Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Balik Topeng Pangeran
Keheningan di dalam ruang kelas Teater itu terasa semakin mencekam bagi Melanie, meskipun Diandra di sebelahnya masih sibuk merapikan catatan kuliah mereka. Dari sudut matanya, Melanie bisa merasakan sebuah presensi yang kuat di luar ruangan. Ketika ia memberanikan diri menoleh ke arah pintu kaca, jantungnya mencelos.
Di sana, berdiri Glen.
Pria itu hanya diam menatapnya dari balik celah kaca, dengan sepasang mata elang yang selalu berhasil melucuti seluruh pertahanan batin Melanie. Namun, alih-alih memalingkan wajah seperti biasanya, kali ini Melanie bangkit berdiri. Rasa lelah karena terus-menerus dihantui ketakutan membuat gadis itu mengambil keputusan nekat. Ia harus mengakhiri permainan petak umpet emosional ini.
"Mel, mau ke mana?" tanya Diandra bingung melihat sahabatnya tiba-tiba melangkah terburu-buru menuju pintu.
"Sebentar, Di. Ada yang tertinggal di luar," jawab Melanie tanpa menoleh.
Begitu Melanie membuka pintu ganda ruang Teater, Glen tidak beranjak. Pria itu tetap berdiri bersandar pada dinding koridor dengan melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Melanie yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan napas yang agak memburu.
"Rupanya merpati kecilku memilih untuk keluar dari sangkarnya sendiri," ujar Glen, suaranya terdengar sangat tenang, kembali menggunakan intonasi teatrikal yang menjadi ciri khas penyamarannya sebagai pencinta dunia dongeng.
"Hentikan, Glen. Ikut aku sekarang," bisik Melanie tegas. Ia mencengkeram ujung lengan jaket denim Glen sebuah tindakan berani yang bahkan membuat mata Glen sedikit melebar karena terkejut dan menarik pria itu menuju taman belakang gedung fakultas yang sepi dan terlindung dari rintik gerimis.
Begitu mereka sampai di bawah kanopi beton taman yang dikelilingi tanaman merambat, Melanie melepaskan cengkeramannya. Ia berbalik, menatap Glen dengan mata yang berkaca-kaca namun memancarkan ketegasan yang murni.
"Sampai kapan kamu mau berdiri di balik kaca itu dan menatapku seolah-olah aku adalah monster, Glen?" tuntut Melanie, suaranya sedikit bergetar menahan luapan emosi yang membuncah sejak semalam. "Kamu bilang kamu ingin menghancurkanku. Kamu bilang kamu ingin melihat mawar ini layu. Tapi kenapa kamu terus mengawasiku? Kenapa kamu tidak langsung melakukan apa yang ingin kamu lakukan pada keluargaku?"
Glen menurunkan kedua tangannya, melangkah maju satu langkah hingga jarak di antara mereka kembali terkikis. Topeng marmer di wajah tampannya mengeras, dan tatapan matanya menajam, mencoba mengusir getaran asing yang sempat menyelinap ke dadanya saat melihat air mata Melanie kembali menggenang.
"Sebuah kehancuran yang terburu-buru tidak akan menghasilkan klimaks yang indah dalam sebuah tragedi, Melanie," jawab Glen dengan nada suara yang rendah dan dingin, mencoba mempertahankan kendali atas naskah balas dendamnya. "Aku ingin menikmati setiap detiknya. Aku ingin memastikan kamu merasakan bagaimana rasanya kehilangan pijakan secara perlahan, sama seperti yang dirasakan ayahku dua belas tahun lalu."
"Tapi aku bukan ayahmu, Glen! Dan aku juga bukan orang tuaku!" Melanie melangkah maju, memotong kalimat Glen dengan berani, menatap langsung ke dalam manik mata hitam pria itu. "Aku hanyalah Melanie. Gadis yang tidak tahu apa-apa yang kebetulan menyukai kelas teater ini. Jika kamu membenciku karena nama belakangku, silakan. Tapi jangan pernah berpura-pura bahwa kamu menikmatinya, Glen. Karena aku bisa melihatnya..."
Melanie menjeda kalimatnya, menarik napas dalam sembari menunjuk tepat ke arah dada kiri Glen. "Aku bisa melihat bahwa setiap kali kamu mengucapkan kalimat kejam itu padaku, ada bagian dari dirimu yang juga ikut terluka. Kamu tidak sekejam tokoh Danuel dalam buku dongengmu, Glen. Kamu hanya seorang anak laki-laki yang kesepian dan terluka yang bersembunyi di balik jubah pangeran kegelapan."
Kata-kata Melanie menghantam Glen seperti godam yang tak kasat mata. Untuk pertama kalinya, topeng ketenangan mutlak yang dipasang oleh mahasiswa tertampan di Universitas Airrawan itu retak sepenuhnya. Sepasang mata elangnya bergetar hebat, dan rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Kalimat Melanie menembus dinding pertahanan yang telah ia bangun dengan darah dan air mata selama belasan tahun.
Glen mencengkeram kedua bahu Melanie dengan kuat, mendorong gadis itu bersandar pada dinding taman. Jarak mereka begitu dekat hingga napas memburu Glen terasa hangat di wajah Melanie. Ada kemarahan yang luar biasa di mata pria itu, namun di balik kemarahan itu, Melanie bisa melihat dengan sangat jelas: sebuah kerapuhan yang teramat pekat.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, Melanie! Jangan pernah berlagak seolah kamu bisa membaca pikiranku!" desis Glen, suaranya tak lagi tenang dan tertata. Suara itu bergetar oleh amarah dan rasa sakit yang mendalam, sebuah suara asli dari seorang pria bernama Glen yang jiwanya telah lama hancur.
"Keluargamu merenggut segalanya dari hidupku! Mereka membuatku harus hidup dalam kepura-puraan ini! Jadi jangan harap aku akan mengasihanimu hanya karena beberapa patah kata bualanmu!"
Melanie tidak memberontak dari cengkeraman kuat di bahunya. Ia justru menatap Glen dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa bersimpati dan kesedihan yang tulus. "Aku tidak memintamu mengasihanimu, Glen. Aku hanya memintamu melihat dirimu sendiri di cermin. Apakah dengan menghancurkanku, ayahmu akan kembali waras? Apakah ibumu akan kembali? Tidak, Glen. Kamu hanya akan menjadi monster yang sama dengan orang-orang yang kamu benci."
Glen terpaku. Cengkeramannya di bahu Melanie perlahan melonggar, seolah seluruh tenaganya baru saja menguap mendengar kalimat terakhir gadis itu. Ia mundur dua langkah, menatap telapak tangannya yang gemetar dengan pandangan tak percaya. Sisi kemanusiaannya yang selama ini ia kunci rapat kini berontak, menolak kenyataan bahwa gadis di hadapannya ini adalah musuh yang harus ia hancurkan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Glen berbalik dengan terburu-buru, melangkah lebar meninggalkan taman belakang menembus rintik gerimis yang mulai menderu.
Melanie perlahan menyentuh bahunya yang masih menyisakan kehangatan bekas cengkeraman Glen. Ia tahu, babak baru dalam hubungan mereka telah dimulai. Glen bukan lagi pangeran fiksi yang tak tersentuh dari buku sastra tua, pria itu adalah manusia biasa yang memiliki luka, dan kini, jaring balas dendam yang dirajut oleh Glen justru mulai melukai penciptanya sendiri.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...