Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.
Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.
Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.
Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.
Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kediaman itu berada dalam kesenyapan bagai kubur, jenis ketenangan yang mendahului badai yang mengubah jalannya sejarah. Saat itu pukul tiga dini hari, hari Kamis. Kurang dari dua jam lagi, rencana anak-anak dan serangan balik Dante akan bergerak. Victoria, tak sanggup memejamkan mata, berlindung di perpustakaan, satu-satunya tempat yang masih menyimpan aroma kertas tua alih-alih mesiu atau pengkhianatan.
Sambil mencari sebuah buku untuk menenangkan sarafnya, tangannya tak sengaja menyentuh sebuah jilid berkulit lusuh, tersembunyi di balik ensiklopedia hukum. Itu bukan buku hukum, melainkan sebuah album keluarga yang mungkin lupa dibakar Alessandra setelah kematian Don Lorenzo.
Saat ia membukanya, sebuah foto kecil, bertepi menguning dan berwarna sepia, jatuh ke pangkuannya.
Victoria mengambilnya dengan jemari gemetar. Dalam foto itu, seorang bocah berusia sekitar enam tahun duduk di sebuah bangku batu di taman. Itu bukan León. Itu Dante.
Victoria merasa jantungnya berhenti. Bocah dalam foto itu bukanlah sang Capo bengis yang menahannya, bukan pula lelaki tersiksa yang baru saja menemukan pengkhianatan ayahnya. Ia adalah seorang bocah dengan tatapan sedalam kesenduan, memegang sebuah kapal kayu kecil dengan kelembutan yang luar biasa.
"Cristo…" bisik Victoria, menyapu foto itu dengan ujung jarinya.
Kemiripannya meresahkan. Cristo bukan hanya mirip ayahnya secara fisik; ia mewarisi gerak-gerik lembut yang telah dirampas dunia mafia dari Dante. Dalam foto itu, Dante kecil memiringkan kepalanya dengan cara yang analitis, nyaris ilmiah, sama seperti yang dilakukan Cristo saat memecahkan kode keamanan. Ada kerapuhan dalam senyumnya, sebuah rasa malu yang Victoria kenali setiap kali Cristo berlindung di balik tabletnya atau memintanya memeluk dalam diam.
Victoria memahami pada saat itu bahwa Cristo adalah peta dari sosok yang mungkin akan Dante jadi seandainya Lorenzo tak pernah menghancurkannya. Putra bungsunya adalah cadangan kemanusiaan dari garis keturunan Moretti, penjaga kepekaan yang berusaha dipadamkan oleh nama keluarga itu.
Saat membalik halaman, ia menemukan foto lain Dante beberapa tahun kemudian, sudah menginjak masa remaja. Perubahannya menghancurkan. Kapal kayu itu telah lenyap, digantikan oleh tatapan seorang pemangsa. Dante remaja berdiri di samping ayahnya, dengan bahu tegap dan rahang mengeras.
Di sanalah León.
Bukan sekadar kemiripan fisik; itulah "bayangan"-nya. León mewarisi baju zirah yang harus dibangun Dante untuk bertahan hidup dari Lorenzo. Dalam foto itu, Dante muda punya rasa ingin tahu yang sama dinginnya seperti yang ditunjukkan León di halaman saat penjaga itu dihukum. Itu adalah tatapan seseorang yang telah menerima bahwa dunia adalah tempat di mana kau memangsa atau dimangsa.
Victoria menutup album itu dengan satu hentakan tajam, merasakan mual yang tiba-tiba. Putra-putranya bukan sekadar dua pribadi; mereka adalah dua belahan retak dari sosok ayah mereka. Cristo adalah masa lalu Dante yang hilang, dan León adalah masa kininya yang tak terhindarkan.
"Kau menemukan apa?"
Suara Dante, serak karena kurang tidur, membuatnya terlonjak. Ia berdiri di ambang pintu perpustakaan, sudah mengenakan perlengkapan taktis hitamnya, sosok sempurna dari bayangan yang begitu dikagumi León.
