NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

"Tundukkan kepala kalian! Rapatkan barisan di belakang perisai Paman Vargas!"

Seruan Ren memecah deru angin rawa saat keempat penyintas itu meluncur ke jalur penyeberangan.

Di bawah kaki mereka, permukaan air ungu berbusa mendidih dengan hebat. Gelembung gas belerang meletup-letup di sela lumut busuk, melepaskan uap asam pekat yang membuat mata perih dan tenggorokan tercekat. Cakar-cakar berselaput kadal pemangsa mencuat dari sela-sela lumpur hisap, berusaha menggapai ujung sepatu bot mereka di setiap lompatan.

Vargas bergerak di garis depan dengan napas menderu seperti tungku tua. Pria veteran itu menabrakkan perisai menaranya ke sulur-sulur tanaman berduri yang merambahi tebing karang, membuka jalan setapak sempit di antara bebatuan licin.

Di belakangnya, Ren menyeimbangkan tubuhnya di atas formasi batu kapur sambil memikul Riku di pundak kiri. Otot leher dan punggungnya menegang kaku menahan bobot tubuh rekannya yang gemetar. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang belati taring monster, siap menebas setiap moncong yang melompat dari kegelapan kabut.

Shizuka menempel ketat di belakang jubah perang Ren. Jari-jemari gadis tabib itu mencengkeram tali sabuk kulit pemuda itu begitu kuat, berusaha menjaga keseimbangan langkahnya di atas batu berlendir yang licin.

"Jalur kanan terbuka!" seru Vargas seraya mengarahkan perisainya ke lempengan batu kapur putih yang membentang datar di depan. "Ada undakan batu lebar di sana!"

Veteran itu melompat dengan tenaga penuh, mendarat dengan telapak sepatu besinya di atas lempengan tersebut.

Krak!

Suara retakan tajam bergema di udara lembap. Lempengan kapur yang rapuh itu retak seketika di bawah bobot tubuh zirah besi Vargas. Pijakan itu ambles ke dalam lumpur hisap, membuat tubuh sang veteran oleng ke samping. Shizuka yang memegang sabuk ikut terseret kehilangan keseimbangan, kakinya tergelincir ke tepi kubangan asam.

Sebelum Ren sempat menarik mereka kembali, sebuah rongga gas metana bertekanan tinggi di bawah patahan batu meledak ke udara.

BOOOM!

Pilar api biru menyembur setinggi sepuluh meter dari dasar lumpur dengan raungan memekakkan telinga. Gelombang panas bersuhu ribuan derajat langsung menelan Vargas, Riku, dan Shizuka dalam sekejap mata.

Hawa panas yang luar biasa menyambar tubuh Ren, menghanguskan rambut dan pakaiannya, serta membakar seluruh oksigen di dalam paru-parunya. Kulitnya melepuh sebelum kesadarannya terhempas ke dalam kegelapan mutlak yang membakar jiwa.

Kesadarannya tersentak kembali ke udara dingin di atas formasi karang sempit.

Dada Ren berdenyut nyeri. Bau daging terpanggang dan sensasi terbakar di kulit kepalanya masih terasa nyata di dalam ingatan sensoriknya, mengirimkan gelombang mual yang hebat ke kerongkongannya. Darah segar menetes dari sudut bibir bawahnya yang digigit rapat. Ia menelan paksa ludah pahit, mengunci pandangannya ke punggung perisai Vargas yang baru saja bersiap melompat ke arah kanan.

Salah perhitungan.

Ren mengukur rute pelarian berdasarkan bobot tubuhnya sendiri yang ringan. Beban zirah besi Vargas dan tubuh Riku terlalu berat untuk lempengan kapur tipis di jalur kanan, memicu retakan yang merusak kubah perangkap gas di bawah lumpur.

"Paman Vargas, tahan!" teriak Ren sekuat tenaga, suaranya parau membelah deru kabut. "Jangan ambil jalur kanan!"

