Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Tae-jun merengkuh pinggang Ji-eun sedikit lebih erat, membawa tubuh wanita itu kian rapat ke dalam pelukannya. Kehangatan yang menjalar dari tubuh Ji-eun seolah menjadi penawar paling ampuh atas sisa-sisa sesak di dadanya sejak semalam. Ia menunduk, menatap sepasang mata jernih kekasihnya yang memancarkan kejujuran dan rasa peduli yang begitu dalam.
"Apa acara makan malam semalam berjalan lancar?" tanya Ji-eun lembut, menatap lurus ke dalam iris mata Tae-jun. "Kau bahkan tidak membalas pesanku. Aku sedikit cemas, itu sebabnya aku datang ke sini tanpa pemberitahuan."
Tae-jun menghela napas panjang, mengulas senyum tipis yang sarat akan rasa bersalah. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Ji-eun yang halus.
"Ah... soal itu.. acara makan malam keluarga tidak pernah berjalan dengan baik bagiku," aku Tae-jun dengan suara berat yang menahan lelah. "Itu sebabnya aku tidak menyukainya."
Ji-eun menatap raut wajah Tae-jun yang mendadak berubah redup. Ada jeda sejenak di antara mereka, di mana Ji-eun tampak menimbang kata-kata yang hendak diucapkannya. Ia ragu, takut menyentuh ranah yang terlalu sensitif.
"Tae-jun-ssi..." panggil Ji-eun lirih.
"Ya?"
"Hubunganmu dengan ayahmu..." Ji-eun menggantungkan kalimatnya, menyentuh lengan tegap Tae-jun pelan. "Ah, tidak. Sepertinya aku tidak bisa ikut campur soal ini."
"Gwenchana... kau boleh ikut campur soal diriku, Ji-eun-a," potong Tae-jun cepat, menyela keraguan Ji-eun. Suaranya terdengar begitu pasrah namun hangat, memberikan izin penuh bagi wanita di hadapannya untuk melangkah lebih jauh ke dalam dunia pribadinya.
Ji-eun terdiam. Ia menatap Tae-jun lama, menyerap kejujuran dalam tatapan pria itu.
"Hubunganku dengan ayahku tidak terlalu bagus," lanjut Tae-jun perlahan, membiarkan pertahanannya merobohkan dinding privasi yang selama ini ia bangun rapat-rapat. "Ayahku adalah orang yang sangat keras dan selalu menuntutku menuruti keinginannya."
Tae-jun menuntun Ji-eun berjalan menuju sofa ruang tengah. Pria itu duduk di sebelah Ji-eun, masih enggan melepaskan genggaman tangannya dari jemari sang kekasih. Ditatapnya cangkir kopi dingin yang tersisa di atas meja.
"Sejak kecil, bagi Ayah, aku dan Kak Soo-yeon bukanlah sekadar anak, melainkan aset perusahaan," tutur Tae-jun dengan nada datar, berusaha menyembunyikan luka lama yang merayap naik. "Segala hal dalam hidupku harus berjalan sesuai dengan standar dan garis yang ia buat. Sekolah tempat aku belajar, jurusan yang aku ambil, hingga posisi yang aku tempati di hotel hari ini... semuanya sudah diatur."
Ji-eun mendengarkan dengan penuh kesabaran. Ia meremas lembut jemari Tae-jun, menyalurkan kekuatan tanpa perlu memotong jalan cerita pria itu.
"Bahkan untuk pujian kecil yang ia berikan di meja makan semalam..." Tae-jun terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya pada sofa. "Itu bukan karena ia bangga padaku sebagai anaknya. Tapi karena aku berhasil mengeksekusi strategi bisnis yang menguntungkan bagi perusahaan."
"Pasti sangat melelahkan berada di posisimu, Tae-jun-ssi," bisik Ji-eun tulus. Matanya menatap Tae-jun dengan pancaran simpati yang teramat dalam. Ia mulai memahami mengapa Tae-jun tumbuh menjadi pria yang begitu dingin, tertutup, dan selalu menahan emosinya sendiri di depan publik. Pria ini dibesarkan di dalam sangkar emas yang dingin dan penuh dengan ekspektasi menekan.
"Dulu, aku berpikir hidupku akan terus seperti ini," ujar Tae-jun seraya memutar tubuhnya menghadap Ji-eun. Matanya menatap wajah Ji-eun dengan kehangatan yang kontras dengan topik pembicaraan mereka. "Menjadi boneka yang patuh, menjalankan perintah, dan hidup tidak sesuai dengan keinginanku. Tapi belakangan ini... aku sadar bahwa aku ingin memiliki sesuatu yang benar-benar milikku sendiri. Sesuatu yang ingin aku lindungi dengan caraku sendiri."
Ji-eun tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Tae-jun dengan lembut. "Sesuatu itu... termasuk kebahagiaanmu sendiri?"
"Termasuk dirimu, Ji-eun-a," tegas Tae-jun tanpa keraguan sedikit pun.
Jantung Ji-eun berdegup kencang mendengar pengakuan terus terang dari pria di hadapannya. Di balik sikap tegas seorang Direktur Utama di hotel, Tae-jun hanyalah seorang pria yang merindukan kebebasan untuk mencintai dan dicintai secara tulus.
"Ayah mungkin bisa mengatur bisnis dan jalan karierku," lanjut Tae-jun dengan tatapan mata yang berubah tajam dan penuh keteguhan. "Tapi dia tidak akan pernah bisa mengatur dengan siapa aku membagi hatiku dan hidupku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk ayahku sendiri mengambil kebahagiaan yang baru saja kutemukan bersamamu."
Ji-eun menyandarkan kepalanya di bahu tegap Tae-jun, menghirup aroma maskulin yang menenangkan dari tubuh pria itu. Rasa khawatir yang sempat menyergapnya sejak pagi perlahan-lahan sirna, berganti menjadi rasa percaya yang kian mengakar kuat.
"Aku tahu perjalanan kita tidak akan mudah, Tae-jun-ssi," ucap Ji-eun lirih namun mantap di ceruk leher Tae-jun. "Dunia tempatmu berdiri sangat berbeda dengan duniaku. Tapi jika kau bersedia menggenggam tanganku seperti ini, aku tidak akan takut pada apa pun."
Tae-jun melingkarkan lengannya di bahu Ji-eun, mengecup puncak kepala wanita itu dengan penuh kelembutan. "Terima kasih, Ji-eun-a... Terima kasih karena sudah datang ke dalam hidupku."
Di dalam apartemen yang sunyi dan diselimuti pendar hangat matahari siang itu, dua insan tersebut saling berjanji dalam hening. Meski ancaman perjodohan dan tekanan dari keluarga Seo membayang di depan mata, Tae-jun tahu ia tak lagi sendirian. Dan demi wanita di dalam pelukannya ini, ia siap menghadapi perang sekeras apa pun yang akan dilakukan oleh sang ayah di masa depan.
...****************...