NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Lensa Kamera, Hujan Gerimis, dan Pengakuan di Balik Layar

Suara rintik hujan gerimis yang menghantam atap seng kantin belakang FISIP Universitas Nusa Bangsa menciptakan denting ritmis di tengah malam yang kian sunyi. Jarum jam tangan Alee sudah melompati angka sepuluh. Di atas meja kayu yang diterangi lampu gantung kekuningan, sebuah laptop hitam milik BEM menyala terang, menampilkan linimasa perangkat lunak penyuntingan video yang penuh dengan deretan berkas audio dan klip visual.

Di samping Alee, Arlan Bachtiar menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil memutar-mutar cangkir kopi yang sudah dingin. Kemeja abu-abunya tergulung hingga siku, dan sehelai poni hitamnya yang sedikit berantakan jatuh menutupi dahinya. Wajah tegas yang biasanya tampak tak tersentuh itu kini memperlihatkan raut lelah yang menusuk, namun matanya tetap fokus menatap layar.

"Transisi di detik ke-14 ini terlalu mendadak, Lee," ujar Arlan, nada suaranya berat dan serak karena terlalu banyak berbicara sepanjang hari. Tangannya terulur ke atas touchpad laptop, membuat jemarinya yang panjang dan hangat tak sengaja bersentuhan dengan punggung tangan Alee.

Alee sedikit tersentak. Sensasi hangat dari sentuhan singkat itu bagaikan sengatan listrik kecil yang menjalar hingga ke dadanya. Namun, dengan ciri khas petantang-petenteng-nya yang tak pernah pudar, Alee mempertahankan raut wajah datarnya dan terkekeh pelan.

"Justru transisi patah itu yang bikin penonton kaget dan berhenti scrolling, Kak Arlan," sahut Alee sambil memiringkan kepala, menatap Arlan dari samping dengan sudut bibir terangkat. "Anak muda sekarang enggak suka transisi fade-in yang halus dan membosankan. Mereka mau yang langsung punchy."

Arlan membalas tatapan Alee. Jarak wajah mereka hanya berkisar dua puluh sentimeter. Dalam penerangan remang kantin, Arlan bisa melihat pantulan cahaya layar laptop di iris mata Alee yang jernih sebuah mata yang memancarkan keberanian, idealisme, dan daya pikat yang liar.

"Lu emang enggak pernah mau kalah, ya?" gumam Arlan, sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman hangat yang jarang ia perlihatkan kepada orang lain.

"Bukan enggak mau kalah, Pak Ketua," balas Alee santai sambil melipat kedua tangannya di atas meja. "Tapi gue memperjuangkan konsep yang gue jamin bakal berhasil. Lu sendiri yang bilang semalam, lu percaya sama gue."

Arlan mengembagkan napas panjang, lalu terkekeh rendah—sebuah tawa baritone yang bergetar lembut di udara malam. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala, terheran-heran bagaimana seorang mahasiswa baru yang baru beberapa hari menginjakkan kaki di kampus bisa meruntuhkan benteng pertahanan mentalnya begitu cepat.

Sejak awal memimpin BEM, Arlan dikenal sebagai sosok yang amat rasional, berjarak, dan dingin. Ia menganggap semua orang di sekitarnya sebagai roda penggerak organisasi yang harus bekerja presisi. Namun Aleena Putri datang seperti badai—mengacak-acak keteraturannya, menantang dominasinya, tetapi di saat yang sama, membawa kehidupan dan warna baru yang selama ini hilang dari dada Arlan.

"Oke, gua turuti kemauan lu untuk potongan detik ke-14," Arlan akhirnya mengalah, menyerahkan kendali mouse sepenuhnya kepada Alee. "Tapi kalau hasilnya nanti dihujat anak-anak Divisi Media, lu yang gua jadiin tameng."

"Siap! Gue siap jadi tameng terdepan," seru Alee penuh percaya diri.

Proses penyuntingan video promosi Pekan Komunikasi dan Budaya terus berlanjut. Alee dengan lincah mengedit adegan demi adegan menyelipkan narasi kritis tentang keterasingan mahasiswa baru di tengah hiruk-pikuk kampus, lalu menutupnya dengan ajakan hangat untuk bergabung di festival fakultas. Arlan memperhatikan setiap detail gerakan jemari Alee di atas papan ketik dengan pandangan yang kian mendalam.

