NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 33

Cengkeraman Zico pada pergelangan tangan Yevone terasa sangat kuat dan menyakitkan. Tawa gila pemuda itu bergema memenuhi ruang kerja lantai tiga puluh, berbaur dengan isak tangis Yevone yang berusaha membebaskan diri. Zico memajukan wajahnya yang penuh dengan hasrat bejat, berniat mencium bibir Yevone secara paksa. Namun, tepat ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa sentimeter saja, sebuah cengkeraman dingin berkekuatan luar biasa mendadak terkunci rapat di pergelangan tangan kanan Zico.

Krek!

Suara gemertak samar dari pergeseran sendi tulang pergelangan tangan Zico bergema tipis di udara.

"Aagghh! Bangsat!" jerit Zico histeris, rasa sakit membakar yang teramat sangat seketika menjalar dari pergelangan tangannya hingga ke bahu.

Cengkeraman itu begitu kuat, seolah-olah pergelangan tangannya baru saja dijepit oleh tang besi raksasa yang membara. Rasa sakit yang luar biasa hebat memaksanya melepaskan cengkeramannya dari tangan Yevone secara refleks. Zico melangkah mundur beberapa titik sambil memegangi pergelangan tangannya yang mendadak memar kebiruan, dadanya naik turun tersengal-sengal menahan nyeri.

"Lepaskan tangan kotormu dari istriku," Theodore bersuara.

Suaranya tidak melengking atau berteriak keras, melainkan terdengar sangat pelan, berat, dan dipenuhi gema dingin yang membekukan darah.

Theodore menggeser posisi berdirinya dengan sangat tenang, memasang tubuh tegapnya tepat di depan Yevone bagaikan dinding benteng yang tak tertembus. Ia menarik lengan istrinya perlahan ke balik punggungnya, menyembunyikan Yevone secara penuh dari pandangan Zico.

Yevone yang masih gemetaran hebat menempelkan wajahnya di balik punggung lebar Theodore. Air mata ketakutannya menetes membasahi kemeja kusam suaminya, jemarinya meremas kain kemeja Theodore dengan sangat erat seolah-olah hanya pria ini satu-satunya tempat ia bisa bergantung di tengah badai.

"Theo..." bisik Yevone parau dengan suara yang sangat bergetar.

"Tenang, Yev. Ada aku di sini," balas Theodore lembut tanpa menoleh, tangan kirinya terulur ke belakang untuk menepuk pelan jemari istrinya yang gemetar.

Zico meringis kesakitan, mengelus pergelangan tangannya yang membengkak hebat. Matanya memerah padam oleh amarah dan rasa malu yang meledak-ledak. Seorang gembel benalu yang biasa disiram air bekas cuci piring oleh keluarga Mahendra, baru saja berani melukainya di dalam kantor pribadinya sendiri!

"Anjing gembel!" raung Zico dengan wajah meliuk marah, menunjuk-nunjuk wajah Theodore dengan tangan kirinya. "Berani banget kamu nyentuh gue, bangsat?! Kamu lupa siapa gue, hah?! Gue bisa bikin kamu sama seluruh keluarga miskinmu itu membusuk di selokan malam ini juga!"

Theodore sama sekali tidak memedulikan teriakan dan makian gila Zico. Pandangannya yang dingin bergulir pelan ke arah meja kayu jati berukir di sebelahnya. Di sana, di atas permukaan kayu yang mengkilap, tergeletak map kulit hitam berisi Surat Perjanjian Pinjaman Modal Darurat—dokumen jebakan berdarah yang baru saja digunakan Zico untuk memeras dan merendahkan kehormatan istrinya.

Theodore mengulurkan tangan kanannya, meraih map tebal itu, lalu mengangkatnya santai di udara.

Melihat Theodore memegang map tersebut, Zico mendadak tertawa menyeringai dengan suara melengking yang sangat meremehkan. Pria itu menyandarkan pinggulnya ke tepi meja, mengira gembel di hadapannya mulai ketakutan setelah mendengar ancamannya.

"Kenapa? Kamu baru sadar kalau surat itu satu-satunya tali penolong buat keluarga mertuamu?!" cibir Zico dengan raut wajah sangat sombong. "Bagus kalau kamu sadar diri, gembel! Berlutut di lantai sekarang! Cium sepatu gue dan suruh istri cantikmu itu nurut sama gue malam ini! Kalau nggak, gue pastikan surat utang lima puluh miliar itu bakal jadi surat kematian buat Kakek Surya!"

Theodore menatap lembar kertas bermaterai di dalam map itu selama dua detik. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, tidak memancarkan ketakutan sedikit pun.

