Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sore menjelang Giwang bersiap-siap menyiapkan makan malam untuk bosnya. Setelah beberapa jam duduk santai akhirnya dia bisa kembali memasak sesuai menu yang telah di siapkan Adlan tentunya.
Tapi untuk malam ini ada yang beda, Giwang menyajikan makanan pembuka yang berupa salad, dan di sambung dengan makanan utama berupa Garlic lemon Shrimp dan makanan penutup yang manis tentunya.
"Silakan," ujar Giwang masih dengan Appronnya.
"Saya hanya meminta kamu untuk memasak makanan utama tapi kenapa sekarang begitu lengkap?" tanya Adlan sembari memperhatikan hidangan di atas meja.
"Ini untuk menebus kesalahan saya yang tadi pagi," sahut Giwang.
Adlan mangut dan duduk di kursinya tapi dia kembali berdiri dan menarik kursi untuk Giwang.
"Maaf Pak, saya harus pamit," ujar Giwang menolak makan bersama.
Adlan melihat jam di tangannya. "Ini sudah jam tujuh malam dan kamu mau balik ke Restoran?"
"Bukan," Giwang menggelengkan kepalanya. "Saya mau makan malam bersama keluarga, sudah lama tidak makan malam dan mungkin ini waktu yang tepat," jelasnya.
Adlan diam sembari menatap makanannya. Dia akan di tinggalkan gadisnya, walaupun besok akan ketemu tapi dia seperti tidak rela.
"Pak," ujar Giwang yang memperhatikan Adlan melamun.
"Baiklah akan saya antar," sahut Adlan.
"Tidak usah, makanan itu masih hangat lebih baik Bapak makan dengan segera saya akan pulang naik ojek," Giwang secara halus menolak.
"Ojek?" tanya Adlan lagi.
"Iya ojek motor."
"Jadi selama datang ke sini kamu naik ojek?" tanya Adlan tidak percaya dan membayangkan yang tidak-tidak tentang kemesraan gadisnya dengan tukang ojek.
"Iya, angkutan tidak masuk ke sini hanya ojek yang bisa mengantarkan saya tepat waktu."
Adlan kembali menggelengkan kepalanya. "Saya tambah uang transport untuk kamu tapi datang ke sini harus naik taksi."
"Jangan Pak, saya akan naik taksi kalau musim hujan jadi terima kasih atas kebaikan Bapak dan saya pamit," ujar Giwang dan segera berlalu.
"Yang benar saja dia naik ojek, enak tukang ojeknya dong, kalau ngerem mendadak apa enggak bolong tuh punggung," gerutunya kesal. Walaupun kesal Adlan tetap menikmati makan malamnya, sembari memikirkan cara agar Giwang tidak naik ojek lagi.
"Om Adlan!" teriak anak kecil dari pintu depan. "Afiq datang!" teriak anak kecil itu sembari berlari masuk ke bagian dalam rumah dan menemukan Adlan sedang makan malam seorang diri.
"Hei jagoan Om," Adlan langsung menggendong anak kecil yang berumur empat tahun yang merupakan anak kakaknya Anisa. Mengecup pipi gembul itu.
"Afiq turun Om Adlan lagi makan loh," ujar Anisa kakak Adlan.
Anak kecil itu turun dari gendongan Adlan dan langsung berlari ke sana-kemari.
Anisa duduk di ujung begitupun dengan Adlan kembali duduk di kursinya melanjutkan makan malamnya.
"Ad, lusa Mama ulang tahun," ujar Anisa kakaknya.
Adlan melirik kakaknya dan kembali melanjutkan makannya. "Kamu bisa datang kan?" tanya Anisa.
"Akan aku usahakan," sahut Adlan sembari tetap makan. "Ada lagi?" tanya Adlan melirik kakaknya.
"Mama hanya ingin kita berkumpul di rumahnya itu saja," sahut Anisa. "Selama ini kita terlalu sibuk dengan kegiatan kita masing-masing sampai-sampai melupakan orang tua kita satu-satunya yang masih hidup, jadi aku menyiapkan pesta ulang tahun ini untuk Mama dan kita," jelasnya.
"Hanya kita atau ada tamu yang lain?" tanya Adlan sembari meletakkan sendok dan garpu di atas piring dan mengelap mulutnya dengan kain berwarna putih, dia telah selesai dengan semua makanan yang ada.
"Hemm aku hanya mengundang teman-teman Mama itu saja."
"Aku tidak datang kalau pun datang mungkin setelah tamu pulang," Adlan tau pastinya Mamanya akan mengenalkan anak gadis temannya kepadanya.
"Adlan jangan begitu, kita tidak tau umur Mama sampai kapan, apa salahnya datang awal."
"Aku tidak tau," ujar Adlan malas berdebat. Bisa saja dia berdebat karena dia ahlinya tapi tidak untuk keluarganya.
"Sebaiknya pikirkan," ujar Anisa dan segera berlalu.
