NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:121.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Langkah Pertama Balas Dendam-1

Annisa menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat lega. "Lancar, Mas Fandi. Sampah-sampah itu akhirnya dibersihkan dari rumah saya."

Fandi menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, menyerahkan sebuah cangkir kopi hangat bertuliskan logo kafe premium kepada Annisa.

"Minumlah dulu. Kamu sudah berjuang dengan sangat baik pagi ini," ucap Fandi lembut.

Annisa menerima cangkir kopi itu, merasakan kehangatan yang merayap di jemarinya. "Terima kasih, Mas Fandi. Dan terima kasih sudah mau menemani saya ke sini."

"Tugas seorang mitra bisnis—dan pria yang menghormatimu—adalah memastikan kamu mendapatkan keadilan yang pantas kamu dapatkan," sahut Fandi matang. "Pak Yusuf sudah menunggu kita di kantor pusat Vantara Tower. Rapat penetapan pengangkatanmu sebagai Komisaris Utama akan dimulai dalam satu jam lagi."

Annisa menatap ke luar jendela mobil. Di pekarangan rumah berlantai dua itu, ia melihat Bu Rini dan Sisil dipapah keluar oleh petugas sambil membawa kardus-kardus bekas berisi pakaian mereka. Sisil menangis meraung-raung di pinggir jalan, menjadi tontonan para tetangga kompleks yang mulai berdatangan dengan pandangan berbisik-bisik dan penuh rasa hinaan.

Sementara Rian berdiri di samping pagar, memegangi kepalanya dengan wajah hancur total saat petugas kepolisian mulai menempelkan stiker segel resmi bertuliskan DISITA DAN DIBAWAH PENGAWASAN PENGADILAN.

Tamparan realita itu akhirnya menghantam mereka tanpa ampun.

Orang-orang yang dulu menghina Annisa sebagai wanita bodoh, pengangguran, dan numpang hidup ... kini terlempar ke jalanan tanpa harta, tanpa harga diri, dan tanpa masa depan.

Mobil Maybach hitam itu bergerak perlahan meninggalkan area kompleks perumahan, membawa Annisa Septiani kembali ke tempat yang seharusnya—puncak tertinggi kerajaan bisnis Vantara Group.

***

Deretan kendaraan mewah mengular di depan area drop-off utama Gedung Vantara Tower. Kilatan lampu kamera dari puluhan wartawan media bisnis papan atas memantulkan cahaya di atas lantai marmer lobi yang berkilauan. Hari ini adalah hari bersejarah bagi Vantara Group—hari di mana susunan jajaran komisaris baru anak perusahaan Vantara Land Sub-Holding akan diumumkan secara resmi ke publik.

Di lantai lima puluh, dalam ruang tunggu VIP yang sangat luas, Annisa Septiani berdiri membelakangi pintu kaca tebal yang menampilkan panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Ia telah mengganti pakaiannya dengan mengenakan dress formal berwarna merah marun, potongan dada tinggi yang sangat elegan, dipadukan dengan blazer hitam berstruktur tegas dari rumah mode ternama.

Rambut hitamnya yang berkilau disanggul rapi dengan gaya modern, memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung liontin berlian tunggal. Tidak ada lagi sisa-sisa "Nisa" yang penurut, sederhana, dan diam. Yang berdiri di sana adalah Annisa Septiani—sang pewaris tunggal dinasti bisnis Al Ghazali.

Pintu ruang tunggu terbuka pelan. Fandi Prasetyo melangkah masuk dengan langkah mantap. Pria itu tampil sangat gagah dalam setelan jas tiga lapis (three-piece suit) berwarna hitam pekat. Aura kematangan, ketenangan, dan ketampanan seorang pimpinan Prasetyo Group terpancar kuat dari setiap gerak-geriknya.

"Seluruh jajaran direksi, pemegang saham, dan perwakilan media sudah berkumpul di Auditorium Utama, Annisa," ucap Fandi dengan suaranya yang berat dan mantap. Pria itu menghentikan langkahnya tepat dua tapak di samping Annisa.

Annisa menoleh, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memikat. "Bagaimana dengan kondisi di anak perusahaan, Mas Fandi?"

Fandi terkekeh pelan—sebuah tawa kecil khas pria dewasa yang sarat akan rasa puas. "Rian baru saja tiba di kantor anak perusahaan tiga puluh menit yang lalu dengan pakaian kusut dan wajah hancur. Dia mencoba memasuki ruang kerjanya, tetapi seluruh akses fingerprint dan kartu jalurnya sudah diblokir oleh sistem keamanan pusat. Saat ini dia sedang ditahan di ruang tunggu satpam bersama selingkuhannya, Eriska."

Annisa merapikan posisi liontin berlian di lehernya. Tangannya tak sedikit pun gemetaran. "Bagus. Biarkan dia menikmati rasa tidak berdaya itu sedikit lebih lama sebelum saya memberikannya pukulan terakhir."

Fandi menatap Annisa dengan binar rasa kagum yang tak tersamar di sepasang mata cokelat gelapnya. "Pilihan langkah yang sangat rapi. Pak Yusuf sudah menunggu di panggung utama. Mari, saya antar kamu ke depan."

Fandi mengulurkan siku tangannya dengan gerakan yang amat sopan dan pria sejati (gentleman). Annisa menyambut uluran siku itu, menyandarkan jemarinya yang lentik di atas lengan jas Fandi, lalu keduanya melangkah keluar menuju ruang konferensi pers.

