Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.
SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.
Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.
Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34: Sebuah Mantra dari Lestari
Lift bergerak naik tanpa kendala. Tidak ada hentakan ataupun hal aneh seperti sebelumnya. Padahal aku sudah mempersiapkan mental.
Angka digital menyala merah, menuju lantai delapan.
Jefry masih menggendong Shinta. Nafas terlihat sudah berat. Aku berdiri di samping, sementara Lestari berada di belakang kami, menatap pintu lift tanpa berkedip.
“Duh, kenapa nih anak jadi berat banget ya,” gumam Jefry mengeluh.
Belum sempat merespons, lift berhenti.
“Ding”
Pintu terbuka.
Seketika itu juga, angin besar menerjang kami.
“Aduh,” Jefry refleks menahan tubuhnya, hampir terjatuh. “Apaan nih?”
Angin itu terasa sangat dingin, bahkan mirip seperti es. Berhembus kencang seperti badai yang berasal dari koridor apartemen.
Bajuku berkibar, rambut terangkat ke belakang. Bau apek bercampur sesuatu, amis menyengat hidung.
“Kaula seja nitipkeun, ka Gusti Nu Maha Suci, mugi dijauhkeun tina panggoda roh jahat,” suara terdengar dari belakangku.
Lestari jalan beberapa langkah ke depan, melewatiku. Ia mengangkat satu tangan, telapak terbuka menghadap lorong.
“Huh!” ucapnya sambil menghempaskan telapak tangan.
Tangannya terus bergerak perlahan, seperti mengibas udara. Gerakan tenang, terukur, seperti tahu persis apa yang sedang ia hadapi.
Dan seketika, angin berhenti. Hilang begitu saja.
Ia kemudian memberikan isyarat untuk kami agar berjalan lebih dulu.
Tapi Jefry masih mengeluh soal tubuh Shinta yang terasa makin berat, “Gas, bantuin. Nggak kuat lagi gua.”
Aku refleks langsung membantu Jefry mengangkat Shinta dengan posisi kurang nyaman.
Kami melangkah keluar lift.
Koridor lantai delapan terlihat sunyi, seperti biasa. Lampu menyala temaram, cenderung gelap. Langkah kami menggema, nyaris membuat gaduh.
“Masih jauh?” tanya Lestari.
“Di depan, belok kiri,” kataku sambil memegangi tubuh Shinta yang memang terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Kami berjalan menyusuri lorong. Aku dan Jefry sekuat tenaga mengangkat Shinta karena pada setiap langkah, tubuh Shinta menjadi semakin berat.
Tidak masuk akal. Tapi aku sudah menyadari bahwa bukan waktunya lagi merasa heran. Semua jelas, pasti ada sesuatu yang membuat seperti ini.
Hingga akhirnya, kami berhenti di depan unit kamar 26B.
“Tolong bukain pintu, Teh,” kataku.
“Kuncinya?” ucap Lestari sambil menadahkan tangan.
Dengan cepat Jefry menjawab kalau pintu tidak dikunci. Meski belum tahu pasti, tapi aku juga yakin demikian.
Lestari langsung membuka. Untung saja dugaan kami benar.
Pintu terbuka.
Suasana dalam apartemen masih sama. Tidak ada yang berubah sama sekali.
Bahkan kunci apartemen masih tergeletak di meja kecil dekat sofa, seperti saat kami tinggalkan.
Kami langsung menuju kamar utama.
“Ayo cepat, ini berat banget,” kata Jefry dengan nafas memburu.
Dengan setengah berlari, kami merebahkan tubuh Shinta di atas ranjang. Shinta masih tidak bergerak. Wajahnya pucat, nafasnya nyaris tak terdengar.
“Dek?” panggil Jefry pelan. “Bangun, Dek.”
Ia berusaha untuk membangunkan Shinta, berharap ketika sudah kembali ke apartemen ini, akan ada perubahan.
Namun, tidak ada respons.
Sementara itu, Lestari berjalan mengelilingi ruangan. Ia menyentuh dinding, berhenti di sudut tertentu, lalu menatap beberapa sudut cukup lama.
Aku melihat dari ambang pintu kamar utama.
“Kenapa, Teh?” tanyaku.
Lagi-lagi pertanyaanku tak dijawab. Hanya ada keheningan diantara kami. Jefry mulai terlihat putus asa.
Setelah cukup lama kami berada di dalam unit, Hendra tak kunjung datang. Adzan maghrib bahkan telah berkumandang.
“Aneh,” gumamku sambil menatap layar handphone. Aku sudah menghubungi tiga kali. Meski terdengar nada sambung, tapi status panggilan hanya ‘Calling’.
“Gimana?” tanya Jefry dari dapur.
“Nyambung, tapi nggak berdering,” kataku. “Apa karena di basement ya? Cuma kan udah dari tadi, ngapain dia lama-lama di sana.”
Jefry berjalan ke arahku sambil membawa segelas air putih. “Lo coba susul aja deh, Gas. Gua mau istirahat sebentar, kepala gua pusing.”
Sebelum aku sempat menjawab, Lestari keluar dari kamar utama. Ia terlihat lelah, seperti baru saja melakukan kegiatan berat.
“A’ Bagas, Kang Jefry,” katanya pelan. “Shinta belum sadar. Aku perlu melakukan sesuatu, tolong jangan diganggu dulu ya. Jangan ada yang masuk ke dalam kamar sebelum aku keluar.”
“Emangnya mau ngapain?” tanya Jefry mendengus.
Lestari tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku beberapa saat, lalu berkata lirih, “Tunggu aja ya, Kang Jefry. Bantu doanya.”
