Aku menikahi dia, tapi justru pamannya yang membuatku kehilangan akal. Setiap kali pria itu menatapku, ada bara yang tak bisa kupadamkan. Di mata keluarga, pria itu hanyalah paman dari suamiku. Di hatiku, dia adalah pria yang tak pernah boleh kusentuh. Namun, semakin aku menghindar, semakin dekat dia datang, membawa bisikan-bisikan yang memecah pertahananku. Bagaimana jika cinta ini terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAAFKAN PAPA
"Eum... pekerja harian lepas, dan kebetulan saja kenal dengan orang-orang hebat!" jawab xander.
"Jadi kau juga kenal dengan pemilik sekolah ini?" Tanya Seline lagi.
"Ya, bisa dikatakan begitu!" jawab Xander lagi.
"Wah, ternyata Kau hebat sekali!" puji Seline sambil mengedipkan matanya.
Xander langsung membuat gerakan tangan seakaan baru saja menangkap kedipan mata Seline dan memasukannya ke dalam hatinya. Seline tertawa lalu berkata, "kau kekanak-kanakan sekali!"
Pada saat ini kepala sekolah menghampiri mereka sambil menggandeng Rafael. Seline sedikit membungkukan badannya, "Apa suka dengan sekolahnya?"
Rafael menganggukan kepalanya. Tanda dia menyukai calon sekolahnya. Seline menoleh kepada Xander lalu sedikit menganggukan kepalanya juga, tanda dia memberi persetujuan.
Xander menoleh kepada kepala sekolah, "ok, kalau begitu, bisa kita urus administrasi pendaftarannya sekarang!"
Pada saat ini di Rumah Sakit, Eric tengah menemani Riana. Pria itu berdiri, di depan jendela. Menatap sinar matahari yanh bersinar cerah. Terdiam sesaat, lalu dia berkata "anak sudah tidak ada, sebaiknya kita hentikan hubungan ini. Kita berpisah saja!"
"Apa yang baru saja kau bilang tadi?" Kata Riana sambil berusaha bangkit dari ranjang.
Eric membalikan badannya. "Kita sudahi saja semua kegilaan ini!"
Riana menggelengkan kepalanya, berpisah pikirnya, lalu dia berkata dengan suara serak gemetar "Tidak... tidak, kau pasti mau kembali kepada Seline ya!"
"Aku masih suaminya!" kata Eric sambil bersedekap.
"Lalu bagaimana dengan aku!" kata Riana terisak.
Eric terdiam, dalam hati dia mengakui dirinya memang pria brengsek. Tapi, dia juga tidak ingin kehilangan Seline. Karena itu dia berencana rujuk dengan Seline.
"Aku akan memberikan kompensasi kepadamu, jangan buat keributan!" kata Eric sembari melangkah pergi meninggalkan kamar rawat inap Riana.
Menyadari jika Eric akan meninggalkannya demi Seline. Dia pun langsung mengamuk dan memecahkan semua barang-barang yang ada di dekatnya. Dari luar, Eric mendengar suara keributan itu. Namun, memilih melanjutkan langkahnya. Hatinya sudah merasa mantap untuk meninggalkan Riana. Merasa sudah benar-benar harus meninggalkan wanita itu. Sementara itu, di sekolah Rafael. Seline baru saja menandatangani berkas, bahwa dia adalah salah satu wali Rafael Selain Xander.
"Nah, ini sudah seperti satu keluarga!" kata Xander puas memandangi berkas pendaftaran Rafael.
Hari sudah menjelang siang, Rafael menarik tangan Seline lalu mengusap perutnya. "Lapar ya?'
Rafael mengangguk, xander juga menganngguk, "lalau begitu ayo kita makan!"
"Tunggu dulu, apa kau tidak pergi bekerja?" tanya Seline lagi kepada Xamder.
"Tenang saja, aku tetap bisa dapat keuntungan meski aku tidak kerja selama seminggu!"
Baru saja mau naik ke mobil, ponsel Seline berdering. Kali ini Simon yang menghubungi. "Kau ada di mana?"
"Sekolah! Ada apa?" tanya balik Seline, mendengar nada serius mengisyaraykan seperti ada swsuatu yang salah.
"Ada polisi yang datang ke Rumah Sakit, mencarimu!"
"Polisi? Mencariku?" kata Seline dengan nada heran terkejut. "Ok, aku akan segera ke sana!"
Setelah menutup sambungan ponselnya, dia pun bersimpuh di depan Rafael. "Maaf ya tidak bisa menemani makan, lain kali aku akan memasak untukmu!"
Sekilas ada binar kecewa di kedua mata Rafael. Seline pun mengecup keningnya. "Anak baik, jangan marah ya!"
Xander memperhatikan interaksi keduanya, dan dia sangat menyukai apa yang dia lihat saat ini. Seperti pantulan sebuah keluarga kecil bahagia. Yang tidak pernah dia miliki.