***

Sementara itu, di lantai dasar gedung anak perusahaan Vantara Land, suasana terasa sangat tegang dan memanas.

Rian duduk di kursi plastik ruang penjagaan satpam dengan napas memburu. Kemeja kerjanya tampak lecek, dasinya sudah terlepas, dan matanya merah padam akibat kurang tidur serta stres yang membakar kepalanya. Di sampingnya, Eriska berdiri dengan wajah muram, memegangi tas tangannya erat-erat seraya menatap Rian dengan pandangan yang tak lagi manis.

"Mas Rian! Kamu gimana sih?!" sungut Eriska dengan suara setengah berbisik namun penuh nada cecaran. "Kenapa satpam-satpam ini gak izinin kita masuk ke lantai tiga?! Terus kenapa namaku dan namamu gak bisa di-scan di pintu depan?! Kamu beneran dipecat ya?!"

"Bisa diam gak kamu, Riska?!" bentak Rian dengan suara parau, menatap Eriska dengan mata melotot. "Mas lagi pusing! Jangan bikin tambah pusing!"

"Lho! Kok kamu malah bentak aku?!" balas Eriska sengit, matanya melotot tak terima. "Aku ini bela-belain datang ke sini buat minta kejelasan! Kamu janji mau beliin aku tas baru dan mau ceraikan istri udikmu itu, tapi sekarang malah kayak pengamen kebingungan di ruang satpam! Kamu beneran Manager atau penipu sih, Mas?!"

Rian hendak memaki Eriska lagi, namun tiba-tiba layar televisi berukuran 65 inci yang tergantung di dinding ruang tunggu utama menyala secara otomatis, menampilkan siaran langsung (live broadcast) dari Auditorium Utama Vantara Tower.

Seorang pembawa acara berita papan atas muncul di layar, berbicara dengan nada antusias:

"Pemirsa, saat ini kami melaporkan langsung dari Vantara Tower Jakarta Pusat, di mana PT Vantara Group baru saja merilis pengumuman restrukturisasi pemegang saham dan penetapan Komisaris Utama baru untuk anak perusahaan mereka, PT Vantara Land Sub-Holding ..."

Seluruh staf dan karyawan anak perusahaan yang berada di lobi mendadak berhenti melangkah, memusatkan perhatian mereka ke layar televisi besar tersebut. Rian dan Eriska pun secara refleks menoleh ke arah layar.

Di atas panggung yang megah berselimut latar belakang logo emas Vantara Group, Pak Yusuf berdiri di depan podium dengan mikrofon. Suara berat sang magnate bisnis itu bergema memenuhi ruangan:

"Selamat pagi rekan-rekan media dan mitra bisnis. Hari ini, atas nama dewan pendiri Vantara Group, saya secara resmi menyerahkan lima puluh sembilan persen kendali saham mayoritas dan melantik Komisaris Utama baru PT Vantara Land Sub-Holding."

Pak Yusuf menghentikan kalimatnya sejenak, mengulurkan tangannya ke arah samping panggung.

"Mari kita sambut... Putri Tunggal saya, Annisa Septiani binti Yusuf Al Ghazali!"

Bersambung...

1
ryuka
fandii pepet tetus fnisa nya🔥🔥🔥🔥
ryuka
hadduuuhhhh gengsiii ga bisa nikin kalian dekay 🤭🤭🤭🤭🤭
Wiek Soen
kejar Fandi, aslinya Nissa itu cinta mati sama kamu , cuman ada sesuatu atau drama cinta kalangan elit
Mutaharotin Rotin
bilang aja terus terang Fandi klu kamu suka SM Annisa jangan diam bae
Mutaharotin Rotin
makasih Mak ghin udah double up 🙏🙏
Mutaharotin Rotin
😍😍😍😍
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰
Mutaharotin Rotin
makasih Mak ghin udah update lagi 🙏🙏
Oktaviani Agustina
Wahhh seruuuuu😍
Kar Genjreng
mau mu apa coba sekarang menghindari
seseorang tetapi hati mu berlari ke arahnya dan selalu membayangkan tetapi selalu menghindar,,jadi buat apa mengingat sedangkan orang yang di ingat saja seolah ga di anggap olehmu
Herman Lim
sama² gengsi padahal mah cinta mati kalian berdua
Herman Lim
waduh kirain sewa cew buat Anisa cemburu rupa nya sodara ahh Thor mah baik bgt biar kita ga penasaran bgt
Mommy Ghina: 😅😅😅😅😅
total 1 replies
Engkar Sukarsih
semangat terus mas Fandi...aku padamu we lah 🥰🥰🥰
Teh Euis Tea
hadeuhhhh gemes deh sama kalian ber2 sama2 gengsi di gedein
Teh Euis Tea
cemburu yg di pendam lebih sakit loh nis, makanya jgn terlalu membentengi hatimu klu akan sakit akhirnya
Kar Genjreng
jual mahal amat ya Niss yakin bisa melupakan atau sembuh dengan tanpa adanya rekan ,,,Mukin. isa sehari dua hari tetapi ,,, waktu penantian nya justru lebih panjang satu tahun dalam meratapi nasib yang sudah membelenggu egonya,,
Wiek Soen
lanjut mommy
Wiek Soen
cemburu yg terpendam lebih sakit Lo Anisa apalagi klo terbalut kesalah pahaman...makin kacau deh
Wiek Soen
klo ada di cuekin klo GK ada di cari2 itunamanya cinta tapi gengsi si dan egois 🤣🤣🤣🤣 ya toh Nissa
Wiek Soen
selamat berjuang Fandi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!