Kemudian, di hadapan Zico yang sedang tersenyum penuh kemenangan dan Yevone yang menahan napas cemas, Theodore menjepit tumpukan kertas tebal itu menggunakan kedua tangannya.

Sreeett! Brak!

Suara robekan kertas yang sangat nyaring memecah keheningan ruangan eksekutif tersebut.

Dengan satu gerakan bertenaga yang sangat mudah, Theodore merobek tumpukan Surat Perjanjian Pinjaman Modal Darurat bermaterai itu tepat di tengah-tengah menjadi dua bagian.

Mata Zico seketika terbelalak lebar hingga bola matanya nyaris keluar dari kelopaknya. "K-kamu... kamu ngelakuin apa, bangsat?!"

Theodore tidak berhenti. Tanpa mengedipkan mata, ia menumpuk kembali dua bagian kertas robek itu, lalu merobeknya lagi secara menyilang.

Sreeett! Sreeett!

Dengan gerakan teratur dan penuh penekanan, Theodore mencabik-cabik dokumen jebakan bernilai lima puluh miliar rupiah itu menjadi puluhan serpihan kertas kecil tak berguna.

Byuurr!

Theodore melemparkan serpihan-serpihan kertas itu tepat ke arah wajah Zico. Puluhan potongan kertas putih beterbangan di udara bagaikan salju busuk, mendarat di kepala, bahu, dan wajah Zico sebelum berserakan kotor di atas lantai marmer impor.

"Ini jawaban untuk surat sampahmu," ucap Theodore dingin, menatap Zico dengan sorot mata yang penuh kejam.

Zico mematung di tempatnya. Beberapa potongan kertas robek menempel di rambut rapinya. Kebingungan yang luar biasa sempat melumpuhkan otaknya selama beberapa detik. Surat perjanjian yang dirancang oleh tim pengacaranya selama berhari-hari—surat yang menjadi kartu truf utamanya untuk menguasai Yevone dan Mahendra Group—baru saja dihancurkan secara brutal di depan matanya oleh seorang pria yang selalu dianggapnya sebagai sampah jalanan.

"Bangsat... Bener-bener bangsat kurang ajar!" raung Zico dengan suara melengking tinggi hingga urat-urat lehernya menonjol tegang akibat amarah yang sudah melampaui batas kegilaan.

Zico merogoh ke bawah meja kerjanya dengan panik, lalu menekan tombol darurat berwarna merah di bawah papan kayu.

Tet! Tet! Tet!

Sirine peringatan bahaya berbunyi nyaring dari speaker dinding. Lampu indikator di atas pintu ruangan berkedip-kedip merah.

Brak!

Pintu ganda berlapis kayu jati berukir itu didorong terbuka dengan sangat kasar dari luar. Empat orang pengawal pribadi Keluarga Z bertubuh kekar dan tinggi besar merangsek masuk ke dalam ruangan. Masing-masing dari mereka mengenakan jas hitam rapi dan memegang tongkat besi taktis yang dapat dipanjangkan di tangan kanan.

"Tuan Muda! Ada apa?!" seru pengawal terdepan dengan wajah garang.

"Bantai gembel ini!" jerit Zico histeris sambil menunjuk-nunjuk wajah Theodore dengan jari gemetar. "Bantai dia sampai remuk! Patahkan kedua tangan dan kakinya, terus lemparkan tubuh bangkainya keluar dari jendela lantai tiga puluh ini sekarang juga!"

Empat pengawal elit itu tidak membuang waktu. Melihat perintah dari Tuan Muda mereka, mata mereka berkilat buas. Pengawal terdepan langsung mengayunkan tongkat besi taktisnya dengan sekuat tenaga, mengincar pelipis kanan Theodore dengan kecepatan mematikan.

Yevone menjerit histeris dari balik punggung Theodore. "Theo! Awas!"

Namun, Theodore sama sekali tidak melangkah mundur.

Saat tongkat besi itu meluncur beberapa sentimeter di samping telinganya, Theodore menggerakkan tangan kanannya secepat kilat. Jemari Theodore mencengkeram ujung tongkat besi itu di udara dengan sangat presisi, menghentikan laju senjata tajam itu secara instan seolah-olah tongkat itu menghantam dinding baja padat.

Pengawal bertubuh kekar itu terperanjat kaget, berusaha menarik kembali senjatanya dengan seluruh tenaganya namun tongkat itu tetap mematung tak bergeming di tangan Theodore.

Krek!