Otot paha Vargas yang sudah menegang untuk melompat terhenti seketika oleh bentakan darurat itu. "Apa?! Itu jalur paling cepat menuju tebing!"

"Lempengan itu jebakan gas!" seru Ren menarik bahu sang veteran ke arah berlawanan dengan cengkeraman keras. "Patahkan langkah ke kiri! Ambil punggung karang hitam di samping pilar basal!"

Refleks militer Vargas yang terlatih dalam puluhan pertempuran perbatasan membuatnya memutar poros badannya tanpa membantah. Pria tua itu menjejakkan tumitnya ke batu cadas hitam di sebelah kiri, membawa mereka melipir di sepanjang dinding tebing basal yang kokoh.

KRA-BOOOM!

Tepat saat sepatu bot Vargas menapak di punggung karang hitam, lempengan batu kapur di sebelah kanan meletup dengan suara menggelegar.

Pilar api biru menyembur ganas dari dasar rawa, membakar kabut ungu dan menjilat kubah langit-langit gua dengan percikan belerang mendidih. Gelombang kejutnya menghempaskan angin panas yang menyengat pipi mereka, menerbangkan debu batu dan serpihan lumpur ke segala arah.

Shizuka membelalak ngeri menatap kobaran api yang membakar udara kosong tempat mereka seharusnya berpijak jika tidak berbelok arah. Keringat dingin mengucur membasahi pelipisnya yang pucat, bibirnya bergetar tanpa sanggup mengeluarkan kata.

"Semburan gas bawah tanah..." bisik Shizuka dengan suara tercekat di tenggorokan.

Vargas melirik sekilas ke arah pilar api yang perlahan mereda, lalu menolehkan kepalanya menatap Ren.

Tatapan mata veteran itu tampak gelap dan dipenuhi tanda tanya besar. Tidak ada prajurit jelata yang bisa memprediksi letupan kantung gas di bawah lapisan lumpur setebal dua meter dengan ketepatan hitungan detik seperti itu.

Namun desisan kawanan kadal rawa di belakang mereka tidak memberi ruang untuk perdebatan.

Darah kawanannya yang terbakar api gas memicu amarah liar dari predator yang tersisa. Lima ekor kadal pemangsa berkepala pipih melesat menembus air rawa, merayap naik ke dinding tebing basal untuk menyergap barisan penyintas dari arah belakang.

"Mereka memanjat tebing karang!" teriak Riku yang mengawasi dari atas pundak Ren.

"Shizuka, botol minyak herbal di sabukmu!" perintah Ren cepat seraya mempercepat langkahnya. "Lemparkan ke genangan lumut di bawah mereka!"

Shizuka tidak bertanya alasan perintah itu. Dengan tangan yang gemetar namun cekatan, gadis itu mencabut botol kaca kecil berisi minyak antiseptik dari kantung selempangnya dan melemparkannya ke kubangan lumut di bawah cakar dua monster terdepan.

Prang!

Botol kaca pecah berkeping-keping di atas batuan cadas. Minyak herbal yang mudah terbakar menyebar di atas lumut basah, langsung tersambar oleh sisa bara api gas rawa yang tertiup angin.

Kobaran api seketika menjalar di sepanjang lereng bawah tebing basal, membentuk dinding api yang memotong jalur pendakian dua ekor kadal rawa. Monster-monster itu memekik saat cakar berselaput mereka terpanggang panas, memaksa mereka terjun kembali ke dalam air lumpur yang berbusa.

Tiga ekor lainnya berhasil melompati batas api, menerjang lurus ke arah posisi Shizuka dengan rahang terbuka lebar.

"Paman, putar perisai serong kiri!" seru Ren memberi aba-aba taktis.

Vargas menggeser kakinya ke celah batu, mengayunkan tepi bawah perisai besinya bagaikan gada raksasa.

