Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewan yang Tidak Pernah Disebut Namanya
Kali ini Raze tidak meminta pertemuan resmi. Dia dan Alya datang langsung ke rumah pribadi Hartono, sebuah bangunan kolonial tua di tepi pelabuhan yang temboknya ditumbuhi bougenville ungu. Begitu pintu dibuka oleh pembantu rumah, Raze melangkah masuk tanpa menunggu diundang, map tipis berisi bukti di tangannya.
"Kau punya lima menit," katanya kepada Hartono yang baru keluar dari ruang kerjanya, masih mengenakan piyama sutra, terkejut oleh kedatangan tak terduga itu, "untuk menjelaskan kenapa nomor telepon ayahmu ada di saku jas Baskara malam kecelakaan itu, bertuliskan inisial T.H., dan kenapa dia dipanggil 'Bos' oleh orang yang membesarkanku."
Alya berdiri di belakangnya, lengannya bersedekap, matanya menatap tajam ke arah pria yang minggu lalu dia anggap setengah sekutu. Pembantu rumah itu mundur ke dapur tanpa diminta, sudah terbiasa dengan tamu-tamu yang datang membawa ketegangan di wajah mereka.
Wajah Hartono kehilangan warnanya seketika, dan untuk pertama kalinya sejak mereka mengenalnya, topeng diplomatis yang biasa dia pakai runtuh sepenuhnya. Dia terduduk di sofa ruang tamunya sendiri, tangannya gemetar meraih gelas air yang sudah lama dingin di meja.
"Ayahku," dia berbisik, "meninggal dua belas tahun lalu, dan aku menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupku mencoba tidak memikirkan separuh hal yang dia lakukan semasa hidupnya."
"Jadi kau tahu," Alya berkata, suaranya tajam, melangkah maju. "Kau tahu, dan kau tetap diam-diam menuduh Baskara minggu lalu seolah dia satu-satunya yang bersalah."
"Aku tidak tahu detailnya," Hartono membela diri, suaranya pecah. "Aku tahu ayahku... terlibat dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bisnis pelabuhan biasa. Tapi aku tidak pernah tahu dia memerintahkan kecelakaan yang merenggut keluarga kalian. Demi Tuhan, aku baru tahu itu dari dokumen yang sama yang kutunjukkan ke kalian."
"Kenapa kami harus percaya itu?" Alya bertanya, suaranya tajam, melangkah lebih dekat. "Bapak saya kehilangan separuh keluarganya gara-gara orang yang namanya sama kayak Bapak panggil."
"Karena," Hartono berkata, suaranya bergetar, menatap mata Alya langsung untuk pertama kalinya, "aku juga kehilangan ayahku pada sosok yang sama sekali berbeda dari yang kukenal sebagai anaknya. Aku menghabiskan bertahun-tahun mencoba meyakinkan diriku sendiri dia hanya pengusaha keras yang tegas. Setiap bukti baru yang muncul merenggut sedikit lagi dari ayah yang kukenal."
"Lebih besar dari bisnis pelabuhan biasa," Raze mengulang, duduk di kursi seberangnya tanpa diminta, matanya tidak berkedip. "Jelaskan."
Hartono menghela napas panjang, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban yang terlalu lama dia pikul sendirian. "Menjelang akhir hidupnya, ayahku semakin paranoid. Dia bicara tentang sesuatu yang dia sebut 'Dewan'. Delapan keluarga bisnis di sepanjang jalur pelabuhan barat dan timur, yang katanya sudah ada sejak tiga generasi, mengatur distribusi, pelabuhan gelap, bahkan beberapa jalur impor yang tidak pernah tercatat resmi. Ayahku salah satu dari delapan itu. Baskara, setahuku, juga."
"Kau tahu nama-nama yang lain?" Raze bertanya, suaranya tegang menahan sesuatu yang menyerupai ngeri.
