Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Paling Bersih & Jurang Kecil Yang Ternyata Tempat Sampah
---
Perjalanan dari Kota Batu Hitam ke Ibukota Provinsi biasanya ditempuh 7 hari dengan kuda cepat, 15 hari dengan kereta.
Pasukan Kebersihan Klan Kedai Teh menempuhnya dalam 3 hari. Bukan karena mereka lari, tapi karena jalan yang mereka lewati menjadi bersih, jadi kuda-kuda liar yang melihat jalan bersih, ikut membantu menarik kereta tikar.
Di sepanjang jalan, ada pemandangan yang membuat para petani di sawah berhenti mencangkul.
Di depan, seorang pria compang-camping menggendong bayi yang setiap 1 jam tertawa dan mengeluarkan hujan daun teh hitam keemasan yang jatuh di sawah, membuat padi yang hampir mati karena hama, tiba-tiba hijau lagi.
Di belakangnya, raksasa 2 meter menyapu jalan dengan sapu raksasa, dan setiap sapuannya, debu jalan yang 10 tahun tidak disapu hilang, membuat jalan tanah menjadi seperti jalan batu.
Di belakang raksasa, dua gadis cantik, satu dengan mahkota uap, satu dengan ember, menyapu sambil memungut sampah dan menyapa petani, "Pak, jangan buang bungkus permen di sawah ya, nanti Bos Kecil sedih!"
Di belakang gadis, 80 Tetua Nascent Soul yang biasanya terbang dengan pedang, kini berjalan kaki menyapu. Mereka menyapu dengan teknik pedang: satu tebasan sapu, 10 meter jalan bersih. Petani yang melihat Tetua Nascent Soul menyapu, langsung berlutut, tapi disuruh berdiri oleh Ling'er, "Jangan berlutut, nanti celanamu kotor, susah cucinya!"
Di paling belakang, Kepala Klan Utama Su Feiyan yang biasanya naik tandu emas, kini menyapu sambil menggendong karung sampah yang dia pungut di jalan.
Pada hari kedua, pasukan kebersihan ini sudah terkenal di 5 desa yang mereka lewati. Desa-desa itu tidak memberi mereka makan gratis, tapi memberi mereka... sampah. Karung-karung sampah yang sudah 5 tahun tidak dibuang, diberikan kepada Si Kecil Hitam, iblis tikus, yang dengan bangga memasukkannya ke karung besarnya dan berkata, "Sampah kalian akan saya daur ulang jadi pupuk teh di selokan Kota Batu Hitam!"
Pada hari ketiga sore, mereka sampai di gerbang Ibukota Provinsi.
Ibukota Provinsi, Kota Giok Putih, biasanya kota termewah di wilayah timur, dengan tembok 20 meter, jalan batu giok, dan lampu kristal. Tapi hari itu, gerbangnya berantakan.
Asap hitam dari Gunung Giok Putih di belakang kota - gunung tempat Jurang Kecil berada - sudah menutupi setengah langit kota. Warga berlarian keluar kota dengan karung, anak-anak menangis. Di atas tembok, 10 Tetua Nascent Soul Klan Utama terluka, darah di jubah emas mereka.
Di tengah gerbang, ada 2 iblis setinggi 4 meter, hitam, bertanduk, sedang menghancurkan gerbang dengan tinju, tertawa. Itu 2 Iblis Tingkat Nascent Soul yang keluar dari Jurang Kecil.
Pasukan Klan Utama di dalam kota melempar tombak api, tapi tombak itu hanya membuat iblis itu tertawa lebih keras.
Su Feiyan yang melihat itu, ingin berlari dan bertarung, tapi Xiao Chen mengangkat tangan.
"Jangan berisik. Nanti Bos Kecil kaget."
Xiao Chen maju selangkah, masih menggendong Bos Kecil yang sedang tidur siang, dot sendok teh kayu di mulut.
Mo Sha maju, ingin menghajar 2 iblis itu, tapi Xiao Chen menggeleng.
"Mo Sha, kau jaga Bos Kecil. Ling'er, Qing'er, kalian seduh teh."
Ling'er dan Su Qing'er yang mendengar perintah, langsung menggelar tikar di depan gerbang yang sedang diserang iblis, mengeluarkan teko dan cangkir, dan mulai menyeduh Teh Bos Kecil dengan daun yang baru saja dikeluarkan Bos Kecil dalam tidurnya.
Aroma Teh Bos Kecil hitam keemasan yang hangat, menyebar melawan angin asap hitam.
2 iblis Nascent Soul yang sedang menghancurkan gerbang, mencium aroma itu, berhenti memukul. Hidung besar mereka mengendus-endus.