BUM!

Moncong kadal pertama menghantam pelat besi Vargas dengan benturan keras. Tulang tengkorak reptil itu remuk seketika, tubuhnya terlempar ke samping membentur dinding tebing dan jatuh tak berdaya.

Di saat yang sama, Ren menurunkan tubuh Riku ke lantai batu yang aman di balik pilar basal, lalu melangkah maju ke titik buta kadal kedua. Belati taring hitam di tangan kanannya melesat dalam tikaman menyilang ke bawah rahang lunak sang pemangsa.

Bilah taring purba itu menembus rongga mulut monster hingga tembus ke otak belakang. Monster itu kejang-kejang sesaat sebelum ambruk tanpa nyawa di atas kerikil karang.

Kadal ketiga yang melihat dua rekannya tewas mendadak ragu-ragu, mendesis liar seraya merayap mundur ke arah kubangan kabut ungu.

"Mulut terowongan ada di atas!" seru Ren menunjuk ceruk gua setinggi dua meter di dinding tebing. "Paman, dorong Shizuka dan Riku naik lebih dulu!"

Vargas menancapkan perisainya ke celah karang sebagai tumpuan kaki. "Naik, Cepat!"

Shizuka memanjat tepi perisai dengan gesit, menarik tubuh Riku ke dalam celah terowongan kering yang bebas dari racun rawa. Ren melompat menyusul mereka, lalu berbalik mengulurkan tangannya ke bawah tebing.

"Paman Vargas, berikan tanganmu!"

Vargas menarik perisai besinya yang berlumuran lendir monster, meraih cengkeraman tangan Ren dengan kekuatan ototnya yang tersisa, lalu memanjat masuk ke dalam ceruk gua.

Klaang!

Vargas membanting perisai besinya menutupi celah sempit di mulut terowongan, mengganjal bagian bawahnya dengan sebongkah batu basal besar.

Keempat penyintas itu jatuh terduduk di lantai batu yang kering, menyandarkan punggung mereka ke dinding gua dengan dada kembang kempis.

Udara di dalam terowongan ini terasa dingin dan bersih, bebas dari bau belerang rawa yang menyesakkan dada. Di luar celah perisai, suara desisan kawanan kadal rawa perlahan-lahan menjauh ditelan keheningan kabut Lantai 10.5.

Shizuka terkapar lemas di samping Riku, jemarinya yang kotor mengusap wajahnya yang basah oleh air mata dan keringat. "Kita... kita benar-benar berhasil lolos dari rawa itu..."

Riku memeluk lutut kanannya, napasnya mulai teratur meski rasa nyeri di betisnya masih berdenyut perih. "Terima kasih, Kak Ren... Paman Vargas..."

Di sudut terowongan yang remang-remang, Vargas merogoh kantung air tembaga dari pinggangnya. Ia meneguk sisa air dingin yang tinggal sedikit untuk membasahi kerongkongannya yang kering, lalu menyodorkan kantung tersebut ke arah Ren.

"Minumlah, Ren," ucap Vargas dengan suara berat dan serak.

Ren menerima kantung air itu, meminum seteguk air segar yang meredakan rasa panas di pangkal tenggorokannya, lalu mengembalikannya kepada sang veteran dengan anggukan singkat.

Vargas menatap belati taring monster di tangan Ren, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata gelap pemuda itu.

Di bawah pendar lumut gua yang temaram, sorot mata sang veteran menyipit tajam. Tidak ada lagi sisa kehangatan seorang paman angkat di barisan pelopor; yang tersisa adalah kewaspadaan seorang prajurit tua yang menyadari bahwa ada sesuatu yang mengerikan di balik kemampuan bertahan hidup pemuda di hadapannya.

"Ren," bisik Vargas pelan, suaranya sarat dengan nada introgasi yang tertahan. "Sejak kapan kau tahu letak perangkap gas rawa itu?"

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!