"Tidak semuanya," Hartono menjawab, menggeleng. "Ayahku terlalu takut menuliskannya, bahkan di buku hariannya sendiri. Tapi dia pernah menyebut, ada satu keluarga yang memegang kendali tertinggi di antara kedelapan itu. Yang lain menyebutnya cuma dengan sebutan 'Rumah Pertama'. Ayahku bilang, Rumah Pertama lah yang memerintahkan 'pelajaran' untuk keluarga Halim malam itu. Baskara dan ayahku cuma menjalankan perintah."
Alya duduk perlahan di sofa sebelah Raze, mencoba mencerna skala kebenaran yang baru saja terbuka. Bukan lagi satu orang jahat yang bisa disalahkan, melainkan sebuah jaringan yang sudah berakar tiga generasi, lebih tua dari dirinya, lebih tua bahkan dari Raze.
"Kenapa Baskara dan ayahmu nggak pernah coba ngelawan?" Alya bertanya, suaranya bergetar.
"Karena orang yang melawan Rumah Pertama tidak pernah hidup cukup lama untuk menceritakan kenapa mereka melawan," Hartono menjawab, pelan, matanya menatap kosong ke lantai. "Ayahku pernah bilang, itu sebabnya dia membesarkanku jauh dari bisnis gelap itu. Dia ingin aku mewarisi uangnya, bukan dosa-dosanya. Aku kira dia berhasil, sampai minggu lalu."
Raze menatap map di tangannya, lalu menatap Hartono lama, menilai ulang seluruh asumsinya tentang pria di depannya. "Kalau kau sungguh tidak terlibat," katanya akhirnya, "maka kita berdua sama-sama diwarisi sesuatu yang tidak pernah kita minta."
"Dan sama-sama berbahaya bagi siapa pun yang berani menggalinya lebih dalam," Hartono menambahkan, menatap balik dengan sesuatu yang menyerupai permohonan. "Aku tidak pernah berniat menyeret kalian ke dalam ini. Aku hanya ingin melunasi hutang moral kecil dengan menunjukkan dokumen itu. Aku tidak menyangka akan membuka pintu sebesar ini."
"Kalau begitu bantu kami menutupnya dengan benar," Raze berkata, suaranya berubah, bukan lagi ancaman, melainkan sesuatu yang menyerupai tawaran. "Kau kenal dunia ini lebih dalam dariku. Aku butuh nama-nama lain di Dewan itu, atau setidaknya cara mencarinya, tanpa membuat Rumah Pertama sadar kita sedang mencari."
Hartono menatapnya lama, terkejut oleh pergeseran nada itu. "Kau mengajakku beraliansi? Setelah menuduhku berbohong sepuluh menit lalu?"
"Aku menilai orang dari tindakannya, bukan dari nama keluarganya," Raze menjawab. "Kau baru saja memilih jujur, meski itu berisiko bagimu sendiri. Itu lebih dari cukup untuk memulai."
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Hartono tersenyum, bukan senyum terlatih seperti biasa, melainkan sesuatu yang lebih tulus, lebih lelah. "Baik," katanya. "Aku akan membuka semua yang ayahku tinggalkan. Tapi aku minta satu hal sebagai balasannya. Lindungi anakku, kalau Rumah Pertama tahu aku berkhianat dari mereka. Dia satu-satunya orang yang aku miliki yang masih bersih dari semua ini."
"Setuju," Raze menjawab, tanpa ragu, mengulurkan tangan, dan Hartono menjabatnya erat. Dua kepala keluarga yang dulu bersaing kini berdiri di sisi yang sama melawan sesuatu yang jauh lebih besar dari keduanya.
Seorang remaja laki-laki muncul di ambang pintu ruang tamu tepat saat jabat tangan itu terlepas, seragam sekolahnya masih setengah terkancing, rambutnya berantakan, membawa nampan kecil berisi tiga cangkir teh yang jelas dia siapkan sendiri dengan susah payah.
"Pa, Bibi lagi ke pasar, jadi aku yang bikin tehnya," katanya, polos, tidak menyadari ketegangan yang baru saja mengendap di ruangan itu. "Maaf kalau kemanisan. Aku masih belajar takaran gulanya."
