Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Saksi yang Hilang
Titik terakhir Rina berhenti di sebuah SPBU tua di pinggir Waru.
Herman tiba dua puluh menit kemudian. Ia tidak menemukan Rina, hanya petugas malam yang mengingat sebuah mobil putih berhenti sebentar dekat toilet. Seorang perempuan turun, mencoba meminjam telepon, lalu dua pria mengajaknya masuk kembali.
"Dia melawan?" tanya Herman melalui panggilan video.
"Petugas bilang enggak," jawab Kevin. "Tapi kamera menunjukkan salah satu pria memegang siku kanannya."
Di ruang operasi PE, denah jalan Surabaya memenuhi layar. Arya berdiri di tengah meja bersama Anindya, Kevin, Gilang, dan Bara. Semua tirai tertutup. Rani menjaga komunikasi perusahaan di lantai atas agar tidak ada orang luar tahu mereka sedang mencari saksi.
"Nomor pelat?" tanya Arya.
"Tertutup lumpur pada dua angka," kata Kevin. "Jenisnya Avanza putih, keluaran lama. Ada ribuan."
"Lintasan sebelum SPBU?"
"Kamera jalan menangkap mobil Rina keluar apartemen pukul 01.43. Di simpang berikutnya, Avanza sudah mengikuti. Mobil Rina berhenti di SPBU, lalu bergerak lagi. Setelah itu keduanya masuk ruas tanpa kamera kota."
Anindya menunjuk layar. "Kenapa Rina keluar dengan mobilnya sendiri kalau Hendra ingin menahannya?"
"Mungkin mereka menyuruhnya pulang agar terlihat normal," kata Bara. "Lalu mengambilnya di jalan."
"Atau dia sengaja membuat kesempatan menelepon," ujar Arya.
Gilang menerima balasan dari penyidik. Rina belum terdaftar sebagai tersangka atau saksi yang diamankan. Polisi juga tidak menyita teleponnya. Artinya, siapa pun yang membawa Rina tidak memiliki wewenang resmi.
"Kita laporkan dugaan penculikan sekarang," kata Anindya.
"Keluarganya harus menjadi pelapor utama," jawab Gilang. "Adiknya sudah menuju kantor polisi. Kita sertakan video SPBU dan catatan panggilan tanpa membuat kesimpulan yang belum terbukti."
Kevin membuka panel lain. Telepon utama Rina, yang hilang di pesta, kembali menyala selama sebelas menit di dekat kantor firma hukum yang bekerja untuk Halim. Perangkat itu kemudian berpindah ke sungai industri dan mati.
"Mereka mencoba membuat jejak palsu," katanya. "Telepon yang mengirim lokasi dari Waru adalah nomor cadangan."
"Berarti Rina cukup sadar untuk menyembunyikan perangkat kedua," kata Arya.
"Sampai mereka menemukannya."
Keheningan jatuh.
Herman mengirim daftar gudang, rumah kosong, dan kantor vendor dalam radius dua puluh kilometer dari titik hilang. Ada empat belas lokasi. Arya menolak menyuruh orang menyerbu semuanya.
"Kita butuh satu lokasi dengan dasar yang bisa diberikan kepada polisi," katanya. "Cari transaksi kendaraan, bahan bakar, makanan, penjaga malam."
"Waktu kita enggak banyak, Cak."
"Itu bukan alasan untuk masuk rumah orang yang salah."
Kevin menelusuri perusahaan penyewa Avanza. Kepemilikannya berlapis, tetapi satu nomor pajak muncul pula dalam pembayaran kepada pria yang membawa kantong sampah dari atap. Perusahaan itu bernama PT Lintas Citra Acara, sebuah vendor event tanpa karyawan tetap.
Pembayaran terbarunya datang pukul 02.18, kurang dari satu jam setelah Bella jatuh.
Pengirimnya PT Arunika Data Solusi.
"AD," kata Anindya. "Bukan Adiwangsa. Arunika Data."
Kevin mengangguk. "Direkturnya nominee. Kantornya kotak surat Jakarta. Nomor kontak pendaftarannya terhubung ke Andi."
Kode yang sengaja tampak seperti nama keluarga mereka akhirnya terbuka. Andi telah memakai kepanikan lawannya sebagai tabir.
"Jumlah pembayaran?" tanya Arya.
"Dua ratus lima puluh juta rupiah. Keterangan jasa darurat acara. Penerima akhirnya salah satu orang Hendra yang ada di atap."
Gilang menyimpan salinan mutasi dari sumber sah milik vendor yang diberikan informan. "Kita belum bisa menyebut ini upah membersihkan TKP. Tapi waktu, penerima, dan deskripsinya cukup untuk diminta penyidik periksa."
