Seorang gadis berparas wajah cantik namun, wajah cantik pipi sebelah kiri cacat karena kejadian masa kecilnya dulu yaitu bernama Anna. Kehilangan Ibu kandungnya membuat Anna tinggal bersama keluarga yang mengaku ayahnya.
Hingga Ia mendapatkan siksaan dari Ibu tiri dan Kakak perempuannya.
Apakah Anna mampu bertahan dengan siksaan mereka? Apakah ada seorang pemuda jatuh cinta padanya yang menerima kekurangannya dan membawanya keluar dari siksaan yang sering dia dapatkan? Penasaran dengan kelanjutannya yuk mampir ke kisah gadis cacat ini untuk mendapatkan cinta dan kebahagiaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ana
" Akhirnya Kau mati."batinnya*.
" Clara, Anakmu akan datang menyusulmu di alam baka." ucapnya dengan senyum kemenangan." Sekarang nggak ada lagi yang akan bisa merebut Aiden dari Rissa, Mama akan pastikan sayang. Aiden hanya bisa kau miliki seutuhnya. Sekarang aku mau drama lagi seakan-akan aku ikut kehilanganmu Anna hahaha." ucap Jenie sambil tertawa puas.
Di sebuah ruangan yang sedang melakukan rapat tiba-tiba mereka kaget dengan benda yang jatuh yaitu sebuah bingkai foto yang terpasang foto Anna sedang tersenyum.
Praanggggkk
" Apa itu Bram?." tanya seorang pria yang sudah berumur.
" Bingkai foto Pak." ucapnya. Bram mendekati benda yang berserakan di lantai dan melihat foto Anna yang terpampang jelas.
" Anna." ucapnya. Tangannya ingin meraih foto itu.Namun, jari telunjuknya tergores oleh pecahan kaca kecil. Sehingga, jarinya mengeluarkan darah segar.
" Aakhhh..sshh.." jeritannya dan langsung menghisap jarinya sebelum darah banyak keluar.
" Rapat di tunda dulu untuk sementara waktu." ucap Dian melihat Bram yang masih dalam posisi membungkuk.
" Baik Pak." ucap mereka serempak. Orang-orang yang beranjak pergi menyisahkan Bram bersama Dian. Dian datang menghampiri Bram yang masih menghisap jarinya.
" Bram, ada apa?." tanya Dian melihat posisi Anaknya yang belum berdiri.
" Pah, Aku ke toilet dulu. Nanti aku nyuruh orang membersihkan tempat ini." ucap Bram langsung dianggukan kepala oleh Dian. Bram langsung melangkah ke arah toilet dengan sejuta rasa sedih.
" Bram kenapa ya? Aku juga dari tadi kepikiran Anna. Lebih baik Aku telfon Anna dulu memastikan keadaannya." ucap Dian. Dian meraih handponenya yang terletak di atas meja kerjanya. Ia pun menghubungi Anna dan memastikan keadaannya.
Tut tut tut
" Eh, kok hp Anna nggak aktif? Aku coba menghubungi Herman." ucapnya.
Tut tut tut
" Kok hp Herman juga nggak aktif? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu?." ucap Dian yang semakin panik.
Tiba-tiba handponenuya berdering menandakan panggilan masuk. Namun, hanya nomor baru yang terpampang jelas di layar.
" Ini nomor siapa?." ucap Dian langsung menekan tombol hijau.
" Assalamu Alaikum." ucapnya mengawali percakapannya.
" Waalaikum salam, Apa benar ini dengan Bapak Hardian Pramudita?." ucap seseorang dari sebrang handpone Dian.
" Iya saya sendiri." balasnya.
" Maaf kami mengganggu kesibukan Bapak, kami dari pihak kepolisian hanya mengabarkan salah satu keluarga anda mengalami sebuah kecelakaan." ucap salah seorang anggota kepolisian yang berada di tempat kejadian.
" Sa..sa..salah satu anggota saya, si.si..siapa?." tanya Dian yang nampak terkejut.
" Untuk lebih jelasnya, Bapak lebih baik datang di tempat kejadian."
" Ba..baik, saya segera menuju ke tempat itu. Tolong Bapak kirim lokasinya."
" Baik."
Klik
Bram yang baru saja keluar dari toilet melihat tingkah laku Ayahnya yang terlihat cemas.
" Pah, Papa kenapa?." tanya Bram.
" Bram, Bram ada polisi telfon Papa." ucap Dian yang masih shock.
" Polisi? Untuk apa Polisi telfon Papa? Apa ada yang terjadi?." tanya Bram yang dalam kebingungan.
" Begi_."
Ting
Bunyi handpone Dian menghentikan ucapannya bahwa sebuah pesan masuk. Dengan cepat Dian membuka pesan masuk itu.
" Bram ikut Papa." ucap Dian langsung menarik pergelangan tangan Bram.
Bram dan Dian pun meninggalkan kantor mereka dan menuju ketempat yang sudah di beritahukan.
🌳🌳🌳
Di tempat lain di sebuah Perusahaan besar beberapa langkah kaki terdengar sedang melangkah kesebuah ruangan yang menjadi tempat mereka untuk membahas suatu bisnis. Di mana tempat itu menjadi saksi atas kontrak kerja sama mereka terjalin. Namun, salah satu Pria yang paling depan tiba-tiba mengalami pusing.
" Tuan." ucap salah satu bawahannya yang datang menahan tubuh Tuannya yang hampir jatuh.
" Aku nggak apa-apa." ucapnya menampilkan aura dingin.Kemudian kembali berdiri tegak dan melepaskan tangan bawahannya yang sedang menahannya.
" Maaf." ucap bawahannya. Ia melangkah mundur untuk menjauh dari Tuannya.
Ia pun melanjutkan langkah kakinya namun pusing di kepalanya kembali terjadi. Hingga dengan tak sengaja tubuhnya menabrak sebuah dinding.
" Pak Aiden." panggil bawahannya yang berada di belakang bersama yang lain.
" Tuan."
" Bawa Aku kembali ke ruangan." ucap Aiden.
" Baik Tuan." Mereka pun memapah Aiden ke ruangannya.
Aiden merebahkan tubuhnya dan menenangkan degub jantungnya yang sedang berpacu.
" Kalian keluar saja, biarkan Aku sendiri dulu." ucap Aiden.
" Baik Tuan." ucap mereka hingga meninggalkan Aiden seorang.
" Ada apa denganku? Perasaan ini seperti kejadian dulu aku kehilangan Nenek?." ucapnya yang sedang kebingungan.
" Anna." ucap Aiden teringat senyum Anna. Tiba-tiba handponenya berbunyi.
Kring kring kring
Aiden merogoh kedalam sakunya dan mengambil benda pipih yang sedang membunyikan nada panggilan masuk.
" Ya Halo."
"...."
" Apaaaaaa?."
...****************...
Nah nah gimana ya?
Eh bang Alex am Rissa belum bangun ya? masih dalam kehangatan mereka jadi ntar siang bangunnya..hehehe.
kuy lanjut lagi..mmm jangan lupa komennya dan likenya gays biar semangat💪💪
lanjut kak,, semangat terus 💪💪💪
jangan lama-lama y up nya kak
ko lama banget sih update nya...aku tunggu-tunggu ceritanya....
lanjut kak,, semangat terus 💪💪💪