Kematian Arin yang tidak disangka malah menimbulkan petaka. Padahal keluarga dan semua teman sahabat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk yang mengaku roh dari Arin. Ikuti kisahnya . Banyak rahasia tersembunyi di balik apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🌹Ossy😘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
"Bumbu rujak sudah jadiiii...." Ran datang membawa cobek yang berisi bumbu rujak yang sangat menggoda selera.
" Jambunya mana Ran ."
" Tadi ditaruh di mana jambunya. Bukan kah Rama yang membawa ya.." Ran kebingungan. Pasalnya Rama hanya menyuruh dia membuat bumbu. Tidak dengan jambunya.
" Sama Rama dibawa masuk tadi..Yuk Ran gue bantu cari.. "
Fian bangkit dan mengikuti Ran ke dalam. Rama pun ikut masuk. Karena dia yang menyimpan jambu tadi. Tapi Rama tidak menemukan jambu tersebut. Seingat dia tadi dia taruh di atas meja makan.
Satu kantung kresek ukuran sedang. Seharusnya keliatan jelas. Namun di atas meja tidak terlihat apapun.
" Benar Ram, kamu taruh di sini?" Ran bertanya lagi pada Rama untuk memastikan. Rama mengangguk mantab.
Mereka tentu saja kebingungan. Jambu sebanyak itu bisa hilang begitu saja. Jika ada yang memindahkan, lalu siapa. Karena mereka berempat ada di ruang depan.
" Ada apa kalian mondar-mandir mencari apa sih." Bara datang. Dia melihat mereka yang seperti orang kebingungan tentu saja penasaran ingin tahu apa yang terjadi.
" Abang tahu ga, jambu yang tadi kita petik ada di mana ?"
" Itu yang di atas meja apa.? Bukannya jambu ya.." Bara menunjuk ke arah kantong plastik yang ada di atas meja. Mereka semua saling pandang.
" Dari tadi kita mencari , di sini tidak ada apa-apa. Kita yang buta atau...." Ucap Fian sambil melihat ke sekeliling.
Bulu kuduk Fian mulai meremang. Dia menatap satu persatu orang yang ada disana. Mencari kebenaran dengan apa yang ada di otaknya. Pandangannya bertemu dengan Ran. Mereka berdua saling pandang, untuk memastikan sesuatu keanehan tersebut.
Ran juga terdiam. Otaknya mulai bekerja. Kemudian dia juga melihat ke sekeliling dengan ekor matanya. Bulu kuduknya pun mulai meremang.
" Kalian berdua kenapa. Kok terlihat tegang.." Tidak sengaja Rama memergoki tingkah Ran dan Fian.
Rama heran melihat tingkah Ran dan Fian. Dia sendiri tidak merasakan apa pun. Walaupun dia tahu yang baru saja terjadi adalah hal di luar nalar.
" Kalian kenapa? Kita jadi bikin rujak apa tidak. Sayang bumbu sudah dibikin. Sini saya saja yang menyiapkan jambunya. "
Bara melangkah ke dapur mengambil tempat untuk tempat jambu. Kemudian mengambil beberapa buah jambu dan mencucinya di wastafel. Sebenarnya Bara menyadari tingkah Ran dan Fian. Hanya saja dia tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang hal tersebut.
Apalagi Bara sering juga mengalami hal yang aneh belakangan ini. Pasti dia juga merasakan apa yang Ran dan Fian pikirkan. Bara belum ingin membahasnya. Waktunya tidak tepat. Sebentar lagi pasti bunda pulang dari pasar. Dia hanya tidak ingin bunda mendengar kejadian apa yang pernah mereka alami. Hanya menjaga perasaan bunda saja.
" Ini jambunya sudah. Kita mau makan di mana..?" Bara mengangkat satu baskom jambu yang telah bersih dan sudah dipotong juga.
" Di bawah pohon jambu aja yuk.." Fian bangkit sambil membawa cobek yang berisikan sambal rujak buatan Ran tadi.
