Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.
Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.
Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.
Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.
Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
POV Mary Mendez
Hari itu terbit dengan rasa yang berbeda.
Inilah peresmian resmi Rumah Sakit Anak Herrera, sebuah impian yang lahir dari hati Consuelo yang murah hati, dan kini menjelma nyata.
Sementara para saudara Herrera kembali dari perjalanan pagi itu, kami sudah lebih dulu meninggalkan mansion bersama Consuelo untuk menghabiskan hari mempersiapkan diri menyambut acara besar itu.
Berjam-jam kami lalui di antara gaun, riasan, penataan rambut, dan kegugupan.
Aku memandang diriku di cermin dan nyaris tak mengenali bayangan itu.
Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, aku tak melihat seorang novis terpantul di sana.
Aku hanya melihat Mary.
Seorang perempuan.
Dan hal itu membuatku takut sekaligus terharu.
Natália tak henti berbicara.
"Pietro pasti pingsan."
"Tidak akan."
"Pasti."
"Natália..."
"Dia bakal ambruk kaku seperti batu."
Bárbara memutar bola matanya.
"Kalau ada yang bakal pingsan, itu Giovanni, waktu dia sadar aku masih mengacuhkannya."
Graziela tergelak.
"Kalian ini benar-benar keterlaluan."
Consuelo mengamati semuanya sambil tersenyum.
Bak seorang ibu yang bangga.
Bak seseorang yang telah menyaksikan perubahan kami dan kini melihat gadis-gadisnya mekar.
Ketika matahari mulai terbenam, kami diantar kembali ke mansion.
Jantung berdebar begitu keras sampai seakan ingin lepas dari dada.
Di mansion.
Para saudara Herrera sudah beristirahat setelah perjalanan panjang.
Mengenakan setelan jas yang rapi sempurna, mereka menunggu di aula utama.
Dante tampak elegan seperti biasa.
Tapi gelisah.
Sangat gelisah.
Tatapannya tak lepas dari tangga.
Pietro mengutak-atik jam tangannya setiap menit.
Giovanni mondar-mandir.
Kevin berpura-pura tenang, tapi ia pun tak henti memandang ke arah tangga.
Lalu semuanya terjadi.
Pertama muncul Consuelo.
Memesona.
Anggun.
Berwibawa.
Gaunnya menonjolkan kecantikannya yang matang dan berkelas.
Ia menuruni tangga perlahan sambil berpegangan pada pegangan tangga.
Ia tampak seperti seorang ratu.
Seorang perempuan yang telah membangun keluarga yang kuat tanpa pernah kehilangan keanggunannya.
Di anak tangga terakhir, seseorang menantinya.
Rômulo.
Matanya berbinar saat melihatnya.
Seolah ia masih pemuda yang jatuh cinta ketika bertemu Consuelo bertahun-tahun lalu.
Ia mengulurkan tangan.
Consuelo tersenyum.
Dan pada saat itu dunia seakan lenyap di sekeliling mereka.
Rômulo membawa tangan istrinya ke bibirnya dan mengecupnya lembut.
"Kau tetap perempuan tercantik yang pernah kulihat."
Mata Consuelo berkaca-kaca.
"Dan kau tetap membuatku tersipu."
Anak-anak mereka tersenyum.
Karena setelah sekian tahun, kedua orang tua mereka masih saling mencintai sedemikian rupa.
Rômulo menawarkan lengannya.
Dan bersama-sama mereka menuju limusin.
Bagai seorang raja dan ratunya.
Bagai awal sebuah dongeng.
Tapi itu bukan akhir dari kejutan malam itu.
Itu baru permulaan.
Ketika pintu lantai atas kembali terbuka...
Waktu berhenti.
Benar-benar berhenti.
Dante lupa bernapas.
Pietro membelalak.
Giovanni terpaku.
Kevin sekadar kehilangan segala kemampuan untuk merangkai pikiran.
Kami berempat muncul di puncak tangga.
Cantik.
Bersinar.
Memukau.
Natália turun lebih dulu.
Senyumnya menerangi segala di sekelilingnya.
Pietro merasakan jantungnya berpacu.
Mustahil tidak menatapnya.
Tepat di belakangnya datang Bárbara.
Elegan.
Berkelas.
Dengan sikap tegas yang sama, yang membuat Giovanni terpikat sepenuhnya.
Graziela muncul berikutnya.
Manis.
Tenang.
Begitu cantik secara alami sampai Kevin yakin ia tak pernah melihat sesuatu yang lebih indah.
Dan lalu...
Mary muncul.
Seluruh dunia lenyap bagi Dante.
Tak ada tamu.
Tak ada rumah sakit.
Tak ada mafia.
Tak ada seorang pun lagi.
Hanya dia.
Gaunnya seakan dibuat khusus untuk menonjolkan setiap detail kecantikannya.
Rambut yang ditata rapi.
Mata yang berbinar.
Senyum malu-malu.
Ia tampak bagai sebuah mimpi.
Salah satu mimpi mustahil yang disimpan seorang pria dalam rahasia karena takut tak akan pernah menggapainya.
Dante merasakan dadanya sesak.
Karena pada saat itu ia menyadari satu hal.
Ia telah jatuh cinta sepenuhnya.
Mary mengangkat pandangannya.
Bertemu dengan tatapan Dante.
Dan tersenyum.
Sebuah senyum kecil.
Tapi cukup untuk membuatnya kehilangan sisa akal sehatnya.
Ketika mereka tiba di anak tangga terakhir, para saudara Herrera sudah bersiap di tempatnya.
Menunggu.
Bagai para pria sejati yang penuh sopan santun.
Pietro menawarkan lengannya kepada Natália.
"Kau cantik sekali."
"Aku tahu."
Natália menjawab sambil tersenyum.
Membuat Pietro langsung tertawa.
Giovanni mengulurkan lengannya kepada Bárbara.
"Kau memukau."
"Terus saja bermimpi."
Bárbara menjawab.
Tapi senyumnya membocorkan bahwa ia menyukainya.
Kevin menghampiri Graziela.
"Aku tidak bisa berhenti menatapmu."
Graziela langsung merona.
"Kevin..."
"Ini sungguhan."
Terakhir.
Dante melangkah menghampiri Mary.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Hanya menatapnya.
Seolah ingin mengabadikan gambaran itu selamanya dalam ingatannya.
Lalu ia menawarkan lengannya.
"Sudah siap?"
Mary merasakan jantungnya berdebar lebih cepat.
"Belum."
Dante tersenyum.
"Aku juga belum."
Mary tertawa pelan.
Dan menyambut lengannya.
Dalam sentuhan sederhana itu, aliran listrik menjalari keduanya.
Sesuatu yang kuat.
Dalam.
Tak terelakkan.
Bersama-sama mereka berjalan menuju limusin.
Setiap pasangan masuk satu per satu.
Sementara lampu-lampu mansion menerangi malam.
Takdir menanti mereka.
Peresmian rumah sakit itu akan menjadi sebuah kesuksesan.
Tapi bagi delapan hati itu...
Malam itu akan selalu dikenang sebagai saat mereka berhenti melawan perasaan mereka.
Dan mulai memimpikan masa depan yang dulu tampak mustahil.