Wajah Hartono melunak seketika, ketegangan di bahunya luruh seperti seseorang yang tiba-tiba teringat alasan dia bertahan. "Dimas, ini Dokter Raze dan calon istrinya, Suster Alya. Salam dulu, Nak."
Dimas menyalami mereka satu per satu dengan canggung yang menggemaskan, dan ketika sampai di depan Alya, dia mengerjap. "Kakak mirip banget sama penjahit yang kemarin lewat depan rumah kami," katanya, polos. "Yang punya toko di pelabuhan itu. Kakak kembar, ya?"
Alya tersentak, dan Raze menegang di sampingnya. Hartono menatap anaknya lama, lalu menatap Raze, dan di matanya Alya melihat sesuatu yang membuatnya merinding sekaligus iba. Ketakutan seorang ayah yang baru menyadari betapa dekat dunia gelap itu sudah menyentuh rumahnya sendiri.
"Dimas," katanya pelan, "kapan kamu lihat penjahit itu?"
"Dua minggu lalu, Pa. Dia lagi nanya-nanya ke Pak Satpam depan soal keluarga kita," Dimas menjawab sambil mengaduk tehnya, tidak mengerti kenapa tiba-tiba semua orang dewasa di ruangan itu berhenti bernapas.
Raze dan Hartono bertukar pandang, dan Alya tahu persis apa yang mereka berdua pikirkan. Seseorang sudah lebih dulu mengamati Rani, dan seseorang itu juga mengamati keluarga Wijayanto.
"Aku akan kirim dua orang untuk menjaga rumahmu malam ini," Raze berkata rendah, dan kali ini Hartono tidak membantah, hanya mengangguk, tangannya diam-diam mengusap bahu anaknya seperti seseorang yang baru belajar menghargai setiap detik yang tersisa.
Dalam perjalanan pulang, Alya duduk diam, kepalanya penuh dengan nama "Rumah Pertama" yang terus berputar, dan Raze menggenggam tangannya erat di atas persneling, sesekali melirik ke arahnya penuh kekhawatiran.
"Kamu kelihatan pucat," katanya, pelan.
"Aku nggak papa, cuma ada yang lagi aku pikirin," Alya berbisik, "Sarah. Wanita yang pernah deket sama kamu, yang menghilang itu. Jangan-jangan dia juga korban Rumah Pertama ini, bukan cuma korban obsesimu."
Raze terdiam, matanya menyipit, seperti baru saja melihat kepingan lain yang selama ini tidak pernah dia sambungkan. "Aku perlu membuka kembali kasus itu," katanya, akhirnya, suaranya berat. "Kalau benar, berarti jangkauan mereka jauh lebih tua dan lebih dekat dariku daripada yang pernah kubayangkan."
Dia menepikan mobil sejenak, menarik Alya ke dalam pelukan, dahi mereka bersentuhan. "Apa pun yang kita temukan setelah ini," bisiknya, "janji padaku, kau tidak akan pernah menghadapinya sendirian, seperti aku berjanji tidak akan pernah membiarkanmu."
"Janji," Alya berbisik balik, mengecup bibirnya lembut, mencari kepastian di tengah dunia yang terasa semakin luas dan gelap setiap harinya.
Malam itu mereka tidak tidur. Raze mengeluarkan sebuah kotak arsip dari lemari kerjanya, kotak yang menurut pengakuannya tidak pernah dia buka lagi sejak sepuluh tahun lalu, dan meletakkannya di lantai ruang tengah, di antara bantal-bantal sofa dan dua gelas cokelat panas yang sudah mulai dingin. Alya duduk di antara kakinya, punggungnya bersandar ke dadanya, dan Raze melingkarkan kedua lengan di pinggangnya sambil membuka tutup kotak itu dengan tangan yang, sekali lagi, tidak sepenuhnya stabil.
"Kamu nggak harus ngelakuin ini malam ini," Alya berbisik, memutar sedikit kepalanya hingga bibirnya hampir menyentuh rahangnya.
"Kalau tidak malam ini, aku akan mencari alasan untuk menundanya lagi," Raze menjawab, rendah. "Aku sudah menunda sepuluh tahun."
