Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pohon Tumbang
Suara sirene ambulans yang melintas kencang tadi telah lama berlalu, namun sisa-sisa kehebohan di jalan raya depan warung soto Mbok Darmi masih terasa pekat. Beberapa pelanggan warung tampak meninggalkan mangkuk mereka setengah penuh, berbondong-bondong keluar ke tepi jalan untuk melihat ke arah barat pasar tempat pohon besar di dekat balai desa dilaporkan tumbang secara misterius.
Raka meletakkan sendoknya pelan di atas piring plastik. Ia menatap mangkok sotonya yang masih mengepulkan uap tipis, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Bayu dan Dimas yang tampak sama-sama kehilangan selera makan.
"Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba pohon besar tumbang melintang di jalan utama," gumam Raka pelan, menyuarakan keanehan yang baru saja didengarnya dari pria meja sebelah.
"Padahal cuaca hari ini terang benderang. Kalau pun ada angin puyuh, warung kita pasti ikutan kena imbasnya."
Bayu meneguk es teh manisnya hingga tandas, lalu menyeka mulutnya dengan punggung tangan. "Ah, paling-paling itu cuma pohon tua yang akarnya sudah keropos dimakan usia, Ka. Namanya juga tanaman, kalau sudah waktunya roboh ya roboh aja, nggak perlu pakai undangan."
"Pohon sebesar pohon beringin tua tidak akan tumbang begitu saja tanpa sebab yang jelas," sanggah Dimas dengan suara datarnya yang tenang, menatap lurus ke meja dengan ekspresi berpikir.
"Apalagi sampai membuat warga se kecamatan heboh dan ambulans harus turun tangan. Pasti ada sesuatu yang terjadi di sana."
Di sudut ruangan, Zahmira berdiri tegak dengan tatapan menerawang ke luar jendela. Meskipun ia tidak ikut nimbrung di meja bersama tiga pemuda itu, gerak-gerik dan perubahan raut wajahnya sejak berita pohon tumbang itu terdengar sama sekali tidak luput dari pengamatan Raka.
Sang putri jin tampak terdiam seribu bahasa, jemari lentiknya sesekali meremas ujung gaun ungunya dengan gerakan yang sangat halus.
Raka menyadari ada yang tidak beres. Ia bangkit dari kursi plastiknya, lalu melangkah mendekati Zahmira dengan langkah pelan.
"Mbak Zahmira," panggil Raka setengah berbisik agar tidak didengar oleh Mbok Darmi atau pengunjung lain yang masih sibuk bergosip. "Mbak kelihatan aneh sejak tadi. Apakah pohon beringin yang tumbang di dekat balai desa itu... ada hubungannya dengan sesuatu dari dunia Mbak?"
Zahmira menoleh perlahan. Sorot mata tajamnya menatap Raka dengan ekspresi dingin yang dibuat-buat, meskipun ada bayang-bayang keraguan yang melintas di balik manik matanya.
"Jangan sembarangan menuduh, manusia. Di dunia ini banyak sekali kejadian alam yang terjadi di luar nalar sempit kalian."
"Bukannya menuduh, Mbak," balas Raka sabar, melipat kedua tangannya di dada. "Tapi raut wajah Mbak berubah drastis pas pria sebelah tadi bilang cuacanya cerah tapi pohonnya tumbang. Biasanya kalau Mbak pasang muka begitu, artinya ada hal besar yang sedang disembunyikan."
Zahmira mendengus sinis, membuang muka ke arah jalanan. "Sudahlah, habiskan makanan kalian yang berantakan itu. Kita harus segera kembali ke kamar kos sebelum perempuan berdaster hijau lumut itu datang mencarinya."
Meskipun Zahmira menolak bicara lebih jauh, Raka tahu betul bahwa perempuan itu sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, mendesak Zahmira untuk bicara saat ini bukanlah pilihan yang bijak. Dengan menghela napas panjang, Raka kembali ke meja untuk membayar tagihan soto mereka kepada Mbok Darmi.
Lima belas menit kemudian, Raka, Bayu, Dimas, dan Zahmira berjalan pulang menyusuri jalan pintas yang berada tepat di sisi barat balai desa jalur yang kebetulan melintasi lokasi kejadian pohon beringin tumbang.
Suasana di sekitar lokasi tampak sangat padat.
Garis polisi berwarna kuning tampak membentang melingkari area pohon besar yang rebah melintang menutupi sebagian badan jalan. Beberapa petugas kepolisian bersama warga sekitar tampak sibuk bergotong royong memotong ranting-ranting besar menggunakan gergaji mesin, sementara lalu lintas dialihkan ke jalan alternatif.
