Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Yang Sesungguhnya
Pesta ulang tahun Aditya Group ke-20.
Aku berdiri di depan cermin besar di ruang ganti VIP, menatap bayanganku sendiri. Gaun merah marun dengan ekor panjang yang Revan pilihkan, melukis tubuhku dengan sempurna. Rambutku disanggul modern, beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahku. Make up ku flawless. Kalung berlian di leherku berkilauan.
Setahun lalu, aku adalah Arini yang berdiri di depan cermin butik Luna dengan daster kusam, dihina karena tidak bisa beli gaun seharga 2 juta. Hari ini, aku memakai gaun seharga 200 juta yang dirancang khusus oleh desainer Paris untukku.
Perubahannya begitu... tidak nyata.
"Siap, Nyonya Direktur?" Bi Ijah masuk dengan mata berkaca-kaca. "Ya ampun, Neng cantik sekali seperti putri raja."
Aku tersenyum gugup. "Bi, jantungku deg-degan banget. Revan bilang malam ini ada pengumuman penting, tapi dia nggak bilang apa."
Bi Ijah hanya tersenyum misterius. "Nanti Neng juga tahu. Tuan Revan sudah menyiapkan semuanya dari sebulan lalu."
Aku melangkah masuk ke ballroom. Ratusan tamu sudah ada di sana. Para menteri, artis, CEO dari seluruh Asia. Semua menoleh ke arahku saat aku masuk.
Dan di ujung red carpet, Revan berdiri.
Dia memakai jas hitam three-piece yang sangat pas di tubuhnya. Rambutnya ditata rapi ke belakang. Tapi yang membuatku terpaku bukanlah jas mahalnya. Tapi tatapannya. Tatapan yang hanya tertuju padaku, seolah di ruangan yang penuh ratusan orang itu, hanya ada aku.
Revan berjalan menghampiriku dan mengulurkan tangannya.
"Kamu terlambat 5 menit, partner. Aku sudah hampir mati gugup di sini," bisiknya pelan di telingaku sambil menggandeng tanganku, membuatku tertawa kecil.
Kami duduk di meja utama. Sepanjang acara, tangan Revan tidak pernah lepas dari tanganku di bawah meja. Menggenggam erat, memberiku kekuatan.
Tiba saatnya Revan memberikan sambutan.
Dia naik ke panggung. Lampu sorot mengikutinya.
"Selamat malam, terima kasih sudah datang," ucapnya dengan suara berat dan berwibawa yang khas. "20 tahun lalu, ayah saya memulai perusahaan ini dari sebuah ruko kecil di Glodok. Hari ini, kita menjadi salah satu perusahaan terbesar di Asia. Perjalanan yang panjang."
Dia berhenti sejenak, lalu menatap ke arahku.
"Tapi ada satu hal yang saya pelajari tahun ini. Bahwa kesuksesan sebesar apapun, tidak ada artinya jika kamu tidak memiliki seseorang untuk berbagi cerita di rumah."
Semua tamu mulai berbisik dan menoleh ke arahku.
"Setahun lalu, saya bertemu dengan seorang wanita. Wanita yang sedang berada di titik terendah hidupnya. Dihina, dibuang, dibilang tidak berguna dan mandul oleh suaminya sendiri di tengah hujan."
Aku menunduk, air mata mulai menggenang. Semua orang tahu dia menceritakan ku.
"Tapi wanita itu tidak menyerah. Dia bangkit. Dia bekerja lebih keras dari siapa pun. Dia membuktikan bahwa berlian tetaplah berlian, bahkan saat tertutup lumpur. Dan hari ini, dia adalah Direktur terbaik yang pernah dimiliki Aditya Group."
Revan turun dari panggung dan berjalan ke arahku. Seluruh ballroom hening.
Dia berlutut. Satu lutut. Tepat di depanku.
Dia mengeluarkan kotak beludru hitam.
"Arini Saputri..."
Aku menutup mulutku dengan tangan, tidak percaya.
"Sebulan lalu aku melamarmu sebagai partner bisnis. Dan malam ini, di depan semua orang yang saya hormati, di depan ayah dan ibu saya yang ada di surga, saya ingin melamarmu lagi."
Dia membuka kotak itu. Cincin berlian solitaire 5 karat yang berkilauan luar biasa.
"Maukah kamu menikah denganku? Maukah kamu menjadi Nyonya Revan Aditya Pratama? Menjadi ibu dari anak-anakku nanti? Menjadi partner hidupku sampai maut memisahkan kita?"
Air mataku tumpah. Tidak bisa kutahan lagi.
Semua tamu berdiri dan bertepuk tangan, meneriakkan "Terima! Terima!"
Aku berlutut juga, sejajar dengan Revan, dan memeluknya erat di depan semua orang.
"Ya, Revan! Ya, aku mau! Aku mau menikah denganmu!"
Revan memakaikan cincin itu ke jariku dengan tangan gemetar. Lalu dia berdiri dan mengangkat tanganku tinggi-tinggi, menunjukkan cincin itu kepada semua orang.
"Dia bilang YA!" teriak Revan seperti anak kecil yang dapat mainan baru, tidak lagi seperti CEO dingin.
Seluruh ballroom bergemuruh dengan tepuk tangan dan sorak sorai.
Bi Ijah di pojok ruangan menangis sesenggukan sambil merekam kami.
Malam itu, di bawah lampu kristal ballroom yang mewah, Arini yang dulu dibuang di tengah hujan, resmi menjadi calon istri dari Revan Aditya Pratama.
Dan tidak ada lagi Bara yang bisa menghalangi kebahagiaan itu.