Theodore memutar pergelangan tangannya sedikit ke luar. Besi padat tongkat taktis itu meliuk bengkok secara tidak alami, disusul suara patahan tulang lengan pengawal tersebut.

"Aarghh!" jerit pengawal itu kesakitan, berlutut menghantam lantai.

Sebelum pengawal kedua dan ketiga sempat bereaksi, Theodore sudah melangkah maju satu titik. Ia meluncurkan satu pukulan telapak tangan terbuka tepat ke tengah dada pengawal kedua.

Brak!

Getaran pukulan itu memantulkan gelombang tekanan hebat yang menembus organ dalam. Tubuh pengawal berbobot seratus kilogram itu melayang mundur sejauh tiga meter di udara, menghantam lemari pajangan kristal mahal hingga hancur berantakan sebelum tergeletak pingsan tak sadarkan diri di atas tumpukan pecahan kaca.

Dua pengawal sisanya membeku ketakutan, napas mereka tercekat melihat betapa mudahnya dua rekan elit mereka dilumpuhkan dalam waktu kurang dari lima detik. Belum sempat mereka mengangkat senjata, Theodore memutar tubuhnya dengan sangat anggun, menyapu kaki pengawal ketiga hingga jatuh terjerembap keras, lalu menghantamkan siku tangannya ke leher pengawal keempat.

Gedebuk! Gedebuk!

Dalam kurun waktu kurang dari sepuluh detik, empat pengawal pribadi terlatih yang disewa Keluarga Z dengan harga mahal sudah tergeletak secara mengenaskan di atas lantai marmer yang kotor oleh serpihan kertas robek dan pecahan kristal. Suara rintihan kesakitan mereka bergema samar di dalam ruangan yang mendadak sunyi mencekam.

Yevone berdiri terpaku di balik punggung suaminya. Matanya membelalak lebar, tangan kecilnya menutup mulutnya sendiri gara-gara rasa syok yang luar biasa. Ia menatap empat pria berbadan besar yang tersungkur di lantai, lalu menatap punggung Theodore yang berdiri tegap tanpa goresan sedikit pun. Ini adalah pertama kalinya Yevone melihat secara langsung kehebatan fisik suaminya yang sangat mengerikan dan tidak masuk akal.

Theodore mengibaskan sedikit debu dari ujung lengan kemeja lusuhnya. Ia melangkah perlahan melangkahi tubuh para pengawal yang tersungkur, berjalan mendekati Zico yang sedang berdiri bersandar di tepi meja.

Zico menyaksikan seluruh pembantaian kilat itu dari jarak dekat. Wajah pemuda arogan itu kini berubah menjadi sangat pucat pasi bagaikan mayat. Seluruh keberanian, kesombongan, dan keangkuhannya sebagai Tuan Muda Keluarga Z menguap total tanpa sisa. Kaki Zico gemetar hebat hingga menyebabkannya terperosok jatuh terduduk secara mengenaskan di atas kursi kulit mewahnya.

"K-kamu... kamu monster apa, hah?!" bisik Zico dengan suara yang bergetar hebat gara-gara rasa takut yang melumpuhkan jiwanya.

Theodore menghentikan langkahnya tepat di depan meja Zico. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menatap Zico dari atas dengan mata hitamnya yang berkilat dingin dan hampa—tatapan dari seorang penguasa tertinggi yang sedang melihat sebutir serangga kotor yang siap diinjak.

"Batas kesabaranku untukmu dan keluargamu sudah habis hari ini, Zico," ucap Theodore pelan. Suaranya halus, namun gema dari vokal itu terasa bagaikan vonis maut yang mencabut seluruh harapan hidup Zico.

Theodore tidak memukul Zico. Ia hanya berbalik secara perlahan, mengulurkan tangan kanannya untuk menggenggam jemari Yevone yang masih gemetaran.

"Ayo kita pulang, Yev," panggil Theodore dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh kehangatan saat menatap istrinya. "Tempat ini terlalu kotor untuk wanita sebaik dirimu."

Yevone menatap mata suaminya, lalu mengangguk pasrah. Ia membiarkan Theodore menuntun langkah kakinya melintasi jejak kekacauan di lantai, keluar dari ruangan eksekutif itu menuju pintu lift.

Di balik meja kerja mewahnya, Zico terduduk lemas sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang ketakutan. Keringat dingin membasahi seluruh pakaian mewahnya saat ia menatap potongan-potongan kertas kontrak yang berserakan di lantai, sama sekali tidak menyadari bahwa kejatuhan total bagi dirinya dan seluruh Keluarga Z baru saja dimulai.

1
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!