Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Siap ataupun tidak
Siang menyingsing cepat di pesisir Tidebay.
Airyn terbangun dari tidurnya di atas meja dapur, meregangkan tubuhnya yang masih terasa kaku. Di balik oven tempat pembakaran, Kaelen tampak sibuk membolak-balik adonan roti.
"Sudah bangun?" tanya Kaelen seraya menyunggingkan senyum tipis.
"Tubuhku tidak sepegal hari pertama," gumam Airyn seraya menepuk-nepuk bahunya.
Sudah hampir seminggu ia menjalani latihan fisik yang menguras stamina dari sebelum fajar. Bahkan sejak tiga hari lalu, sang paman mulai mengajarkannya teknik pertarungan jarak dekat, kombinasi gerakan banting dan tinju dasar untuk membela diri.
"Pertarungan fisik memang bukan gaya utama seorang Aetherist Air, tetapi kau tetap harus menguasainya untuk bertahan hidup di situasi darurat," ingat Airyn akan ucapan pamannya waktu itu.
"Kau terlalu memaksanya! Untuk apa seorang gadis muda dipaksa latihan fisik dan bertarung sejauh itu?" tegur Paman Marco dari meja kasir.
Pria tua itu rupanya sempat curiga karena Airyn sering ketiduran di kedai. Saat menguntit mereka sejak pagi buta di dermaga, Paman Marco memergoki Kaelen memacu Airyn berlari tanpa henti hingga fajar menyingsing. Awalnya Paman Marco marah besar, tetapi Airyn menegaskan bahwa itu adalah keinginannya sendiri.
"Aku harus kuat, Paman. Kalau nanti ada orang yang berbuat jahat, aku bisa melindungi Paman Marco," ujar Airyn menyeringai sembari mengudara dengan tinju kecilnya.
Paman Marco memutar bola matanya seraya menggelengkan kepala, lalu kembali menyeduh teh, sementara Kaelen tertawa renyah melihat tingkah keponakannya.
Malam harinya, seperti biasa, mereka kembali berlatih di tepian hutan bakau yang sepi.
Kemampuan Airyn berkembang pesat. Ia kini sanggup menahan benteng air setinggi tiga meter selama lebih dari sepuluh menit, lalu mengembalikannya ke permukaan laut dengan begitu tenang.
"Sekarang, kita masuk ke teknik penyerangan," bimbing Kaelen.
Pria itu memajukan kedua telapak tangannya. Air laut terangkat membentuk dinding raksasa, lalu dihentakkan kencang ke depan. Gelombang tersebut meluncur deras, memicu dorongan ombak yang cukup kuat ke tebing seberang.
Airyn terpana melihat kekuatan itu. Kaelen memberi isyarat agar ia mencoba.
Airyn meniru setiap lekuk gerakan pamannya. Namun, gadis itu melupakan satu hal penting: kontrol tenaga.
Airyn mendorong Aether di tangannya terlalu kuat, membuat air laut bergulung cepat menjadi ombak besar yang menghantam tepi dermaga dan membasahi jalanan pemukiman warga.
"A-aku kelepasan..." bisik Airyn cemas.
"Tidak apa-apa," puji Kaelen menenangkan. "Kau harus belajar mengontrolnya agar tidak membahayakan orang lain. Air bisa menjadi kawan saat tenang, tetapi berubah menjadi bencana saat berkecamuk."
Airyn mengangguk paham. Sesi latihan malam itu ditutup dengan pencapaian baru.
Keesokan siangnya, kedai Paman Marco mendadak diserbu rombongan turis yang baru saja berlabuh di dermaga. Suasana kedai berubah sangat ramai dan sibuk.
Kaelen sibuk memanggang roti dan menyajikannya ke meja-meja pengunjung, sementara Paman Marco tak berhenti menyeduh teh.
Di meja belakang dapur, Airyn masih terlelap dalam mimpi mewujudkan kelelahan fisiknya.
"Bangunkan saja dia, kita bisa kelimpungan kalau pengunjung makin ramai," usul Paman Marco.
"Tidak perlu, biarkan dia istirahat. Kita berdua masih bisa menangani ini," sahut Kaelen tenang.
Saat hendak berbalik membawa nampan kembali ke dapur, Kaelen tak sengaja berbenturan dengan seorang pengunjung bertubuh kekar.
Bruk!
"Maafkan saya," ucap Kaelen cepat seraya memutar langkah.
"Tunggu!" bentak pria botak bertubuh besar itu mendadak. Matanya menatap curiga pada noda noda hitam yang menempel di baju mewahnya sehabis bertabrakan tak sengaja dengan Kaelan.
Tanpa basa-basi, si pria botak meraih dan meremas rambut Kaelen. Jarinya seketika diliputi warna hitam pekat. Kaelen terperanjat, menangkis tangan pria itu dan melangkah mundur.