Hujan di luar lambat laun mereda, menyisakan bau tanah basah (petrichor) yang menenangkan. Saat video berdurasi 60 detik itu akhirnya selesai diputar untuk pengujian akhir, hasilnya benar-benar luar biasa. Alur cerita yang emosional, perpaduan musik yang pas, serta potongan visual yang dinamis menciptakan karya yang sangat membakar emosi.

"Sempurna," bisik Arlan tulus. Ia menatap Alee yang sedang meregangkan otot lehernya yang pegal. "Gua enggak salah pilih orang."

Alee menyunggingkan senyum bangganya. Namun, rasa lelah yang menumpuk setelah seharian kuliah dan lembur hingga larut malam mendadak menyerang pertahanannya. Pandangan Alee sedikit kabur, dan kepalanya terasa berat. Tanpa sadar, saat ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, badannya oleng ke samping.

Dengan refleks yang cepat, Arlan merengkuh bahu Alee, menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. Kepitingan Alee akhirnya mendarat tepat di atas bahu kokoh Arlan.

Alee terkaget dan hendak menarik dirinya kembali tegak. "Eh sorry, Kak"

"Diem dulu," potong Arlan pelan namun tegas. Tangannya yang hangat masih menahan bahu Alee dengan lembut, mencegah gadis itu bergerak. "Lu capek banget. Istirahat lima menit aja. Nanti gua antar lu pulang ke kosan."

Suara Arlan begitu tenang dan penuh kedamaian, membuat Alee yang biasanya selalu menolak terlihat lemah di depan orang lain, kali ini pasrah. Alee membiarkan kepalanya bersandar di bahu Arlan. Aroma wangi maskulin khas kayu cedarwood dari kemeja Arlan menyeruak lembut, memberikan rasa aman yang tak pernah Alee bayangkan sebelumnya.

Di bawah naungan pohon ketapang dan sisa tetesan air hujan, dua insan itu saling berdiam diri dalam keheningan yang manis. Detak jantung Arlan terasa berirama stabil di dekat telinga Alee.

"Kenapa lu baik banget sama gue, Kak?" tanya Alee pelan, hampir berupa bisikan di tengah heningnya malam. "Lu kan Ketua BEM yang terkenal galak dan dingin."

Arlan mengalihkan pandangannya, menatap helai demi helai rambut Alee yang terurai di bahunya. Ia menghela napas pelan, membiarkan kejujuran yang selama ini tertahan di dadanya mengalir keluar.

"Karena dari pertama kali lu berdiri di depan ruang BEM waktu orientasi, gua tau lu beda, Alee," tutur Arlan dingin namun penuh getaran emosi. "Lu enggak pandang gua sebagai 'Ketua BEM yang ditakuti', tapi sebagai manusia. Lu datang tanpa topeng, tanpa rasa takut. Dan buat pertama kalinya setelah sekian lama... gua ngerasa ada orang yang bisa bikin gua berhenti jadi sosok yang selalu sempurna."

Alee membuka matanya pelan, mendengarkan setiap kata yang diucapkan Arlan. Ada kehangatan luar biasa yang merayapi lubuk hatinya sebuah perasaan baru yang mekar dengan begitu indahnya.

Arlan menundukkan kepalanya sedikit, merapatkan jarak bibirnya ke telinga Alee. "Gua bakal selalu ada di belakang lu, Lee. Apa pun ide gila yang mau lu bikin di kampus ini, gua yang bakal jadi garda terdepan buat ngelindungin lu."

Kata-kata itu terpatri kuat di dalam dada Aleena. Sebuah janji manis di balik layar laptop dan rintik hujan yang seolah mengunci takdir mereka berdua. Alee tersenyum tipis dalam sandarannya, menutup mata dengan perasaan bahagia yang membumbung tinggi.

Alee sama sekali tidak menyadari bahwa janji Arlan untuk selalu menjadi "garda terdepan yang melindungi"suatu hari nanti di masa depan bakal dipegang teguh oleh pria itu hingga detik terakhir napasnya.

1
Muslimin Muslim
good
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!