Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Suasana ruangan kembali dipenuhi dengan suara bisik-bisik dari para peserta yang membicarakan pertengkaran barusan.
"Anak itu cari mati berani melawan Kevin Wijaya," ucap seorang peserta berkacamata kepada temannya.
"Iya, ayah Kevin kan salah satu sponsor acara ini. Anak miskin itu pasti langsung tereliminasi hari ini juga."
Aldo mendengar semua cibiran itu tapi dia memilih untuk menutup telinganya rapat-rapat.
Fokusnya saat ini hanya satu yaitu memasak hidangan terbaik untuk lolos dari tahap audisi pertama.
Dia mengambil pisau dapurnya dan mulai mengupas kulit bawang merah dengan gerakan sangat cepat.
Sret sret sret.
Hanya dalam waktu beberapa detik, lima siung bawang merah sudah terkupas bersih tanpa ada daging bawang yang terbuang.
Beberapa peserta yang tadinya meremehkan Aldo kini menatap heran melihat teknik pisau yang sangat efisien tersebut.
"Kecepatan tangannya lumayan juga untuk ukuran amatir," gumam seorang wanita berambut pendek di meja seberang.
Aldo tidak memedulikan tatapan mereka dan terus menyiapkan bahan-bahan dasarnya.
Dia memotong cabai merah besar, menumbuk kemiri, dan memarkan batang serai di atas talenan kayunya.
Tak tok tak tok.
Suara pisau Aldo beradu dengan talenan terdengar sangat berirama dan konstan.
Ini adalah ritme yang selalu diajarkan ibunya saat mereka memasak pesanan katering di rumah dulu.
"Ibu bilang, kunci masakan Nusantara ada di persiapan bumbu dasar yang matang dan presisi," batin Aldo sambil tersenyum tipis.
Tiba-tiba, suara pengumuman dari pengeras suara di sudut ruangan memecah konsentrasi semua orang.
"Perhatian kepada seluruh peserta audisi kloter terakhir, harap bersiap di depan pintu masuk ruang galeri utama."
Jantung Aldo langsung berdegup kencang mendengar pengumuman tersebut.
Ini adalah kloternya dan ini adalah kesempatan satu-satunya untuk mengubah jalan hidupnya yang suram.
"Waktu memasak kalian di dalam galeri adalah enam puluh menit."
"Gunakan waktu tersebut sebaik mungkin untuk menyiapkan satu hidangan andalan signature dish kalian."
Aldo segera merapikan bahan-bahannya ke dalam nampan plastik yang sudah disediakan panitia di bawah meja.
Dia mengangkat wajan aluminiumnya dan meletakkannya di atas nampan tersebut bersama dengan ulekan batunya.
"Semua peserta kloter lima, silakan berbaris rapi menuju lorong galeri sekarang!" teriak seorang panitia pria berkemeja hitam.
Aldo berjalan paling belakang di antara rombongan kloter terakhir yang berjumlah sekitar tiga puluh orang.
Dia bisa melihat punggung Kevin yang berjalan tegap di barisan paling depan dengan dagu terangkat tinggi.
Di tangan Kevin terdapat nampan berisi daging wagyu super mahal dan peralatan masak berteknologi canggih.
"Orang kaya selalu berpikir uang bisa membeli segalanya termasuk kemenangan," gumam Aldo pelan.
Lorong menuju ruang galeri utama terasa sangat dingin namun telapak tangan Aldo justru berkeringat.
Lampu-lampu sorot di atas lorong menyala terang menyilaukan mata.
Kriet.
Pintu ganda berukuran raksasa di ujung lorong terbuka secara otomatis perlahan-lahan.
Cahaya putih yang sangat terang seketika menyapu wajah semua peserta yang berdiri di depan pintu.
Aldo menyipitkan matanya menyesuaikan diri dengan cahaya terang dari ratusan lampu sorot di dalam ruangan.
Saat matanya mulai terbiasa, Aldo langsung terpukau melihat pemandangan di depannya.
Ini adalah galeri Master Chef yang selalu dia tonton di televisi layar cembung milik tetangganya.
Meja-meja memasak berbahan baja tahan karat stainless steel berjejer sangat rapi membentuk huruf U besar.
Setiap meja dilengkapi dengan kompor gas bertekanan tinggi, oven modern, dan peralatan lengkap kelas restoran bintang lima.
Kamera televisi besar bergerak memutar di atas rel khusus untuk menyorot wajah para peserta satu per satu.
Di bagian paling depan ruangan, terdapat sebuah podium tinggi yang diisi oleh meja penjurian panjang berbahan kayu jati.
Tiga orang juri utama berdiri di belakang meja tersebut dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Chef Arya berdiri di tengah dengan tangan terlipat dan wajah sedingin bongkahan es di kutub utara.
Di sebelah kanannya ada Chef Renata yang tersenyum tipis namun tatapan matanya setajam elang menguliti setiap peserta.
Di sebelah kiri berdiri Chef Bram yang santai menyenderkan badannya tapi semua orang tahu mulutnya sangat pedas.
"Selamat datang di Galeri Master Chef Nusantara Season lima," ucap Chef Arya dengan suara baritonnya yang menggema melalui mikrofon.
Suasana galeri langsung sunyi senyap dan tidak ada satupun peserta yang berani bernafas dengan keras.
"Hari ini, kalian akan membuktikan apakah kalian pantas memakai celemek putih berlambang kebanggaan ini atau tidak."
Chef Arya menatap satu per satu wajah peserta kloter lima dan tatapannya berhenti sejenak saat melihat wajah Aldo.
Sudut bibir Chef Arya sedikit terangkat membentuk seringai tipis yang sulit diartikan maknanya.
"Waktu kalian enam puluh menit dimulai dari sekarang!" teriak Chef Bram tiba-tiba sambil menekan tombol sirine besar.
Teeet.
Suara sirine berdengung sangat keras membuat semua peserta langsung berlarian menuju meja masak yang kosong.
Aldo berlari cepat menempati meja masak nomor dua belas yang berada di barisan tengah.
Dia langsung meletakkan nampan bahan makanannya dan menghidupkan kompor gas.
Blar.
Api biru menyala besar menyambar pantat wajan aluminium milik Aldo dalam sekejap.
Waktu terus berjalan dan pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.
makasi crazy up nya