"Come on Afiq," ajak Anisa ke anaknya dan anak kecil itu memeluk Adlan terlebih dahulu lalu berlari mengejar Mamanya.
Adlan bisa tau apa yang di rencanakan Mamanya.
***
Giwang telah sampai di rumah. "Cepat hari ini pulang," ujar Ibu Ima.
"Iya Bu," sahutnya sembari membuka tasnya.
"Ya ampun Asiku tertinggal di kulkas," gerutu Giwang.
"Ya sudah enggak apa-apa, stok di kulkas masih banyak," sahut Ibu Ima.
Selesai mandi dan makan malam Giwang bermain dengan anaknya yang masih belum tidur.
***
Seperti biasa Adlan selalu menghabiskan waktunya di ruang kerja, tiba-tiba terlintas Giwang di dalam benaknya.
"Gadis yang cantik," gumamnya senang dan membuka kamera Cctv seminggu yang lalu, selama ini dia tidak pernah mengecek rekaman kamera tapi malam ini dia ingin melihat wajah Giwang ketika memasak di dapur.
"Semoga dia jodohku," gumamnya dan pintu terbuka Adlan buru-buru menutup rekaman itu.
Aksa datang dengan wajah yang di tekuk.
"Ada apa?" tanya Adlan penasaran dan duduk di sebelah adiknya.
"Malam ini aku tidak menemukan gadis mini market," sahutnya kesal.
"Julukan yang unik," sahut Adlan.
Aksa menghembuskan nafasnya secara kasar. "Setiap malam aku menunggunya di halte tapi malam ini dia tidak ada, dan setiap malam aku menanyakan namannya dan dia tetap tidak mau menyebutkan namanya dan sekarang hilang," ujarnya sedih.
"Mungkin gadis mini market sakit atau pindah ke halte lain."
"Kakak jangan ngomong seperti itu, tidak mungkin aku mencarinya ke setiap halte," gerutunya.
"Ya sudah berdoa saja, jika ada lampu hijau cepat nyatakan keburu di gondol maling," gurau Adlan.
Aksa mangut. "Akan aku nyatakan perasaanku kepadanya jika kami telah akrab untuk sekarang jangan entar dia kabur," sahut Aksa dan beranjak dari tempat duduknya.
"Malam ini aku tidur sini," ujar Aksa. Adlan menganggukkan kepalanya tapi terlintas senyuman Giwang yang pastinya bisa membuat adiknya ikut jatuh cinta.
"Kakak tidak mengizinkan kamu tidur di sini," ujar Adlan.
"Ya kenapa?" tanya Aksa bingung.
"Besok kakak berangkat pagi," sahutnya asal.
"Kakak berangkat pagi buta juga, pintu rumah tidak pernah terkunci," sahutnya bingung.
"Pokoknya enggak boleh!" Adlan mendorong adiknya untuk keluar dari rumahnya.
Aksa berbalik menatap kakaknya. "Apa kakak menyimpan wanita malam di kamar?" tanyanya.
"Enak saja kalau ngomong!" Adlan memukul kepala adiknya.
"Sudah sana pulang!" usir Adlan. Aksa batal untuk menginap di rumah kakaknya.
Malam hari menjelang.
Adlan telah berada di atas tempat tidurnya. Tempat tidur dengan ukuran sangat besar, dia memandang ke sampingnya, tidak ada seseorang yang menempati tempat tidur itu selain dirinya.
Adlan mencoba menutup matanya agar tertidur tapi tetap tidak tertidur. Memutar alunan musik agar mengantarkannya tidur tapi dia tetap tidak bisa tidur.
Bayang-bayang wajah Giwang telah menghiasi isi kepalanya. Senyumnya, rambutnya, manik mata yang indah sampai bibir ranum itu ada di dalam pikirannya.
"Aaaa!" teriak Adlan. "Kenapa denganku," gerutunya. Adlan keluar dari kamarnya mencari sesuatu yang bisa di makannya. Membuka lemari dapur dan hanya menemukan snack.
Adlan membuka kulkas dan mencari susu yang ada di pintu kulkas. "Habis," gerutunya. Adlan jongkok untuk mencari yang bisa di makannya. Di balik buah-buah ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia mengambil plastik kecil berwarna biru polos.
"Apa ini," gumamnya bingung. Adlan membuka plastik kecil itu dan mencium aroma dari dalam.
"Susu," gumamnya sembari melihat tempat susu yang telah habis.
"Kenapa Gigi memindahkan susu ini ke dalam kantong," gumamnya bingung.
"Apa mungkin dia sengaja menuangkan susu ke dalam kantong agar takarannya sesuai."
"Lebih baik aku minum," gumamnya dan mendengar suara hujan yang cukup deras, Adlan memanaskan susu itu, dua kantong sekaligus, membawa ke kamarnya dan di dalam kamar dia menegakkan susu itu.
"Susu ini berbeda dari merek yang di beli Jeje tapi rasanya lebih enak malah manisnya alami," gumamnya dan menghabiskan susu itu. Dalam sekejap Adlan tertidur.
Bersambung...
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!