Iris Quinn hanyalah sekretaris culun yang mudah diinjak-injak. Di rumah ia dijadikan keset oleh keluarganya, di kantor ia jadi samsak perundungan. Bahkan sang CEO, Ethan Cole, memilihnya hanya karena yakin gadis itu tidak akan punya nyali untuk menggodanya.
Tapi mereka tidak tahu, Iris yang asli sudah mati.
Tubuh ringkih itu kini dikuasai oleh jiwa Valerie Crowe, jenderal perang wanita kejam yang tewas diterkam harimau di medan tempur. Bagi Valerie, menghadapi drama kantor dan keluarga picik bukanlah masalah besar. Ini hanyalah medan perang baru yang sangat mudah ditaklukkan.
Dengan kecerdasan otak Iris dan insting membunuh seorang jenderal, Valerie mulai mematahkan satu per satu harga diri orang yang pernah menindasnya. Saat Ethan Cole menyadari sekretaris penurutnya berubah menjadi wanita berdarah dingin yang bisa melumpuhkan lawan dengan tangan kosong, sang CEO justru mulai terobsesi.
Mereka pikir Iris bisa terus ditindas? Selamat datang di neraka. Permainan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghabiskan Uang
Langkah Iris berhenti di depan pintu saat Nyonya Hera menarik tangannya dari belakang.
"Berikan uangmu pada Ibu. Ibu perlu untuk belanja dan membayar uang kuliah Clara" kata Nyonya Hera tanpa sungkan. Ia seakan melupakan kemarahan Iris yang terjadi beberapa menit yang lalu.
"Uang ? Untuk apa aku harus memberimu uang ?" tanya Iris dingin. Tidak ada lagi raut ketakutan di wajahnya. Yang ada hanya wajah menantang yang penuh amarah.
"Iris, kau boleh marah. Dan Ibu sudah memaafkan mu. Tapi kau jangan lupa, uang yang kau hasilkan tetap menjadi milik bersama. Kau lihat Ayahmu. Dia tidak mau pergi bekerja. Dan Brian, dia baru putus cinta dan tidak memiliki semangat" kata Nyonya Hera memelas. .
Biasanya ia tidak pernah melakukan itu. Ia akan mengambil paksa tas Iris dan mengambil uangnya. Tapi setelah kemarahan Iris yang baru saja terjadi, ia berpikir untuk menggunakan kata-kata halus saja.
"Aku sudah bilang kan, tidak ada uang lagi untuk keluarga sampah seperti ini. Jika kalian lapar, maka bekerjalah sendiri. Apa selama ini Ibu juga pernah memikirkan ku, apa aku sudah makan atau belum. Apa aku masih hidup atau sudah mati. Tidak kan ?"
"Iris, kau berubah. Kau bukan lagi anak penurut yang menyayangi Ibu" Nyonya Hera mulai menangis.
"Benarkah ?" tanya Iris.
"Kalau begitu ingat ini. Jangan datangi aku apapun yang terjadi pada kalian. Aku masih ingat jelas bagaimana perlakuan kejam kalian padaku. Jangan sampai aku memukul Ibu juga" kata Iris lalu pergi meninggalkan rumah keluarganya diiringi teriakan Nyonya Hera.
"Anak sialan. Sekarang bagaimana aku mendapatkan uang" gerutu Nyonya Hera.
Ia melihat punggung tegap Iris berjalan menjauh dan tidak menoleh sama sekali. Hari ini, Iris seperti orang lain di matanya.
Iris yang sangat berani dan mengintimidasi. Kemana hilangnya Iris yang menurut dan selalu berkata iya itu ?
"Aku harus cari cara supaya Iris mau memberikan uangnya. Ia tidak bisa memegang uang banyak"
..
Valerie berjalan di pinggir jalan dengan langkah pelan. Mulutnya terkunci sebab berusaha mencerna beberapa ingatan yang berputar di kepalanya.
Terkadang air matanya jatuh sendiri saat merasakan sakit luar biasa dihatinya karena mengingat perlakuan buruk keluarga Iris padanya.
"Keluarga sampah" gumamnya sembari menghapus kasar air matanya.
"Entah mengapa aku merasa tidak ada tatapan hangat dari kedua orang tua, Iris. Mereka begitu tega memukul dan tidak memikirkan perasaannya sama sekali. Bukankah orang tua akan merasa sakit jika anaknya terluka ? Tapi mereka malah memberikan luka"
"Pasti ada sesuatu yang salah disini. Aku harus mencari tau"
Valerie merasa jika tubuhnya tiba-tiba tidak selemah tadi. Ia bisa berjalan jauh tapi tidak merasa sesak nafas lagi. Jadi ia melanjutkan langkahnya pergi ke pusat perbelanjaan berbekal ingatan milik Iris.