Seline menoleh kepada Xander, "boleh pinjam mobilnya tidak?
Xander langsung memberikan kunci mobilnya. "pakai saja sesukamu!"
Seline pun melajukan mobil itu sambil melambaikan tangannya. "Kapan-kapan aku traktir !"
Rafael dan Xander melambaikan tangan mereka juga, setelah mobil menghilang dari pandangan. Xander mengambil ponselnya dan menghubungi Yi Chen. "Rumah Sakit Sayap Suci!"
Sebagai asisten dia mengetahui persis jadwal Xander. Hari ini adalah hari daftar sekolah. Dia pun langsung menalar, ada sesuatu terjadi di sana. "Akan segera ke sana untuk mengecek keadaan!"
Sambungan ponsel di tutup, xander menoleh kebawah, Rafael mendongak ke atas. Kedua mata mereka saling beradu. Terlihat seakaan sedang bertukas pesan. "Ok kita makan dulu!" ajak Xander.
Pada saat ini Seline sengaja sedikit mengebut. Dia pun tiba di rumah sakit. Memarkirkan mobilnya lalu berjalan ke lobi rumah sakit. Baru saja sampai di teras depan lobi, sudah disambut oleh beberapa reporter.
Simon langsung menggandeng Seline, menghalangi para reporter yang ingin mengambil foto. Di dalam ruangan kerjanya Simon sudah mengumpulkan saksi mata di hari kejadian itu.
Saksi kunci adalah Lin Yue dan asisten Seline. Begitu masuk ke ruangan Seline merasa tidak enak hati karena telah melibatkan kawan baiknya dan juga asistennya. Dia sangat yakun jika ini kejadian ini adalah salah satu perangai licik Riana.
Padahal di hari itu, tanpa harus membuat drama, Seline berencana berkata, "Silakan bawa pergi suamiku!"
Seline memandangi semua yang ada di ruangan itu, lalu sedikit membubgkuk, "Maafkan aku, karena aku kalian semua jadi ikut terlibat!"
Di luar sana Media sudah menulis, "Dokter membunuh bayi karena cemburu!"
Lin Yue berdiri lalu memeluk Seline, "Tidak perlu khawatir. Kami percaya padamu. Kau bukan orang yang seperti itu!"
Simon dan asisten perawat itu menganggukan kepala juga, tanda memberikan dukungan pada Seline. Simon langsung duduk di kursi kerjanya. Dia menunjukan sebuah kertas. " Ini yang harus kita lakukuan!"
Seline mengambil kertas itu, lalu tertawa lepas. "Kau membuat Roundwon penyelidikan?"
"Hei! Ini penting. Tidak ada yang boleh mencubit karyawan teladanku!" Kata simon sambil memasang wajah serius.
"Katakan saja kami harus apa, kami akan membantu semaksimal mungkin!" kata asisten Seline.
"Di atas maksimal!" sambung kata Lin Yue.
Hati Seline menghangat, sementara itu Eric pada saat ini tengah dikunci dikamarnya. Tuan Jack melarang keras Eric muncul untuk ikut campur menyelesaikan masalah yang dia buat sendiri. Tuan Jack memutuskqn dia yang akan pergi menemui Seline.
Di tengah-tengah diskusi hangat, di ruangan Simon. Perawat Senior memberi tahu bahwa papa mertuanya ingin bertemu dengan Seline.
"Bawa dia ke ruang Meeting!" Kata Simon.
"Apa mau aku temani?" tanya Simon Kepada Seline.
Seline menggelengkan kepala, mwrasa ini urusan antara memantu dan mertua, jadi tidak perlu ditemani. Dia pun langsung menemui Papa Mertuanya itu.
Seline masuk ke ruang meeting, Seline merasa iba. Dia merasa kerutan di wajah Papa mertuanya itu semakin jelas terlihat. Meskipun begitu, guratan tampan tetap masih terlihat jejaknya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Papa mertuanya itu.
Seline mengangguk, "Ada apa Pa?" tanya Seline basa basi, meski sudah mengetahui maksud tujuan kedatangan papa mertuanya itu.
"Maafkan papa!" Kata Tuab Jack sambil menatap sedih kepada menantunya itu.
dengan alur yg bagus...ditambah ada banyak bgt ilmu yg tersaji didalemnya ....
pokoknya recommended novel author ini gak pernah gagal 🫶🏻
dasar nya pelekor buat drama murahan aja terus. orang juga pasti mikir masa baru mau di pasang infus dah ada kontraksi yang membuat keguguran. kan aneh belum ada semenit juga.
eric PeDe gila mau balikan lagi sama seline, orang seline ja dah muak sama kamu😏
inget bu harta yang kamu miliki bisa lenyap hanya dengan hitungan menit, tapi menantu baik dan tulus tak bisa di ganti dengan apa pun