NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23.Belum di temukan.

Pagi itu, sinar matahari menyelinap malu-malu di antara atap-atap kota Ye Lu, namun tak mampu menghangatkan udara yang terasa dingin dan penuh ketegangan. Di balik topeng baja hitam dengan ukiran yang menutupi separuh wajahnya, Li Yun melangkah masuk ke tempat hiburan pertama yang mereka datangi, diikuti dua prajurit bayangannya yang bergerak senyap di kedua sisinya. Matanya menyapu setiap sudut ruangan — dari aula utama yang masih sepi, hingga lorong-lorong sempit yang mengarah ke kamar-kamar pribadi.

"Periksa semuanya," perintahnya pelan, suaranya rendah namun tak terbantah. "Jada sudut sekecil apa pun tidak terlewatkan."

Para prajurit itu mengangguk, lalu bergerak ke arah yang berbeda. Mereka memeriksa setiap ruangan, setiap pintu, setiap tempat persembunyian — bahkan gadis-gadis yang bekerja di sana pun ditanyai satu per satu dengan sopan namun tegas. Tidak ada yang luput, termasuk mereka yang menjadi pelayan dan pembantu di tempat itu. Namun setelah setengah jam berlalu, mereka kembali ke tempat semula dengan wajah yang sama beratnya.

"Kosong, Pangeran," lapor salah satu prajurit, suaranya terdengar kecewa. "Tidak ada Nona Li Hua di sini. Kami sudah tanya semua orang, tidak ada yang melihat gadis dengan ciri-ciri seperti nona Li hua."

Li Yun mengangguk pelan, meski hatinya semakin sesak. "Lanjut ke tempat berikutnya."

Begitulah cara mereka bekerja — satu per satu, rumah hiburan yang tersebar di sepanjang jalan utama kota diperiksa. Pintu-pintu dibuka, wajah-wajah diteliti, nama-nama disebutkan. Namun hasilnya tetap sama: nihil. Tidak ada jejak Li Hua. Tidak ada tanda bahwa gadis itu pernah berada di salah satu tempat itu.

Matahari sudah naik cukup tinggi saat mereka keluar dari tempat terakhir yang diperiksa. Udara pagi yang segar tak mampu meredakan kegelisahan di dada Li Yun. Ia berhenti sejenak di pinggir jalan, menatap ke arah kerumunan orang yang berlalu-lalang, seakan wajah Li Hua akan muncul di antara mereka.

"Bagaimana sekarang, Pangeran?" tanya prajurit di sampingnya, suaranya penuh kekhawatiran. "Kita sudah periksa hampir semua tempat di kawasan ini."

Li Yun menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Kembali ke markas. Kita tanya lagi orang-orang yang menculiknya. Kali ini harus lebih jelas — siapa yang menyuruh, dan ke mana tepatnya mereka menjualnya."

Mereka segera berbalik arah, melangkah cepat menuju tempat persembunyian rahasia yang terletak di sebuah bangunan tua di pinggiran kota, jauh dari keramaian. Sesampainya di sana, pemandangan yang menyambut mereka membuat suasana semakin berat. Di tengah ruangan yang remang, dua pria terikat pada tiang kayu, tangan dan kaki mereka terikat erat. Tubuh mereka penuh luka — bukti bahwa mereka sudah diinterogasi sebelumnya. Wajah mereka tertunduk lemas, napas mereka terdengar berat dan tidak beraturan.

"Ini mereka?" tanya Li Yun pelan, mendekat perlahan.

"Benar, Pangeran," jawab prajurit yang menjaga mereka. "Kami sudah menanyai mereka sejak tadi malam, tapi informasi yang diberikan sangat sedikit. Mereka hanya mengaku membawa Nona keluar dari kediaman, tapi tidak tahu ke mana tepatnya dibawa."

"Siapa yang menyuruh mereka melakukannya?" tanya Li Yun lagi, matanya tak lepas dari kedua pria itu.

"Belum ada jawaban yang pasti, Pangeran," jawab prajurit itu. "Mereka bilang orang yang menyuruh menutupi wajahnya sepenuhnya. Tidak ada ciri yang bisa diingat."

Li Yun melangkah tepat di depan kedua pria itu, kakinya berhenti sesaat. "Bangunkan mereka," perintahnya tenang namun dingin.

Salah satu prajurit segera mengambil seember air dingin, lalu menyiramkannya ke wajah kedua tawanan itu. Mereka tersentak seketika, batuk-batuk, dan perlahan mengangkat wajah mereka. Pandangan mereka kabur pada awalnya, namun seketika membelalak saat melihat sosok berdiri di depan mereka — sosok bertopeng yang memancarkan aura kekuasaan dan ancaman yang tak terucapkan.

"Ampun... ampun Tuan..." seru salah satu dari mereka, suaranya gemetar. "Lepaskan kami... kami sudah berkata jujur..."

"Aku akan melepaskan kalian," ucap Li Yun pelan, suaranya tenang namun tajam seperti mata pedang yang terhunus. "Tapi sebelum itu, katakan semua yang kalian ketahui. Siapa yang menyuruh kalian menculik Nona Li Hua? Dan siapa yang membelinya? Jangan sembunyikan apa pun, atau hukuman yang menanti akan jauh lebih berat dari yang kalian bayangkan."

Kedua pria itu saling bertukar pandang dengan cemas. "Kami... kami tidak melihat wajah orang yang menyuruh kami," jawab pria yang lebih tua dengan suara bergetar. "Wajahnya tertutup kain. Dan yang membeli Nona itu... kami tidak bertemu langsung. Semua diatur melalui perantara yang mengurus rumah bordil di kota ini."

