NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 02.

Pagi di SMA Pancasila selalu bising, tapi koridor gedung B mendadak terasa sepuluh kali lipat lebih berisik begitu Stella melangkah masuk. Gadis itu berjalan dengan ritme asal-asalan—setengah melompat, setengah menyeret sepatunya—sambil menenteng sebuah kantong plastik transparan.

Di dalamnya, sebuah botol minuman isotonik dingin berwarna biru tampak berembun.

Itu minuman kesukaan Gibran, kapten tim futsal sekolah yang terkenal dingin, irit bicara, dan punya tatapan mata yang bisa membuat nyali orang ciut dalam tiga detik.

Stella tahu itu. Seluruh sekolah juga tahu. Tapi Stella tetaplah Stella. Bagi gadis berambut kuncir kuda yang terkenal petakilan dan tidak punya urat malu ini, dinding es di sekitar Gibran adalah sebuah tantangan yang harus diruntuhkan.

"Misi, misi! Tuan Putri mau lewat!" seru Stella asal, menabrak bahu beberapa anak cowok yang sedang mengobrol di depan mading. Mereka hanya mendengus, sudah biasa dengan kelakuan ajaib Stella.

Langkah Stella mendadak melambat begitu matanya menangkap siluet yang dicarinya. Di ujung koridor dekat loker olahraga, Gibran sedang berdiri sendirian. Cowok itu baru saja menyelesaikan sesi latihan pagi terbukti dari rambut hitamnya yang basah oleh keringat dan jersei futsal bernomor punggung 10 yang melekat di tubuh tegapnya.

Dia sedang menunduk, fokus menggulung deker pelindung kaki dengan gerakan ritmis.

Stella memasang cengiran lebar, lalu setengah berlari menghampiri Gibran.

"Pagi, Kapten! Segar bener kayak sayuran di pasar induk," sapa Stella tanpa basa-basi, langsung menyodorkan botol isotonik dingin itu tepat beberapa sentimeter di depan wajah Gibran.

Gibran tidak langsung merespons. Gerakan tangannya merapikan tas olahraga terhenti. Dia menghela napas pendek, sebuah tanda yang jelas bahwa dia terganggu, sebelum akhirnya mendongak. Matanya yang tajam menatap botol biru itu, lalu beralih ke wajah Stella yang tampak tanpa beban.

"Apa ini?" tanya Gibran, suaranya berat dan datar.

"Minuman lah. Masa oli samping. Nih, buat lo. Gue tahu lo abis lari-lari ngejar bola, pasti haus kan? Buruan ambil, pegel nih tangan gue," ujar Stella, menggoyang-goyangkan botol itu hingga butiran airnya menciprat ke udara.

Gibran menatap tangan Stella, lalu kembali menatap mata gadis itu. Tidak ada binar ramah di sana. Hanya ada kehampaan yang konsisten.

"Gue nggak minta," kata Gibran pendek. Dia berbalik, berniat menggendong tas olahraganya dan pergi begitu saja.

"Eh, bentar dong! Sombong amat sih!" Stella dengan gesit menggeser tubuhnya, menghadang jalan Gibran. Sikap petakilannya berganti dengan kerutan di dahi, setengah kesal tapi lebih banyak gengsi yang mendadak terusik. "Gue sengaja lari ke koperasi depan ya sebelum bel, demi beliin ini. Kurang baik apa coba gue?"

Gibran menghentikan langkahnya. Jarak mereka dekat, cukup dekat hingga Stella bisa mencium aroma samar keringat dan sabun maskulin dari tubuh cowok itu. Bukannya luluh, tatapan Gibran justru semakin menggelap. Ada kejengkelan yang nyata di sana, bukan sekadar pura-pura jual mahal.

"Stella," panggil Gibran. Suaranya pelan, tapi penekannya begitu dingin hingga membuat bulu kuduk meremang. "Gue bilang, gue nggak minta. Dan gue nggak butuh."

"Tinggal ambil apa susahnya sih, Gibran? Tinggal minum, abis itu buang botolnya. Repot banget!" balas Stella, suaranya mulai meninggi, memancing perhatian beberapa siswa yang mulai berlalu-lalang di koridor.

"Gue nggak suka dipaksa. Dan gue lebih nggak suka sama orang yang nggak tahu batasan kayak lo," ucap Gibran telak.

Kata-kata itu tidak diucapkan dengan teriakan, melainkan dengan artikulasi yang sangat jelas dan tajam.

Gibran melangkah maju, memaksa Stella untuk mundur selangkah karena intimidasi yang begitu kuat. Tanpa melirik botol itu lagi, Gibran berjalan melewati Stella, meninggalkan embusan angin dingin yang kontras dengan udara pagi yang mulai menghangat.

Stella terpaku di tempatnya. Senyum petakilan yang biasanya menjadi tameng terbaiknya mendadak runtuh.

Rasanya seperti ditampar di depan umum. Dada nya berdenyut agak nyeri, sebuah reaksi logis ketika niat baik—meski dibungkus dengan cara yang menjengkelkan—ditolak mentah-mentah secara kasar.

