Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03. Bukan Aku Tapi Dia
Clara berlari kembali ke kamar, memoles wajahnya dengan riasan tipis bernuansa tegas, dan memoleskan lipstik merah menyala di bibirnya. Tanpa membuang waktu, ia meraih sepatu high heels di dekat pintu keluar dengan gerakan kilat, persis seperti seseorang yang dikejar waktu agar tak ketinggalan pesawat.
Taksi berhenti tepat di depan sebuah kelab malam papan atas. Lampu neon berwarna-warni berkedip terang menantang kegelapan malam. Clara melangkah cepat masuk ke dalam. Aroma pekat rokok dan alkohol langsung menyengat indra penciumannya saat pintu kaca terbuka.
"Terlambat lima belas menit, Clara," panggil Rose sembari bersedekap, menghadang langkah sahabatnya tepat di lorong masuk.
Clara memalingkan wajah, mengumpat pelan dalam hati. Ia kembali merogoh tasnya dan mencoba menghubungi nomor dengan nama kontak Daffa sekali lagi. Tetap tidak diangkat.
"Dia sudah pulang. Aku kan sudah bilang—"
"Stop! Aku sedang tidak ingin mendengar ceramahmu malam ini, Mawar!" potong Clara tajam, menyebut nama asli Rose saat tingkat kekesalannya berada di puncak.
Clara menyelipkan ponselnya kembali ke tas. Ia menerobos kerumunan di area utama yang dipenuhi lautan manusia yang berjoget liar tanpa beban. Suasana malam ini jauh lebih padat dari biasanya, hingga Clara kesulitan mencari meja langganannya.
"Bos Andri tidak datang. Paling cuma Bos Daffa yang sempat nongkrong sebentar tadi," seru Rose dari belakang, mencoba mengimbangi langkah cepat Clara.
Jemari Clara mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah dan kesal membelit dadanya. Tanpa kata, ia mengalihkan arah menuju area VVIP yang lebih privat dan langsung menuangkan wine ke dalam gelasnya.
"Jam berapa Daffa pulang?" tanya Clara dingin.
"Pas kamu baru sampai di depan, dia baru saja jalan keluar," jawab Rose santai sambil mengunyah camilan di meja.
Clara meneguk habis wine di gelasnya dalam satu tarikan napas. Kepalanya mendadak terasa begitu berat dan pening. Ada rasa tidak nyaman yang merayapi perutnya.
Merasa tubuhnya tak bersahabat, Clara bangkit untuk pergi ke toilet. Namun, saat melewati lorong remang-remang yang dipenuhi pasangan muda-mudi yang saling berpagutan, rasa mual mendadak menghantam dadanya.
"Jorok sekali... ciuman di dekat toilet," gumamnya sinis sembari berjalan menyusuri dinding untuk menjaga keseimbangan.
Namun, pandangannya yang mulai mengabur membuat tumpuan kakinya goyah.
Brak!
"Aduh!" jerit Clara saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke lantai.
"Tolong hati-hati. Kamu gak papa?"
Sebuah suara berat bertumpu hangat di telinganya. Clara mendongak, dan seketika pandangannya terkunci pada sepasang mata tajam yang begitu memesona di dalam keremangan. Tangan kekar pria itu menangkap tubuh lemah Clara dengan cekatan.
Kesadaran Clara kembali bertaut. "Aku tidak apa-apa," cetusnya cepat sembari berusaha mendorong dada pria bersetelan jas mahal tersebut agar memberi jarak.
Namun, saat Clara mencoba berdiri, lututnya lemas. Pria itu menahan pinggang Clara agar tak jatuh kembali ke lantai marmer. Wajah mereka terpaut sangat dekat hingga hembusan napas hangat pria itu menerpa kulit wajah Clara.
Sensasi pusing, kekecewaan akibat Daffa, dan pengaruh alkohol membakar pikiran nekat di kepala 'Clara'. Tanpa berpikir panjang, jemari Clara meraih kerah kemeja pria asing itu.
Tangan satunya mencengkeram rahang tegas sang pria. Clara menarik wajah itu dan langsung melumat bibirnya dengan gerakan menuntut dan mahir, tanpa sadar apa yang telah ia lakukan. Akibat pengaruh minuman itu, tubuhnya mulai terasa panas.