Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandera
Jodoh Titipan Bagian 23
Oleh Sept
Jakarta.
"Abah? Taqi sudah sampai apa belum? Harusnya sudah tiba beberapa jam yang lalu. Kok belum telpon?"
Ummi merasakan sesuatu yang aneh, tumben Taqi tidak mengabari apa-apa. Biasanya anak angkatnya itu, pasti disempatkan untuk menghubungi dan memberikan kabar yang di rumah.
"Mungkin sedang repot," jawab abah Yusuf yang kala itu sedang membaca-baca buku.
"Nad ... Apa Taqi sudah telpon?" Ummi mendekati Nada yang kala itu duduk sambil memangku Naqiyyah.
'Mana pernah Mas Taqi WA/Tlp Nada?' batin Nada dalam hati.
"Nggak, Ummi," jawabnya kemudian.
"Udah ... nanti juga telpon!" sela abah Yusuf.
Malam harinya
Keluarga Taqi merasa gelisah, terutama ummi. Apalagi malam ini Naqiyyah rewel sekali. Satu rumah sampai harus bergadang karena Naqi menangis sepanjang malam.
"Apa dinawa ke dokter?" Ummi khawatir pada cucu satu-satunya itu.
"Tapi nggak demam, Bu. Badannya gak apa-apa."
Ummi menghela napas panjang, kemudian kembali memikirkan Taqi.
***
Malaysia
Di sebuah gedung yang terbengkalai, di dalam salah satu ruangan yang cat dindingnya banyak yang sudah mengelupas. Ditambah genangan air di beberapa sisi lanyainya. Terlihat seorang pria yang terbaring di ranjang bekas.
Sedangkan di luar, beberapa penjaga sedang bersikap siaga. Mengawasi keadaan dan menjaga situasi agar tetap kondusif.
"Berapa dosis yang kau berikan? Kenapa dia masih belum bangun?" tanya pria berjaket coklat kulit.
"Hanya sedikit!"
"Kau yakin?"
"Hem!"
"Astaga! Lemah sekali pria ini!" cibir pria berjaket coklat tersebut. Ia tersenyum remeh menatap Taqi yang terkapar tidak berdaya tak sadarkan diri.
"Sebelum dia bangun! Ikat kaki dan tangannya. Sambil menunggu bos datang."
"Baik!"
Beberapa saat kemudian.
Sebuah mobil hitam-hitam memasuki kawasan gedung tua bertingkat yang tak berpenghuni tersebut. Seorang sopir keluar dari pintu depan, langsung membuka pintu untuk bos mereka yang kelihatan angkuh.
"Mari, Tuan!"
Mr. Samir yang keluar dari mobil di belakangnya, langsung menghampiri bos tersebut.
Rombongan pria berjas hitam dengan cerutu yang ada di tangan, perlahan melangkah masuk ke dalam gedung yang sudah usang tersebut.
Gedung ini adalah tempat mereka menyekap Taqi Bassami. Sengaja untuk memancing seseorang agar keluar dari persembunyian. Ya, orang yang erat kaitannya dengan sandera mereka.
Saat semua orang mulai masuk ke dalam gedung. Di sisi lain Taqi sudah perlahan mulai membuka mata. Tangannya terasa kesemutan begitu juga dengan bagian tubuh yang lainnya.
Taqi menatap ke sekeliling, terlihat kosong tidak ada orang satupun. Namun, samar-samar terdengar suara pria di balik pintu.
"Apa-apaan ini?" gumam Taqi yang merasakan tenggorokannya sangat kering. Entah sudah berapa jam ia pingsan.
Taqi mencoba mengerakkan tangan, tapi semuanya malah semakin terasa kebas. Ia mendesis dalam hati. Siapa yang sudah melakukan hal keji ini padanya.
Sembari mengumpulkan kepingan kesadaran yang masih belum kembali sepenuhnya. Taqi memikirkan apa yang terjadi sebelumnya. Terakhir ia ingat keluar dari Bandara dijemput orang yang belum ia kenal.
"Ish!"
Dahi Taqi mengerut, pria itu mendesis kesal kemudian. Sambil mencoba melepaskan ikatan, Taqi tetap memperhatikan pintu di sampingnya.
"Kenapa sudah sekali dilepas?"
Susah payah Taqi ingin melepas ikatan, akan tetapi malah tidak bisa. Hanya menyisahkan rasa panas di pergelangan tangannya.
Taqi menyerah, sepertinya akan sulit bila dilepas dengan tangan kosong. Ingin turun pun rasanya tidak bisa. Kedua kakinya juga sudah diikat kuat dengan sebuah tali.
Ketika pria itu berpikir bagaimana caranya akan lepas. Tiba-tiba pintu di sampingnya terbuka.
KLEK
"Mr. Samir!" gumam Taqi.
Taqi memperhatikan Samir yang berdiri di belakang pria berjas hitam sambil memegang cerutu.
"Apa yang sudah kalian lakukan?"
Samir tidak menatap wajah si penanya. Ia malah sibuk mengeluarkan alat. Ya, alat untuk merekam video Taqi.
"Apa yang kalian lakukan!" sentak Taqi marah.
Samir masih sibuk merekam, sedangkan pria berjas hitam kini malah menelpon seseorang.
Marah, Taqi pun meronta. Tapi dengan kondisi tangan dan kaki yang sudah diikat, Taqi tidak bisa melakukan apapun.
***
Di sebuah tempat, di ruangan bawah tanah. Dengan fasilitas yang lengkap. Seorang pria sedang menikmati tayangan yang membuatnya rahangnya mengeras.
"Kurang ajarrr!" pekiknya sembari mencengkram bahu sofa.
"Tuan ....!" Seorang wanita ingin mendekat dan duduk di pangkuannya, tapi pria itu langsung menepis dan mendorongnya dengan kasar.
"Siapakan semuanya!" serunya pada orang-orang yang sejak tadi stand by di belakangnya.
"Baik, Tuan!"
Rombongan orang-orang berprawakan sangar itu pun kemudian keluar dari sebuah ruangan bawah tanah. Sekali pencet, sebuah kanopi mencuat dan tampilan hunian seketika berubah.
Ketika akan masuk ke dalam mobil, salah satu anak buahnya memberikan sebuah topi. Dan pria itu langsung meraihnya tanpa mengucap apapun. Detik berikutnya, mobil melaju meninggalkan tempat di mana dia bersembunyi selama ini.
Sepanjang jalan, dapat dilihat banyak penari hula-hula di sepanjang pantai. Ya, mereka sedang di Hawaii. BERSAMBUNG
jawab iya salah jawab tidak juga berat
😭😭😭