" Eh Ran jangan lupa, bawain gelas gue ya. Tadi belum sempet mengambil di belakang." Sambung Fian. Kemudian dia mendahului yang lain berjalan menuju halaman. Mau tidak mau yang lain mengikuti Fian. Bagaimana tidak sambalnya sudah dibawa oleh Fian.
Sedangkan Ran menuju dapur untuk mengambil gelas yang Fian minta. Sebelum itu Ran ke kamar mandi untuk buang air kecil. Namun saat berjalan kembali dari kamar mandi, Ran tidak sengaja melihat sesuatu di pojok dapur.
Ran mendekati tempat tersebut. Di sana terlihat seperti sesaji berupa kembang tujuh rupa yang ditempatkan di sebuah wadah dari tanah liat. Dan di dalam wadah tersebut juga terdapat foto Arin yang ujungnya terbakar. Di samping wadah tersebut ada tungku kecil dari tanah liat juga yang didalamnya terdapat abu dan arang yang berbau kemenyan.
Ran menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia heran tadi pagi di saat dia membersihkan dapur, ditempat tersebut tidak terdapat apapun. Bahkan seingat Ran tempat tersebut memang tempat kosong dan sering di pakai untuk menaruh keranjang belanjaan. Lalu sekarang. Ada yang aneh terjadi.
Ran kembali melihat ke sekeliling. Otaknya mulai bekerja. Dia sedang berpikir kira-kira siapa yang menaruh wadah tadi. Semenjak bunda dan Nia pergi memang Ran tidak ke dapur lagi. Tapi tidak mungkin kalau hal tersebut dilakukan oleh bunda.
Ran teringat Fian. " Fian tadi terlihat pucat mungkin melihat wadah tersebut. Coba nanti gue tanyain. Sebaiknya ini disingkirkan terlebih dahulu biar bunda tidak melihat." Gumam Ran.
Ran membuang air dan memasukkan bunga ke dalam plastik. Sedangkan foto Arin dia ambil dia simpan di kamarnya. Sedangkan wadah tersebut dia bawa keluar, sengaja akan dia taruh di belakang rumah.Kalau dia simpan di kamarnya takutnya ada yang melihat dan mencurigainya.
Ran berjalan ke depan membawa kantung berisi bunga dan sampah lain untuk menyembunyikannya. Ini masalah pelik. Bisa- bisa dia yang malah nanti dicurigai.
" Ran.. sini keburu habis rujuknya. " Fian berteriak memanggil Ran, saat melihat Ran melintas .
" Iya sebentar. Buang sampah dulu." Jawab Ran. Setelah dia membuang sampah, Ran mendekati mereka yang sedang makan rujak dengan lahab.
" Kok Habis bumbunya..." Ran melongo ketika melihat cobek yang kosong. Bumbu rujak yang hanya tinggal sisa-sisa saja.
" Enak Ran. Jadi ya maaf habis.." Ucap Fian . Dia terlihat berkeringat. Mungkin karena makan bumbu rujak yang pedas. Bara juga terlihat berkeringat. Namun dia tidak berhenti juga mengunyah jambu yang masih ada.
" Apa boleh saya minta jambunya untuk dibawa pulang. Mama sangat suka jambu air ini.." Ucap Bara sambil megap-megap menahan pedas.
" Boleh Bang, nanti gue petik lagi. Masih banyak di atas.. " Rama menyahut ucapan Bara.
" Terima kasih ya Rama.."
Rama hanya tersenyum mendengar ucapan Bara. Bara memang selalu terlihat menyejukkan di mata Rama. Seandainya Arin masih hidup, Rama pasti menyetujui hubungan mereka. Namun apalah daya....
Srreeeeeeettttttt.......
Semua orang terkejut. Tiba-tiba ada suara seperti sesuatu yang diseret. Mereka berempat melihat ke sekeliling. Bahkan mereka juga menengadah melihat ke atas. Namun tidak menemukan apapun.
" Apa tadi.." Fian membuka suara.
