Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Demi Menyingkirkan Halangan
"Anindya!"
Aku tetap masuk ke mobil. Kalau menoleh, mungkin aku tidak akan pernah sampai ke perjodohan yang dirancang Sulastri.
Reno Gunawan sudah duduk di sudut sebuah kafe Menteng ketika aku tiba. Rambutnya dicat merah muda, jam tangannya berkilau, dan dua kancing teratas kemejanya terbuka.
"Akhirnya," katanya tanpa berdiri. "Gue kira putri Bramantyo bakal lebih disiplin."
"Gue kira anak pemilik perusahaan tahu cara menyapa orang. Kita sama-sama kecewa."
Ia tertawa. Reno bercerita bahwa ia berhenti kuliah karena bosan, lalu dipaksa ayahnya masuk perusahaan setelah kartu kreditnya diblokir. Jabatan tanpa pekerjaan itu ia ceritakan seperti prestasi.
"Gue dengar keluarga lo lagi butuh proyek dari bokap," katanya sambil mengaduk kopi. "Kalau kita cocok, posisi gue di kantor juga aman. Sama-sama untung."
"Romantis sekali. Hampir bikin gue muntah."
"Santai. Kita nggak perlu pura-pura cinta. Lo kasih gue wajah cantik buat dibawa ke acara, gue kasih keluarga lo akses bisnis."
Aku meraih tas. Bahkan sebagai alat balas dendam, lelaki ini terlalu menjijikkan untuk ditoleransi lebih lama.
Ketika aku hendak pergi, tangannya mendarat di pahaku.
"Jangan mahal-mahal, dong. Tante Sulastri bilang lo orangnya santai."
Aku meraih asbak di meja. Sebelum sempat mengangkatnya, sebuah tangan menangkap pergelangan Reno.
Raka berdiri di samping kami.
"Lepaskan dia."
Reno menyeringai. "Adik tiri posesif?"
Raka memelintir tangannya sampai terlepas dariku. Reno bangkit dan mendorong bahunya. Pukulan pertama datang dari Raka. Kursi terjungkal. Reno jatuh, tetapi Raka terus menghantam sampai darah mengalir dari hidungnya.
"Raka, berhenti!" Aku menarik lengannya.
Petugas keamanan kafe akhirnya memisahkan mereka. Reno dibawa ke klinik, sementara manajer mencatat identitas kami dan menyimpan rekaman CCTV. Ancaman lapor polisi sudah disebut sebelum kami keluar.
Di parkiran, Raka membungkuskan jaketnya ke bahuku dan membawaku ke mobil. Tangannya lecet, wajahnya justru terlalu tenang.
"Tujuan kamu tercapai," katanya setelah pintu tertutup. "Aku bikin masalah. Mama-ku bakal ribut sama Papa-mu, mungkin sampai cerai. Puas?"
"Aku nggak minta kamu mematahkan hidung orang."
"Aku juga nggak minta kamu menyakiti diri sendiri demi balas dendam."
Kalimat itu membawaku kembali ke empat tahun lalu.
Raka yang baru masuk rumah pernah mogok makan untuk memaksa Sulastri membatalkan pernikahan. Tengah malam, aku menemukan tubuh kurusnya di dapur. Aku memasakkan mi instan yang terlalu lembek dan terlalu asin.
"Makan," kataku waktu itu. "Nggak boleh menyakiti diri sendiri demi apa pun. Mama kamu nggak akan berubah cuma karena kamu sakit."
Raka menghabiskan semangkuk mi buruk itu tanpa sisa.
Kini ia mengembalikan kata-kataku dengan bunga yang sudah berdarah.
"Kalau nggak ada mama-ku," tanyanya, "kamu bakal jatuh cinta sama aku nggak?"
Aku memandang ke luar jendela. "Pertanyaan bodoh."
"Kamu benar-benar nggak punya rasa sama aku?"
Bayangan caranya berlari mencariku, memeriksa kesadaranku, dan mengingat setiap luka kecilku memenuhi kepala.
"Ada," jawabku sangat pelan.
"Apa?"
"Iya, Raka. Aku punya rasa."
Ia menarikku ke dalam pelukan. Aku membiarkannya, tetapi segera memeriksa buku jarinya. "Kita tetap ke klinik. Dan kalau Reno melapor, kamu harus bertanggung jawab."
"Iya, Kakak."
"Jangan senang dulu. Pengakuanku bukan hadiah karena kamu berkelahi."
"Aku tahu." Pelukannya melonggar agar aku bebas mundur. "Aku seharusnya berhenti begitu dia lepas dari kamu."
Aku menatap lecet di tangannya. "Lain kali, panggil keamanan dan cari saksi. Lindungi aku tanpa menghancurkan hidupmu sendiri."
Raka mengangguk. "Aku akan belajar. Tapi soal perasaanku, aku nggak akan mundur."
Tiga hari kemudian, Pak Gunawan datang ke rumah membawa hasil pemeriksaan yang menyatakan tulang hidung Reno retak. Ia melempar map tagihan ke meja.
"Bayar perawatan, minta maaf secara resmi, dan suruh Raka datang menemui anak saya. Kalau tidak, saya lapor polisi dan semua kerja sama dengan Bramantara batal."
