Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Varro dan Pengakuan Gisel
Cahaya keemasan matahari pagi perlahan menembus celah tirai kamar perawatan VIP Rumah Sakit Medika, membiaskan pendar hangat di atas lantai marmer yang dingin. Suasana di dalam ruangan begitu hening, hanya diisi oleh ritme konstan alat pemantau detak jantung yang berbunyi teratur.
Aku masih terduduk di kursi kayu samping ranjang, tak melepaskan genggaman tanganku dari jemari Varro sedikit pun. Semalaman suntuk mata ini enggan terpejam. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan darah segar yang mengucur dari lambungnya dan wajah pucat Varro saat rubuh di pangkuanku kembali menghantuiku bagai mimpi buruk yang nyata.
Aroma antiseptik rumah sakit menyengat lembut di udara. Aku menatap wajah tampan pria di hadapanku. Di bawah pendar cahaya pagi, ketajaman rahang dan garis wajahnya tampak sedikit melunak oleh warna pucat yang masih tersisa. Luka memar di pelipis dan bibirnya menjadi saksi bisu betapa brutal pertarungan semalam. Betapa besarnya harga yang rela dibayar oleh seorang Varro hanya demi memastikan keadaanku tetap aman.
Tiba-tiba, jemari tangan kanan Varro yang berada di dalam genggamanku bergetar halus.
Dahiku seketika berkerut, dadaku berdegup kencang secara maraton. Aku memajukan tubuhku, menatap lekat-lekat ke arah wajahnya.
Kelopak mata Varro bergetar pelan, sebelum akhirnya perlahan-lahan terbuka lebar. Bola mata cokelat gelapnya yang redup menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan, memindai sekeliling hingga akhirnya tatapannya terkunci rapat tepat pada sepasang mataku.
"Gis... el..." panggilnya dengan suara bariton yang teramat parau dan berat.
Air mata yang sejak semalam kutahan mendadak kembali merebak di pelupuk mataku. "Varro! Lo... lo udah bangun?!" seruku pelan seraya menahan isak tangis yang mendesak keluar.
Varro mencoba memutar posisi tubuhnya dan menggerakkan kakinya, namun rasa nyeri hebat di bagian abdomen bawahnya membuat pria berpostur 183 sentimeter itu refleks meringis dan menahan napas.
"Argh..." desis Varro seraya menekan tepi ranjang.
"Jangan bergerak dulu!" bentakku cepat, panik seraya menahan kedua bahunya dengan lembut agar ia kembali berbaring datar. "Luka bekas operasi lo di lambung masih baru! Lo mau jahitannya lepas lagi, Hah?!"
Varro menghembuskan napas pelan, menyandarkan kepalanya kembali di atas bantal putih. Senyum tipis nan lesu perlahan terukir di bibirnya yang masih membiru, sebuah senyuman usil yang begitu familiar.
"Galak banget... Baru juga gue bangun tidur..." bisik Varro pelan, matanya menatapku tanpa berkedip.
"Biarin! Biar lo kapok dan gak aneh-aneh lagi!" jawabku ketus, menyeka air mata di pipiku dengan punggung tangan.
Varro mengangkat tangan kanannya yang terpasang selang infus secara perlahan. Dengan gerakan yang teramat lembut dan hati-hati, ibu jarinya terulur menyapu sisa air mata di pipiku, lalu membelai lembut rahangku. Binar mata cokelat gelapnya memancarkan kehangatan dan ketulusan yang teramat dalam, membakar habis sisa keheningan di kamar tersebut.
"Muka lo pucat banget, Gisel cantik... Lo gak tidur semalaman ya gara-gara mikirin gue?" tanya Varro dengan nada suara yang teramat lembut.
Aku menggigit bibir bawahku, menatap matanya yang lurus tanpa ragu. "Ya iyalah! Menurut lo gara-gara siapa lagi kalau bukan gara-gara cowok sok pahlawan yang biarin badannya ditusuk pisau demi gue?!"
Varro terkekeh tipis, meski terkekeh saja membuat perutnya terasa perih. Tatapannya berubah menjadi begitu dalam dan intens. Pria itu menggeser jemarinya, mengusap bekas memar tipis di pergelangan tanganku yang kemarin sempat dicengkeram kasar oleh anak buah Raka.
"Gisel..." panggil Varro dengan nada suara yang teramat dalam dan sarat akan keseriusan mutlak.
"Apa?" sahutku menahan napas, meresapi sentuhan hangat tangannya di kulitku.
Varro menatap tepat ke dalam kedua bola mataku, seolah ingin menanamkan setiap bait perkataannya langsung ke dalam jiwaku.
"Gue gak bakal pernah ninggalin lo..." tutur Varro pelan namun begitu mantap. "Gue udah janji sama lo dan sama diri gue sendiri... ke mana pun lo pergi, gue bakal selalu ada di sana buat menjaga lo."