Ia langsung menutup pintu kamar begitu saja. Aku dan Jefry hanya bisa diam keheranan. Wajah Jefry terlihat cemas.
Aku teringat akan Hendra yang belum kembali. “Gua nyusul Bang Hendra dulu deh ya,” kataku.
Jefry hanya mengangkat kedua alisnya.
Dengan langkah cepat, aku keluar dari pintu. Suasana langsung berubah.
Aku merasakan sensasi seperti sedang diperhatikan dari dinding-dinding kusam, tapi aku memaksa untuk mengabaikannya.
Hingga aku sampai di depan lift, menekan tombol turun. Tidak ada respons.
Aku menekan lagi. Lampu tombol akhirnya menyala. Angka digital di atas lift bergerak.
Di ujung lorong, berdiri sosok wanita. Rambut panjang tergerai. Berdaster lusuh dengan wajah yang kukenal.
Ratna.
Ia tak terlihat marah, malah tersenyum. Tapi ekspresi itu justru membuat kaki lemas.
Tanganku refleks menggenggam gelang di pergelangan tangan, sangat erat.
“Astagfirullahaladzim”
Senyum Ratna memudar. Tubuhnya perlahan mundur, lalu menembus tembok seolah dinding hanyalah asap.
“Ding”
Pintu lift terbuka.
Di dalam, Hendra terduduk di lantai. Punggung menempel ke sudut. Kedua tangan menutup wajah.
“Bang?”
Ia tersentak, menurunkan tangan. Dahinya basah oleh keringat.
“Bagas?” suaranya bergetar. “Ya Allah, Gas, ini beneran lo kan?”
“Iya. Lo kenapa, Bang?”
Hendra langsung berdiri, berjalan mendekat ke arahku.
“Gua dari tadi kekunci di lift, nggak kebuka-buka,” katanya dengan panik. “Alhamdulillah banget, lo datang, Gas.”
“Ya udah, kita bahas di dalam aja,” ajakku.
“Kemana aja lo, Bro?” tanya Jefry sesaat setelah kami masuk ke dalam unit apartemen.
Hendra hanya diam, lalu merebahkan tubuh ke sofa. Ia masih terlihat was-was. Seakan kejadian yang barusan ia alami telah merenggut seluruh kepercayaan dirinya.
“Kenapa dia, Gas?” ucap Jefry lagi.
Tak mau melangkahi, aku menggelengkan kepala, pelan.
Di sini aku baru sadar satu hal cukup mengganggu. Waktu sudah sore. Tubuhku terasa gerah.
Cahaya bulan dari balik jendela tak mampu menyembunyikan malam. Aku berniat mandi, tapi baru jalan menuju kamar, aku teringat sesuatu.
“Eh.. Bang, barang-barang kita masih di Aromatic, lho,” kataku.
“Kapan kita ambilnya?”
Aku menoleh ke Hendra yang duduk di sofa dengan posisi kaku, kedua tangan saling menggenggam.
“Nanti aja lah, Gas,” ucap Hendra singkat, bernada malas. “Jangan sekarang.”
“Terus kita mandi gimana?” ujarku lagi. “Pakaian, laptop, semua di sana.”
Hendra menggeleng kuat-kuat. “Lo nggak tau sih apa yang gua lihat tadi di lift.”
Tak ingin memaksa, aku tetap berjalan ke kamar mandi. Mencuci muka, tangan dan kakiku. Berharap dengan menyentuh air, rasa gerah bisa hilang.
Lantaran tidak ada handuk, aku hanya mengeringkan sebisaku menggunakan telapak tangan.
Setelahnya, aku bergabung dengan Jefry dan Hendra yang meskipun duduk bersama, tapi tak berbicara sepatah katapun.
“Bang, mending lo cerita deh. Tadi lo lihat apa?” tanyaku sambil mengusap rambutku.
Hendra menelan ludah, menghembuskan nafas kecil.
“Sumpah serem banget, Gas. Trauma gua,” ujarnya dengan suara agak bergetar. “Ada banyak banget sosok mengerikan berkumpul di dalam lift.”
Kalimat itu membuat aku terdiam sejenak, “Banyak?”
“Iya, nggak tau ada berapa, pokoknya serem semua,” jelas Hendra.
Mendengar ucapan Hendra, tiba-tiba saja Jefry menanggapi santai. Seperti biasa, sikap arogan terkesan acuh.
“Lo halusinasi kali, Bro. Kecapekan sama apa yang udah terjadi belakangan.”
“Ah lo mah, Bang. Nggak pernah percaya. Nanti kalo lo ketemu sendiri, baru tau deh rasanya gimana. Ngeri banget, Bang,” keluh Hendra.
Aku berpikir keras. Orang yang biasanya punya iman paling tinggi. Apabila ada gangguan mistis, ia langsung lantang berdoa. Bahkan beberapa kali masalah sebelumnya, dapat kami hadapi, berkat doa Hendra.
Tapi sekarang ia duduk gemetar di hadapanku.
“Lo yakin, Bang?” tanyaku pelan. “Ada banyak?”
Hendra tidak menjawab. Mendengus kecil karena mungkin menganggapku sama seperti Jefry. Ia kemudian hanya mengangguk kecil, matanya terlihat kecewa.
Aku menatap Hendra lama. Pikiranku mengingat peristiwa semalam. Pada saat ia mengunduh aplikasi Michat di handphone. Pergi janjian dengan wanita bayaran.
Perbuatan yang seharusnya tidak ia lakukan.
“Mungkin..” gumamku dalam hati.
Bukan gangguan mistis menjadi lebih kuat, tapi keimanan Hendra sudah runtuh.
Pada saat iman seseorang telah retak, sesuatu yang gelap akan selalu menemukan celah untuk masuk.