Papa dan Sulastri meminta maaf berkali-kali. Raka berlutut di ruang tengah, tetapi menolak mengucapkan permintaan maaf palsu.
"Kamu mempermalukan keluarga!" Papa mengayunkan sapu ke punggungnya.
Aku maju, tetapi Raka mengangkat telapak tangan agar aku berhenti. Pukulan kedua membuat bahunya membungkuk.
"Papa, cukup! Kekerasan nggak menyelesaikan kekerasan."
Pak Gunawan menatap dingin. "Anak saya juga dipukul sampai patah tulang."
"Karena dia menyentuh aku tanpa izin," balasku. "Rekaman CCTV merekam semuanya. Kalau perkara ini dibawa ke polisi, kami juga akan menyerahkan bukti pelecehan dan memeriksakan goresan serta saksi."
Ruangan mendadak sunyi.
Raka mengangkat kepala. "Aku tidak menyesal menghentikan Reno, tapi aku mengakui aku memukul berlebihan. Aku akan bayar perawatan dan menghadapi akibatnya. Aku tidak akan bilang tindakan dia benar."
"Kenapa kamu sampai segila ini?" teriak Sulastri.
"Karena aku mau menikahi Anindya."
Sulastri jatuh terduduk di sofa. Papa melepaskan sapu. Pak Gunawan pergi setelah memberi waktu sampai malam untuk jawaban tertulis.
Pada akhirnya, melalui pengacara, kedua pihak menyepakati pembayaran biaya medis dan tidak saling menutup hak untuk melapor bila ada pelanggaran baru. Sulastri mengangguk kaku ketika Raka kembali meminta restu.
"Baik. Mama setuju," katanya. "Asal masalah ini selesai."
Begitu Raka keluar menemui kuasa hukum, telapak tangannya mendarat di pipiku.
"Nggak tahu malu," desisnya.
Papa menahan pergelangan Sulastri sebelum pukulan kedua. "Aku cuma ingin rumah ini tenang. Tolong jangan tambah masalah lagi."
Aku naik ke kamar dengan pipi panas dan rasa lelah yang lebih menyakitkan daripada tamparan.
Menjelang tengah malam, Raka masuk tanpa mengetuk. Ada memar baru di rahangnya dan sudut bibirnya pecah. Ia menjatuhkan tubuh ke ranjangku.
"Dari mana?"
"Menemui Reno. Dia minta satu pukulan sebagai syarat damai. Ternyata dia nggak bisa menghitung satu."
"Itu bukan damai. Itu sama bodohnya dengan perkelahian pertama."
Aku mengambil kotak obat. Raka meringis ketika kapas menyentuh lukanya.
"Ini pertama kalinya aku masuk kamar kamu terang-terangan," katanya.
"Kamu pernah masuk diam-diam?"
"Bukan sengaja." Telinganya memerah. "Hari pertama di rumah ini aku salah buka pintu kamar mandi. Kamu sedang mandi."
Tanganku berhenti. "Jadi itu alasan kamu suka aku?"
"Aku delapan belas, kamu dua puluh, dan aku langsung menutup pintu. Aku nggak melihat lama." Ia menutupi wajah dengan bantal. "Tapi iya, awalnya sesederhana dan sedangkal itu. Setelahnya karena kamu memberi aku mi paling nggak enak sedunia dan pura-pura nggak peduli."
Aku memukul lengannya dengan kapas bersih. "Mesum."
"Aku sudah minta maaf dari balik pintu empat tahun lalu."
Aku menarik bantalnya. "Dan sekarang?"
Raka menatapku tanpa bercanda. "Sekarang aku tahu aku ingin hidup sama kamu."
Ia tidak menciumku. Ia hanya menggenggam tanganku, menunggu. Aku yang menyentuhkan kening ke keningnya.
Seminggu kemudian, keluarga mulai membicarakan pertunangan sederhana. Pada malam sebelum pertemuan resmi, Vania mengirim pesan memintaku datang ke sebuah club.
Minum sedikit saja. Gue mau minta maaf karena kemarin ninggalin lo.
Aku sempat menolak, tetapi ia menelepon sambil menangis. Karena lokasi dibagikan dan ia berjanji hanya setengah jam, aku akhirnya datang.
"Kenapa nggak besok saja?" tanyaku saat telepon.
"Karena besok lo resmi jadi milik Raka," jawabnya, lalu buru-buru mengubah kalimat. "Maksud gue, keluarga kalian bakal sibuk. Gue cuma mau bicara sebagai teman."
Nada ganjil itu seharusnya menjadi peringatan. Aku mengirim lokasi kepada Raka dan memesan kendaraan sendiri, tetapi tetap naik ke lantai VIP.
Pintu ruang VIP menutup di belakangku.
Vania berdiri di dekat meja dengan wajah pucat. Di sofa, Reno tersenyum sambil menyentuh plester di hidungnya. Dua lelaki asing berdiri menutup pintu.
"Gue nggak tahu dia ada di sini," kata Vania cepat.
"Bohong."
Air matanya jatuh. "Gue cuma suka Raka. Tante Sulastri bilang kalau lo menjauh, gue punya kesempatan. Katanya nggak ada yang bakal nyakitin lo."
Reno bangkit dan memutar kunci pintu.
Jalan keluar terakhir tertutup di depan mataku.
"Sekarang," katanya, "kita selesaikan urusan kita."