Di dalamnya ada beberapa foto Sarah, seorang wanita muda berwajah teduh dengan mata yang sangat cerdas, tertawa di depan gedung rumah sakit lama. Ada catatan kuliah, secarik kartu ucapan, dan di bagian paling bawah, sebuah amplop putih berisi surat pengunduran diri yang diketik rapi.
Alya membacanya pelan-pelan, dan alisnya berkerut. "Raze, tanggalnya."
"Kenapa?"
"Surat ini tertanggal tiga hari sebelum hari yang kamu ceritain ke aku," katanya, menunjuk angka di sudut kertas. "Kamu bilang dia menghilang mendadak, kan? Tapi surat ini nunjukin dia udah ngundurin diri sebelum itu, dengan bahasa yang resmi banget. Orang yang mau pergi diam-diam nggak nulis surat serapi ini."
Raze mengambil kertas itu, menelusuri tanda tangan di bagian bawahnya dengan ibu jari, dan Alya merasakan tubuhnya menegang di punggungnya. "Ini bukan tanda tangan Sarah," katanya akhirnya, nyaris tak terdengar. "Sarah selalu menutup huruf terakhirnya dengan lingkaran kecil. Aku pernah menggodanya soal itu."
Alya memutar tubuhnya sepenuhnya, berlutut menghadapnya di antara kertas-kertas tua itu, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Berarti ada yang nulis ini buat dia," bisiknya. "Dan kamu nggak pernah salah soal dia, Raze. Dia nggak ninggalin kamu. Dia dihilangin."
Raze memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya sejak Alya mengenalnya, air mata jatuh begitu saja di pipinya tanpa dia berusaha menyembunyikannya. Alya menariknya ke dalam pelukan, membiarkan kepalanya bersandar di bahunya, satu tangan mengusap tengkuknya perlahan. Lagi dan lagi, seperti caranya sendiri dulu ditenangkan di ruang tamu rumah masa kecilnya. Mereka duduk begitu lama di lantai, dikelilingi foto-foto seorang wanita yang akhirnya, setelah sepuluh tahun, mungkin tidak lagi harus dikenang sebagai alasan untuk menyalahkan diri sendiri.
Menjelang subuh, setelah Alya akhirnya tertidur di sofa dengan selimut menutupi bahunya, Raze membuka buku bersampul kulit hitam itu dengan tulisan yang penuh keresahan baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Rumah Pertama. Dua kata yang membuat seorang Hartono Wijayanto, pria yang biasa duduk di meja perundingan dengan kepala tegak, berubah pucat dan gemetar di sofanya sendiri.
Delapan keluarga. Tiga generasi. Dan aku, yang selama ini mengira diriku berdiri di puncak kekuasaan yang kubangun sendiri, ternyata hanya satu dari sekian banyak anak catur yang digerakkan oleh tangan yang bahkan belum pernah kulihat wujudnya.
Alya menyebut nama Sarah malam ini. Aku seharusnya memikirkan kemungkinan itu bertahun-tahun lalu. Aku terlalu sibuk menyalahkan diriku sendiri atas kepergiannya, hingga tidak pernah bertanya, apakah ada tangan lain yang mendorongnya pergi.
Malam ini aku akhirnya membuka kotak itu. Surat pengunduran diri Sarah dipalsukan. Selama sepuluh tahun aku menyalahkan diriku karena dia pergi, padahal mungkin dia tidak pernah pergi dengan kemauannya sendiri. Kali ini, aku tidak mencari jawaban untuk menenangkan rasa bersalahku. Aku mencari jawaban untuk memastikan sejarah itu tidak terulang pada Alya, atau Rani, atau siapa pun yang kini kusebut keluarga.
Dan ada satu hal lagi yang tidak kukatakan pada Alya. Anak Hartono melihat Rani dua minggu lalu, bertanya-tanya ke satpam. Seseorang sudah mengamati mereka berdua sebelum kami sempat menyadarinya. Aku tidak tahu siapa. Aku hanya tahu mereka sabar, dan orang sabar selalu lebih berbahaya daripada orang tergesa.
❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