dia jatuh berlutut di lumpur, dengan gerakan yang yang sangat mendramatisir. Para pelayan yang mengintip dari kejauhan pasti sudah merasa iba.

Di kehidupan sebelumnya,

Putri Li Yuexin akan lari menghampirinya, memeluknya, dan menangis bersamanya. Dia akan merasa bersalah karena membuat pria "baik" ini menderita.

Tapi kali ini, Putri Li Yuexin hanya menatapnya. Dia melihat detail-detail kecil yang luput dari perhatian orang lain:

Jubah Gu Wenhao basah, tapi bagian dalam kerahnya masih agak kering. Artinya, dia baru saja basah-basahan sebentar sebelum Putri Li Yuexin datang, atau dia punya lapisan pelindung tipis.

Kakinya gemetar, tapi posisi lututnya stabil. Dia tidak benar-benar lemah.

Matanya sesekali melirik ke arah kerumunan pelayan. Dia memastikan ada penonton.

Ini bukan cinta. Ini manipulasi publik.

Putri Li Yuexin memberi isyarat pada Qingyu. Qingyu maju selangkah, tetap di bawah payung, dan berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar Gu Wenhao dan para pengintip.

"Tuan Gu, Tuan Putri khawatir pada kesehatan Tuan. Tapi Tuan Putri juga ingat nasihat Ayahanda yang seorang Perdana Menteri, 'Seorang calon pejabat negara harus memiliki ketahanan fisik dan mental. Jika Tuan tidak bisa menahan hujan kecil, bagaimana Tuan bisa menahan beban negara?'"

Wajah Gu Wenhao sedikit kaku. Kalimat itu adalah pukulan telak. Itu mengubah narasi dari "pria romantis yang menderita demi cinta" menjadi "pria lemah yang tidak kompeten".

Gu Wenhao mencoba menyelamatkan situasi. Dia menundukkan kepala lebih rendah. "Aku... Aku hanya ingin menunjukkan ketulusan. Aku rela menderita apa pun untuk Tuan Putri."

"Ketulusan tidak perlu dipamerkan di tengah hujan," kata Putri Li Yuexin dingin. Suaranya tajam, menembus deru angin. "Jika kau tulus, kau akan menghormati keputusanku untuk menjaga jarak. Jika kau tulus, kau akan fokus pada studi dan pekerjaanmu, bukan menghabiskan waktu di taman untuk menciptakan gosip yang bisa merusak nama baikku sebagai Putri yang tidak bijaksana dalam memilih teman/pasangan."

Gu Wenhao mengangkat kepalanya, matanya lebar karena shock. "Nama baik...? Yuexin, apakah kau menganggapku sebagai noda?"

"Aku menganggapmu sebagai cermin," jawab Putri Li Yuexin. "Dan cermin itu mulai retak. Pergilah, Gu Wenhao. Minum obat, keringkan bajumu, dan buka bukumu. Jangan biarkan aku mendengar nama dikaitkan dengan drama murahan seperti ini lagi."

Putri Li Yuexin berbalik, berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Di belakangnya, Gu Wenhao masih berlutut di lumpur, wajahnya merah karena marah dan malu. Para pelayan yang tadi iba kini saling berpandang dengan bingung. Narasi romantis itu hancur berantakan, diganti dengan kesan bahwa Gu Wenhao adalah pria yang obsesif dan tidak profesional.

Saat mereka kembali ke Istana Bulan Giok, Putri Li Yuexin merasa lega. Tapi dia tahu ini belum selesai. Gu Wenhao adalah pria yang sombong. Penolakan publik seperti ini akan membuatnya dendam.

"Nona," kata Qingyu pelan saat mereka masuk ke kamar. "Tuan Gu tampak sangat marah saat Nona pergi."

"Bagus," jawab Putri Li Yuexin sambil melepas mantel bulunya. "Kemarahan membuat orang ceroboh dan orang yang ceroboh mudah dijebak."

Tiba-tiba, ada ketukan di pintu. Bukan ketukan pelayan biasa, tapi ketukan tegas dan berwibawa.

Qingyu membuka pintu. Di sana berdiri Kasim Tua Zhou, dengan wajah serius.

"Tuan Putri," kata Kasim Zhou, suaranya rendah. "Ada kabar dari Menara Bayangan. Malam ini, akan ada pertemuan rahasia di kedai teh 'Naga Tidur' di luar tembok istana. Yang hadir di sana, Tuan Muda Gu Wenhao, Tuan Lin Mei ayah dari Nona Lin Meirong, dan... seorang perwakilan dari Marquis Han Cheng."

Mata Putri Li Yuexin menyala. Gu Wenhao dan Han Zixuan bertemu? Artinya, Faksi Barat dan keluarga Gu sudah mulai bergabung secara resmi. Mereka berencana sesuatu yang besar.

"Siapa perwakilan Marquis Han?" tanya Putri Li Yuexin.

"Hamba belum tahu namanya. Tapi mereka membawa sebuah kotak hitam. Isinya diduga dokumen keuangan palsu atau rencana sabotase terhadap proyek bendungan Paman anda Tuan Mingyuan."

Putri Li Yuexin tersenyum dingin. Sabotase terhadap Paman Mingyuan? Itu berarti mereka ingin menjatuhkan Faksi Timur dengan cara militer/ekonomi.

"Qingyu," perintah Putri Li Yuexin. "Siapkan pakaian penyamaran. Kita akan keluar malam ini."

"Tapi Tuan Putri?! Itu sangat berbahaya! Di luar tembok istana..." ucap Kasim Zhou

"Aku tidak akan pergi sendiri," potong Putri Li Yuexin. "Aku akan membawa Qingyu. Dan kita akan meminta bantuan seseorang yang ahli dalam penyamaran dan pencurian informasi."

"Siapa, Nona?"

Putri Li Yuexin menatap api di lentera. "Pemimpin cabang lokal Menara Bayangan. Saatnya aku menggunakan jasa mereka secara langsung. Bukan untuk membeli gosip, tapi untuk membeli kehancuran."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!