NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ospek Terakhir

Hari terakhir ospek, hanya digunakan untuk bersenang-senang oleh para senior kepada juniornya.

Tidak ada yang berbahaya, karena pihak kampus melarang para Mahasiswa senior melakukan tindakan yang dapat merugikan para Maba.

Tidak ada yang penting, hanya ada beberapa permainan yang dilakukan sebelum upacara penutupan acara ospek.

Seperti senior memberikan tantangan pada juniornya secara acak. Dan nantinya mereka juga akan diminta untuk mengumpulkan tanda tangan dari senior dan beberapa dosen.

Semua panitia ospek ada di sisi kanan-kiri panggung, dan semua peserta ospek diminta untuk duduk lesehan di lapangan yang luas.

Rea, gadis itu sejak tadi tak berhenti mendesah kesal sambil mengipasi lehernya menggunakan kardus bekas. Padahal, dia sudah duduk di bawah pohon rindang, apa kabar dengan Maba lain yang pasrah tetap duduk di tengah lapangan.

Meski mereka menggunakan tudung yang dibawa sebagai perlengkapan ospek, namun tetap saja tubuh mereka tersengat sinar matahari yang terik.

Beberapa Maba sudah ditunjuk untuk maju dan melakukan tantangan apapun dari seniornya. Seperti menyanyi, dance, membaca puisi, menggombali senior, dan lain sebagainya.

Hingga tak lama, suara senior yang berperan sebagai pemandu acara, kembali berbicara.

"Cewek yang lagi sandaran di pohon, bisa maju ke depan?"

Rea yang merasa, pun sontak mengedarkan pandangan. Dari banyaknya Maba di sana, kebanyakan laki-laki yang berteduh di pohon besar.

Hanya dia satu-satunya perempuan yang berani berteduh seperti ini, di saat semua diminta untuk tetap berada di tengah lapangan.

"Siapa namanya?" Samar-samar, Rea mendengar orang itu bertanya pada temannya. "Reana, silakan maju ke depan!"

Rea mendengus, lalu bangkit dan berjalan maju menghampiri panggung.

Senior laki-laki yang memanggilnya tadi tersenyum manis, membuat Rea memutar bola matanya malas.

"Reana, masuk fakultas apa, kamu?"

"Bisnis," jawab Rea dengan malas.

"Wow, kayaknya mau jadi wanita karir, ya?"

Rea berdecak pelan. "Bukan urusan lo."

Suasana yang sudah panas karena teriknya matahari, kini semakin panas karena tatapan genit senior itu.

Senior bernama Raka itu tersenyum kecut. "Oke, Reana. Tantangan dari gue, lo harus menyatakan cinta sama salah satu senior cowok di sini. Terserah lo mau pilih siapapun, gue juga boleh," kata Raka seraya mengedipkan sebelah matanya.

Rea menatapnya sinis, dan mengulurkan tangan menerima mikrofon dari cowok itu.

"Harus banget gitu?" tanya Rea seraya menggulirkan bola matanya, menatap satu-persatu senior cowok yang sama sekali tidak ia kenali.

Raka mengangguk seraya tersenyum tipis. "Sama gue aja kalau bingung," modusnya yang dibalas dengusan malas oleh Rea.

Tatapan Rea terpaku pada cowok yang sejak tadi hanya diam bersandar di kursi yang didudukinya.

Tangan cowok itu terlipat di depan dada, dengan kepala menunduk dan topi hitam yang menutupi kepala.

Almamater yang dikenakan, pun sudah ditarik hingga ke siku dengan kancing terbuka, menampilkan kaos hitam yang dikenakan.

Arloji hitam melingkar di tangannya yang putih, lalu name tag panitia melingkar di lehernya, sungguh membuatnya terlihat sangat tampan.

Meski, bagi Rea tidak begitu menarik, namun bagi mahasiswi lain tentu sangat menawan dan cool.

"Gala," ucap Rea singkat, namun berhasil membuat si pemilik nama mendongak dengan mata menyipit.

Gala menatap bingung orang-orang yang kini menatap dirinya. Ia kemudian menoleh ke panggung, dimana Rea yang tengah menatapnya dengan mikrofon di tangan gadis itu.

"Gue cinta sama lo."