"Teh... susu...?" kata salah satu iblis dengan suara serak, karena iblis tidak pernah minum teh, hanya minum darah.
Xiao Chen mengambil 2 cangkir Teh Bos Kecil yang baru diseduh, berjalan pelan ke arah 2 iblis itu, tanpa pedang kayu, hanya 2 cangkir di tangan.
Semua Tetua di tembok yang melihat itu, berteriak, "Tuan Bos Teh, hati-hati! Itu Iblis Tingkat Akhir!"
Xiao Chen tidak dengar, atau pura-pura tidak dengar, sesuai peraturan jangan berisik.
Dia sampai di depan 2 iblis 4 meter itu, mengangkat 2 cangkir.
"Minum. Jangan hancurkan gerbang, nanti kotor, susah disapu."
2 iblis itu menatap cangkir kecil di tangan manusia kecil itu. Mereka ingin menertawakan, tapi aroma teh susu itu... membuat perut mereka yang selama 2000 tahun di jurang hanya makan batu dan darah, berbunyi _krucuk_.
Salah satu iblis, dengan ragu, mengambil cangkir itu dengan jari raksasanya yang kuku hitam. Cangkir itu kecil sekali di tangannya.
Dia menyeruput.
Satu seruput.
Mata merahnya yang besar... membelalak. Bukan karena marah, tapi karena...
"Hangat..." bisiknya.
Iblis kedua juga menyeruput.
"Manis... seperti... seperti saat saya masih telur di jurang... sebelum jadi iblis..."
Kedua iblis Nascent Soul itu, yang 3 hari ini menghancurkan 2 desa, kini duduk di depan gerbang Ibukota Provinsi, bersila, memegang cangkir kecil, minum dengan sangat pelan, takut cangkirnya pecah, sambil menangis air mata hitam.
Warga Ibukota Provinsi yang melihat 2 iblis menangis karena teh, terdiam.
Xiao Chen menatap 2 iblis yang duduk itu.
"Kalian dari Jurang Kecil Gunung Giok Putih?"
Kedua iblis mengangguk, masih menyeruput.
"Di dalam jurang, kotor ya?" tanya Xiao Chen.
Kedua iblis mengangguk lagi, lebih keras. "Kotor, Tuan... sampah tulang 2000 tahun tidak ada yang sapu... bau... kami keluar karena tidak tahan bau... bukan karena ingin makan manusia... tapi di luar juga bau karena kota tidak disapu..."
Jawaban yang tidak terduga. Iblis keluar dari jurang bukan karena ingin invasi, tapi karena jurangnya kotor dan bau.
Xiao Chen mengangguk, mengerti. Sama seperti selokan Si Kecil Hitam.
Dia menoleh ke belakang, ke pasukannya.
"Pasukan Kebersihan, masuk. Target: Gunung Giok Putih, Jurang Kecil. Kita bersih-bersih. Mo Sha di depan, Ling'er dan Qing'er bawa teko, yang lain bawa sapu. Jangan berisik, nanti iblis lain kaget."
80 Tetua tukang sapu yang mendengar perintah, langsung berbaris, sapu di pundak seperti pedang, dan berjalan masuk ke Ibukota Provinsi, bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tukang sapu.
Warga Ibukota Provinsi yang melihat iring-iringan tukang sapu dengan bayi di depan, memberi jalan, bukan karena takut, tapi karena... jalan yang mereka lewati menjadi bersih, dan 2 iblis yang menangis di gerbang ikut berdiri dan... ikut menyapu gerbang yang mereka hancurkan tadi dengan tangan besar mereka, karena Mo Sha berbisik, "Kalau kau hancurkan, kau bersihkan!"
Sore itu, untuk pertama kalinya dalam 2000 tahun, Gunung Giok Putih yang berasap hitam, didaki bukan oleh pasukan pedang, tapi oleh pasukan sapu, dipimpin bayi yang masih mengisap dot sendok teh kayu.
Di puncak gunung, Jurang Kecil 50 meter itu terlihat. Tidak besar seperti Jurang Besar, tapi asap hitamnya pekat, dan dari dalamnya terdengar batuk-batuk iblis kecil yang sesak karena sampah.
Bos Kecil yang sampai di bibir jurang, bangun dari tidur, melihat jurang kecil itu, tidak takut, malah menunjuk dan berkata dengan cadel yang paling jelas sejauh ini:
"To... to... pa!"
Semua menerjemahkan: kotor, sampah.
Xiao Chen mengangguk, "Ya, kotor. Kita bersihkan."