Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Satu jam kemudian.
Di sore itu. Tampak Emma terlentang dalam kondisi tertidur pulas setelah bermain sejenak dan minum susu.
Terdengar suara mobil sedan Bagas yang sudah terparkir rapi di depan Lobi rumahnya.
Mila berlari ke arah jendela.
"Mati lah aku, bagaimana ini?" Wanita itu gugup dan terlihat panik berlari ke kasur langsung menutup diri dengan selimut tebal.
Bagas, Yoga dan Hartati telah tiba di rumah. Bibik Sari dengan sigap menyiapkan kamar-kamar untuk para majikannya.
Sejak mengetahui adanya kamera di kamar Emma. Mila sangat malu dan merasa tak sanggup lagi untuk bertatap muka dengan Bagas.
Yoga menuntun Bagas ke kamarnya.
"Dimana Mila?" tanya tegas Hartati kepada Sari.
"Ada di kamar Emma, Bu!" Jawab patuh sang pelayan.
Hartati berjalan cepat menuju kamar Emma.
"Aduh! Jangan-jangan ini soal kamera, sepertinya Nyonya sudah tau dan ia terlihat marah besar, kasihan juga si Mila kalau sampai dipecat!" ucap gelisah Sari dengan wajah tak nyaman.
Pelayan tua itu tetap merasa iba jika Mila sampai kehilangan pekerjaan. Mila pernah berkata kepada Sari, dirinya terpaksa merantau demi membahagiakan keluarganya.
"Tok-tok!" terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras.
Suara yang membuat kepala Mila dipaksa keluar dari selimutnya.
Suara itu cukup mengerikan bagi Mila, layaknya panggilan kematian.
"Siapa itu?" ucap Mila sudah membayangkan wajah monster Bagas yang sangat menyeramkan tengah berdiri di depan pintu kamar. Siap menyeret dirinya keluar dari rumah.
"Mila buka pintunya, saya bisa membuka pintu ini dengan password, tapi saya ingin kamu yang membukanya sendiri?" suara lantang dalam perasaan kecewa Hartati terdengar jelas.
"Bu Hartati!" Seketika Mila melompat dari kasur, ia mengenal nada suara wanita paru baya itu dan ia pun perlahan membuka pintu kamar.
Sementara Bagas terlihat sudah pasrah dengan hidupnya, hanya bisa terlentang di atas kasur.
Yoga dan ajudan terpercaya sedang mencari tim pernikahan khusus termasuk tata rias profesional.
"I-ibu apa kabarnya!" tanya Mila dengan perasaan cemas.
"Saya mau bicara sama kamu," ucap tegas Hartati berjalan menuju sofa kecil di kamar Emma.
Keduanya duduk. Suasana masih diam dan cukup tegang.
"Apa ini?" tanya geram Hartati menunjukkan ponsel Bagas berisi video penampilan polos Mila.
Mata perempuan itu langsung melotot tajam menatap layar.
"Kamu sengaja yah?" tanya Hartati mulai menunjukkan amarahnya.
"Sumpah demi Allah Bu! Mila tidak pernah tau kalau di kamar ini ada kamera."
"Sekalipun di kamar ini tidak ada kamera, apa kamu pikir tingkah kamu itu adalah hal yang wajar? Kamu sadar tidak Mila. Ini kamar Emma, bukan kamar pribadi kamu. Selama ini Kamera memang sengaja dipasang untuk memantau kerja ibu pengasuh.
"Maaf Bu, Mila benar-benar minta maaf dan tidak akan pernah mengulangi lagi," tangis kecil wanita itu hanya mampu menundukkan wajahnya.
"Masalahnya apa yang sudah kamu lakukan itu membawa malapetaka besar untuk Bagas dan kamu harus bertanggung Jawab!" hentak Hartati.
"Ma-maksudnya?" tanya Mila mengangkat kepala dalam tatapan benar-benar tidak paham.
"Keseringan melihat kamu seperti itu. kamu tau sendiri kan kalau Bagas itu duda, sudah hampir 7 bulan dia tidak melakukan hubungan badan. Hasratnya tidak terlampiaskan sehingga menjadi penyakit ditubuhnya. Dokter menyarankan besok ia harus menikah dan melakukan hubungan suami istri secara rutin! Jika tidak, Bagas bisa mati mendadak. Puas kamu, itulah akibat dari kecerobohan kamu Mila!" Hentak gemes Hartati dengan mata melebar.
"Hah!" Mila terhentak kaget, jantungnya berdebar takut dan bingung.
"Tanggung jawab itu, kau harus menikah dengan Bagas?"