Dadaku berdesir hebat mendengarnya. Awan gelap ketakutan yang menyelimuti pikiranku sejak semalam perlahan sirna digantikan oleh rasa hangat yang membuncah.
Varro memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajahku dengan binar kepemilikan dan kasih sayang yang tak bisa ditutup-tutupi lagi.
"Lebih baik gue yang terluka parah dan masuk rumah sakit kayak gini..." lanjut Varro dengan suara baritonnya yang tegas dan sarat akan emosi, "...daripada gue harus melihat wajah cantik lo tersentuh atau dilukai sama tangan anak-anak Viper."
DEG!
Kalimat itu meluncur begitu tulus, tanpa ada kebohongan atau kesombongan sedikit pun di dalamnya. Air mata yang tadi sempat mereda kini kembali menetes deras membasahi pipiku. Rasa haru dan kepedihan menyatu hebat di dalam dada. Bagaimana mungkin seorang pria yang dulu sangat kukenal sebagai sosok paling arogan dan egois di kampus... kini rela mempertaruhkan nyawa dan menanggung rasa sakit yang luar biasa hanya demi menjaga diriku?
Aku memajukan tubuhku, menggenggam erat telapak tangan Varro yang berada di pipiku, lalu membenamkan wajahku di sana seraya terisak pelan.
"Lo gila, Varro... Lo bener-bener gila..." bisikku di antara tangisku. "Tapi tolong... jangan pernah biarin diri lo terluka parah kayak gini lagi. Gue gak sanggup kalau harus lihat lo terkapar berdarah-darah di depan mata gue..."
Varro membalas genggaman jemariku dengan hangat dan erat, mengumbar senyum paling menawan yang pernah kukenal. "Janji. Asal lo selalu ada di samping gue kayak gini."
Klek!
Pintu kamar VIP terdorong terbuka pelan. Suasana romantis dan haru di antara kami seketika terpecah.
Marcel melangkah masuk seraya membawa dua kantong plastik besar berisi makanan dan cangkir kopi, sementara Brandon berjalan di sampingnya seraya menatap layar tablet digital di tangannya.
"Widih! Baru juga siuman dari masa kritis, suasananya udah berasa kayak adegan drama Korea begini ya," celetuk Marcel dengan tawa giginya yang khas.
Wajahku seketika membara panas. Aku buru-buru melepaskan genggaman tanganku dari pipi Varro dan duduk menegak di atas kursi, mencoba merapikan rambutku yang berantakan dengan raut canggung.
Varro melirik Marcel dengan tatapan menyipit tajam, walau wajahnya masih pucat. "Berisik lo, Cel. Bisa gak ketuk pintu dulu sebelum masuk?"
Marcel meletakkan kantong plastik makanan di atas meja sudut ruangan, lalu tertawa renyah. "Gue kan mau memastikan bos geng Starlit udah bangun atau belum. Ternyata udah seger banget gara-gara disuntik obat racikan cinta dari Gisel."
Brandon melangkah mendekati ranjang, membetulkan posisi kacamata tipisnya. Ia mengamati layar pemantau detak jantung di samping ranjang Varro, lalu menatap sahabatnya dengan senyum lega. "Gimana rasa sakit di perut lo, Al?"
"Lumayan... kayak ditusuk ulang pakai pisau tumpul," sahut Varro santai, merapikan selimutnya. "Tapi masih bisa gue tahan."
"Lo bener-bener punya nyawa sembilan, Al," kata Brandon menggelengkan kepala. Pria berkacamata itu memelankan nada suaranya, berubah menjadi sangat serius. "Gue sama Marcel baru aja dapat laporan dari anak-anak Starlit di lapangan."
Varro menaikkan sebelah alisnya, sorot matanya seketika berubah tajam. "Gimana keadaan Raka dan anak-anak Viper?"
Marcel menyilangkan tangan di dada, raut humorisnya sirna digantikan kecemasan yang nyata. "Polisi udah bergerak dan menyegel area pabrik tua stasiun lama semalam gara-gara insiden penusukan lo. Sebagian besar anak buah Viper yang tertangkap di lokasi udah diamankan di kantor polisi."
"Tapi si Raka sialan itu berhasil kabur," potong Brandon datar, menatapi layar tabletnya. "Dia menghilang lewat jalur rel kereta tua sebelum anak-anak Starlit sempat mengurung jalurnya. Saat ini Raka statusnya DPO dan lagi ngelindungin diri di tempat persembunyian rahasia."
Mendengar nama Raka disebut, cengkeraman tangan Varro di atas sprei tempat tidur seketika mengencang kaku. Aura dingin khas ketua geng motor kembali menguar tipis dari tubuhnya.