Beberapa pasang mata di koridor sempat melihat kejadian itu, berbisik-bisik pelan sambil melempar pandangan kasihan bercampur ejekan.

Stella menarik napas dalam-dalam. Sudut bibirnya dipaksa terangkat lagi, mencoba mengembalikan topeng,

Stella yang tidak punya kemaluan.

Namun, tangannya yang memegang botol isotonik itu sedikit gemetar. Air dingin yang mencair dari dinding botol kini terasa seperti es yang membekukan telapak tangannya.

"Dasar cowok kulkas dua pintu. Nggak tahu terima kasih," gumam Stella, berusaha meredam gemuruh di dadanya.

Dia berbalik dengan hentakan kaki yang sengaja dibuat keras, berjalan menjauhi koridor olahraga. Dia tidak sudi meminum air itu. Rasanya gengsi jika harus menenggak minuman yang baru saja ditolak oleh orang yang paling ingin dia buat terkesan.

Mau dibuang ke tempat sampah pun, rasanya sayang karena uang jajannya terpotong demi botol ini.

Langkah kaki Stella membawanya ke area belakang sekolah, dekat pohon beringin tua yang berbatasan dengan pagar pembatas luar. Suasana di sini sepi, tempat pelarian yang pas untuk menetralkan rasa malu yang mendadak membakar pipinya.

Saat Stella duduk di bangku semen yang agak berlumut, sebuah suara meong kecil yang serak terdengar dari bawah semak-semak.

Stella menunduk. Dari balik dedaunan, muncul seekor kucing kampung berbulu oranye kusam dengan sebelah telinga yang robek.

Kucing itu tampak kurus, jalannya agak pincang, dan napasnya sedikit memburu karena terik matahari pagi yang mulai menyengat.

Kucing itu mendekati sepatu Stella, mengendus ujung talinya, lalu mendongak sambil mengeong lemah.

"Eh, cing... lo laper apa haus?" tanya Stella, beralih jongkok di depan kucing tersebut.

Melihat kucing yang kepanasan dan tak berdaya itu, ingatan Stella mendadak terlempar pada tatapan mata Gibran yang tajam dan menolak kehadirannya.

Rasa tertolak itu menyakitkan, dan melihat makhluk kecil ini telantar sendirian di sudut sekolah membuat Stella merasakan semacam ikatan nasib yang aneh.

"Lo sama kayak gue ya. Sama-sama nggak dianggap," bisik Stella, tawanya terdengar hambar dan sedikit getir.

Stella melihat botol isotonik di tangannya. Dia tahu kucing tidak boleh minum minuman manis atau berenergi terlalu banyak, tapi melihat wadah plastik bekas mangkuk bakso yang kosong di dekat sana, Stella punya ide lain.

Di dekat keran air bersih tak jauh dari situ, Stella membilas wadah plastik tersebut, lalu mengisinya dengan air keran yang bersih untuk si kucing.

Namun, melihat botol biru di tangannya, Stella merasa sangat muak. Dia membuka tutup botol isotonik itu, lalu dengan perasaan campur aduk, dia menuangkan sedikit isinya ke tanah, lalu sebagian kecilnya dicampur ke air bersih tadi, berharap rasanya yang sedikit manis bisa memberikan energi untuk kucing kurus itu.

Sisa minuman di botol yang masih banyak itu dia letakkan begitu saja di samping wadah air.

Si kucing langsung menjilati air campuran itu dengan lahap. Stella tersenyum kecil, tangannya bergerak mengelus kepala kucing yang kasar itu dengan lembut.

"Nah, pinter. Habisin ya. Daripada dikasih ke manusia batu yang nggak punya hati, mending buat lo. Minimal lo tahu cara bilang makasih lewat meong lo," kata Stella, suaranya melunak, kehilangan seluruh nada petakilan yang biasa dia pamerkan di depan kelas.

Di balik dinding bangunan, tak jauh dari tempat itu, sebuah bayangan berdiri diam. Gibran berdiri di sana, dengan tas olahraga yang masih menggantung di bahunya.

Dia sebenarnya berniat pergi ke kantin belakang untuk membeli air mineral biasa, namun langkahnya terhenti begitu melihat Stella berjalan ke arah pohon beringin.

Dari jarak beberapa meter, Gibran menyaksikan semuanya. Dia melihat bagaimana runtuhnya pertahanan gadis yang selalu mengganggunya dengan tingkah heboh itu.

Dia melihat Stella yang berbicara lirih pada seekor kucing jalanan, memperlakukan makhluk itu dengan kelembutan yang tidak pernah dia perlihatkan di koridor sekolah.

Gibran menatap botol biru yang kini tergeletak di tanah, diabaikan setelah ditolaknya mentah-mentah.

Tidak ada kilat penyesalan yang melintas di matanya, sebelum akhirnya dia berbalik dan berjalan pergi tanpa suara, meninggalkan Stella yang masih sibuk menemani si kucing di bawah bayang-bayang pohon beringin.

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!