Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HADIAH SUKU ELF DAN RUMAH POHON
Pesta penghormatan di pusat Desa Elf berlangsung hangat meski diselimuti rasa takjub yang belum sepenuhnya reda. Di atas panggung kayu ukir yang indah, para tetua Elf berdiri berdampingan dengan Putri Eldrin. Di hadapan mereka, Kayy, Alya, dan Elena yang duduk di punggung Shiro dipandang layaknya penyelamat agung yang baru saja menurunkan mukjizat dari langit.
Setelah jamuan makan buah-buahan segar selesai, Eldrin melangkah maju seraya membawa sebuah kotak kayu cendana yang diukir dengan simbol-simbol kuno. Ketika kotak itu dibuka, aroma wangi yang sangat menenangkan merebak ke seluruh area pesta, memancarkan pendar cahaya hijau keemasan yang begitu lembut.
Di dalam kotak tersebut terbaring sebutir benih tanaman berukuran sebesar telur ayam dengan permukaan berkilau seperti kristal zamrud.
"Yang Mulia Penjaga Agung... Ini adalah Ancient World Tree Seed, pusaka tertinggi yang dijaga oleh bangsa Elf Hutan selama ribuan tahun," ucap Eldrin dengan suara penuh penghormatan dan kerendahan hati. "Kami tahu hadiah ini tidak sebanding dengan pertolonganmu yang telah menyelamatkan desa kami dari kepunahan. Namun, mohon marilah menerimanya sebagai simbol ikatan persahabatan abadi antara bangsa Elf dan keluargamu."
Kayy yang berdiri memegang teko teh kayu mendadak merasa canggung. Pria berstatus MAX itu hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Ah, tidak usah repot-repot, Putri Eldrin. Saya membantu cuma karena tidak ingin monster itu mengganggu ketenangan Hutan Kelam. Lagi pula, benih berharga seperti ini lebih cocok disimpan di desa kalian saja."
Mendengar penolakan halus dari Kayy, Eldrin dan para tetua Elf langsung pucat pasi. Mereka khawatir persembahan mereka dianggap terlalu murah atau kurang layak bagi sosok "Dewa Penjaga Hutan".
Namun, sebelum kesalahpahaman itu meluas, sebuah tangan mungil menepuk pelan bahu Kayy.
"Ayah... Biji bijiannya bagus banget! Warnanya kayak hijau mainan Elena!" seru Elena dengan mata berbinar-binar terang. Bocah lima tahun itu menatap benih berkilau di dalam kotak dengan raut wajah penuh permohonan yang menggemaskan. "Boleh Elena bawa pulang, Ayah? Boleh ya?"
Melihat tatapan polos putrinya yang sangat sulit ditolak, benteng pertahanan Kayy langsung runtuh seketika. Pria itu menghela napas pasrah seraya tersenyum penuh kasih sayang.
"Baiklah, kalau Elena suka, kita bawa pulang," kata Kayy mengalah.
Eldrin bernapas lega luar biasa. Dengan penuh kehati-hatian, sang Putri Elf menyerahkan kotak cendana itu kepada Elena. "Terima kasih banyak, Putri Kecil. Jagalah benih ini dengan baik."
"Makasih, Tante Telinga Panjang!" jawab Elena gembira sambil memeluk kotak cendana tersebut erat-erat di dadanya.
Setelah pamit dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Desa Elf yang membungkuk hormat hingga rombongan mereka hilang dari pandangan, keluarga kecil itu pun berjalan pulang menembus kehangatan sore Hutan Kelam.
Sesampainya di pekarangan rumah kayu dua lantai milik mereka, matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga yang mempesona di langit.
Begitu Shiro berbaring santai di atas rumput, Elena langsung melompat turun dari punggung serigala es raksasa itu. Langkah kaki mungilnya berlari kencang menuju area pekarangan samping—tepat di sebelah wortel emas raksasa setinggi dua meter yang sudah menancap sebelumnya.
"Elena mau tanam biji ajaib di sini!" seru bocah itu riang.
Dengan menggunakan pedang kayu mainannya, Elena menggali lubang kecil di atas tanah pekarangan. Ia meletakkan benih kristal zamrud itu ke dalam tanah, lalu menimbunnya kembali menggunakan jemari mungilnya yang belepotan tanah hitam.
Alya yang baru keluar dari teras sambil membawa kain lap tersenyum geli melihat tingkah putrinya. "Elena, menanam pohon itu butuh waktu bertahun-tahun sampai tumbuh besar, lho."
