NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tak terduga

Sirine tanda jam istirahat siang berbunyi seperti biasa. Namun, ada yang ganjil saat kurir katering langganan bengkel datang mengantarkan logistik makanan.

Siang itu, Anita hanya menerima dan membagikan dua bungkus nasi kotak saja kepada Jono dan Agus mereka pun langsung melesat menuju ban bekas andalan mereka untuk makan.

Salman yang berdiri di dekat meja perkakas memperhatikan hal itu dengan dahi sedikit berkerut, merasa bingung karena dirinya sengaja dilewati. Belum sempat ia bertanya, sosok Anita sudah berdiri di dekatnya dengan kunci mobil yang berputar di sela jari telunjuknya.

"Man," panggil Anita dengan volume suara yang dijaga agar tidak terdengar dua montir lainnya. "Kamu bisa nyetir mobil, kan?"

"Bisa... tapi cuma bisa dikit, Mbak," jawab Salman jujur, teringat pengalamannya sesekali memindahkan unit truk atau pik up operasional secara otodidak.

Anita mengangguk puas, seolah jawaban itu sudah lebih dari cukup baginya. "Ya sudah, kamu ganti baju sekarang. Bersihkan badanmu, saya tunggu di sini.

"Melihat keseriusan di wajah bos wanitanya, Salman tidak banyak bertanya lagi. Ia langsung melangkah taktis menuju kamar mandi mes, membersihkan sisa debu besi dan noda oli yang menempel di lengannya dengan sabun, lalu mengganti wearpack bengkelnya dengan pakaian kasual santai yang bersih.

Beberapa menit kemudian, Salman sudah kembali dengan penampilan yang lebih segar. Anita langsung memberi isyarat kepala menuju area parkir depan kantor. Tanpa banyak bicara, mereka berdua berjalan bersisian dan langsung masuk ke dalam kabin mobil pribadi milik Anita yang sejuk ber-AC.

Mesin mobil menderu halus.

Dengan Salman yang kini memegang kendali di balik kemudi atas perintah instan sang bos, mobil itu pun mulai bergerak perlahan keluar dari gerbang bengkel, melaju membelah ramainya arus jalan raya kota besar yang panas.

Atmosfer di dalam kabin mobil mendadak terasa sedikit canggung bagi Salman. Ini pertama kalinya ia duduk berdua saja dengan pemilik bengkel di luar jam kerja profesional mereka. Setelah menimbang jarak beberapa kilometer, Salman akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.

"Mbak... ini sebenarnya kita mau kemana?" tanya Salman sambil tetap fokus menatap jalanan di depannya.

Anita yang sedang bersandar santai di kursi penumpang sembari mengecek ponselnya mendongak sekilas. "Ke mall dulu, Man," jawab Anita tenang tanpa beban. "Nanti di perempatan depan itu, kamu ambil jalur belok kanan.

"Salman hanya mengangguk patuh, memutar setir mengikuti instruksi arah dari Anita. Pikirannya mulai menebak-nebak misi tak terduga apa yang sedang direncanakan oleh bos wanitanya ini di pusat perbelanjaan kota.

Suasana di dalam kafe terasa sangat tenang, kontras dengan hawa panas dan bising mesin di workshop bengkel. Setelah pelayan meletakkan dua cangkir minuman di atas meja, Anita menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap pemuda di depannya dengan pandangan yang lebih santai.

"Man," kata Anita membuka percakapan, memecah keheningan di antara mereka. "Pakaian yang tadi itu murni buat bonus hasil kerjamu kemarin.

Jadi gak usah kepikiran soal potong gaji."

Salman tertegun sejenak, lalu mengangguk takzim dengan senyum tulus. "Wahhh... makasih banyak ya, Mbak."

Anita mengangguk pelan. Ekspresi wajahnya mendadak berubah menjadi lebih serius, tanda ia akan masuk ke inti misi rahasia siang ini.

"Eh Man... apa kamu bisa kalau misal ada customer yang minta proyek modifikasi?"

Pertanyaan instan dari Anita benar-benar langsung mengarah ke satu titik spesifik yang sempat membuat Salman tertegun selama beberapa detik. Otak teknisnya langsung berputar cepat, menimbang risiko, beban material, dan standar keamanan fabrikasi.

Salman memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke arah bos wanitanya. "Mbak... kalau aku bilang bisa, itu belum tentu. Tapi kalau aku bilang tak bisa, juga kurang tepat,"

jawab Salman dengan nada yang sangat terukur.

Anita menaikkan sebelah alisnya, tampak tertarik dengan gaya diplomasi montir barunya.

Anita menaikkan sebelah alisnya, tampak tertarik dengan gaya diplomasi montir barunya.

"Yah, aku harus tahu dulu jenis modifikasinya seperti apa," lanjut Salman, seolah sedang mencari jawaban teknis yang pasti dari sebuah cetak biru struktural.

"Setiap jenis modifikasi kan punya kalkulasi beban dan peruntukan material yang beda-beda."

Anita meminum kopinya sedikit sebelum menjawab. "Aku ada kenalan sih, Man. Biasanya mereka memodifikasi unit kendaraan untuk kebutuhan balap.

"Mendengar kata "balap", Salman langsung mengembuskan napas pelan. "Waduh... kalau urusan itu, jujur saja ya, Mbak, aku belum pernah megang sama sekali."

Mendengar jawaban jujur yang terlampau polos dari Salman, raut wajah Anita seketika berubah. Ia tampak sedikit kurang bersemangat, mengira potensi emas yang ia lihat pada diri Salman malam kemarin ternyata memiliki batasan yang ketat.

Namun, sebelum kekecewaan Anita mendalam, Salman langsung menyambung kalimatnya dengan tegas.

"Tapi Mbak... sesuai dengan jawabanku di awal tadi. Yah aku harus tahu dulu... modifikasi seperti apa yang diinginkan oleh mereka."

Salman mencondongkan tubuhnya ke depan meja,

"Balapan itu kan luas, Mbak. Apakah mereka butuh modifikasi penguat sasis (roll cage),

fabrikasi dudukan mesin (engine mounting), kustomisasi bodi (chassis reinforcement),

atau pembuatan tangki bahan bakar khusus?

Kalau aku sudah lihat gambar kerja atau tahu spesifikasi apa yang mereka incar,

nah di situ baru aku bisa kasih keputusan pasti apakah sanggup mengeksekusinya atau tidak."

Mendengar penjelasan Salman yang sangat terstruktur dan detail, binar semangat di mata Anita yang sempat meredup tadi seketika menyala kembali. Ia menyadari bahwa Salman bukan menolak karena tidak mampu, melainkan karena ia bekerja menggunakan dasar kalkulasi teknik yang matang, bukan sekadar modal nekat ilmu "kira-kira".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!