Sesampainya di sana, matanya menatap takjub pada bangunan besar dan tinggi itu.
"Ini seperti markas kuno yang belum pernah kumasuki. Jika tempat ini dipakai berlindung dari serangan musuh, mungkin para penduduk di Aurelia semuanya bisa masuk ke dalamnya" gumam Iris merasa kagum.
Ia menghentakkan rasa kagumnya dan mulai berjalan masuk mengikuti orang-orang yang berlalu lalang.
Di dalam mall, lagi-lagi ia terpana melihat benda-benda yang seumur hidupnya belum pernah ia lihat. Tapi Iris tau batas. Ia hanya sekedar menatapnya saja tanpa berani menyentuhnya.
Ia masih ingat dulu di pasar gelap ia pernah menyentuh sebuah belati emas yang ada ukiran naganya. Lalu ia tidak sengaja menjatuhkan benda itu dan gagangnya putus. Iris tau itu benda tiruan, tapi ia terpaksa mengganti rugi.
Jadi di kehidupannya yang sekarang ia harus berhati-hati. Jangan sampai uangnya habis untuk mengganti barang yang ia rusakkan.
Iris masuk ke sebuah toko yang sepi pembeli. Ia melihat seorang gadis seusia dirinya duduk di balik meja kasir. Ia tersenyum ramah dan menyambut kedatangan Iris.
"Ada yang bisa kubantu, Nona ?" tanya gadis situ dengan lembut.
"Aku mau mencari pakaian kerja" jawab Iris. Gadis itu mengangguk lalu menunjukkan beberapa setelan yang cocok untuk Iris.
Iris yang masih belum mengerti tentang uang disini hanya menunjukkan saldo miliknya di ponselnya.
"Tolong carikan aku pakaian yang harganya tidak lebih dari ini" ujar Iris sembari menunjukkan ponselnya.
Penjaga toko itu tersenyum dan mengangguk setelah melihat angka yang tertera di ponsel jelek Iris. Ia mengerti jika keadaan Iris tidak terlalu baik.
"Kau bisa mendapatkan lima setel baju kerja dengan uang itu, Nona. Dan itu juga masih tersisa" jelas penjaga toko itu.
Setelah memilih beberapa pakaian yang cocok, Iris membayarnya. Penjaga toko itu senang karena Iris membeli banyak.
"Siapa namamu ? kenapa kau terlihat sangat senang sekarang ? Kulihat tadi kau bersedih saat aku baru masuk" tanya Iris kepo.
"Namaku Karin, Nona. Aku senang karena kau belanja banyak di toko ku. Beberapa hari ini tidak ada pembeli sama sekali hingga aku tidaklah mendapatkan pemasukan. Padahal aku harus membeli obat untuk nenekku yang sakit" ujar Karin meneteskan air mata.
Iris terdiam. Hatinya terenyuh mendengar cerita Karin.. Rupanya bukan hanya sosok Iris yang berjuang dalam hidup ini.
"Kau gadis baik. Semoga harimu selalu menyenangkan. Nanti kalau aku punya uang lagi, aku akan belanja disini lagi" kata Iris lalu meninggalkan toko.
Karin tersenyum dan mengantar kepergian Iris di depan pintu. "Iya, ku tunggu kedatanganmu lagi"
Setelah keluar dari toko baju, Iris melihat banyak orang mengatei di sebuah gerak. Antriannya panjang dan Iris iseng ikut mengantri.
"Hei, apa yang mereka jual ?" tanyanya pada orang di depannya.
"Kau tidak tau ? Ini kedai teh susu yang baru buka. Mereka memberikan potongan harga lima puluh persen dalam seminggu ini"
"Potongan harga ?" tanya Iris tidak mengerti.
"Iya. Maksudnya, mereka memberikan setengah harga hanya untuk satu minggu ini dan sudah berjalan empat hari"
"Wah sepertinya enak. Aku juga mau coba"
"Iya cobalah. Aku juga pertama kali membelinya"
Iris tersenyum tipis pada wanita di depannya. Rupanya dunia tidak seburuk itu. Tidak semua orang seperti Chloe yang senang menghina. Atau menyebalkan seperti Ethan.
Buktinya, dua kali dia bertemu orang baik yang tidak melihat penampilannya. Dan itu sudah cukup membuat nya bahagia.
...
abs pnya apartmen baru,abs tu blnju baju yg bgus...trs k salon,kl prlu ptong rmbut biar buang sial.....
kl kluarganya mnta uang,jgn d ksih...lbh baik pke buat dri sndri aja...ok jendral....
Aku udh mmpir lg....crtanya seru,sm ky crtamu yg lain....😁😁😁...
ska bgt kl cwek tngguh ky gni,ga menye2 trs kl ada yg ngusik lngsng d bls....d tnggu up'ny y....smngttt....😘😘😘