NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: tamat
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Hujan Darah di Ibu Kota

Ledakan dahsyat itu merobek lapisan beton setebal dua meter yang melindungi markas logistik bawah tanah Phantom Vanguard di ibu kota. Gelombang kejutnya melemparkan tubuh Mia Zimmer hingga menghantam konsol utama, sementara layar-layar monitor satelit meledak memuntahkan percikan api ke segala arah.

"Nona Mia! Menunduk!" teriak Silas Mercer. Ia menerjang maju, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk menutupi Mia dari hujan puing dan serpihan kaca.

Sirene darurat melengking memekakkan telinga. Lampu utama mati total, digantikan oleh pendaran lampu strobo merah yang menciptakan ilusi neraka di ruang komando tersebut.

Dari balik lubang menganga di langit-langit beton, puluhan bayangan hitam meluncur turun menggunakan tali rappel. Mereka tidak bersuara, tidak meneriakkan ancaman, dan bergerak dengan presisi mesin pembunuh. Mereka mengenakan seragam taktis berwarna merah darah gelap dengan topeng pelindung gas.

Itulah Blood Hounds anjing-anjing pembunuh pribadi milik Nyonya Besar Keluarga Summers dari Utara, pasukan yang jauh lebih mematikan daripada The 7 Assassins.

"Silas... mereka berhasil menembus perimeter baja," bisik Mia, napasnya terengah-engah, darah segar mengalir dari pelipisnya akibat benturan.

"Mereka menggunakan peledak termal tingkat militer," desis Silas, mencabut dua pucuk pistol Glock yang telah dimodifikasi dari balik jasnya. Ia menarik kerah Mia dan membawanya berlindung di balik server utama. "Nona, Anda harus pergi melalui lorong evakuasi darurat. Saya akan menahan mereka."

Namun, Mia menolak untuk berlari. Jika pria yang ia cintai bisa bangkit dari kehancuran, maka Mia tidak akan membiarkan dirinya mati hanya sebagai beban.

"Tidak ada jalan keluar, Silas. Mereka telah memotong sensor suhu di lorong evakuasi, artinya mereka menempatkan penyergap di sana," ucap Mia dengan ketenangan yang luar biasa dingin. Ia menyeka darah dari matanya, lalu membuka panel manual server di bawahnya. Jari-jarinya yang gemetar mulai mengetikkan rentetan kode override sistem pertahanan.

"Apa yang Anda lakukan, Nona?!"

"Aku memegang kendali fasilitas ini. Aku akan menjadikan tempat ini sebagai kuburan mereka," desis Mia.

KLANG! KLANG! KLANG!

Perintah Mia berhasil. Pintu-pintu lapis baja setebal lima belas sentimeter turun dari langit-langit, menjebak lebih dari separuh pasukan Blood Hounds di koridor luar. Sesaat kemudian, Mia mengaktifkan sistem pencegah kebakaran. Bukan air yang keluar, melainkan gas Halon menyedot habis oksigen di koridor tersebut. Para pembunuh di luar sana seketika berjatuhan, mencekik leher mereka sendiri.

Namun, belasan anggota Blood Hounds termasuk komandan mereka yang memegang sepasang belati bergerigi telah berhasil masuk ke ruang komando utama bersama Mia dan Silas.

"Habisi pria itu. Bawa gadis itu hidup-hidup. Nyonya Besar menginginkan kepalanya sebagai hadiah pernikahan untuk Arthur," perintah sang Komandan dengan suara terdistorsi dari balik topengnya.

Pertempuran jarak dekat tak terhindarkan. Silas melesat maju, melepaskan rentetan tembakan presisi. Setiap pelurunya bersarang di celah baju zirah musuh. Namun, Blood Hounds bergerak layaknya sekawanan serigala. Saat Silas berhasil melumpuhkan tiga orang, empat orang lainnya menerkam dari titik buta.

Sebuah sabetan belati merobek paha Silas, memaksanya berlutut. Pukulan godam dari musuh lain menghantam rusuknya hingga terdengar bunyi retakan tulang yang mengerikan. Silas memuntahkan darah, namun ia menolak tumbang. Ia membuang pistolnya yang kehabisan peluru, mencabut pisau tempurnya, dan membalas tusukan tepat ke leher musuh di depannya.

Sementara itu, jauh di Kota Khanh, di dalam fasilitas medis milik Drake Tucker.

Arthur Summers baru saja membaringkan putrinya yang tertidur lemah di atas ranjang medis. Pakaian sang Jenderal masih basah oleh darah, dan energi nya terkuras habis setelah melakukan resusitasi ekstrem. Namun, saat mendengar laporan bahwa markas logistik di ibu kota diserang, amarah murni kembali meledak dari dalam jiwanya.

Arthur menyentuh komunikator satelit di telinganya, menyambungkannya ke frekuensi darurat yang menghubungkan jenderal-jenderalnya di ibu kota.

