"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Butuh waktu satu bulan penuh hingga akhirnya aku resmi bercerai dari Belinda. Wanita itu terus mengajukan banding, seolah masih berharap bisa mempertahankan pernikahan kami. Namun, semua usahanya sia-sia. Tepat hari ini, pengadilan akhirnya memutuskan bahwa pernikahan kami telah berakhir.
Aku bisa bernapas lega. Setidaknya, satu masalah dalam hidupku sudah selesai.
"Danu, kenapa kamu begitu kejam padaku? Aku sungguh mencintaimu."
Aku menoleh ke arah Belinda yang menangis terisak-isak di hadapanku. Dia masih berusaha memohon agar aku membatalkan perceraian ini, padahal keputusan pengadilan sudah jelas dan tidak ada lagi yang perlu kami perdebatkan.
"Aku tidak bisa menerima pengkhianatanmu, Belinda," jawabku tegas.
"Kamu selalu berbicara seperti itu. Padahal, kamu juga mengkhianatiku!" Belinda menyeka air matanya dengan kasar. "Kamu ... sejak dulu sebenarnya suka, kan, sama Dinda? Hanya saja, kamu belum menyadarinya."
Aku terdiam. Ucapan Belinda seketika membawaku kembali pada kenangan selama bersama Dinda. Berbagai kejadian yang pernah kami lalui, tawa, kesedihan, hingga air mata yang pernah ditumpahkannya karena sikapku, berputar kembali dalam ingatanku.
Tanpa kusadari, aku merindukannya. Mungkin Belinda benar. Selama ini aku memang mencintai Dinda, hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Aku terus menyangkal perasaanku sendiri, bahkan berkali-kali menyakiti wanita yang ternyata begitu berarti dalam hidupku.
Sementara itu, aku justru memilih Belinda dan mempertahankan pernikahan yang sejak awal tidak pernah memberiku kebahagiaan seperti yang kubayangkan.
"Kamu benar, Belinda." Aku menatapnya tanpa bermaksud menarik kembali kata-kataku. "Mungkin aku memang sudah mencintai Dinda sejak dulu. Hanya saja, karena ada kamu, aku justru memilih orang yang salah."
Wajah Belinda seketika berubah. Tangisnya mereda, berganti dengan tatapan penuh kebencian. Aku tahu ucapanku menyakitinya, tetapi aku tidak merasa perlu menariknya kembali hanya demi menjaga perasaannya. Pernikahan kami sudah berakhir. Aku tidak punya alasan lagi untuk berpura-pura.
"Ingat, Dan. Aku, Belinda, tidak akan membiarkanmu bersama Dinda!" ancamnya.
Aku menyipitkan mata, lalu melangkah mendekatinya. "Kamu sedang mengancamku?"
Nada suaraku meninggi, tetapi Belinda justru menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Dia tidak menjawab. Setelah memberiku tatapan penuh kebencian, wanita itu berbalik dan pergi begitu saja. Aku berdiri mematung selama beberapa saat, mencerna ancamannya.
"Apa dia akan menyakiti Dinda? Tidak. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
Aku sudah cukup lama menyakiti Dinda karena kebodohanku sendiri. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melakukan hal yang sama padanya, terlebih Belinda yang baru saja kehilangan statusnya sebagai istriku.
Aku segera mengambil ponsel dari saku dan menghubungi asistenku.
"Pesankan aku tiket ke Ujung Kulon sekarang juga."
"Baik, Pak."
Panggilan berakhir. Aku memasukkan ponsel ke saku, lalu bergegas meninggalkan gedung pengadilan.
Kali ini, aku tidak akan membiarkan diriku terlambat lagi. Aku tidak tahu apakah Dinda masih bersedia menemuiku atau justru akan mengusirku begitu melihat kedatanganku. Namun, aku harus menemuinya dan memastikan keadaannya sendiri.
Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu karena terus menyangkal perasaanku dan menyelesaikan masalahku dengan Belinda. Sekarang, aku akan menemui Dinda, apa pun jawaban yang akan diberikannya padaku nanti.
Saat aku buru-buru melangkah mau meninggalkan gedung itu, aku masih mendengar suara Ghina yang kini berdiri bersama dengan Mama dan Papa.
"Kak, kejar Kak Dinda bawa menantu keluarga Saliyo pulang."
Aku tersenyum ke arahnya, lalu mengangguk.
mantan suami pecundang🙄🙄
km selalu mnyudutkn dan mnyalahkn dinda.... atas smua yg trjadi... pdahal dinda gak melakukn ksalahan....
krna smuanya demi perempuan trcintamu....🙄🙄🙄
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...