Victoria mengulurkan foto bocah dengan kapal kayu itu kepadanya. Dante mendekat, mengambilnya dengan tangan bersarung. Saat melihatnya, wajahnya melembut sedetik, sebuah retakan kepedihan melintasi topeng besinya.
"Aku tak ingat kapal itu pernah ada," ujar Dante, suaranya nyaris hanya bisikan. "Ayahku menghancurkannya seminggu setelah foto ini diambil. Katanya laki-laki Moretti tak bermain dengan kayu, mereka bermain dengan nyawa."
"Cristo punya tanganmu, Dante," ujar Victoria, bangkit hingga berdiri di hadapannya. "Ia punya kemampuanmu untuk mencipta, untuk mengamati dunia dengan tenang. Dan León… León punya kekuatanmu, tetapi juga kegelapanmu. Kau menyaksikan hantu-hantumu sendiri berjalan di lorong-lorong ini setiap hari."
Dante menatap foto itu lalu menatap Victoria. Untuk pertama kalinya, tak ada kebanggaan di tatapannya, hanya sebuah pemahaman yang menakutkan.
"Karena itulah begitu menyakitkan menatap mereka," Dante mengakui, meletakkan foto itu di atas meja. "Cristo mengingatkanku pada apa yang telah kuhilangkan, dan León mengingatkanku pada sosok yang telah kujadi. Rasanya aku sedang berlomba dengan waktu supaya mereka tak berakhir sepertiku, Victoria. Tapi lihat di mana kita sekarang. Kurang dari dua jam sebelum lelaki yang membesarkanku mencoba membunuh kita semua lewat Enzo."
Victoria menggenggam kedua tangannya. Perbedaannya mutlak: tangan Victoria, halus dan bergurat oleh kerja keras di desa; tangan Dante, mengeras dan siap untuk perang.
"Besok kau tak akan menjadi Lorenzo, Dante," putus Victoria dengan kemantapan yang mengejutkannya. "Dan mereka tak akan sekadar menjadi pantulanmu. Cristo akan memakai otaknya untuk menyelamatkan kita, dan León akan memakai bayangannya untuk melindungi kita. Mereka bukan versi dirimu; mereka versi yang lebih baik, karena aku membesarkan mereka dengan cinta, bukan dengan rasa takut."
Dante menarik Victoria mendekat, menyandarkan dahinya ke dahi Victoria. Album keluarga itu tetap terbuka di atas meja, sebuah kesaksian dari sebuah garis keturunan yang sebentar lagi akan dihancurkan atau ditebus.
"Kalau kita berhasil keluar dari ini…" bisik Dante, "kalau kita selamat melewati hari Kamis… aku ingin kau mengajariku menjadi lelaki dalam foto kapal itu lagi. Aku tak tahu apakah ia masih ada, tapi demi mereka… demi kau… aku ingin mencobanya."
Victoria tak menjawab dengan kata-kata, tetapi ia memeluk Dante dengan kekuatan yang mengatakan bahwa ia pun ingin mendapatkan kembali bocah yang hilang itu. Di kamar sebelah, León dan Cristo terbangun, siap untuk "misi" mereka. Hari Kamis telah tiba. Darah Moretti sebentar lagi akan tertumpah, tetapi untuk pertama kalinya dalam tiga generasi, bukan demi ambisi, melainkan demi membela satu-satunya kebenaran yang tak pernah bisa dipahami Lorenzo: bahwa seorang ayah hanya menjadi besar ketika ia melindungi cahaya anak-anaknya, bahkan jika ia harus berjalan menembus bayang-bayang untuk melakukannya.
Victoria menyimpan foto kapal itu di dadanya, seperti jimat. Di luar, mesin pertama sebuah mobil van berlapis baja menyala. Penyergapan Enzo Baratti sedang dimulai, dan pantulan-pantulan Dante telah siap untuk membuktikan bahwa, kadang-kadang, bayangan dan cahaya bisa bertempur bersama.