Raka dan kawan-kawan memperlambat langkah mereka saat mendekati kerumunan warga yang sedang berbisik-bisik membicarakan insiden tersebut.
"Sumpah aneh banget, Pak RT!" seru salah seorang warga kepada kepala dusun yang berdiri di dekat reruntuhan dahan. "Waktu saya lewat sini jam sepuluh tadi, pohonnya masih segar bugar. Tiba-tiba pas jam sebelas kurang seperempat, ada suara dentuman keras mirip ledakan kecil, eh, tahu-tahu akarnya sudah terangkat ke atas!"
"Iya, benar!" sahut warga lainnya menimpali.
"Anehnya lagi, pas kayunya mau dipotong sama gergaji mesin tadi, mata pisau gergajinya langsung patah jadi dua! Padahal baru juga nyentuh batangnya."
Mendengar percakapan para warga itu, Bayu merinding seketika. Ia merapatkan posisinya di sebelah Raka, berbisik pelan. "Ka... dengar itu? Mata gergaji mesin patah? Jangan-jangan itu pohon keramat tempat nongkrong jurig penunggu desa."
Dimas melirik tajam ke arah batang pohon beringin yang rebah. "Bukan jurig biasa. Coba lihat ke arah akar pohon itu."
Raka dan Bayu spontan mengarahkan pandangan mereka ke bagian sistem perakaran pohon beringin yang tercabut dari dalam tanah. Di antara gumpalan tanah merah yang berserakan, tampak sebuah ukiran simbol kuno berwarna keemasan yang terpahat samar-samar pada sebuah lempengan batu hitam yang tertanam tepat di bawah pusat akar pohon tersebut.
Simbol itu... berpendar samar dengan cahaya keperakan yang sangat redup, hampir tak terlihat di bawah terik matahari siang, namun sangat jelas tertangkap oleh mata Raka dan Zahmira.
Zahmira, yang sejak tadi berdiri agak di belakang, tiba-tiba menahan napasnya. Seluruh tubuhnya menegang kaku. Ukiran simbol kuno itu bukanlah hiasan sembarangan; itu adalah prasasti peninggalan lama yang ia kenal sebagai penanda penjaga tempat dari masa lalu, sebuah tanda yang diwariskan para leluhur gaib.
Tanda itu seharusnya tidak berada di tempat ini, batin Zahmira bergejolak hebat di dalam dadanya. Mengapa benda kuno itu tertanam di bawah pohon di dunia manusia?
Tanpa sengaja, Zahmira melangkah maju selangkah melewati batas garis aman warga, membuat gaun ungunya nyaris menyentuh tanah. Sorot matanya menatap lempengan batu hitam itu dengan rasa ngeri bercampur amarah yang tertahan.
Raka, yang menangkap perubahan gestur tubuh Zahmira yang mendadak rapuh namun berbahaya itu, dengan cepat mengulurkan tangan kanannya dan menahan lengan sang putri jin dengan lembut.
Ia menarik Zahmira sedikit mundur ke belakang kerumunan agar tidak menarik perhatian warga yang mulai curiga melihat tatapan kosong Raka ke arah akar pohon.
"Tenang, Mbak," bisik Raka tepat di dekat telinga Zahmira dengan nada rendah yang penuh wibawa, berusaha menyalurkan ketenangan. "Jangan tunjukkan reaksi berlebihan di sini. Ada banyak pasang mata yang sedang memerhatikan."
Zahmira menoleh menatap Raka. Untuk pertama kalinya sejak ia kedapatan tinggal di kamar kos nomor empat, sorot mata arogan dan dingin sang putri jin tampak goyah. Ada kepanikan tersendiri yang terpancar di sana sebuah tanda bahwa benda kuno itu membawa rahasia yang jauh lebih besar daripada perkiraannya.
Zahmira menarik napas dalam-dalam, lalu menegakkan kembali dagunya dengan angkuh untuk menutupi kegugupannya. "Aku tidak panik. Aku hanya sedang mengagumi betapa rapuhnya pertahanan dunia kalian."
"Bagus kalau begitu," balas Raka tersenyum tipis. "Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanan pulang sebelum warga di sini mulai curiga kenapa kita berdiri melongo di depan pohon tumbang sambil ngobrol sendiri."
Raka, Bayu, dan Dimas segera berbalik badan, memimpin jalan meninggalkan area reruntuhan pohon beringin menuju gang kos. Zahmira mengekor di belakang mereka dengan langkah anggun yang dipaksakan, namun di dalam hatinya, ia tahu persis satu hal kemunculan prasasti kuno itu menandakan bahwa ketenangan di Desa Kertajaya tidak akan bertahan lama lagi.