Gala mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tertidur sejak tadi, sehingga tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Rea, pun tampak terdiam beberapa saat tanpa mengalihkan pandangan dari Gala, sebelum akhirnya beralih menatap Raka.

"Sudah, kan?" Rea memberikan kembali mikrofonnya, lalu turun dari panggung.

Tatapannya sempat bertemu dengan netra Gala yang menatapnya dalam, sebelum ia mengalihkan pandangan dan berlalu kembali bergabung dengan teman-temannya.

Raka menatap langkah Rea dalam diam, lalu beralih menatap Gala dengan tangan terkepal.

"Sudah siang saatnya istirahat, dan setelah istirahat nanti dilanjut untuk kalian meminta tanda tangan dosen dan beberapa senior. Baru setelah itu upacara penutupan, terima kasih."

Semua mendesah lega dan berhamburan mencari tempat berteduh untuk menyejukkan badan, hati dan pikiran.

Rea memilih diam di tempat yang sama, terlalu malas untuk ia berjalan ke tempat berteduh yang lain.

Lagi pula, ingin pergi ke manapun, tetap saja dilarang membeli makan atau minuman. Karena mereka harus memakan bekal yang dibawa dari rumah.

Rea tidak membawa, sudah terlalu biasa. Bahkan dalam tiga hari masa ospek, Rea sama sekali tidak membawa bekal sama sekali.

Kemarin bahkan ia diberikan bekal makan oleh Cia, di hari pertama pun ia diberi makan oleh Gala saat di ruang kesehatan.

Entahlah, di hari ini siapa yang akan memberinya belas kasihan. Dia tidak berharap apapun, karena ia sama sekali tidak lapar.

Rea membuka tasnya, mengambil satu buah permen untuk memakannya.

Baru membuka permen itu, sebuah kotak makan tersodor di hadapannya, membuat ia mendongak.

Gala, berdiri di hadapannya dengan menyodorkan satu kotak makan dan satu botol minuman.

"Dari Ibu," katanya datar.

Rea menatap kotak makan dan botol minum berwarna biru itu. "Buat lo, kan?"

"Makan, entar kurus dikira gak dikasih nafkah," kata Gala seraya meletakan dua benda itu di pangkuan Rea.

"Makan, langsung solat," lanjutnya sebelum berlalu dari sana.

Rea menatap kepergian Gala dalam diam, lalu bergerak membuka kotak makannya.

Mata Rea berbinar melihat nasi goreng seafood kesukaannya. Dengan penuh semangat, ia meraih sendok dan mulai menyantap makanan itu.

Rea sampai memejamkan mata, karena begitu menikmati makanan buatan Ibu mertuanya.

"Parah, enak banget. Gak mau tau, gue harus minta resepnya sama Ibu."

Rea terus menyantap makanan itu hingga tandas tak tersisa. Ia kemudian meminum airnya dan bersendawa. "Ah, alhamdulillah, kenyang," katanya seraya mengusap perut yang terasa mengembung seketika.

Setelah membereskan kotak makannya, Rea bangkit untuk pergi ke mushola dan menunaikan salat dzuhur bersama beberapa teman sesama muslimnya.

Selesai dengan itu, mereka kembali berkumpul di lapangan, sebelum akhirnya bubar untuk berkeliling mencari dosen dan senior untuk dimintai tanda tangan sebanyak-banyaknya.

Rea yang dasarnya pemalas, hanya berjalan pelan entah kemana tujuannya. Tidak seperti teman lain yang sudah pergi ke tempat-tempat tujuan mereka, seperti ruang dosen misalnya.

Langkah kaki membawanya menyusuri setiap koridor universitas bisnis. Ia sesekali berpapasan dengan senior yang menatapnya dengan aneh.

Rea tidak peduli, tujuannya hanya mencari panitia ospek dan para dosen.

Rea juga beberapa kali mendapat rayuan jahil dari beberapa mahasiswa senior yang bukan panitia.

Tak lama, ia melihat siluet Gala yang tengah duduk di pojok koridor sambil memakan bekalnya dengan santai, sendirian pula.

Rea segera berjalan menghampiri cowok itu dan duduk di sebelahnya.

"Kak, tanda tangan dong," kata Rea seraya menyodorkan buku dan pulpen yang sejak tadi dipegangnya, di atas kotak bekal yang ada di tangan Gala.