"Zain! Clark!" raung Arthur, suaranya menggetarkan dinding kaca rumah sakit. "Tinggalkan kediaman Zimmer! Persetan dengan wilayah ibu kota! Pergi ke markas logistik sekarang juga! Jika satu helai rambut Mia terluka, aku akan mencabut nyawa kalian berdua!"

"Kami sudah dalam perjalanan, Jenderal! Waktu tempuh dua menit!" suara Clark terdengar menderu dari balik kemudi kendaraan taktis yang dipacu menembus dua ratus kilometer per jam.

Kembali ke markas logistik bawah tanah.

Silas Mercer kini terpojok. Darah menggenang di bawah kakinya. Tiga bilah pisau tertancap di bahu, punggung, dan perutnya. Letnan setia Istana Phantom itu masih berdiri merentangkan tangannya, melindungi Mia yang sedang mati-matian meretas sistem ventilasi utama untuk meracuni ruang komando.

Komandan Blood Hounds melangkah maju dengan santai. Ia menatap Silas dengan tatapan meremehkan. "Loyalitas yang bodoh."

Komandan itu mengayunkan belatinya ke arah leher Silas untuk tebasan eksekusi terakhir.

Mia menjerit. "Silas!"

DUARRR!

Sebelum belati itu menyentuh kulit Silas, seluruh dinding beton di sisi selatan ruang komando meledak hancur ke dalam. Sebuah kendaraan taktis militer seberat delapan ton menabrak masuk dengan kecepatan penuh, melindas tiga anggota Blood Hounds dan menghantam komandan mereka hingga terpental belasan meter.

Dari atas atap kendaraan yang berasap itu, Clark melompat turun membawa kapak tempur raksasanya. Zain, Sang Jenderal Hantu, meluncur dari jendela yang pecah, belati kembarnya sudah menari memotong udara.

"Kalian menyentuh markas kami, kalian melukai Letnan kami," geram Clark, auranya meledak menghancurkan sisa-sisa puing di sekitarnya.

"Dan kalian membuat Jenderal kami marah," bisik Zain, matanya berubah menjadi mata seorang malaikat maut. "Tidak akan ada pengampunan."

Kehadiran dua dari delapan belas jenderal utama Istana Phantom langsung membalikkan keadaan. Clark mengamuk layaknya beruang grizzly, membelah setiap anggota Blood Hounds beserta pelindung baja mereka menjadi dua bagian. Zain bergerak layaknya bayangan yang tak tersentuh, menggorok leher musuh bahkan sebelum mereka menyadari pedangnya diayunkan.

Mia segera berlari menarik tubuh Silas yang ambruk, menyeretnya ke balik perlindungan kendaraan taktis. "Bertahanlah, Silas. Tim medis akan segera datang!" tangis Mia, menekan luka di perut letnan itu.

Hanya dalam waktu tiga menit, sisa pasukan elit pembunuh dari Utara itu dibantai habis oleh Zain dan Clark. Darah segar melukis dinding ruang komando.

Clark berjalan mendekati Komandan Blood Hounds yang terkapar dengan tulang rusuk hancur akibat tabrakan mobil. Jenderal Penghancur itu mengangkat kapaknya, bersiap memenggal kepala musuh.

"Tunggu, Clark," cegah Zain, menyadari sesuatu yang janggal. "Pembunuh dari Utara tidak pernah mendesah pasrah saat kalah. Dia sedang tersenyum."

Sang Komandan Blood Hounds yang sekarat memang tengah tersenyum di balik topengnya yang retak. Ia terbatuk memuntahkan darah, lalu mengangkat tangan kirinya yang menggenggam sebuah detonator biometrik yang terhubung langsung dengan detak jantungnya.

"Nyonya Besar... mengirimkan salam," bisik komandan itu, napasnya tersengal. "Kalian memang kuat... tapi kalian tidak bisa membunuh sesuatu yang sudah mati."

Mata Zain membelalak ngeri. "Clark! Bawa Nona Mia mundur! Dia merakit bom bunuh diri termobarik di bawah fasilitas ini!"

"Waktunya habis," tawa komandan itu, sebelum akhirnya ia memutar lehernya sendiri hingga patah.

Tepat saat detak jantung komandan itu berhenti, detonator di tangannya menyala merah terang. Sebuah suara hitung mundur mekanis yang sangat nyaring bergema dari dasar fondasi markas bawah tanah tersebut.

BIP... BIP... BIP... SEPULUH DETIK MENUJU KEHANCURAN TOTAL.

1
G Use
Cerita mana mata uang Rupiah 🤭🤭🤭🤭
sitanggang
trrnyata mcnya go block & ceritanya muter2 gitu saja memperlihagkan ke go block kannya🤣🤣
nanonano
yah kalah lagi arthur...
nanonano
akankah arthur kalah strategi lagi?
nanonano
kalah strategi terus arthur
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!