Mereka saling pandang. Kemudian mereka menggeleng pelan. Tidak sengaja mereka berempat melakukan hal yang sama.
" Ya sudahlah biarkan saja. Sudah lanjutkan makannya. Nanggung itu bumbu masih sedikit , sayang kalau sisa.." Ucap Ran menetralisir suasana. Dia tidak mau mereka terpaku pada hal yang terjadi barusan.
" Mungkin itu hanya suara daun pisang yang tertiup angin..." Lanjut Ran lagi.
"Srrreeeeetttttt........"
Dan memang tak lama kemudian terdengar suara itu lagi. Dan setelah diamati ternyata benar. Tak jauh dari mereka ada pohon pisang yang daunnya sudah mengering dan jatuh menjuntai ke bawah dan menimbulkan suara yang sama.
Mereka melanjutkan makan rujak yang tinggal sisa-sisa suapan terakhir. Dan rujak itu benar-benar kandas tiada sisa sedikitpun.
" Sudah kenyang dan sampai ke mata."
Fian duduk bersandar sambil termenung. Dan mungkin juga kekenyangan. Dia bersandar sambil menengadahkan kepala menghadap ke atas , melihat pohon jambu yang berbuah lebat. Dia memejamkan mata.
Sejenak dia terbayang kejadian tadi.
Fian masuk rumah sambil bersiul. Dia memang sudah terbiasa di rumah ini. Dia menganggap rumah tersebut seperti rumah sendiri. Itu juga karena permintaan ayah dan bunda. Fian sudah dianggap keluarga dan ternyata Fian memang termasuk saudara dekat keluarga Yanto.
Namun Fian tetap tahu batasan apa yang bisa atau tidak dia lakukan. Seperti saat ini hanya mengambil sebuah gelas di dalam rumah, dan itu biasa dia lakukan kalau cuma masuk dapur.
Kali ini terasa berbeda. Begitu masuk rumah hawa dingin sudah dia rasakan. Dingin seperti ruangan ber-AC . Padahal Fian tahu rumah Arin tidak memakai peralatan tersebut. Hanya ada kipas angin.
Fian berhenti sejenak di ambang pintu. Dia ragu mau meneruskan langkah. Tapi kakinya terus melangkah seperti ada yang menuntun. Fian tidak bisa menolak ajakan tersebut. Dia terus melangkah sampai pintu dapur.
Tercium aroma kemenyan yang begitu kental. Menusuk hidung membuat pernafasan terasa sakit. Fian ingin berbalik, namun matanya menatap sebuah bayangan di ujung dapur. Bayangan seseorang berpakaian putih dengan rambut terurai. Dengan wajah pucat dan penuh luka. Darah menetes dari luka tersebut.
Fian hanya bisa menatap. Bahkan dia tidak bisa berpaling sama sekali. Seperti dipaku untuk menatap wajah tersebut. Jantung Fian sudah berdetak sangat cepat. Bulu kuduk meremang. Keringat membasahi kening dan juga tubuhnya.
" Tooolooong.... Sakit....sakit..."
Wajah sosok penampakan itu terlihat sungguh menyedihkan. Fian sungguh tidak tega. Dia ingin berpaling. Tapi tetap tidak bisa.
" Tooolooong... Sakit ..sakit..."
Suara itu terdengar lagi. Fian merasa harus menguatkan dirinya. Dia harus bisa menguasai dirinya agar tidak pingsan. Walaupun sebenarnya rasanya ingin pingsan.
" Apa yang ha..rus... Gue tooolooong.." Dengan terbata dan menguatkan hati Fian beranikan diri untuk bertanya. Dia merasa takut sebenarnya namun juga penasaran. Ada sosok siang hari yang berani menampakkan diri, menurut Fian itu adalah hal yang paling mustahil. Namun itu terlihat nyata. Karena sedari dia masuk ruangan dapur memang berubah menjadi temaram.
Dan mungkin sosok tersebut benar-benar membutuhkan pertolongannya.