"Dia gak bakal bisa lari jauh," gumam Varro dingin dengan suara bariton yang dalam. "Begitu gue keluar dari rumah sakit ini... gue sendiri yang bakal tuntaskan urusan sama Raka."
"Varro!" bentakku refleks menepuk pelan bahunya. "Lo itu baru selesai operasi! Jangan mulai mikirin hal-hal aneh dan berbahaya lagi!"
Varro menoleh menatapku, dan dalam sekejap aura dingin di wajahnya runtuh total berganti menjadi cengiran pasrah. "Iya, iya, Gisel cantik... Ampun, gue gak bakal macam-macam kok selama ada lo yang jagain."
Marcel dan Brandon saling melempar pandangan, lalu tertawa pelan melihat betapa tunduknya ketua geng motor paling ditakuti itu di hadapanku.
"Yaudah, Al," ucap Brandon merapikan jasnya. "Gue sama Marcel mau urus beberapa hal di kampus dan koordinasi sama anak-anak Starlit buat memperketat penjagaan di sekitar rumah Gisel sama kafe. Lo istirahat yang cukup di sini."
"Makasih ya, Bran, Cel," sahut Varro tulus.
"Sama-sama, Bro. Gisel, tolong titip si bos galak ini ya. Kalau dia rewel, suntik mati aja," goda Marcel seraya melambaikan tangan, lalu melangkah keluar dari kamar bersama Brandon.
Setelah pintu kamar kembali tertutup rapat, keheningan hangat kembali menyelimuti kami berdua. Suasana terasa jauh lebih tenang dan damai dari sebelumnya.
Aku melangkah mendekati meja, menuangkan segelas air hangat dari termos, lalu membawanya ke samping ranjang Varro. Aku membantunya menaikkan sandaran ranjang sedikit, lalu menyodorkan sedotan ke bibirnya.
Varro meminum air hangat itu pelan-pelan. Matanya tak pernah lepas menatap wajahku dari jarak dekat.
"Gisel," panggil Varro pelan setelah selesai minum.
"Kenapa?" tanyaku seraya meletakkan gelas kembali di atas meja.
Varro mengulurkan tangannya, merengkuh jemari tangan kananku dan mengaitkannya erat-erat di dalam genggamannya.
"Omongan lo semalam di lapangan pabrik tua... itu beneran kan?" tanya Varro dengan nada suara yang teramat lembut dan binar mata yang penuh antisipasi.
Pipi serasa terbakar hebat. Aku memalingkan wajah ke samping, berpura-pura tidak paham. "Omongan yang mana? Gue ngomong banyak banget semalam."
Varro menyunggingkan senyum miringnya yang menawan, menarik tanganku sedikit agar posisiku lebih mendekat ke dadanya. "Omongan pas lo nangis-nangis meluk leher gue... Lo bilang lo suka dan udah jatuh cinta sama gue."
Aku menelan ludah kaku, menatap mata cokelat gelapnya yang berkilat menagih kepastian. Tidak ada lagi alasan untuk bersembunyi atau gengsi. Pria di hadapanku ini telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya demi melindungiku.
Aku menyunggingkan senyum tipis yang hangat, menganggukkan kepalaku perlahan. "Iya... itu beneran, Varro Aldrian Wijaya. Gue beneran udah jatuh cinta sama lo. Dan makasih udah selalu melindungi gue."
Binar kebahagiaan yang teramat dahsyat memancar dari mata Varro. Ia menarik napas panjang penuh kelegaan, mendekatkan tanganku ke bibirnya, lalu mengecup punggung tanganku dengan amat lembut dan lama.
"Makasih, Gisel..." bisik Varro dengan suara yang bergetar emosional. "Makasih udah mau membukakan hati lo buat gue."
Namun, di tengah momen hangat yang memabukkan itu...
Drt... Drt...
Ponsel baru pemberian Varro yang berada di dalam saku jaket denimku yang tergantung di kapstok dinding mendadak bergetar halus. Sebuah nada dering pesan masuk memecah heningnya ruangan.
Aku melepaskan genggaman tangan Varro pelan, melangkah mengambil ponsel pintar tersebut. Begitu aku membuka layar digitalnya, sebuah pesan dari nomor tak dikenal terpampang jelas di layar.
Bukan dari Raka.
Tetapi sebuah pesan misterius yang berisi kalimat singkat yang sanggup membuat darah di dalam tubuhku kembali membeku kaku:
Pengirim Asing:
“Jangan terlalu cepat bersenang-senang di dalam kamar rumah sakit, Gisella. Varro mungkin selamat dari tusukan pisau Raka... tapi dia tidak akan pernah bisa selamat dari rahasia kelam keluarga Wijaya yang bakal gue bongkar di depan mata lo besok.”
Bersambung……