Gala sontak menatap gadis itu dengan tatapan kesal. "Lo gak lihat gue lagi makan?"

Rea mengedikan bahunya, lalu melepas buku dan pulpen itu, membiarkannya tetap berada di atas kotak makan Gala.

Gala menghela nafas, lalu mengambil buku itu dan meletakkan kotak bekal di sisi tubuhnya. Ia kemudian membuka buku itu, membuat bola matanya membulat.

"Lo belum dapat satu, pun?" tanyanya dengan tatapan heran.

Rea menggelengkan kepala seraya menggerak-gerakan kakinya. "Malas nyari orang," katanya, yang dibalas dengusan oleh Gala.

Cowok itu kembali menutup buku Rea, dan menepuk kepala gadisnya dengan buku.

"Lo itu jangan apa-apanya malas terus. Entar kalau sudah tinggal sama gue, harus rajin bersih-bersih."

Rea menatap Gala sengit. "Lo pikir gue pembantu?"

"Itu kewajiban," ucap Gala seraya memberikan kotak makannya tadi pada Rea.

Rea menatap kotak makan itu dan juga Gala bergantian. "Apaan?"

"Suapin gue, baru gue tanda tangan."

Rea mendengus, namun tanpa menolak ia mengambil sesendok makanan untuk disuapkan ke dalam mulut Gala.

"Ini bukan nasi goreng seafood, ya?" Rea menilik nasi goreng milik Gala yang hanya ada potongan sosis dan daging ayam.

"Gak suka," jawab Gala seraya menorehkan satu tanda tangan di buku Rea.

"Padahal enak," kata Rea seraya menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

"Makanan Ibu enak, ya? Gue jadi pengin diajarin masak sama Ibu." Rea kembali menyuapkan nasi goreng ke mulut Gala.

Gala mengangguk dengan mata terus menatap tulisan di dalam buku Rea.

"Minggu depan nginap di rumah, mau?" tanyanya.

"Boleh?"

Gala menoleh dan kembali mengangguk, seraya membuka mulut menerima suapan dari Rea.

"Boleh, tapi gue di apartemen."

Rea mengerutkan keningnya. "Kok gitu? Gue masih malu kalau sama orang tua lo."

"Mereka juga orang tua lo, kenapa harus malu? Biasanya juga malu-maluin, kan?"

Rea mendengus sebal. "Canggung, lah. Lagian lo kenapa gak di rumah aja, sih?"

"Minggu depan mau ngumpul sama teman-teman, kalau di rumah takut ganggu."

Rea mengembungkan pipinya, menyuapi Gala lagi. "Ya sudah, nginapnya jangan minggu depan."

Gala menatap gadis itu dengan alis terangkat. "Hari ini, mau?"

Rea berpikir sejenak, sebelum mengangguk pelan.

Gala ikut mengangguk, lalu memberikan buku pada Rea dan mengambil kotak makannya yang sudah kosong.

"Entar gue jemput pulang dari kampus."

Rea mendongak untuk menatap Gala yang sudah mengambil posisi berdiri. "Jam berapa?"

"Sore, tunggu aja di rumah."

Rea mengangguk lalu menunduk. Gala menatap kepala gadis itu dengan lekat.

"Lo cinta sama gue?"

Mendengar pertanyaan itu, Rea sontak bangkit dan kembali mendongak. Ia menggeleng tegas sebagai jawabannya.

"Gue gak ada pilihan lain. Dari pada nyatain cinta ke orang lain, mending ke lo."

"Kenapa?"

"Lo, kan suami gue, aman. Kalau ke yang lain, entar baper, kan berabe."

Gala mengangkat kedua alisnya. "Kalau gue baper, gimana?"

Rea mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu terkekeh sinis. "Orang kaku kayak lo gak mungkin baper cuma gara-gara gue bilang cinta sama lo, apalagi dengan cara yang kayak tadi."

Gala memusatkan tatapannya, lalu menekan rahang Rea dengan satu tangannya. Menuntun gadis itu agar menatap matanya lekat.

"Tapi gue baper beneran, mau apa lo?"

Rea mendengus, lalu menepis tangan cowok itu. "Baperan, kayak cewek."

.

To be continue ...

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!