Sosok itu menunjuk ke arah lain ke arah depan. Tiba-tiba pandangan Fian merasa dituntun untuk mengikuti ke arah tersebut. Ke arah ujung ruang dapur yang lain.
Dan di ujung dapur yang ditunjukkan sosok itu, Fian melihat sebuah perapian kecil dari tanah liat yang membara dan diatasnya terdapat foto Arin yang pojoknya mulai terbakar. Di sampingnya ada wadah lain berisi kembang tujuh rupa.
Fian sangat terkejut dan juga tidak percaya. Dia pandangi wadah itu. Dia pandangi foto Arin yang mulai terbakar sedikit demi sedikit. Bau kemenyan menguar semakin santer. Sangat menyesakkan.
" Tooolooong...Toolooooooooooooong..."
Bersamaan dengan suara yang seperti Lolongan itu, sosok penampakan itu menghilang. Terbang entah kemana. Ruang dapur kembali terang.
Fian merosot. Dia jatuh terduduk. Dia sudah tidak sanggup menopang kakinya yang terasa sangat lemas. Keringat bercucuran. Wajahnya sangat pucat seperti tanpa darah.
" Astaghfirullah.. Apa tadi. Sosok siapa tadi. .." Gumam Fian. Akhirnya mulutnya bisa digerakkan walaupun hanya suara yang lemah yang terdengar. Pandangan Fian masih kearah pojok ruangan yang ada tungku kecil. Dengan merangkak Fian mencoba mendekati tempat tersebut. Dan akhirnya dia sampai tempat tersebut walaupun dengan perlahan.
Fian meraih dengan segera foto Arin tersebut agar jangan sampai terbakar. Dia tidak rela melihat foto orang yang dia sayangi itu terbakar. Sangat tidak rela walaupun hanya sebuah foto.
Dan dia berhasil menyelamatkan foto tersebut dan segera memasukan foto tersebut ke dalam air kembang di sebelahnya.
" Siapa yang melakukan ini. Kurang ajar. Lihat saja sampai gue temukan.. Habis gue bantaii orang itu..."
" Fian apa maksud kamu?..Apa yang kamu katakan...?"
Fian terkejut. Dia mendengar suara orang lain . Padahal tadi di dapur dia sendirian. Fian melihat ke sekeliling. Ternyata dia berada di bawah pohon jambu.
" Fian apa yang terjadi...?" Ran yang terkejut mendengar ucapan Fian segera mendekati Fian.
" Memang apa yang gue katakan.." Fian merasa kebingungan. Dia melihat satu persatu mereka yang ada disana.
" Tadi Abang bilang mau membantai orang, kenapa? Siapa dia?" Cerca Rama.
Fian terdiam. Dia menarik nafas panjang. Dadanya Tiba-tiba terasa sesak. Dia mulai sadar. Ternyata dia melamun tadi. Kejadian tadi yang sangat menakutkan. Kejadian tadi terbayang kembali sangat jelas di pelupuk matanya.
" Apa gue mimpi buruk ya. Padahal cuma terpejam sebentar." Ucapnya kemudian.
" Iya kita tahu kamu sampai mengeluarkan kata-kata yang seperti itu. Dan itu baju kamu basah oleh keringat. Seburuk apa mimpi kamu.." Bara yang juga merasa penasaran ikut mencerca Fian.
Bara merasa Fian juga mengalami kejadian aneh. Dia harus bisa mengorek cerita dari Fian dan juga yang lain. Bara merasa harus segera bertindak agar segera terkuak apa yang sebenarnya.
Bersambung
terima kasih buat kalian yang sudah mampir. Love untuk kalian semua ❤️❤️❤️
bakalan cerita ga ni si Ran😵😵
eh eta penunggu pohon jambunya mulai nongolin diiri yaa 🙈🙈hiii ko seremm🏃♀🏃♀
terimakasih sudah menghadirkan cerita ini sukses terus oyys.
di tunggu novel berikutnya