"Tapi! Bukankah Mas Bagas punya kekasih yang bisa ia nikahi?" tanya polos Mila.
"Tidak segampang dan tidak bisa secepat itu, kekasih Bagas masih kuliah di Belanda.
Bagaimana kami mencari dengan cepat perempuan untuk dijadikan istri sekaligus cocok buat Emma. Hanya kami satu-satunya yang mampu menyelesaikan masalah ini," ucap Hartati.
Mila tampak diam me-lunglai.
"Karena tidak punya banyak waktu. Malam ini atau besok pagi, kalian harus menikah siri!"
"Hah!" Mila terkejut lagi.
Ia semakin gelagapan, jantungnya berdebar-debar.
"Dengan begitu, saya akan memaafkan kamu dan selama menjadi istri siri Bagas, ia akan memberikan royalti keuangan yang besar buat kamu!"
Mila tidak mampu berkata hanya tertunduk menangis, lagi-lagi harus mendapatkan kesulitan hidup yang pelik. Hartati melangkah keluar dan bergegas mengurus pernikahan siri putranya dengan secepatnya.
*
Malam berganti pagi.
Mila datang menghampiri Yoga.
"Mas, apakah tidak ada cara lain selain Mila harus menikah dengan Mas Bagas?" ucap mewek Mila dalam tatapan berkaca-kaca.
"Huft!" Hembusan nafas panjang Yoga,
bingung menjawab pertanyaan Mila.
"Kemarin Bagas sudah menolong Mila, sekarang boleh yah Mila menolong Bagas?" tanya lembut Yoga.
"Tapi kenapa harus Mila Mas, apa tidak ada perempuan lain atau kekasihnya?" Mila kembali memastikan pertanyaan itu kepada Yoga.
"Selain waktunya terlalu singkat, Bagas memikirkan nasib Emma," jawaban Yoga sama dengan Hartati.
"Mila, Pernikahan ini hanya bertahan 3 bulan seperti kehendak Bagas dan Ibu. Kamu akan mendapatkan royalti yang lumayan besar!" bujuk Yoga.
Mila terdiam dalam tatapan pasrah.
"Mas janji, akan membujuk Bagas untuk membebaskan lahan Bapak kalian yang sekarang ini dijarah bebas oleh para mafia kebun!"
"Itu ulah si Reno bajingan?" ucap gemas Mila.
"Kenapa kalian diam saja, bukankah itu bisa mencukupi dan biaya perobatan ibu?" Tanya Yoga.
"Kami sudah protes, tapi wanita lemah seperti kami bisa apa Mas? Jika kami protes terus. Reno akan menikahkan paksa mba Wita dengan temannya yang jauh lebih bajingan darinya dan akan menjadikan aku sebagai istri selanjutnya. Tidak ada yang perduli kepada kami Mas, semuanya semena-mena setelah Bapak tidak ada?" ucap sedih Mila tak mampu membendung air matanya.
"Apa?" Yoga benar-benar terkejut dengan aksi gila Reno yang beraninya mengancam wanita. Ia tidak sabar ingin menghabisi pria itu.
"Itulah sebabnya kami tidak bisa berbuat apa-apa Mas! Reno juga tidak lagi memberikan tanggung jawabnya kepada putrinya Alika dengan berbagai alasan. Jika ada pilihan lain, Mila juga tidak ingin bekerja disini?"
"Mba Mila waktunya dirias!" seruan panggilan dari seorang penata rias mengakhiri obrolan Yoga dan Mila.
"Baik!" Angguk paham wanita itu.
"Mas Yoga, Mila minta tolong sekali. Tolong jangan kabarkan masalah ini kepada Mba dan Ibu di desa. Mila belum siap menghadirkan masalah baru, sehingga mereka akan menjadi bullyan orang-orang desa!"
"Baiklah!" Jawab paham Yoga masih memandangi nasib iba Mila.
"Ternyata hidup mereka cukup keras!" ucap Yoga.
*
Sejak pulang dari rumah sakit Mila dan Bagas belum bertemu.
Hartati datang membawakan Jas hitam terbaik milik Bagas. Pria itu tampak sedikit cemberut juga kesal dengan Mila. Ia masih merasa dirinya dalam jebakan sang mantan.
"Bagas, ini pakai Jas nya!" ucap lembut Hartati.
"Bagas belum mandi Bu."
"Yah ampun, sudah buruan, jam 7 Tuan kadinya (tim pernikahan) sudah datang!!"
Dengan gaya lesu. Bagas terpaksa melangkah menuju kamar mandi.
*
Bantu like,gift dan vote nya yah teman-teman
terima kasih🤗
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