[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [33]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Terkadang orang yang menyayangi dirimu, rela menurunkan egonya hanya untuk ketenanganmu atau bahkan untuk kebahagiaanmu. ...
...-Celine Celina-...
Zhein merasakan tangannya seperti mati rasa, dia mencoba untuk membuka matanya yang terasa masih berat di tambah kepalanya masih terasa sangat pusing.
Zhein mencoba untuk melihat kearah tangannya yang terasa mati rasa itu. Dia melihat Iris yang sedang tertidur di atas tangannya sembari duduk di bawah lantai, dengan kain kompres yang berada di tangannya.
Zhein tersenyum melihat Iris yang tertidur di atas tangannya itu, dia tidak peduli tangannya yang sudah mati rasa itu, yang terpenting saat ini adalah melihat wajah tenang kekasihnya yang sedang tertidur lelap.
"Gue terlalu mengagungkan amarah, sampai gue gak sadar kalau lo sakit dengan amarah itu," ucap Zhein dengan suara pelan sambil mengelus lembut rambut Iris.
"Maafin gue dan semoga lo bisa ngerti sama sifat gue yang kadang susah buat di kendaliin," sambung Zhein.
Setelah puas melihat wajah damai dari kekasihnya itu, Zhein menatap kearah luar jendela, hari sudah semakin petang namun suasana di rumah ini masih gelap bahkan gorden belum di tutup.
Tanpa berpikir panjang dia langsung menelpon Celine untuk membantunya dan menemani Iris selama orang tuanya belum kembali.
...Di telpon...
Halo, Zhein.. ucap Celine yang sudah mengangkat telpon dari Zhein.
Lin, gue butuh lo sama Ken, ujar Zhein dengan suara pelan.
Suara lo kenapa pelan? lo sama Iris baik-baik aja kan? tanya Celine khawatir.
Gue baik-baik aja, lo cepet kesini dan jangan lupa ingetin Ken buat bawa informasi yang dia tau. jawab Zhein.
Oh oke, gue kesana. ucap Celine.
Satu hal lagi, kalau dateng kesini gak boleh berisik, matiin motor Ken terus dorong sampai halaman dan lo ga usah teriak-teriak, gak usah nyalain bel dan buka pintu pelan-pelan.
Lo kenapa sih Zhein? tanya Celine bingung.
Gak usah banyak tanya, lakuin apa yang gue perintah ini aja, gak pake lama, jawab Zhein.
Ck, iya. ucap Celine.
Tut.
Zhein mematikan sambungan telponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Celine, jika saja Celine orang lain mungkin Zhein akan di anggap tidak sopan.
...----------------...
Beberapa menit kemudian, Zhein mendengar ada derap langkah seseorang yang masuk kedalam rumah Iris, dia yang sedang memejamkan matanya itu langsung melihat kearah sumber suara tanpa mengganggu Iris yang masih tertidur pulas.
"Oh, pantes aja di suruh gak boleh berisik," ucap Celine dengan suara pelan sambil melihat kearah Iris yang sedang tertidur di tangan Zhein.
"Ken?" tanya Zhein.
"Ada noh, lagi dorong motornya," jawab Celine. Sedangkan Zhein hanya tersenyum tipis mendengar itu, Ken, cowok paling anti untuk di perintah kadang harus berdebat sebelum akhirnya dia yang mengalah.
"Lin gue minta tolong nyalain lampu sama tutup gordennya," ucap Zhein.
"Baru kali ini gue denger lo minta tolong Zhein," ujar Celine dengan senyum mengejek.
"Buruan, gak usah banyak omong," ucap Zhein, Si ketua Xlovenos ini jarang meminta tolong kepada siapapun, bahkan sepertinya dia pantang untuk minta tolong baik itu hal kecil atau hal besar, Zhein selalu menanganinya sendiri.
Tapi kali ini, dia menurunkan egonya agar Iris bisa tidur dengan nyenyak di atas tangannya yang sudah tidak bisa merasakan gerakan apapun.
Celine melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga, menutup gorden lantai atas dan lantai bawah sambil menyalakan lampunya.
"Parah lo Zhein, nyuruh gue dorong motor," ucap Kenneth dengan suara prlan namun tersirat ada kekesalan di suara tersebut.
"Cuman deket dorong nya juga," ujar Zhein.
"Lo pikir dorong motor kayak gitu gak berat?" tanya Kenneth sambil menidurkan tubuhnya di sofa kosong.
"Ck, iya," jawab Zhein sambil memejamkan matanya.
"Udah dapet?" tanya Zhein sambil. menatap kearah Kenneth yang masih mengatur nafasnya.
"Baru sebagian, belum sepenuhnya, tapi kayaknya lo bakalan langsung tau deh tentang orang itu," jawab Kenneth yang mengerti dengan pertanyaan Zhein tadi.
"Nanti lo cerita ke gue, sekarang gue mau tidur dulu, kepala gue masih pusing," ucap Zhein sambil memejamkan matanya untuk menjemput alam mimpinya lagi.
"Terserah," ujar Kenneth yang juga ikut memejamkan matanya.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