NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita yang Tak Sempurna

"Kau pikir aku akan percaya begitu saja, Mas?"

Mawar mundur selangkah, menatap Bima lekat-lekat, seakan ingin membaca apa yang tersembunyi di balik tatapan yang berusaha tenang itu. Pria itu menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat, tidak lagi tampak mengancam, melainkan lelah, sedih, penuh penyesalan yang tulus.

"Aku tahu sulit dipercaya, Mawar. Tapi ini kenyataannya, Gala pergi ke kota besar demi memenuhi janjinya pada Ibumu. Dia berjanji akan pulang membawa kesuksesan yang bisa membuat Ibu merestui hubungan kalian." ucap Bima, suaranya berat namun tenang.

Mawar terdiam, dadanya terasa sesak. "Lalu kenapa dia tidak pernah kembali?"

Bima menunduk, mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang gemetar. "Itulah yang tak ada seorang pun tahu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tak ada surat, tak ada kabar. Seakan bumi menelan pria itu." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Ibumu semakin tua, semakin cemas. Kau sendiri… perlahan kehilangan semangat menunggunya."

"Dan kau?" tanya Mawar tajam. "Kau ada di sana sepanjang waktu, bukan?"

"Aku selalu ada," akui Bima lembut.

"Aku temanmu sejak kecil. Aku tak bisa membiarkanmu hancur begitu saja. Aku menemani, merawat, berusaha mengembalikan senyum itu… sampai satu malam, terjadi kecelakaan."

Mawar mengerutkan kening, kepalanya berdenyut samar. "Kecelakaan…?"

"Kita pulang dari kota, hujan deras, jalan licin. Mobil kita tergelincir," Bima menatapnya dalam, matanya memancarkan kesedihan yang nyata. "Kau terluka parah. Dan setelah pulih, dokter memberitahumu sesuatu yang mengubah segalanya, kau mengandung."

Mawar menangkup perutnya secara refleks, meski kini sedikit membuncit. "Anak ini…"

"Adalah alasan mengapa kita menikah, Mawar. Demi menjaga namamu, demi masa depan anak itu, aku memintamu menikah denganku. Bukan karena paksaan, tapi karena aku ingin melindungimu." Bima meraih tangan gadis itu, sentuhannya lembut, memohon agar dipercaya.

"Kau setuju. Kita berjanji memulai hidup baru bersama."

"Dan Gala? Bagaimana dengan dia?" Mawar menarik tangannya perlahan.

Bima terdiam, menatap lantai seakan melihat bayangan masa lalu. "Dia kembali, tak lama setelah kita menikah. Dia tahu segalanya." Suara Bima merendah.

"Kehancuran di wajahnya… tak bisa aku gambarkan. Dia tak bisa menerima kenyataan itu. Pikiran kacau, berkendara tanpa arah, lalu kecelakaan terjadi."

Mawar menutup mulutnya, matanya memanas. "Jadi… dia meninggal karena kecelakaan?"

"Ya," jawab Bima mantap, namun ada kilatan yang tak bisa disembunyikan di sudut matanya.

"Kepergian Gala bukan salah siapa-siapa. Hanya takdir yang kejam. Dia terlambat pulang, dan aku… aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untukmu."

Bima mendekat lagi, menatap Mawar dengan tulus. "Mengapa kau tidak bisa melihatnya, Mawar? Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Aku hanya ingin melindungimu."

Mawar menatap Bima lama, berusaha mencerna setiap kata. Logikanya masuk, ceritanya utuh, namun hatinya menolak merasa tenang. Seperti ada kepingan yang hilang, seperti nada yang tak pas. Sesuatu yang tak bisa ia sebutkan namanya, tapi terasa nyata di setiap sudut cerita itu.

"Kau bilang kepergian Gala murni kecelakaan?" tanya Mawar pelan namun tegas.

"Ya, murni kebetulan."

"Dan kau tidak ada hubungannya?"

Bima menatap Mawar lurus. "Tidak ada yang menyakitinya, Mawar. Aku juga tak pernah berharap hal buruk menimpanya."

Mawar mengangguk pelan, tapi keraguan tak hilang. Ia memeluk dirinya sendiri, merasakan dingin yang menjalar dari dalam. "Ceritamu masuk akal, Mas."

"Kalau begitu percayalah," pinta Bima lembut.

"Tapi…" Mawar menatap pria itu tajam, tak berkedip. "Mengapa setiap kali kau menyebut nama Gala, matamu menyembunyikan sesuatu yang tak bisa kuartikan?"

Bima terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, senyum yang tak sepenuhnya sampai ke mata. "Karena aku juga sedih atas kepergiannya. Dia teman kita berdua."

Mawar tak menjawab. Ia berbalik perlahan, menatap ke arah jendela yang gelap, seakan ada sesuatu di luar sana yang bisa memberitahunya kebenaran yang sesungguhnya. Cerita itu rapi, terlalu rapi. Namun di tempat yang paling dalam, di tempat yang tak terjangkau akal, ada bisik halus yang berkata, "ini belum semuanya."

"Baiklah, Mas. Aku akan mencoba mempercayaimu." ucap Mawar, tanpa menoleh.

Bima menghela napas lega, mendekat ingin memeluknya, namun Mawar mengangkat tangan pelan menahannya.

"Tapi aku tidak akan berhenti mencari tahu sampai hatiku benar-benar tenang," lanjutnya tegas.

"Sampai saat itu tiba, jangan berharap aku bisa melupakan semua yang terasa salah."

Bima menurunkan tangannya, mengangguk pelan meski raut wajahnya menegang. "Lakukanlah apa yang membuatmu tenang, Mawar. Tapi ingatlah satu hal, apa pun yang terjadi, aku tak pernah berhenti mencintaimu."

Mawar berbalik menatapnya lurus, matanya jernih namun penuh tanda tanya yang tak terjawab.

"Apakah benar begitu, Mas? Atau kau hanya tak pernah berhenti mencintai dirimu sendiri?"

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!