"Nggak apa-apa, Ibu! Elena kasih sihir biar bijinya tidak kedinginan!" jawab Elena polos. Bocah kecil itu menempelkan kedua telapak tangannya ke atas tanah tempat benih tertanam, lalu menyalurkan sihir pemulihan sucinya (Saintly Healing Pulse).
Melihat jemari Elena yang kotor oleh tanah pekarangan, Kayy berjalan mendekat sambil membawa cangkul kayu dan gayung berisi air. "Sini, Ayah rapikan tanahnya dan kasih sedikit pupuk racikan Ayah supaya tumbuh subur ya."
Kayy menepuk-nepuk tanah pekarangan tersebut menggunakan tangannya, secara tak sadar menyalurkan pasokan mana tanah berenergi Celestial Soil serta mengaktifkan skill pertukangan [Fortify MAX] dan [Nature Harmony MAX].
Perpaduan antara sihir suci murni milik Elena yang dipenuhi rasa cinta anak-anak, ditambah dengan nutrisi mutlak dari status MAX milik Kayy, menciptakan reaksi magis yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah dunia!
BZZZZZZZZZT!
Tanah pekarangan mendadak bergetar hebat! Cahaya hijau zamrud dan emas membumbung tinggi ke langit malam Hutan Kelam, menerangi seluruh area rumah kayu mereka dengan keindahan yang spektakuler.
CRACK! KLTAP!
Tunas hijau raksasa mendadak meledak keluar dari dalam tanah! Dalam hitungan detik, tunas itu bertumbuh melesat kencang ke atas layaknya naga kayu yang sedang terbang! Akar-akar pohon Kehidupan Abadi itu menjalar dengan rapi di bawah tanah tanpa merusak fondasi rumah kayu milik Kayy, sementara batangnya membumbung tinggi hingga mencapai lima belas meter!
Dahan-dahan pohon itu melebar rindang, menumbuhkan dedaunan kristal hijau yang menyala lembut seperti lampu malam. Namun, keajaiban tidak berhenti di situ. Berkat sihir struktur [Fortify] milik Kayy yang merespons keinginan Elena untuk memiliki tempat bermain, dahan-dahan utama di bagian atas pohon itu terukir dan menyatu secara otomatis, membentuk sebuah Rumah Pohon Mewah yang sangat indah!
Rumah pohon itu memiliki jendela-jendela kayu kecil yang artistik, atap dari dedaunan abadi yang tahan hujan, serta sebuah jembatan gantung kayu kecil yang tersambung secara presisi langsung ke balkon lantai dua rumah Kayy! Tak lupa, di bagian samping batang pohon, tumbuh jalinan akar yang meliuk halus membentuk sebuah perosotan spiral yang aman dan bermuara tepat di atas rumput pekarangan!
WUUUSH...
Angin malam berhembus pelan, menyebarkan aroma harum kesegaran alam dari pohon ajaib baru tersebut.
Elena mendongak menatap rumah pohon megah yang baru saja tumbuh dalam waktu kurang dari satu menit. Matanya membelalak lebar dengan mulut terbuka membentuk huruf 'O'.
"WAAAHHH! Rumah pohon Elena jadi!" jerit Elena melompat-lompat gembira. Tanpa ragu, bocah lima tahun itu langsung berlari menaiki tangga akar, masuk ke dalam rumah pohon barunya, lalu meluncur turun lewat perosotan spiral kayu dengan tawa renyah yang membahana. "Horeee! Seru banget! Shiro, ayo ikut meluncur!"
Shiro menggonggong gembira dan ikut melompat pelan mencoba perosotan kayu raksasa tersebut, membuat pekarangan malam itu makin ramai dan penuh gelak tawa.
Alya yang berdiri di teras hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangan, takjub bercampur terperangah melihat pekarangan rumah mereka yang kini dihiasi wortel emas dua meter dan Pohon Kehidupan raksasa berumah pohon.
"Kayy... Sepertinya pekarangan rumah kita sudah benar-benar berubah jadi tempat dongeng ajaib," bisik Alya seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Kayy mengusap rambut pirang istrinya dengan lembut, menatap putri kecil mereka yang sedang asyik bermain bersama serigala es di bawah pendar cahaya daun-daun kristal. Pria berstatus MAX itu tertawa pelan, menikmati momen kehangatan keluarga yang begitu sempurna.
"Selama Elena dan kamu bahagia, tempat ini akan selalu jadi tempat terbaik di dunia," jawab Kayy tulus, memeluk Alya dengan erat di bawah naungan bintang-bintang Hutan Kelam.