"Jawaban yang sama?" Li Yun mengerutkan kening. Ia memberi isyarat pada prajurit di sampingnya. "Siapkan air garam. Oleskan ke luka-luka mereka. Mungkin rasa sakit akan mengembalikan ingatan mereka yang hilang."

Prajurit itu segera melaksanakan perintah. Di dalam bak besar yang tersedia di sudut ruangan, air dicampur dengan satu kantong garam, diaduk hingga larut sepenuhnya. Melihat itu, wajah kedua tawanan itu seketika pucat pasi. Rasa takut membuat tubuh mereka gemetar hebat.

"Tunggu! Tunggu!" seru salah satu dari mereka tiba-tiba, suaranya melengking karena panik. "Aku ingat! Aku ingat sesuatu!"

Li Yun memberi isyarat agar berhenti. "Katakan."

"Orang yang menyuruh kami... ada dua wanita yang datang," pria itu berbicara cepat, seakan takut kata-katanya akan hilang jika tidak segera diucapkan. "Salah satunya berdiri di belakang, tidak banyak bicara. Tapi aku mendengar wanita yang di depan memanggilnya 'Nona'... sepertinya dia adalah majikan yang sebenarnya. Itu saja yang aku tahu, Tuan! Benar, itu saja!"

Li Yun menatapnya lekat-lekat, mencoba membaca ketulusan di matanya. "Kau yakin?"

"Ya, Tuan! Aku tidak berani berbohong lagi!"

Pria yang satunya lagi tiba-tiba menyela, suaranya tergesa-gesa. "Saya... saya juga ingat sesuatu! Perantara yang mengurus penjualan itu menyebutkan satu tempat — rumah bordil Nyonya Li! Terletak di sebelah barat kota! Itu yang saya dengar, Tuan!"

Hening sejenak menyelimuti ruangan. Li Yun menatap kedua pria itu dalam-dalam. Tidak ada kebohongan di mata mereka. Ketakutan yang mereka tunjukkan terlalu nyata, terlalu jujur.

"Hentikan persiapannya," perintah Li Yun pelan. Ia berbalik hendak melangkah keluar, namun berhenti sesaat. "Potong tangan mereka sebagai hukuman karena berani menyentuh Nona Li Hua."

"Tuan..." salah satu tawanan itu teriak ketakutan. "Kami sudah berkata jujur!"

"Kebenaran yang terlambat tetap tidak menghapus kesalahan kalian," jawab Li Yun tanpa menoleh. "Kalian membawa orang yang tidak bersalah ke tempat yang tidak pantas. Itu harganya."

Prajurit itu menghunus pedangnya — tajam dan berkilau di bawah cahaya remang. Teriakan kesakitan kedua pria itu terdengar memilukan, bergema hingga ke luar bangunan, namun tidak ada yang datang menolong. Hening kembali menyelimuti tempat itu, hanya napas berat yang tersisa.

Li Yun berjalan keluar ke udara terbuka, diikuti dua prajuritnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan perasaan yang bergejolak — amarah, cemas, dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

"Apakah ada rumah bordil Nyonya Li di sebelah barat yang belum kita periksa?" tanyanya tiba-tiba.

Prajurit di sampingnya mengangguk pelan. "Ada, Pangeran. Tapi tempat itu tertutup rapat sejak kemarin. Tidak ada tanda-tanda pembukaan. Biasanya tempat itu baru buka saat malam tiba."

"Malam ini kita ke sana," tekad Li Yun teguh. Ia menatap ke arah matahari yang mulai condong ke barat. "Kita menyamar sebagai pelanggan. Tidak boleh ada yang mengenali kita. Kita cari tahu sendiri kebenarannya."

"Baik, Pangeran," jawab mereka serentak.

Sementara itu, di kediaman besar Keluarga Zhang, suasana tampak berbeda. Di lorong yang luas dan bersih, Shi Yin berjalan dengan langkah tegas, diikuti beberapa pelayan yang berjalan di belakangnya. Wajahnya tampak penuh kemarahan yang tertahan, matanya menyala dengan tekad yang keras.

"Berjalan lebih cepat!" perintahnya tanpa menoleh ke belakang. "Kita tidak boleh terlambat!"

"Tapi Nona..." salah satu pelayan berani berbicara pelan. "Ke mana kita akan membawa orang-orang ini? Pangeran Li Yun sedang sakit..."

"Sakit?" Shi Yin berhenti seketika, berbalik menatap pelayan itu dengan tatapan tajam. "Kau percaya begitu saja? Dia hanya mencari alasan agar tidak diganggu. Sejak kemarin dia mengurung diri di kamar, tidak keluar sedikit pun. Aku tahu dia pura-pura!"

"Tapi jika Pangeran benar-benar sakit..."

"Biarkan saja!" potong Shi Yin tegas. "Kita seret dia keluar dari sana. Dia harus tahu siapa yang berkuasa di rumah ini. Dia adalah tawanan perang, bukan tamu kehormatan. Sudah terlalu lama dia diperlakukan baik, dan sudah cukup hidupnya tenang kali ini sudah saatnya dirinya keluar!"

Pelayan-pelayan itu saling bertukar pandang, tak berani membantah lagi. Mereka terus berjalan mengikuti langkah Shi Yin yang semakin cepat menuju sayap belakang bangunan — tempat kamar Li Yun berada.

Shi Yin tersenyum sinis di dalam hati. Tunggu saja, Li Yun... hari ini aku akan pastikan kau menyesal telah berani mengabaikanku.

Ia tidak tahu bahwa kamar itu kosong. Bahwa sosok yang ia cari sudah pergi jauh, berjuang menembus kegelapan malam demi seseorang yang justru menjadi alasan untuk dia perdulikan.

​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!