"Lihat ini! Pria ini mencurigakan! Rambutnya diselimuti pewarna hitam!" teriak si pria botak dengan suara menggelegar ke seisi kedai.
Para pengunjung yang panik mendadak berdiri. Kerumunan itu makin merapat, memojokkan Kaelen ke dinding kedai. Dua pria berbadan besar memiting kedua lengan Kaelen ke belakang hingga sang paman berlutut di atas lantai kayu.
"Hei! Hentikan! Jangan bertindak sewenang-wenang di kedaiku!" seru Paman Marco pasang badan.
"Minggir, Pak Tua!" bentak si botak seraya menyambar teko teh panas dari meja terdekat
Byur!
Cairan teh yang masih hangat disiramkan tepat di atas kepala Kaelen. Lelehan pasta arang luntur seketika. Si pria botak mengacak-acak surai tersebut secara kasar, memperlihatkan rona biru serenity terang yang berkilau di bawah paparan cahaya matahari.
"Monster! Dia berambut biru!" jerit seorang pengunjung wanita ketakutan.
"Tangkap dia! Serahkan ke markas penjaga!" seru warga lainnya.
Suasana kedai berubah ricuh dan liar. Suara bentakan dan jeritan panik itu akhirnya memutus lelapnya tidur Airyn. Gadis itu membuka mata dan mendapati dapur dalam keadaan kosong.
Dengan perasaan tak enak, Airyn berlari ke area depan. Langkahnya terhenti seketika saat melihat pamannya terkunci berlutut di lantai, dalam kondisi basah kuyup dengan warna rambut biru yang terpampang nyata.
"Bawa dia keluar!" perintah si pria botak.
"TIDAK!" jerit Airyn menerobos kerumunan warga.Ia membentangkan kedua tangannya di depan tubuh Kaelen. "Kalian tidak boleh membawanya!"
Si pria botak berdecak kesal. Namun saat matanya menatap paras Airyn, fokusnya mendadak terkunci pada iris mata emas murni milik gadis itu.
"Tunggu... warna mata gadis ini aneh! Dia pasti monster komplotannya!" provokasi si pria botak.
Tanpa ampun, massa yang sudah tersulut emosi mencengkeram bahu Airyn, memaksa gadis itu ikut berlutut di samping Kaelen. Si pria botak menyambar sisa air teh di teko dan mengguyurnya ke kepala Airyn, mengacak-acak rambutnya hingga warna birunya terurai bebas di hadapan semua orang.
Paman Marco terpaku di tempatnya, matanya membelalak tak percaya melihat warna rambut asli Airyn.
"Lihat! Mereka berdua benar-benar komplotan monster! Seret mereka!" desak si pria botak.
"Berhenti! Aku yang menjamin mereka bukan monster ataupun ancaman!" jerit Paman Marco mencoba menerobos.
"Minggir kau, Pak Tua!" bentak si botak seraya mendorong Paman Marco hingga pria tua itu terhuyung menghantam dinding kayu kedai.
"Paman Marco!" teriak Airyn panik.
Namun dari sudut dinding, Paman Marco memberi isyarat pelan agar Airyn tidak mengkhawatirkannya.
"Lepaskan kami!" Airyn memberontak keras saat massa menyeret tubuhnya dan Kaelen keluar dari kedai menuju pos penjaga pesisir.
"Airyn..."
Suara panggilan Kaelen membuat gadis itu menoleh cepat, bertatap mata secara langsung dengan pamannya yang juga sedang diseret di sampingnya.
'Tatap terus mataku, Airyn,' gema suara Kaelen memenuhi pikiran Airyn tanpa ada pergerakan bibir sedikit pun.
'P-Paman? Apa yang terjadi? Ini... telepati?' tanya Airyn dalam batinnya, menguji apakah ia tidak sedang berhalusinasi.
'Sebut saja begitu. Dengarkan aku baik-baik, Airyn. Simpan energimu sekarang. Hari ini... kita mungkin harus bertarung,' bimbing Kaelen tegas lewat saluran batin mereka.
Airyn sempat ragu melihat jumlah warga dan penjaga yang mengepung mereka.
'Tapi... apakah kita sanggup, Paman?'
'Kau pasti bisa. Aku akan melindungimu,' sahut Kaelen mantap.
Airyn mengembuskan napas panjang, lalu mengangguk pelan. Kaelen menyunggingkan senyum tipis membalas keyakinan keponakannya.
Siap atau tidak, penyamaran belasan tahun itu resmi berakhir hari ini. Dan di ujung lorong pos penjaga sana, takdir membawa mereka berdua berdiri berhadapan langsung dengan bayang-bayang kejam Lord Grance, penguasa palsu yang telah merenggut seluruh keluarga mereka.