"Kirim sekarang."
Pada saat yang sama, Herman menemukan transaksi kartu bahan bakar armada vendor di sebuah pompa kecil dekat kawasan pergudangan Gedangan. Dua puluh menit kemudian, kamera toko kelontong memperlihatkan Avanza putih dengan lumpur pada pelat berhenti membeli air dan rokok.
Seorang pria membuka pintu belakang. Dalam satu bingkai, terlihat ujung sepatu perempuan dan lakban abu-abu di lantai kendaraan.
Anindya menarik napas tajam.
"Lokasinya sebelas menit dari transaksi," kata Bara. "Kalau mobil menuju gudang milik vendor, ada tiga kemungkinan."
Kevin memperbesar peta. Dua gudang masih aktif dan ramai. Gudang ketiga terdaftar kosong setelah pemiliknya bangkrut. Listriknya baru dinyalakan kembali tiga hari lalu atas permintaan PT Lintas Citra Acara.
"Itu dia," kata Herman.
Arya meminta Kevin menguji dugaan itu sekali lagi. Gudang kosong bukan bukti seseorang ditahan di dalam. Mereka memeriksa catatan tol, kamera truk perusahaan sebelah, dan pantulan kendaraan pada kaca toko yang menghadap jalan belakang. Avanza yang sama terlihat memasuki kawasan pukul 03.11 dan tidak pernah terekam keluar.
Bara menandai saluran drainase dan jalan servis di sisi timur. "Kalau mereka tahu pintu depan diawasi, kendaraan bisa keluar lewat sini."
"Pasang satu pengamat dari lahan umum, tanpa senjata," kata Arya.
Herman mendengus dari pengeras suara. "Anak buah gue enggak suka datang tanpa pegangan."
"Pegangan mereka telepon dan kamera. Kalau ada ancaman nyata, mundur. Kita butuh saksi yang hidup, bukan daftar korban baru."
Perintah itu diteruskan. Dua mobil Herman mengambil posisi berjauhan, lampu mati tetapi mesin siap. Mereka mengirim foto tiap akses dan mencatat waktu kendaraan lewat. Tidak ada seorang pun melangkahi pagar gudang.
Untuk Arya, menahan diri terasa lebih sulit daripada memanggil dua puluh orang Naga Timur. Satu perintah lama bisa merobohkan pintu dalam lima menit. Namun pintu yang roboh tanpa polisi akan menjadi hadiah bagi Andi: tuduhan pasukan bayaran, bukti tercemar, dan Rina yang bisa dipindahkan sambil Arya menjelaskan diri.
Gilang menelepon penyidik dan mengirim seluruh rangkaian: laporan keluarga, video SPBU, kendaraan, transaksi kartu, rekaman toko, dan data penyambungan listrik. Jawaban yang datang tidak memuaskan. Unit patroli terdekat sedang dialihkan, surat perintah masih diproses, dan mereka diminta menunggu.
"Menunggu berapa lama?" tanya Arya.
"Mereka tidak memberi waktu."
Di layar lain, hitung mundur tersisa dua puluh dua jam.
Anindya melihat Arya. "Kalau kita masuk sendiri, mereka bisa menyebut semua bukti hasil penculikan tandingan."
"Kalau kita tidak bergerak, Rina mungkin tidak punya dua puluh dua jam."
Arya menelepon Herman. "Awasi semua pintu. Jangan masuk sebelum ada konfirmasi visual. Bara berangkat dengan saya."
"Dan polisi?" tanya Kevin.
"Gilang terus paksa jalur resmi. Nyalakan lokasi langsung kami dan rekam dari jalan umum. Kalau ada orang memindahkan Rina, kita cegah kendaraan pergi tanpa menyerbu bangunan."
Anindya mengambil kunci mobil dari meja, tetapi Arya menutup telapak di atasnya tanpa menyentuh tangannya.
"Kamu tetap di sini dan pegang semua jalur bukti."
"Jangan menyuruh saya tinggal hanya karena saya perempuan."
"Saya menyuruhmu tinggal karena jika komunikasi diputus, hanya kamu yang punya wewenang perusahaan dan keluarga untuk membuat semua orang tetap bergerak."
Anindya menatapnya beberapa detik, lalu melepaskan kunci.
"Bawa Rina pulang," katanya.
Arya berbalik menuju pintu. Pada layar, titik sinyal nomor cadangan Rina menyala sekali lagi dari kawasan gudang Gedangan.
Lalu menghilang untuk kedua kalinya.